Purnama dimakan kelamnya awan. Bumi tak seterang siang. Imera melajukan tungkai menuju balkon dengan secangkir green tea di genggaman. Sekiranya sejak kapan dunia jadi sebeku dan sesunyi ini? Alam tak berbunyi, mungkin sudah tidur. Cuma semilir angin nakal yang gemar goda buat sentuh permukaan kulit dengan manja.
Ia duduk sambil menilai gemintang yang pendarnya tak lagi kuat. Sementara itu awan kelam mulai bergeser perlahan memberi purnama kesempatan untuk sinari sendunya dunia. Tetapi kenapa? Apa memang dunia terlihat seharu itu? Atau memang cuma hidupnya yang tak lagi berwarna.
Cangkir diangkat dan ia menyesap sedikit green tea. Dulu padahal Imera termasuk yang anti dengan green tea, tetapi kini lidahnya terasa akrab dengan rasa itu. Entah sudah ke berapa kali ia mencoba mengerti pada apa yang terjadi dengan hidupnya yang sering mendadak. Jeon memang pernah berpesan, seperti jalanan, hidup tak selamanya lurus. Ia penuh tikungan dan beberapa prahara menghadang. Ini wajar dan akan terus terjadi sampai akhir nanti.
Ia jadi teringat interlokusi bersama Nick dan Noah. Ini juga seperti ditiba-tibakan. Ia mengenal Noah dan mereka terlibat dengan kasus yang sama. Antara Garcia dan Dave. Imera tidak mengingat banyak hal apa yang dikatakan mereka, tetapi ia tahu bahwa Noah memiliki kecurigaan yang sama. Hanya saja, Noah tidak menyebutkan nama Sherry. Itu sebabnya ia menutup mulut tadi.
Ponsel di dalam kamar berdering, Imera kembali ke kamar untuk mengambil ponsel sekalian mengangkat panggilan di balkon.
Noah yang menelepon.
"Apa ada sesuatu yang penting?" Imera langsung menghantamnya. Entahlah, ia ingin marah pada Noah yang sembarangan telah membawanya masuk ke dalam visi misi yang ingin ia hindari.
"Bagaimana kabar sahabatmu yang satunya."
"Siapa?"
"Martha Leona. Dia karib dengan Garcia?"
"Ya, kami bertiga."
"Barangkali kamu perlu menemui Martha untuk menanyakan perihal Garcia."
"Soal? Oh, kamu ingin tahu barangkali Martha juga memiliki keganjilan dengan Garcia?"
"Sekiranya begitu. Kamu berkenan?"
"Noah…" Imera menghela napas pelan, ia cukup bersabar untuk kali ini. "Kamu tahu tidak kalau perilakumu sudah kelewat batas? Kamu mengganggu ketenangan orang, by the way. Dan kamu tahu? Aku tidak berkanan untuk menanyakan apa-apa tentang Garcia pada Martha."
Imera mulanya mengira Noah lelaki yang sopan, yang tidak sembarangan mengambil keputusan. Bahkan, Imera merasa ia tidak sedekat itu dengan Noah.
"Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya ingin menyelesaikan perkara ini dan kembali hidup dengan tenang. Ini sungguh mengganggu."
"Apa yang kamu katakan?"
"Menurutmu apa aku terlihat baik-baik saja?"
"Tidak. Jelas tidak. Kamu serupa orang yang apik dalam menyimpan masalahmu."
Ada jeda beberapa detik sebelum Noah melanjutkan serak, "aku memang tidak sedekat itu dengan kamu, kan? Tetapi sayangnya cuma kamu yang tahu perihal aku dan Dave."
Imera mengingatnya. "Hm. Lalu kenapa kamu memberi tahuku?"
"Sebab mungkin, kalau tidak salah, kamu tahu sesuatu tentang kematian Garcia, kan?"
"Sesuatu yang tidak jelas, yang tidak bisa ku katakan pada siapa pun."
"Kamu tidak perlu mengatakannya. Aku yang akan membuktikan."
"Noah, kenapa kamu berbicara begitu seolah kamu tahu benar kalau aku memang—"
"Teror lewat mimpi, Imera. Kamu pikir aku tidak tahu?"
Tubuh Imera menegang. Ia mengeratkan jemarinya di gagang cangkir. Kepalanya seperti dihantam tiba-tiba dan mendadak terodorong pada momen kala itu. "Noah, kenapa tidak katakan jika kamu tahu sesuatu?"
"Mau kuceritakan?"
