Ia melirik sekilas rupa lelaki yang tengah mengemudi di sampingnya. Visual lelaki itu simetris, dia tampan dan memiliki aura bangsawan. Kalau tidak salah dengar, tadi lelaki itu bilang kalau ia adalah pekerja cafe. Tetapi lihat, mobil yang ia kendarai jelas tak masuk akal. Maksudnya, bagaimana mungkin seorang bartender mampu membeli mobil yang tengah mereka tempati ini. Imera yakin gaji seorang bartender selama setahun saja agak mustahil bila mampu membeli mobil sport.
Ia memilih bungkam dan membiarkan kepalanya menerka nerka. Ia tak ingin dikira tak sopan menanyakan mobil siapa yang tengah mereka tempati atau sesuatu yang berhubungan dengan pangkat lelaki itu. Ia baru bertemu lelaki ini dua kali, tentu tak ada yang jelas dari sikapnya. Ia terlihat angkuh dan tak peduli dengan keadaan sekitar. Tetapi malam ini ia malah menawarkan diri untuk mengantarkannya.
"Ada apa? Tanyakan saja jika ingin menanyakan sesuatu."
Imera segera mengalihkan pandang. Ia sendiri tidak sadar sejak tadi betah sekali menatap lelaki itu.
"Tidak ada."
"Masih bingung?"
"Huh?"
"Kamu jelas kebingungan. Waktu seolah berjalan cepat padahal kamu tidak merasa melewati hal-hal yang telah terjadi barusan." Lelaki itu berbicara tanpa menatap Imera.
"Sebenarnya begitu, aku cuma ingat masuk ke dalam cafe dan memesan mathca latte lalu menilik ponsel sebentar."
"Apa soal kawanmu?"
Imera menatapnya, "Jadi kamu tahu?"
Noah menggeleng. "Hanya menebak."
"Kamu bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang suka main tebak-tebakan." Imera tertawa lirih. "Kamu jelas tahu sesuatu."
Noah mengendikkan bahu. Seperti yang ia tahu dari beberapa orang, bahwa berbicara dengan Imera Mallory terasa mematikan sebab wanita itu pandai menjawab dan mematahkan.
"Apa kamu seorang profiler?"
Imera menggeleng. "Kakekku bilang, ini soal kepekaan seseorang terhadap lingkungan. Aku cuma menebak dan mencoba membenarkan persperktifku. Jadi kamu tahu sesuatu?"
Sejenak hening. Noah sama sekali tak berniat menceritakan apa yang telah terjadi padanya, sama sekali tidak berniat. Tetapi agaknya perkara yang Imera alami sedikit ada kesamaan dengannya. "Kamu bisa langsung berbicara tanpa bertanya."
"Tidak, jangan kira aku akan memaksamu untuk bercerita. Aku hanya ingin tahu saja hal yang ku alami barusan terjadi padaku saja atau orang lain mungkin juga pernah. Jadi bila iya, aku pikir itu bukan masalah."
"Aku pikir bukan cuma kamu saja yang mengalami hal itu. Tetapi kalau kamu menanyakan alasan dan memintaku untuk menjelaskan, aku tidak sepaham itu untuk membahasnya denganmu."
"Kamu tidak berniat untuk mencari tahu?"
"Tergantung. Kalau cuma kebetulan terjadi, aku akan mengabaikannya dan mempelajari hal yang lebih penting dari itu. Tetapi kalau kejadian ini berkesinambungan dengan hal yang lain, mau tidak mau harus dihentikan."
Cara Noah berbicara tak berbeda dengannya. Dia seperti melihat Imera versi lelaki. Ia kira lelaki angkuh dan datar ini memang tak banyak bicara. Oh, atau katakan saja cuma berbicara bila ada hal yang penting yang memang perlu butuh suara.
"Tetapi tadi tebakanmu benar, ini soal temanku. Kamu tahu tentang dia?"
"Garcia Riley?" Kali ini Noah menengok.
Imera anggukkan kepala. "Iya, yang tewas bunuh diri karena hal yang agak tidak masuk akal."
Noah tersenyum, kemudian tertawa lirih. "Aku tidak mengenal dia secara intens, aku hanya mengenal si tersangka, Dave Dawson."
