"Kakek Liam selalu mengatur segalanya. Pendidikan, pekerjaan, sampai masalah perasaan semua harus dibicarakan dengan dia terlebih dahulu. Well, kalau dia tidak setuju maka kita harus kembali pada jalan yang telah dia siapkan." Mulutnya tak pernah berhenti berceracau setelah ia keluar dari lingkup ruang William, kakeknya. Padahal lelaki itu cuma diam membisu tatkala berada di hadapan William Mallory. Setidaknya ia bisa mengutarakan ketidaksepakatannya. "Kenapa dia tidak memikirkan perasaan cucunya akan bahagia atau tidak?"
"Jalan yang Kakek berikan adalah salah satu pilihan dalam hidupmu. Kalau kamu mengerti, Kakek sebenarnya tidak begitu mengatur atas hidup yang kamu jalani. Kakek banyak mengatur karena kamu juga susah diatur." Imera menatap lawan bicara dengan tatapan intimidasi seolah tengah melucuti seluruh dosa yang Damian perbuat.
Damian mendengus kesal. "Berapa banyak jalan yang bisa aku lewati setelah Kakek sudah menerapkan jalan yang telah dia pilih untukku? Tidak ada artinya, kan?"
Langkah Imera terhenti di lobi utama hotel Mallory. "Putar langkahmu dan kembali temui Yang Mulia Willam Mallory, Damian!"
"Untuk apa?"
"Meminta tanda tangan," katanya tidak serius. "Of course, ungkapkan segala pendapatmu kalau kamu tidak tertarik dengan bidang hukum yang Kakek tawarkan. Itu salah satu jalan yang bisa kamu gunakan untuk menyimpang ke rute yang kamu mau." Imera menepuk d**a Damian. "Jangan lupa pikirkan alasan yang logis, juga sepertinya kamu harus bawa pengacara sendiri atau buatlah surat perjanjian untuk menguatkan perspektifmu."
Oh, tentu saja, berdiri di hadapan Kakek sama saja seperti sedang sidang skripsi. "Kalau aku sungkan kembali menemui Kakek Liam, apa ada jalan lain?" Damian menoleh, bertanya serius.
"Ada, kok. Kamu cuma harus keluar dari keluarga ini maka kamu bisa pilih jalan yang kamu suka."
"Yang benar saja!"
Netra mereka berlabuh pada mobil yang telah tiba di depan halaman hotel. Imera mendahului Damian masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kampus.
"If you want to be happy, you'll just need to live in your imagination, because you're the God," ujarnya setelah Damian duduk di sampingnya dan menutup pintu mobil.
"The God?" Damian menoleh. "Like a writer?" Lalu mobil kembali melaju.
"Bisa iya, bisa tidak. Penulis memang tuhan atas apa yang telah ia ciptakan. Tetapi kalau kamu berpikir agak panjang lagi, nyaris tidak ada penulis yang menciptakan alur bahagia dari awal sampai akhir cerita. Penulis hebat menciptakan konflik dengan penyelesaian atau ending yang luar bisa … sulit ditebak." Mata Damian tak berkedip sewaktu mendengarkan ceramah dari Imera. "Betapa luar biasanya mereka, memulai juga butuh keberanian dan mengakhiri dengan banyak sekali pilihan." Imera balas menatap lelaki itu sambil tersenyum singkat. "Seperti kamu membaca novel, nikmati saja apa yang disajikan oleh penulisnya, suka maupun dukanya."
"Jadi kehidupan begitu, ya? Kalau aku tidak puas dengan isi novel itu, aku bisa mengirim email atas kritikanku, bukan?"
Imera cukup terkejut atas pertanyaan retorik yang dilemparkan Damian. "Tentu saja bisa, kalau sekiranya kamu mampu menyaingi dan membuat yang lebih bagus dari novel penulis lain. Tetapi jangan pernah samakan kehidupan di dunia nyata dan dunia fiksi."
"Kenapa?"
"Sebab Tuhan Maha Sempurna, tidak ada yang boleh mengkritik apa yang telah Dia ciptakan. Sementara penulis adalah manusia dengan banyak kekurangan. Kamu boleh mengkritik si penulis, ya karena memang isi kepala manusia tidak bisa dipukul sama rata."
"Kamu filsuf, ya?" Raut serius berganti jenaka, Damian terkikik entah karena apa. "Hei, iya, kan? " Godanya lagi.
"Kamu tidak masuk akal!"
Imera diam selama di perjalanan kembali menuju kampus. Ia tak hiraukan celoteh Damian, yang ada di kepalanya sekarang adalah, bagaimana dahulu Kakek William mampu berjalan dan menghadapi segala prahara yang datang sampai bisa menjadi sebesar ini.
