Imera baru saja keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya di wastafel. Sementara di bilik sebelahnya, seseorang masih berceracau panjang lebar.
"Imera! Kamu di sini?" Suara yang sangat dikenalnya, terus memanggil namanya tanpa tahu tempat.
“Oh, My God!” Garcia, teman satu kampus beda jurusan itu tiba-tiba muncul di toilet wanita dengan raut wajah seolah baru saja mendengar berita buruk. "Aku mencari kamu di perpustakaan, di kafetaria, di taman belakang, di gedung seminar, di ruang sidang dan—" ia berhenti bicara, memasok oksigen sebanyak mungkin. "Aku bertanya pada Damian juga. Dia bilang kamu pasti ada di toilet, di tempat berkumpulnya para gadis bila sedang menggosip." Garcia mendengus kesal. "Damian itu kurang ajar, tahu! Dia seperti sedang mencelaku. Kamu betah satu mansion dengan dia?"
Imera cuma tertawa, Damian memang begitu, mau diapakan lagi.
"Kali ini gosip apa yang kamu bawa?" Martha, yang baru saja keluar dari bilik toilet segera bergabung dengan Imera dan Garcia di wastafel. "Apa sesuatu yang mahal lagi?" Gadis itu tampak berpikir sejenak. “Sesuatu yang kamu ucapkan minggu lalu tentang Sherry Lovato?”
“Sherry Lovato?” Imera merespons. “Seperti tidak asing.” Lalu ia meninggalkan wastafel hendak keluar dari toilet. Yang lain mengikuti. "Tetapi kenapa gosip tentang Sherry dibilang mahal? Dia bukan selebritis ternama. Oh, atau ini sangat rahasia, ya?"
Martha yang sudah mendengar gosip dan mengorbankan uang sakunya mendadak terdiam. Tampak begitu resah. Sementara Garcia memasang raut acuh tak acuh.
“Soal Michael Frank,”
Ia memutar badan Imera dan Martha mengernyit. "Michael Frank?" Imera mengingat nama itu, kemarin lelaki itu sempat memberinya kado dan kini jam tangan edisi terbatas itu telah dipakai oleh Damian.
"Iya, yang ayahnya memiliki saham di sebuah perusahaan brand ternama," jelas Garcia.
"Ada apa dengan lelaki itu?" Martha bersuara.
"Kabarnya akan pindah karena suatu masalah sepele."
"Sepele?" Imera semakin tak mengerti. Ia kembali melajukan tungkainya menuju perpustakaan kampus. "Berbicaralah yang benar, Cia. Jangan dipotong seolah membuat efek dramatis."
"Michael Frank ditolak seseorang dan itu membuatnya sangat terluka. Kekanakan bukan? Cuma karena ditolak dia jadi ingin pindah kampus."
"Itu berarti gadis yang dia cintai ada di kampus ini? Loh, bukannya Michael sudah menjalin hubungan dengan Jane selama tiga tahun, ya?"
"Nah, itu dia! Jane juga dikeluarkan dari kampus karena kepergok melakukan itu saat sedang bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya."
Bila sedang berada dalam momen begini, Imera biasanya cuma menyimak dan tak berniat masuk ke dalam percakapan yang tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Imera juga tak mengusik mereka bila sedang asyik menggosipi orang, ia juga tak begitu merasa terganggu sama sekali dengan bahan gosip yang Garcia punya dan respons Martha yang menanggapinya antusias. Imera hanya bisa membiarkan segala suara masuk ke dalam telinga dan mengunci mulutnya.
"What the hell, mereka memang menjalin hubungan karena cinta atau karena simbiosis mutualisme?"
"Tepat sekali, Martha Leona! Kamu tahu Jane itu bagaimana, kan? Well, dia bisa mendapatkan segalanya dengan mudah karena kecantikan dan bodinya yang aduhai seksi sekali." Garcia memelankan vokal suara saat lanjut berkata, "goyangannya juga mantap, katanya."
Martha dan Garcia terbahak sampai mahasiswa yang berada di koridor kampus menatapnya sekilas karena terkejut, lalu kembali pada kesibukan mereka masing-masing.
"Menurutmu si Frank itu sudah mencicipinya belum?" Martha bertanya lirih.
"Pertanyaan bodoh! Mereka sudah bersama selama tiga tahun. Michael Frank tidak sesuci itu untuk mampu menahan hasratnya bila Jane sudah menubrukkan bibirnya pada leher lelaki itu."
"By the way, aku ingin membaca sesuatu di perpustakaan, kalian akan ikut denganku atau mau menggosip di kantin?" Imera menyela, ia sudah berada di depan perpustakaan.
"Ya Tuhan, my baby Imera! Kami bisa menggosip di mana saja."
Oh, tentu saja. Imera sudah paham sekali soal itu. Di mana saja. Benar. Jangankan di toilet atau koridor, bila di tempat beribadah saja mereka berani melucuti dosa orang lain.
Imera mengangguk dan menyapa penjaga perpustakaan seperti biasa. Ia mencari beberapa buku untuk referensi. Mengitari lemari kayu yang menjulang tinggi dan mengacuhkan Martha juga Garcia yang masih menggosip tentang Jane dengan vokal lebih lirih.
Imera menemukannya. Sebuah buku tebal bersampul cokelat di rak paling atas. Meski tingginya 172 senti meter dengan tangan yang panjang, ia masih tak bisa menggapai. Hingga tiba-tiba seseorang meraihnya dan memberikannya pada Imera.
"Untuk referensi? Buku yang kamu pilih tepat!" ujarnya seraya memberikan buku tersebut pada Imera.
Imera agak sedikit terkejut. Sementara Martha da Garcia mendadak bungkam dan berlagak fokus mencari buku.
"Kamu di sini juga, aku kira sedang berkencan," katanya menggoda.
"Aku mencari kamu. Tidak ada teman untuk menemani makan siang." Jason menatap Imera dengan senyum mengembang. "Lagi pula aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berkencan. Aku sibuk sekali."
"Tidak punya banyak waktu untuk berkencan dan sibuk sekali, ya?" Imera menganggukkan kepala. "Kalau begitu aku seharusnya menolak ajakanmu, ya?"
Jason mengernyit. "Kenapa?"
"Kamu bilang tidak ada waktu untuk kencan dan apa tadi? Sibuk sekali, ya?"
Maka kekehan mengudara, sampai-sampai penjaga perpustakaan memberi peringatan untuk mereka.
"Kan kita cuma makan siang bersama, Imera. Siapa yang bilang berkecan, sih?"
Ah, iya, benar. Bodoh sekali! Imera mendadak gugup dan terpaksa memasang cengirannya. Sementara Jason mengusap puncak kepala gadis itu. "Ayo!" Kemudian menarik lengan Imera dan membawa gadis itu keluar lingkup perpustakaan.
"Kamu yang traktir, ya?"
"Tentu saja, aku mana pernah membiarkan seorang gadis membayar apa yang aku makan."
Imera mendengus, kemudian tertawa. Jason merangkul Imera menuju kafetaria. Tak membiarkan ada jarak satu senti meter pun darinya. Bila sudah begini, Imera cuma bisa menggali kubur dalam hatinya agar semakin dalam lagi. Setidaknya ia bisa menjatuhkan perasaannya di sana dan tak seorang pun mampu melihatnya.
Perasaan cantik ini, mengapa harus berkembang dan abadi sendiri?