Azka membuka pintu ruangan tempat Lani dan teman-temannya berada, ia menatap satu persatu orang-orang tersebut untuk memastikan tidak ada yang bergosip di sana. “Lani,” panggilnya pelan.
Lani berdiri lalu mendongakkan kepalanya menatap Azka dengan tatapan dinginnya. “Ada apa ya Pak?”
“Temui saya di ruangan saya sekarang.”
Lani menghela nafasnya kasar lalu melirik ke arah Gio dan Zoya dengan tatapan memelasnya, kedua sahabatnya itu hanya bisa memberikan semangatnya dalam diam. Sekali lagi Lani menghela nafasnya lalu mau tak mau melangkah pergi menyusul Azka.
Tok tok tok
“Masuk.”
Mendengar intrupsi dari Azka, Lani langsung membuka pintu tersebut dan menunduk. “Ada apa Pak?”
“Tadi Mama ada ke apertementku dan dia menitip ini untukmu, katanya kamu sudah nggak ada di apartment saat dia ke sana,” ujar Azka seraya mendorong kotak kado di hadapannya saat ini.
Lani melirik kotak itu sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya. “Maaf Pak, memangnya ada apa ya sampai Ibunya Pak Bos memberikan saya kado?”
Azka berdecak pelan lalu menghela nafas kasar. “Ya mana saya tahu, kan yang nitip Mama. Tanya aja nanti langsung ke orangnya.”
Lani mencebikkan bibirnya pelan lalu mengangguk pelan. “Ya sudah deh kalau begitu.”
Azka mengangguk singkat lalu menunjuk pintu ke luar dari ruangannya. “Sekarang ambillah kadonya dan keluar dari ruangan saya segera.”
Lani menghela nafasnya kasar lalu kembali menatap wajah Azka dengan serius. “Pak…”
“Apa lagi Lan.”
“Tadi pagi Bapak sarapan sama siapa?”
Azka mengangkat wajahnya, ia mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum sinis. “Kenapa? Kamu cemburu?”
Lani mendengus sebal kemudian menggeleng cepat. “Enggak tuh, buat apa cemburu sama Bapak. Lagian saya yakin kalau Rima itu nganterin makan Cuma karena kasihan sama Bapak yang nggak ada masakin.”
Senyum sinis Azka semakin kentara, ia tersenyum senang karena secara tidak langsung Lani sudah mengakui kalau dirinya cemburu. “Jadi tadi kamu nguping di depan apartement saya?”
Lani menggeleng cepat. “Tadi kebetulan lewat aja kok….”
“Masa? Atau, sebenarnya kamu ya yang selama ini nyantolin makanan di ganggang pintu apartemen saya?”
Lani mencebikkan bibirnya lalu mengambil alih kotak kado yang tadi Azka katakana. “Saya permisi dulu Pak, mau kerja untuk mencari sebongkah berlian sampai saya melahirkan dan mendapatkan sugar daddy yang baru.”
Raut wajah Azka seketika berubah suram saat mendengar apa yang Lani katakan. “Silahkan kamu keluar, nanti sekalian panggilkan ob ya buat bersihin ruangan saya.”
Wajah kebingungan Lani seketika membuat senyum terbit kembali di wajah Azka. “Buat apa Pak? Kan masih bersih.”
“Iya kalau Cuma di lihat dengan kasat mata, tapi kalau dilihat dengan miskroskop dosa, pasti kelihatan nih kotor-kotornya di sini.”
Seketika wajah Lani kembali kesal mendengar jawaban Azka yang tak tanggung-tanggung menyakiti hatinya. “Ya sudah, kalau Bapak merasa paling suci maka sucikan sendiri saja bekas dosa saya. Sayang tenaga ob nya Pak, karena kotornya dosa nggak bakal bisa kehapus hanya dengan tenaga dan alat buatan manusia.”
Setelah mengatakan itu Lani langsung memutar badannya menghadap pintu ruangan Azka lalu pergi dari sana meninggalkan Azka yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Lumayan buat teman berantem,” gumam Azka pelan.
********
"Lan, harusnya lo itu jangan kentara banget kalau lo masih cinta sama Pak Bos. kesenangan tuh dia kalau lo tetap kekeh ngejer dia," ujar Zoya seraya menyantap makanannya.