Dulu semasa muda William terkenal degan pribadi yang bijaksana dan disegani. Ia bekerja di salah satu perusahaan terbesar ketiga di dunia sebagai tim perencana dan pengembangan. Di usianya yang masih 27 tahun, ia telah diangkat menjadi wakil direktur utama di perusahaan tersebut. Tak lama kemudian, di usianya yang memasuki kepala tiga, William Mallory resmi direkrut menjadi direktur utama karena direktur sebelumnya harus turun jabatan karena kecurangan yang diperbuatnya. William Mallory terpaka harus menetap di Jerman selama masa jabatannya. Lalu ia menikah dengan wanita berdarah Jerman dan Korea di usia 32 tahun bernama Rose Joo Xafier. Well, mantan kekasih Rose ternyata adalah anak dari seseorang yang telah membeli perusahaan tersebut. William terpaksa mendapat ancaman dan berbagai kesulitan karenanya. Demi kenyamanan dan kelanggengan hubunganya bersama sang istri, William rela dicabut jabatannya dan hidup di Houston, Texas bersama Rose Mallory.
Dengan kekayaan yang ia miliki, ia berinisiatif untuk membangun sebuah hotel di Austin. Tetapi sayang, gedung yang telah dibangun 60% tersebut hancur karena bom yang ditanam seseorang yang iri dan benci padanya. William dan Rose juga sempat mendapat berbagai macam teror, sampai Rose pernah mengalami koma selama sepuluh bulan karena kecelakaan yang disengaja di jalan pulang dari Austin ke Houston. Setelah Rose sadar, William memutuskan untuk pindah ke California, tepatnya di Santa Monica, Los Angeles. Ia hidup dengan tentram dan harmonis sampai kelahiran bayi kembarnya Juan Mallory dan Jeon Mallory di tahun 1970. Lalu pada tahun 1983 ia kedatangan Rey S. Charles, relasi kerjanya saat di Jerman yang saat itu datang bersama salah satu senima hotel terkenal, Tn. Hockney. Mereka menginap selama beberapa hari dan Hockney mengatakan kekagumannya atas rumah dua tingkat yang William tempati. Hockney menjabarkan apa saja yang membuatnya betah di sana dan memberikan nilai yang cukup memuaskan. Mulanya Hockney hanya bercanda kalau rumah dua tingkat itu akan sangat diminati banyak pengunjung bila disewakan per kamar. Sementara William malah merespons dengan serius dan mengajak Hockney dan Rey Charles atas niatnya untuk menjadikan rumah itu sebuah hotel sederhana.
Di tahun 1985, hotel yang William rencanakan telah resmi berdiri dan diberi nama Mallory's Hotel. Yang mulanya hanya dua tingkat dengan sepuluh kamar, kini hotel itu telah berkembang. Di tahun 1995 Juan dan Jeon ikut mengembangkan Mallory's hotel dan kini telah memiliki delapan tingkat dan 199 kamar tamu (sebagian memiliki balkon yang mengarah langsung ke pantai) dan 15 suite dengan restoran, cafe and bar. Pun fasilitas yang lengkap. Mallory's Hotel telah menyabet beberapa penghargaan sejak tahun 2002 sampai kini, salah satunya di tahun 2005 menempati posisi 27 hotel terbaik di dunia.
Jeon dan Juan juga memiliki usaha sendiri, seperti kuliner, fashion, travel, dan otomotif. Lalu kini, Damian juga bercita-cita untuk mendirikan perusahaan game karena kecintaannya dengan video game. Tetapi Damian tidak berani mengusulkannya pada Kakek William atau kedua orang tuanya, dia cuma bercerita pada Imera. Seperti yang Damian sudah bilang, kalau segalanya sudah diatur oleh Kakek William. Setelah lulus sarjana, Kakek William berniat supaya semua cucunya ikut andil dalam mengurus Mallory's Hotel, dia juga telah membuat surat wasiat dan warisan akan dibagikan setelah William Mallory mati. Dalam meeting keluarga bulan lalu, William Mallory telah mengumumkan bahwa di antara semua cucunya, Jason akan mendapat warisan lebih banyak dan haknya atas Mallory's Hotel.
Kakek William tidak sembarangan dalam mengambil keputusan, sebab semua keluarga juga mengakui kemampuan Jason yang luar biasa. Juga sebenarnya Imera telah menduga, Kakek memberi Jason tanggung jawab yang besar karena lelaki itu nyaris mewarisi semua watak Willam Mallory. Nenek Rose juga pernah bilang, melihat Jason mengingatkannya dengan masa muda. Meski begitu, tidak ada yang protes dengan keputusan William Mallory.