Tok tok tok
“Sebentar,” pekik Zoya seraya langsung berlari ke arah pintu apartement tersebut.
“Ini pasti si Lani, lagian ke mana coba. Jam segini baru pulang,” gumamnya sepanjang langkahnya menuju pintu.
Ceklek
Tubuh perempuan dua puluh enam tahun tersebut seketika mematung di tempat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
“Pak Azka?”
Flashback on
Azka turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati Lani yang tertidur di halte tersebut, ia berjongkok menyamakan tingginya dengan Lani yang sedang tertidur saat ini.
‘Ck, bagaimana mungkin ia bisa tidur senyaman ini? tempat ini pasti akan membuat seluruh tubuhnya sakit, belum lagi suara yang berisik ternyata tidak membuatnya terusik sama sekali.
Ia mengusap anak rambut yang menghalangi wajah itu, dan tersenyum tipis melihat wajah lelapnya. “Kamu dari dulu tidak pernah berubah Lan. Tidak pantang menyerah.”
‘Tapi tolong berhenti memperjuangkan ku, jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku, batinnya.
Azka menghela nafasnya kasar lalu mengguncang tubuh wanita itu pelan. “Lani, bangun.”
“Engghh.”
Azka menggeleng sendiri melihat itu, bagaimana kalau tadi ia memutuskan untuk tidak kembali, mungkin apa saja bisa terjadi padanya mengingat Lani yang tidak bisa dibangunkan dengan mudah seperti ini.
“Lani Ashila?”
“Engghhh, Mas jangan gangguin aku tidur dong. Nanti aku tendang loh.”
Seketika mata Azka membulat saat mendengar itu, ia tidak ingin ditendang untuk ke sekian kalinya oleh Lani. “Oke oke, aku nggak bakal gangguin kamu tidur.”
Akhirnya Azka memutuskan untuk mengangkat tubuh Lani dan membawanya masuk ke dalam mobilnya dengan hati-hati. “Kamu berat juga Lan sekarang,” gumamya pelan lalu mengendarai mobilnya membelah jalanan yang padat menuju apartement mereka yang kebeutulan satu gedung yang sama.
Flashback off
Azka menghela nafas lega saat ia berhasil meletakkan tubuh Lani di atas tempat tidur tanpa menganggu nya sama sekali. Sedangkan Zoya hanya menatap Lani dan Azka secara bergantian, ia bingung dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
“Kalau dia sudah bangun nanti, tolong kamu jangan bilang kalau yang bawa dia pulang itu saya. Bilang saja kalau yang jemput itu kamu sama Gio.”
“Tapi Pak?”
“Lakukan apa yang saya perintahkan kalau kamu tidak ingin pekerjaan terancam.”
Zoya mengangguk cepat. “Baiklah Pak, akan saya lakukan sesuai perintah dari Bapak Bos yang termulia.”
Azka mendengus pelan lalu melengos begitu saja dari sana meninggalkan tempat itu, Zoya berjalan di belakang pria itu. setelah memastikan kalau Azka sudah masuk ke dalam apartementnya, ia langsung kembali ke kamar Lani dan menoel pipi sahabatnya itu.
“Lan, bangun. Gue tahu lo Cuma pura-pura tidur, itu Pak Bos nya udah pulang.”
Bugh
“Awh, sialan si Lani. Kok gue ditendang sih?” ringis Zota karena mendapatkan tendangan dari Lani.
“Engggh, kan aku sudah bilang Mas. Kalau aku tidur itu jangan diganggu,” sahut Lani dengan santainya lalu memeluk boneka berbentuk anggur kesayangannya.
“Buset, ternyata lo tidur beneran?” ujar Zoya tak percaya dengan yang ia lihat saat ini, pasalnya ia pikir tadi Lani hanya berpura-pura tidur untuk mengerjai Azka. Tapi ternyata dugaannya itu salah, karena nyatanya Lani benar-benar tertidur, nyanyak pula.
Tatapan perempuan itu kini terfokus pasa sepatu Lani yang masih terpasang di kakinya, perlahan ia melepaskan sepatu itu dan meletakkanya di tempat yangs seharusnya.
“Ya sudah deh, lo udah tidur nyenyak gini, mending gue lanjut lagi baca novelnya.”
Akhirnya Zoya kembali ke kamarnya untuk melanjutkan kegiatan membaca novelnya.