"Tapi ya mau bagaimana Zo, yang namanya juga masih cinta. Masa gue harus bohong sama perasaan gue sendiri."
"Ya tapi kalau lo masih bersikap seperti itu, gue khawatirnya malah bikin Pak Bos nggak nyaman trus ngirim lo ke kantor cabang atau bahkan dipecat Lan," ujar Zoya lagi mengutarakan pendapatnya.
Lani menghela nafasnya kasar lalu melirik ke arah Gio yang sedari tadi lebih memilih diam dan mendengar perbincangan Lani dan Zoya. "Kalau menurut lo gimana Gi?"
Gio mendongakkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan Lani lalu mengangguk pelan. "Gue sih setuju dengan yang Zoya katakan, lo itu nggak harus menunjukkan kalau lo itu merasa sedih atau lemah di hadapan Pak Bos. Jangan tunjukkan kalau lo itu lemah."
"Gue nggak lemah Gio, gue hanya...."
"Hanya apa? Hanya bertindak sesuai dengan alurnya? Come on lah Lani, sekarang zamannya sudah berubah, berhenti mengikuti alur, tapi buatlah alur hidup lo sendiri," potong Zoya cepat.
"Tapi gimana Zo?"
Zoya menghela nafasnya kasar lalu melirik ke meja yang tak jauh dari mereka saat ini. "Coba lo lihat ke sana deh."
Lani mengerutkan keningnya bingung lalu menatap ke arah yang Zoya tunjuk. Ia menatap tak suka pada kedua orang yang ada di sana. "Kenapa pakai dibilang segala sih Zo? udah tahu gue nggak suka liatnya."
"Gini nih, makanya lo lemah. Coba belajar menerima kenyataan tapi jangan mau juga ngalah sama gadis muda itu."
"Gue juga nggak ngalah kali, lagian Rima cuma nganggap Mas Azka seperti seorang saudara kok," sahut Lani pelan.
Zoya mengernyitkan keningnya pelan. "Yakin lo kalau dia hanya menganggap Pak Bos sebagai seorang saudara?"
Lani mengangguk cepat. "Iya, gue udah kenal dia dari dulu kok. Mereka memang dekat seperti itu, tapi gue memang agak nggak suka sih, takutnya Mas Azka jatuh cinta dengannya trus ninggalin gue."
"Lah trus kenapa nggak lo larang aja dari dulu biar mereka nggak dekat Lani," ujar Zoya gemas dengan sikap sahabatnya itu.
“Ya mau gimana lagi, kalau gue larang nanti apa kata Bapak Mertua gue. Lagian Bokapnya Rima itu kan sahabatnya Bapak Mertua gue.”
Zoya mengusap wajahnya frustasi, lalu menoleh kembali ke arah Azka dan Rima yang sedang bersenda gurau di sebelah sana. “Lihat tuh, mereka itu bukan kayak saudara lagi tahu nggak, lebih kayak sepasang kekasih. Atau jangan-jangan selama ini…” Zoya menggantungkan ucapannya dengan mata yang membulat sempurna.
“Jangan-jangan apa sih Zo, kalau ngomong tuh jangan setengah-setengah bisa kan?” ketus Lani.
“Jangan-jangan mereka sebenarnya memang punya hubungan di belakang lo, trus biar nama mereka tetap baik, akhirnya mereka membayar seseorang untuk bekerja sama menjebak lo dan membuat lo seolah-oleh yang bersalah di sini.”
Gio mengangguk pelan, apa yang Zoya katakan memang mungkin saja ada benarnya mengingat alasan Azka menceraikan Lani ini sangat masih tidak masuk akal. Bayangkan saja dengan mudahnya Azka menjatuhkan talaq padahal baru satu kali melihat Lani bersama pria tersebut.
“Gue setuju dengan yang Zoya katakanp.” Timpal Gio cepat.
Lani menatap Gio dengan tatapan bingungnya lalu kembali menatap Azka dan Rima dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menggigit bibir bawahnya, seketika senyumnya terbit saat pandangan Azka bertemu dengannya, ia mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat pria itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan salah tingkah.
Tawa Lani pecah seketika, ia merasa sangat senang karena sudah berhasil membuat pria itu seperti ini lagi setelah sekian lama.