Imera mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merentangkan tangan selagi napasnya kembang kempis mengontrol emosi. Wajah Jason yang memerah serupa menahan marah kembali terbayang dalam benak. Sebelumnya ia tak pernah sekurang ajar itu dalam menjawab perkataan Jason. Imera sudah menahan segala gejolak memuakkan di d**a. Imera bahkan tidak bodoh dengan berpura-pura menjadi gadis naif yang tak menyadari apa yang ia rasakan. Imera mengaku menyayangi Jason lebih dari sekadar saudara. Keinginannya bersama lelaki itu begitu kuat dan tak mampu dibantah. Setiap kali Imera menepis perasaan yang menikam kejam, sebanyak itu pula perasaannya kembali tanpa bisa ditahan.
Ponselnya berdering, ia bahkan tak berminat untuk menilik sebentar saja. Imera sudah menduga, siapa lagi kalau bukan Jason. Ia mencoba mengabaikan tetapi ponsel terus berdering beberapa kali. Sampai akhirnya dia menyerah dan meraih ponselnya di atas nakas. Melihat nama Damian di sana, lalu segera menelepon balik. Damian tak menjawab, lalu atensinya beralih pada daun pintu yang diketuk tidak sabaran.
"Imera Mallory!"
"Halo, Imera!! Kamu di sana?"
Imera menghela napas, dengan langkah gontai ia menuju pintu dan membukakannya. Damian di sana berdiri dengan membawa sekotak piza dan dua kaleng coke. Ia mengangkatnya dan segera masuk menerobos Imera.
"Kamu tidak menjawab panggilanku, padahal Kakek bilang kamu baru saja pulang. Tadinya aku mau memakannya bersama Jason, tetapi aku ingat kamu." Damian menaruh piza di meja dan mendudukkan diri di sofa sembari menyetel televisi.
"Ingat aku? Memangnya aku kenapa?" Imera mendudukkan diri di ranjang yang terletak di belakang sofa yang tengah Damian tempati.
"Hari ini terasa panjang sekali setelah apa yang telah terjadi. Kenyataannya, kamu tidak baik-baik saja dan terus memikirkan Sherry." Damian menjeda sejenak. "Duh, kenapa rasanya agak aneh waktu menyebut nama si psikopat itu, ya?"
Imera melemparkan bantal dan tepat mengenai kepalanya. Sejak kapan Damian jadi lebih peka begini? Membawakan makanan segala. "Tetapi kenapa kamu menyebut dia psikopat?"
"Hmm." Damian berpikir seraya mengambil sepotong piza untuk Imera dan untuknya. "Itu…." Damian masih terus berpikir selagi memakan piza dan menonton televisi. "Karena kamu yang bilang, kan?"
"Lantas kamu percaya?" tanya Imera seraya melahap piza tersebut.
Damian tertawa. "Hm, tidak tahu juga, sih. Menurutmu aku harus percaya atau tidak? Kan kamu sendiri yang bilang kalau Sherry itu begitu." Damian menengok ke belakang. "Kamu sendiri bagaimana? Percaya?"
Imera mengendikkan bahu. Dia sudah melewati batas untuk masalah ini. Well, Imera adalah pribadi yang tidak akan percaya dan peduli dengan gosip begitu. Tetapi nyantanya semua ini terasa semakin aneh. Tangkai anyelir kuning, teror lewat mimpi, dan waktu yang berjalan tanpa ia sadari.
"Damian, kamu ingat saat mengantarku ke Green Cafe?"
Damian mengangguk. "Kenapa memangnya? Aku mengantarmu sehabis pulang dari rumah sakit karena kamu bilang ingin minum Matcha Latte di Cafe itu, tiba-tiba ingin."
Imera merenung lagi. "Berapa lama aku di sana?"
"Tidak tahu, kan kamu minum sendiri, tidak mau ditemani. Ya sudah kutinggal pulang. Kamu sendiri habis dari mana saja?"
"Green Cafe."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Tidak tahu. Tidak ingat tepatnya."
