Imera sempat terhenti di ruang televisi karena melihat Kakek William berada di sana dengan secangkir kopi di meja. Imera lantas menghampiri William dan mencium pipinya.
"Loh, Kakek belum tidur?"
"Ada film yang Kakek sukai tayang di jam midnight. Kamu kenapa baru pulang?"
Belum sempat Imera menjawab, Jason buru-buru menyerebot. "Baru pulang kencan, Kek."
"Kamu tahu dari mana?!" Imera membantah.
"Well, jelas-jelas mahasiswa baru itu mengantarmu pulang sampai larut malam."
Imera memutar bola mata jera. "Lantas kenapa? Masalah buatmu?! Kamu bahkan semalaman tidak pulang karena berkencan saja aku tidak protes!"
"Siapa?" Kakek bertanya. Imera nyaris menampar mulut Jason yang tumben sekali tidak bisa dikontrol.
"Noah Smith Charles."
Imera tidak menduga, Jason bahkan tahu siapa Noah. "Kamu mengenal dia?" Sekon berikut Imera baru tersadar, saat Jason mengantarnya ke toko bunga dan Imera mengadu kesal dengan lelaki di dalam toko itu, Jason lah yang memberi tahu Imera Noah Smith Charles adalah mahasiswa baru.
William mengernyitkan kening, lalu raut muka berganti tak masalah, tetapi tentu saja malam ini Imera pasti akan disidang. Ia tiba-tiba menyuruh Imera duduk di sampingnya dan menyuruh Jason untuk kembali ke kamarnya.
Jason dengan berat hati menurut dan meninggalkan mereka.
"Kamu tidak bilang pada Kakek sudah punya pacar?"
Imera menatap punggung Jason dengan sengit. Andai lelaki itu bisa lebih pandai dalam memilih waktu untuk melampiaskam segala emosinya.
"Bukan pacar, Kek," Imera menjawab malas. "Kenapa semua orang langsung menyimpulkan sesuatu tanpa tahu kebenarannya dan tanpa inisiatif bertanya lebih dulu?" Mata Imera memerah, emosinya mendadak membeludak tatkala mengingat Jason dan Sherry.
"Baiklah, tarik napas dan buang perlahan." William selalu saja begini, dia tahu Imera tengah emosi dengan Jason pun sebaliknya tanpa alasan yang jelas.
"Tidak, dia bukan pacarku. Aku baru bertemu Noah beberapa kali dan kebetulan malam ini ada sesuatu yang terjadi tanpa bisa ku kendalikan, jadi karena sudah malam Noah menawarkan tumpangan. Selain itu tidak ada yang terjadi. Jasonnya saja yang berlebihan, setiap aku turun dari mobil seseorang dia langsung berspekulasi bahwa kami berkencan."
William tertawa, sebab baru kali ini dia mendengar Imera memanggil Jason hanya dengan nama saja. "Tak masalah, Imera. Kakek tidak akan menanyai kamu hal macam-macam untuk saat ini sebab Noah bukan pacar kamu. Kakek cuma ingin tahu saja bagaimana bisa kamu bertemu dengan Noah Smith Charles."
Kening Imera mengkerut, ia menatap Kakek dengan sorot menyelidik. "Kakek mengenal Noah, ya?"
William menganggukkan kepala, matanya kembali menyorot televisi. "Dia cucu Rey Smith Charles. Kakek pikir kamu sudah menduga ini karena Kakek juga sering bercerita tentang sosok Rey kepadamu. Tidak mengingatnya?"
Astaga! Imera nyaris melupakan sosok yang bersejarah bagi Kakek. Well, bahkan bila ia mencari tahu sejarah Mallory's Hotel, nama Tuan Rey dan Tuan Hockney akan selalu ada pada paragraf yang sama dengan nama kakeknya, William Mallory.
"Aku mengingatnya."
William tersenyum. "Seusia denganmu, dia bahkan sudah mendirikan cafe dengan jerihnya sendiri."
"Maaf?" Imera kehilangan koneksi untuk sesaat. "Cafe? Mendirikan? Dengan jerihnya sendiri?" Imera bertanya sebab tidak yakin.
"Iya, Imera. Dia pernah bekerja paruh waktu saat masih SMA karena mendapat hukuman oleh ayahnya dan seluruh fasiliasnya dibatasi. Kakek tidak tahu bagaimana cara dia mampu membangun sebuah Cafe itu. Tetapi Rey pernah bilang kalau Noah berbeda dengan cucunya yang lain, yang gemar menghabiskan uang orang tua. Noah lebih suka menabung dan menghemat uang sebab cepat atau lambat, dia pasti akan terkena masalah dan ayahnya akan membatasi fasilitasnya."
Imera cuma ber-oh ria, William bercerita seolah tengah mendongengkan kisah cucunya. "Sudah kan, kek? Aku mau kembali ke atas."
William menatap Imera sekilas. "Apa cucuku ini tersinggung atau merasa cemburu?"
"Tidak, kok. Aku tidak sesinsitif untuk menangkap ucapan Kakek. Kakek hanya bercerita kebaikan orang-orang, untuk apa aku tersinggung atau cemburu? Well, aku akan menjadi diriku sendiri untuk membuat Kakek bangga."
William menepuk kepala Imera dengam senyum yang sangat hangat. "Kamu tidak memakai cincin pemberia Kakek?"
"Aku simpan, Kek. Takut hilang."
"Tidak akan hilang selama kamu menjaga dan memakainya."
Imera mengangguk. Ia sudah bangkit dan melajukan tungkai. Tetapi terhenti sebab William memanggil namanya.
"Soal Kakek dam Rey—"
Imera membalikkan badan dan berkacak pinggang. "Kenapa? Kakek dan Tuan Rey pernah melakukan konversasi dan setuju untuk melakukan perjodohan antara kami?"
William tertawa sampai tubuhnya ikut bergetar. "Kamu sudah tahu ternyata."
"Aku baru tahu Kakek sekuno itu," cibirnya, yang dibalas tawa oleh William.