Manik Imera terbelalak. Benar. Noah seharusnya tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga Dawson. "Apa Dave Dawson temanmu?"
"Mantan teman lebih tepatnya." Rautnya berubah jadi agak tidak mengenakkan. Mungkin terbayang dengan perkara di masa lalu.
"Perkara cinta?" Imera mencoba menebak lagi.
"Hm. Bisa dibilang begitu."
"Apa Dave merebut pacarmu?"
Noah membuang napas pelan, ia tersenyum. "Tampang lelaki itu memang cocok menjadi perusak hubungan orang, ya?"
Imera mengendikkan bahu. "Entahlah, kalau dilihat sekilas memang seperti lelaki b******k yang suka bergonta-ganti pacar, menarik ulur perasaan, dan menganggap perselingkuhan adalah hal yang wajar." Imera menatap lelaki itu lagi. "Jadi benar? Pacarmu pernah direbut Dave?"
"Lebih rumit dari itu. Dave orangnya agak egois dan selalu ingin menonjol. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia miliki. Dia pikir, lelaki yang bisa mengencani banyak wanita popular itu keren."
Imera tertawa. "Oh, cuma untuk eksistensi dan ajang pamer? Lelaki yang merasa harga dirinya tinggi bila berkencan dengan wanita-wanita papan atas."
"Mulutmu lumayan tajam juga rupanya."
"Tidak setajam jari-jari netizen."
Di dalam mobil itu, mereka tertawa untuk pertama kalinya. Imera jadi lupa dengan tujuan pertamanya untuk menggali informasi. Karena mereka sudah tiba sampai tujuan, jadi konversasi nyaman terpaksa berhenti sampai di sana. Mobil Noah masuk ke dalam gerbang dan menurunkan Imera tempat di depan mansion. Noah menurunkan kaca begitu Imera sudah keluar dari sana.
"Terima kasih banyak untuk tumpangannya. Kalau tidak salah, kamu mahasiswa baru di kampus yang sama denganku, kan?"
Noah mengangguk, auranya kembali seperti semula, datar. "Yap, kamu mau menemuiku besok untuk menggali info dariku, kan?"
Ia mendengus, kepekaan terhadap lingkungan rupanya bukan cuma dia saja yang merasakan. "Aku akan traktir makan siang besok, aku tunggu di kafetaria jam sebelas."
Noah mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Imera lantas masuk ke dalam dan terkejut sewaktu Jason sudah berdiri menghadang di depan pintu dengan kedua tangan yang disilangkan di depan d**a. "Jam segini baru pulang kamu, Imera?"
Imera mengangguk acuh tak acuh, berdiri di hadapan Jason. "Kenapa memang?"
"Uncle Jeon akan membunuhku kalau kamu sampai kenapa-kenapa. Sejak jam sembilan aku menghubungi kamu tetapi kamu malah me-reject panggilanku dan aku tidak bisa melacak ponselmu."
Oh, jadi Jason sempat menelepon? Ia mana sempat megangkat bila dia saja terjebak dalam waktu yang sulit dijelaskan.
"Maaf ya, jadi merepotkanmu. Mau bagaimana lagi, Papa sebegitu sayangnya denganku. Dan untuk masalah menelepon, aku tadi sibuk mengerjakan sesuatu jadi tidak bisa mengangkat telepon dari kamu."
Jason tertawa, raut mukanya serupa orang sedang menahan amarah. "Mengerjakan apa? Jangan macam-macam, Imera!"
Apa-apaan ini? Kenapa Jason jadi membentaknya? Imera memutuskan untuk menerobos Jason dan menuju kamarnya. Ia tak mempedulikan Jason yang terua berceracau.
"Aku serius, mengerjakan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Sesuatu yang tidak masuk akal."
"Kamu sedang membercandaiku."
"Tidak, kok. Aku kan sudah bilang serius."
"Lalu apa hal yang tidak masuk akal itu?"
"Kamu tidak suka mendengarnya, karena ini tidak masuk akal."
"Aku akan mendengarnya selagi kamu yang berbicara."
"Aku tidak mau mengatakan selagi kamu yang mendengarnya!"
Jason menganga, tak menyangka Imera membalikkan kalimatnya.