Damian terkejut, masih dengan mulutnya yang penuh dengan piza ia menarik tangan Imera, membuat badannya terjungkal ke depan dan duduk di sofa bersama Damian. Lelaki itu menelan semua sari yang ada di mulutnya, lantas berbisik. "Kok bisa? Apa bartender di cafe itu menggodamu? Apa kamu berkencan? Jadi benar kamu berkencan?"
"Siapa yang bilang aku kencan?"
"Kakek Liam. Dia bilang kamu baru pulang berkencan dan bad mood karena Jason menghakimi kamu. Makanya Kakek menyuruhku untuk menengok ke kamarmu sebentar."
Imera menghela napas kesal seraya mengumpat tertahan. "Lalu Kakek bilang apa lagi padamu?"
"Tidak ada. Kakek tidak bilang apa-apa lagi. Lanjutkan yang tadi, ada masalah apa kamu dengan Green Cafe sampai lama sekali di sana? Apa kamu lupa membawa uang dan tidak bisa membayar. Lalu karyawannya menyuruh kamu untuk mencuci gelas atau kamu disuruh menjadi kasir selama itu?"
"Kamu tahu tidak? Adegan itu sesungguhnya cuma ada di cerita fiksi. Yang aku alami bahkan lebih aneh dari itu."
"Lalu kenapa?"
"Aku sudah bilang tidak tahu. Tidak ingat."
"Bagaimana bisa?"
Imera diam sejenak, ia memijat pangkal hidungnya. "Aku tidak merasa selama itu berada di sana, Dami! Aku cuma bermain ponsel dan seseorang datang untuk mengingatkan bahwa mereka akan tutup sebentar lagi. Lima cangkir Matcha Latte tergeletak di atas meja, aku bahkan tidak ingat memesan sebanyak itu. Aku juga meminjam charger milik orang itu."
Damian mengernyitkan kening. "Itu kamu ingat."
"Oh Ya Tuhan, Damian! Orang itu yang menceritakannya padaku."
"Orang itu siapa?"
"Pokoknya seseorang, deh. Dia juga yang mengantarku pulang karena tidak tega bila membiarkan pengunjungnya pulang dengan keadaan kebingungan. Dia bilang kalau dia khawatir bila aku tidak sampai tujuan jika dibiarkan pergi dengan kondisi yang begini."
Damian terbahak. Kali ini benar-benar serupa orang yang sedang tontoni lawakan komedi. Bikin Imera kesal sebab tak ada kalimatnya yang dirasa jenaka. "Kenapa kamu tertawa? Tidak ada hal lucu yang cocok untuk ditertawakan!"
Damian segera menenggak minumannya, menetralkan napas dan mencoba kembali masuk dalam konversasi bersama Imera. "Apa-apan itu? Aku baru dengar ada seseorang yang perhatian begitu. Dia seperti mengkhawatirkan kekasihnya, tau!"
Well, sesungguhnya memang tidak begitu, Imera yakin Noah tidak sembarangan menawarkan tumpangan pada orang asing. Hanya saja, Imera tidak bisa menceritakan lebih detil soal kesamaannya dengan Noah dan beberapa hal yang berkesinambungan.
"Kamu mau ke dokter? Besok aku bisa mengantarmu untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga kita. Aku tidak tahu masalah yang menyangkut dengan ingatan. Ini masalah serius, kan? Kamu kehilangan sebagian ingatan secara tiba-tiba."
Imera mengambil potongan kedua dan melahapnya. "Akan ku lakukan bila ada waktu senggang. Aku rasa besok akan sedikit lebih sibuk dari biasanya."
"Tetapi kamu tadi bilang cuma menatap ponsel, memangnya kamu sedang melakukan apa?"
"Eum, aku membaca artikel tentang Garcia dan Dave."
"Jadi siapa yang salah? Dave atau Sherry?"
Imera bungkam. Tak tahu harus berpendapat bagaimana. Dia tak ingin menyimpulkan sesuatu yang masih abu-abu.
"Tidak tahu."
***