“Sialan, bisa-bisanya kempes di saat seperti ini,” pekik Lani kuat sehingga membuat Azka yang baru sampai di parkiran mengernyitkan keningnya keheranan.
Ia menatap Lani yang sedang menendang-nendang ban mobilnya dengan tatapan bingung. “Kenapa mobil kamu?” Azka bertanya dengan nada pelan.
Lani menoleh ke sumber suara dan menatap Azka dengan wajah memelasnya. “Bannya kempes Pak,” jawabnya pelan.
Azka mengangguk pelan lalu menatap ban mobil itu sekilas lalu melihat celana Lani yang bagian lutut sedikit kotor.
“Itu lutut kamu kenapa kotor?”
Lani tersentak pealan lalu menoleh ke bawah menatap lututnya, ia meringis malu saat melihat celananya yang kotor. “Itu Pak, tadi saya berusaha meniup Ban mobilnya makanya bisa kotor.”
Azka mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. “Ya sudah lanjutkan saja usaha kamu meniup ban mobilnya, saya mau pulang dulu. dan ya semoga anginnya cepat terisi penuh ya, semngat untuk niupnya,” ujar Azka lalu masuk ke dalam mobilnya dan tanpa berperasaannya pergi bergitu saja dari sana meninggalkan Lani seorang diri.
Lani menghela nafas kasar seraya merutuk dirinya sendiri kenapa begitu ceroboh.
Flashback on
Senyum Lani mengembang sempurna saat melihat mobil Azka yang masih terparkir rapi di parkiran mobil, seketika ide cemerlangnya muncul di kepalanya. Tidak ingin membuang waktu lagi, dengan cepat ia melangkahkan kakinya mendekati mobil mantan suaminya sekaligus bosnya itu.
“Lan, lo mau ke mana?” pekik Zoya kuat saat melihat Lani melegos begitu saja dari hadapannya.
“Lo pulang sama Gio saja Zo, gue masih ada urusan.”
Zoya menghela nafasnya kasar lalu menatap Gio dengan malas. “Ya sudah gue pulang bareng lo, tapi ingat ini gue terpaksa.”
Gio tersenyum sinis mendengar ucapan Zoya. “Walay lo nggak terpaksa juga gue nggak bakal maksa kok,” sahutnya lalu berlalu begitu saja dari hadapan Zoya menuju mobilnya.
Sedangkan Lani tersenyum sumringah melihat mobil Azka yang masih ada di sana, suasana kantor sudah bisa dibilang cukup sepi. Ini kesempatan baginya untuk mengambil simpati dari Azka. Tatapannya kembali ke arah mobilnya yang hanya berjarak sekitar lima meter dari mobil Azka.
Dengan cepat ia berlari ke sana dan melakukan sesuatu pada mobilnya agar tidak bisa berjalan, tentunya dengan mengempeskan salah satu bannya. Setelah melakukan hal itu, ia kembali berdiri dan menendang-nendang ban mobilnya itu.
“Dasar tidak berguna, bisa-bisanya kempes di saat seperti ini,” makinya dengan suara sedikit keras saat menyadari kalau Azka sedang berjalan ke arahnya saat ini.
Flashback off
Berkali-kali Lani merutuk dirinya sendiri, ia melirik ke sekitar kantor dan sekarang sudah benar-benar sepi yang tersisa hanyalah pak security yang baru saja berganti shift.
“Apa yang harus aku lakukan ya Allah,” gumamnya pelan dengan suara pelan.
Dengan cepat ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Zoya di sana, namun nihil. Zoya tidak bisa dihubungi saat ini, ia lalu beralih mencoba menghubungi Gio namun sama saja, kali ini pria itu juga tidak bisa dihubungi.
“Gue harus gimana ya?” gumamnya pelan.
“Mana nggak punya nomor bengkel terdekat lagi,” ringisnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke halte terdekat untuk mencari taksi yang melintas.
“Kok nggak ada satupun sih taksi yang lewat.” Selama menunggu di sana, matanya sedikit mengantuk sehingga ia memilih untuk bersender di tiang halte tersebut.