Sementra di seberang telepon, Noah yang juga tengah duduk di balkon seraya menikmati secangkir black charrol latte kembali tersedot pada lubang waktu di momen lalu. Saat dirinya tertidur di ruang perpustakaan setelah berpapasan dengan Sherry dan Garcia di gedung utama lantai tiga.
Noah ada di sana, meski tak mengerti tepatnya di mana, di sudut ruang gelap nan minim udara, sewaktu Sherry menindihi tubuh Imera dengan santai, tetapi Imera justru terlihat keberatan dan nyaris kehabisan napas. Samar-samar Noah mendengar Sherry yang tertawa dan tangan Imera yang bergetar. Tatapan mereka begitu penuh arti. Sherry yang terlihat tenang dan sesekali menatap mematikan, juga Imera yang berusaha terlihat tenang dengan tatapan ketakutan. Sayangnya ia tidak mendengar konversasi tersebut.
"Yang aku ingat hanya saat Sherry mengatakan nama-nama. Garcia Riley, Dave Dawson, Benny Dawson, dan…" Noah berhenti di sana, suaranya memberat seolah tertimbun beban luar biasa hebat. "Brenda."
Imera cukup peka pada apa yang terlintas bukan sebuah kebetulan. Tetapi konspirasi. Ia menyadari satu hal. Alasan mengapa kini dalam lingkup yang sama, ia harus bertemu dengan Noah dan terlibat dalam kasus yang sama. Tentu saja, karena Noah adalah pihak yang dirugikan dalam kematian Garcia.
"Ibunya Dave, dia sakit jiwa, kan?" tanya Imera lirih.
"Ya."
"Dan kamu juga berkunjung ke rumah sakit jiwa. Kamu menemui Brenda, bukan?"
"Ya."
"Aku menemui benang merahnya. Dan alasanmu membenci Dave, apa karena Brenda?
"Ya."
Imera menghela napas, menggigit bibir bawahnya selagi ia mengontrol vokal suara supaya tetap stabil. "Perkara cinta? Apa Dave merebut pacarmu? Aku bertanya begitu kala itu. Lalu saat itu juga secara tidak langsung kamu mengatakan bahwa Dave merusak hubunganmu. Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi, Noah. Soal Brenda…"
"Dia mamaku."
Imera terkesiap. Matanya sontak terbelalak. Ia mencoba menenangkan diri dengan menyerebut green tea. "Kau dan Dave—"
"Satu ibu beda ayah. Aku baru tahu setelah lulus SMA. Ada pertengkaran hebat antara Mama dan Papa. Aku tak sengaja mendengar. Bahwa sesungguhnya, Mama berselingkuh dengan Benny sejak aku belum dilahirkan. Tetapi semua terungkap saat aku terlanjur berteman baik dengan Dave, dia bahkan sering ke rumahku, dan Mama memperlakukannya seperti anak sendiri. Saat Dave sakit, Mama juga berada di rumah Dave. Papa mengusir Mama setelah semuanya terungkap, Mama mewariskan setengah harta milik Papa, tetapi dengan syarat aku tetap bersama Papa. Kukira Mama akan memilihku, tetapi ia justru memilih hidup dengan Benny dan Dave." Noah menjeda, mengatur emosinya. "Lantas apa yang Mama dapatkan setelah itu? Hidup bahagia? Papa dan aku membenci Mama sebesar kami mencintainya. Tetapi setidaknya Mama masih mendapat cinta yang sama di sana, bukan?" Dalam sambungan telepon yang masih berjalan, Imera dengar suara tawa Noah melirih, seperti seseorang yang tengah menertawakan takdirnya sendiri. "Cinta yang membuatnya gila. Tidak. Sebesar apa pun Papa mencintai Mama, Papa tidak bisa menerima Mama kembali ke rumah dalam jiwanya yang telah rusak."
Rusak, ya? Lantas sekarang apa lagi yang sedang ia hadapi? Faktanya adalah, setiap manusia punya sisi gelap yang disimpan dengan rapi.
Di bawah langit yang sama, dalam lingkup hitam yang serupa, dan suasana hati yang merana. Mereka menormalkan debar jantung memburu, berusaha mengontrol napas dan mendinginkan masing-masing kepala. Niat ingin mencari udara segar biar bebas memasok oksigen yang telah lama terhimpit, kini malah semakin sesak dan menekan permukaan d**a. Sejak nama itu disebut di antara mereka, hari yang mulanya penuh ketenangan seolah terbalik dan berubah total.
****