*******
Di sisi lain Azka hanya menghela nafasnya kasar saat melihat Rima sudah duduk rapi di ruang makannya. “Harusnya kamu tidak perlu merepotkan dirimu untuk ke sini Ri.”
“Buat apa Mas capek-capek nganterin kamu tadi kalau akhirnya kamu malah ke sini?”
“Ya kan aku khawatir sama Mas, niat ku ke sini tadi ya siap tahu aku bisa membantu kerjaan Mas itu.” Rima menyerahkan segelas air putih kepada Azka.
Azka menggeleng cepat lalu meneguk air putih itu dengan sekali tegukan. “Tidak perlu, kerjaannya sudah selesai. Lagian kamu bisa masuk ke sini dapat password apartement Mas dari mana?”
“Dari Papanya Mas,” jawab Rima dengan entengnya.
Azka menghela nafasnya kasar, ayahnya itu memang tidak bisa dipercaya. Bisa-bisanya ia dengan mudah memberikan password memasuki apartementnya dengan mudah kepada orang asing seperti ini.
“213145, itu diambil dari apa Mas? Setahu aku tanggal lahir Mas itu 23 kan?”
Azka hanya berdehem pelan tak berniat menjawab sedikitpun apa yang Rima tanyakan padanya. “Trus itu diambil dari mananya Mas? Ulang tahun pernikahan Mas sama Mbak Lani ya?”
“Bukan,” jawab Azka cepat.
“Trus?”
“Itu gabungan dari tanggal lahir dan bulan lahir Mas sama Lani, kebetulan Mas belum sempat ganti,” jawab Azka dengan malas.
Rima mengangguk-angguk pelan mendengar itu, ia tersenyum manis lalu memberikan sepiring nasi padang yang tadi ia beli kepada Azka. “Ini Mas di makan, tadi aku beli dua bungkus. Niatnya mau kasih Mas tapi malah kelupaan, makanya aku memutuskan untuk ke sini sekalian untuk ngasih ini.”
“Oke, terima kasih.”
“Hanya itu?” tanya Rima pelan.
Azka yang hendak mencuci tangannya langsung mendongakkan kepalanya menatap Rima dengan tatapan bingungnya. “Kamu maunya apa? Apa harus Mas bayar juga?”
Rima menggeleng pelan. “Nggak harus Mas, Mas nggak perlu bayar. Tapi….”
“Tapia pa?”
Rima menyeringai melihat Azka yang seolah benar-benar menunggu jawabannya.
“Mas selesaikan makan Mas, nanti akan aku beritahu apa yang harus Mas lakukan.”
Azka mengedikkan bahunya acuh lalu kembali melanjutkan kegiatannya untuk makan malam. “Ya sudah kalau begitu, aku lanjut makan dulu. kamu nggak mau ikut makan?”
Senyuman Rima semakin mengembang mendengar pertanyaan Azka, ia langsung menyuapkan nasi bagiannya yang tadi ia beli.
Ting tong
Suapan Rima seketika terhenti saat mendengar suara itu. “Biar aku saja Mas,” cegahnya saat Azka handak berdiri untuk berjalan ke arah pintu.
“Aku saja, Mas lanjutkan makannya.”
“Nggak apa-apa nih?”
Rima mengangguk pelan. “Nggak apa-apa Mas, aku tahu Mas capek. Jadi Mas lanjutkan saja makannya, biar aku saja yang buka pintunya.”
Ting Tong
Rima kembali menoleh ke arah pintu tersebut dan berjalan ke sana.
Ceklek
“Rima?” tanya seorang perempuan yang masih memakai almamater berwarna abu-abu di sana.
“Eh Azira,” ringis Rima seraya menggaruk-garukkan kepalanya.
Gadis bernama Azira tersebut menyipitkan matanya seraya melihat penampilan Rima dari atas ke bawah. “Lo ngapain di sini? Jadi sugar baby Abang gue kah?”
Rima menggeleng cepat. “Tadi gue ke sini buat nganterin makan malam.”
“Hanya makan malam?”
Rima mengangguk pelan seraya mengigit bibir bawahnya. “Iya lah, memangnya apa lagi?”
Azira tersenyum sinis sambil menatap rendah Rima. “Siapa tahu kan selain makan malam, ada tambahan sevice malam juga,” sahutnya lalu berlalu begitu saja seraya menyenggol bahu Rima dengan santainya.
Rima menghela nafasnya kasar lalu kembali menutup pintu itu dan masuk menuju ruang makan untuk melanjutkan makannya.
Bersambung
Jangan lupa tekan lovenya ya.