“Ngantuk banget ya Allah, atau apa gue harus pesen ojek online aja ya?” Lani memikirkan rencananya tersebut lalu menggeleng cepat saat teringat dengan berita minggu lalu tentang anak SMA yang diculik oleh pengendara ojek online.
“Enggak deh, apa gue jalan ke depan lagi ya?” ia menghela nafasnya pelan, ia sudah sangat lelah setelah bekerja seharian dan sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk pulang karena kebodohannya sendiri.
Di sisi lain, di sepanjang perjalanan Azka teringat akan Lani dan ban mobilnya yang kempes. Ia ingat bagaimana sepinya area kantor tadi, lalu bagaimana wanita itu pulang sekarang.
Tuk tuk tuk
Azka tersentak pelan lalu membuka kunci mobilnya, tak berapa lama Rima masuk dengan wajah bersalahnya. “Maaf ya Mas aku terlambat, soalnya tadi masih harus ngerjain tugas di perpustakaan.”
Azka mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Iya nggak apa-apa, udah ayo Mas antar kamu pulang.”
Rima tersenyum senang mendengarnya lalu mengangguk cepat. “Terima kasih Mas.”
Azka tak menanggapi ucapan terima kasih Rima lalu melengos mengendarai mobilnya meninggalkan area kampus Rima menuju rumahnya. “Maaaas,” panggil Rima pelan.
Azka menoleh dan mengernyitkan keningnya bingung. “Kenapa?”
“Kita makan dulu yuk, aku lagi kepengen makan nasi padang,” ujar Rima pelan.
Azka menghela nafas kasar namun tetap mengangguk pelan dan memutarbalikkan arah mobilnya ke tempat jualan nasi padang yang baru saja mereka lintasi. Namun pikirannya belum bisa beralih dari keadaan Lani saat ini. “Ri, bagaimana kalau nasi padangnya dibungkus saja? Soalnya Mas masih ada kerjaan.”
Rima mendengar itu hanya mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu, Mas tunggu di sini saja biar aku pesankan ke dalam.”
Azka mengangguk pelan dan membiarkan Rima turun dari mobilnya untuk memesan nasi padang untuk dirinya sendiri. Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Rima keluar dengan plastic nasi padangnya.
“Maaf ya Mas agak lama, soalnya ini jam sore. Jadi pembelinya juga sudah banyak.”
“Iya nggak apa-apa, ayo cepat masuk ke dalam mobil biar Mas antar sampai rumah,” dengan cepat Azka menancap gas dan membawa mobilnya membelah jalan kota Jakarta menuju rumahnya Rima.
Rima yang keheranan dari tadi hanya diam sambil menatap wajah Azka yang nampak cemas. “Memangnya Mas ada kerjaan apa lagi sih?”
“Ada, kamu nggak perlu tahu,” sahut Azka tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rima.
Rima tersenyum kecut lalu mengangguk pelan. “Oke.”
Azka menghela nafasnya lega saat mobilnya memasuki halaman rumah Rima. “Mas nganternya sampai sini aja ya Ri.”
Rima mengangguk singkat lalu duduk dari sana.
“Iya Mas, ya udah aku turun. Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut dan semoga kerjaannya cepat selesai biar Mas bisa cepat istirahat.”
Azka tersenyum tipis kemudian mengangguk. “Iya, sampai ketemu lagi besok.”
“Oke Mas.” Rima langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Azka lalu mengecup pipi pria itu singkat dan turun dari mobil itu secepatnya.
Azka menghela nafasnya kasar, dari pada membahas masalah kecupan singkat di pipinya. Akan lebih baik ia cepat kembali ke kantornya untuk melihat apakah Lani masih ada di sana atau tidaknya.
Seketika rasa penyesalannya karena telah meninggalkan wanita itu muncul di dalam hatinya, pikirannya sedang berperang dengan hatinya saat ini. Hatinya bertanya kenapa ia tidak punya hati sampai mengabaikan Lani seperti ini dan pikirannya yang bertanya kenapa ia harus peduli.
Selang beberapa menit akhirnya ia sampai di depan halte, ia menghela nafas pelan saat melihat Lani yang malah tertidur di sana. ‘Kamu dari dulu memang tidak pernah berubah sama sekali Lan, tetap bodoh dan ceroboh,’ batinnya.
Bersambung