P R O L O G
Gadis itu telah genap menginjak usia 22 tahun. Sudah lebih dari sepuluh kali beberapa pria ikut merayakannya dengan memberi paper bag berisi perhiasan dan barang-barang mahal. Well, karena Imera tidak mau menenteng atau membawa barang-barang merepotkan itu, jadi dia cuma mengambil suratnya saja yang bisa ia masukkan ke dalam tas.
"Memangnya kamu mau membaca puluhan surat itu?" tanya Jason, kakak sepupunya.
"Tentu saja, dong. Mereka juga 'kan memutar otak untuk merangkai ratusan kata," ujarnya setelah menandaskan coke kedua.
Tak lama kemudian, datang seorang pria membawa paper bag putih dengan merk produk tersebut. Damian yang duduk di samping Imera bergumam takjub. Paper bag-nya saja bisa seharnya 2000 dolar. Jangan tanya isinya, pasti mahal bukan main. Yap, meski dirinya juga mampu membeli yang demikian, tetapi beda rasanya bila bisa memiliki tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
"Michael Frank." Ia memperkenalkan diri. Menatap Jason dan Damian bergantian sebelum tersenyum pada Imera. "Akan merasa sangat dihargai bila kamu mau menerima kado recehku."
Damian tertawa. "Merendah untuk meroket ya, bro?" Tetapi ia penasaran dengan isinya, makanya dengan wajah sok gentle ia berlontar, "Imera tidak menerima sesuatu yang sia-sia, dia tidak suka memakai perhiasan berlebihan atau pakaian yang bukan dari pengeluarannya sendiri."
"Bukan perhiasan yang mencolok, kok. Bukan pakaian juga. Kamu akan membutuhkan ini agar tidak usah repot mengecek ponsel setiap mengerjakan tugas yang mepet deadline." Michael menggaruk tengkuknya yang tak gatal, entah mengapa ia merasa sangsi untuk mengatakan hal ini. "Aku sudah lama ingin memberikan ini padamu saat kamu ulang tahun, aku kira ulang tahunmu bulan depan, karena bulan depan produk ini baru launching."
"Kenapa kamu mau memberikannya padaku bila produk itu belum launching?" Imera mengernyit. "Kenapa tidak diberikan untuk pacarmu?"
Michael tersentak, kemudian tertawa. "Aku baru saja mengakhirinya. Maka dari itu aku ingin—"
"Imera sudah punya pacar," sergah Jason.
"Ah, begitu," katanya kecewa. "Tetapi tak masalah, aku ingin memberimu anggap saja karena kekagumanku padamu."
Imera mengangguk-angguk, ia menimang sejenak sebelum menerima pun karena Damian sudah ribut sekali menendangi kakinya seolah menyuruh Imera untuk menerima. Jadi, gadis itu tersenyum dan menerimanya. "Aku hargai usahamu, tetapi lain kali tidak perlu repot-repot begini."
Michael terseyum semringah, ia nyaris pamit pergi dari kafetaria tersebut sebelum Imera menghentikannya. "When you're birthday?"
"Sebelas Mei, Imera."
"Okay." Imera mengangguk dan Frank meninggalkan lingkup kafetaria.
Damian segera merebutnya, membuka kotak beludru hitam tersebut dengan mata berbinar. "Sudah kuduga, jam tangan edisi terbatas!"
"Berikan itu padanya, Dami! Itu milik Imera."
"Ya, aku tahu."
Sementara Imera menerima telepon dari seseorang. Kakak beradik itu mengamatinya dengan saksama. Begitu sambungan telepon di tutup, Imera segera menatap Damian serius. Sedang Jason tersenyum sebab mengerti siapa orang yang baru saja melakukan perbincangan dengan Imera.
"Kakek ingin berbicara padamu, Dami!" urainya serius.
"Apa sepenting itu sampai mukamu kaku begitu?" tanyanya tegang.
"Akun milikmu telah dihapus oleh Kakek." Kemudian Imera tersenyum melihat raut kecewa Damian. "Tetapi tampaknya Kakek akan memberiku sesuatu di hari ulang tahunku." Imera berdiri, menarik tangan Damian. "Let's go!"
X X X X X X X
Marigold Lady