"Kalau begitu biarkan, suruh Jason menemui Kakek dan membawa gadis itu. Nanti malam kita adakan makan bersama di mansion."
William tangkap raut keterkejutan cucunya. Mukanya serupa orang cemas, benci, tetapi tak bisa berbuat banyak. Untuk yang ini William tak mampu menyimpulkan dengan pasti. Si gadis jelas pandai membawa diri dan menyembunyikannya dengan apik, kendati demikian bukan berarti perangai tersebut mampu menutupi seluruhnya dengan sempurna.
"Tiba-tiba, Kek?" Si gadis memperbaiki cara duduk, mendadak jadi gugup dan salah tingkah. "Maksudku, bukankah Kakek perlu memeriksa latar belakang si wanita dan—" tersenyum canggung. "Belum pasti juga mereka berkencan, kan?"
"Kita bisa melakukan keduanya saat makan malam. Kakek bisa mengajaknya mengobrol sebentar di perpustakaan bersama Jason."
Imera cuma mengangguk pasrah. Tatapannya seolah berkata ‘tentu saja, bukan? semua Kakek yang mengatur. Jadi sebagai cucu kami cuma menurut. Benar?’
"Kamu keberatan, Imera?"
Menggeleng dengan cepat. "Tentu tidak. Kenapa aku keberatan? Semua kan Kakek yang mengatur— *eum,* maksudku, begitu. Kami hanya perlu menurutinya, kan?"
Liam meraih cangkir, menyeruput teh roselanya yang nyaris dingin. Ia menikmatinya selagi cairan tersebut aliri kerongkongannya. "Kamu bisa menemui Kakek kalau mendapat kesulitan. Apa pun yang terjadi, datang saja. Usahakan saat berjalan, kamu tidak terluka parah."
Si gadis kembali mengangguk, meminum air mineralnya. "Sesungguhnya aku mengalami banyak kesulitan setelah kemarian Garcia."
"Nick menelepon Kakek, dan untuk kasus kawanmu itu, katanya Noah membawamu kepadanya. Kenapa Noah ingin kamu ikut dan kenapa harus kalian ... berdua?" Imera tak langsung menyahut. "Apa karena Brenda yang meminta?"
"Tidak. Masalahnya lebih pelik dari itu, Kek. Agak sulit diterima akal sehat kalau bukan diri sendiri yang mengalami."
Kerutan di dahi Liam menambah. Sorot netranya berubah serius. "Want to tell?"
Imera menggeleng. "Nope. for now I choose to overcome it with Noah."
"Alright, you can control that." Liam mengangguk mengerti. Lantas tersenyum kemudian. "Noah will help you control it too, right?"
"About what?"
"Your feeling, my Baby." Tawa renyahnya mengudara, berbaur dengan udara yang ikut bercengkerama. "Kakek bergurau, Kakek tertawa. “Calm down, Baby.”
"Well, Kakek begitu menyukai Noah. I know he can treat me better, but I'll only focus on the case of Garcia's death, Paduka Raja!"
Tubuh Kakek tak mampu menahan guncangan berkat tawanya yang keras. Ia tahu ini bukan kelakar yang mampu mengundang gela tawa. Tetapi … Apa-apaan itu? Paduka Raja? "Ya, ya, ya. Whatever you want, Imera. Do it. Do what you want. I'll trust you. Always,".katanya selagi menormalkan mimik muka.
Imera cuma pandangi Kakeknya dengan helaan napas. Ia menandaskan air mineralnya dan kembali menatap kolam yang bisu. "Aku ingin mengatakan soal Damian, Kek."
William terdiam sejenak, ia teringat salah satu pelayannya, Lizzie, bilang kalau Damian pulang dari kampus dengan luka di bibir dan bawah tulang pipinya. "Dia membuat masalah lagi? Bertengkar di kampus?"
Dan Imera baru mengingat perkara itu. "Tidak. Bukan. Untuk yang itu bukan karena pertegkaran. Tetapi karena aku."
"Apa?"
"Pokoknya ada hal yang tidak bisa dijelaskan—"
"Tidak masuk akal lagi?" Liam menyerobot.
"Bisa dibilang begitu. Tetapi untuk masalah ini aku mengaku salah." Benar, bukan? Imera tak mungkin berkata bahwa Damian dipukuli oleh penggemarnya selepas ia mengejarnya. "Tetapi Kakek bisa mengembalikan akun Damian?"
"Karena kamu merasa bersalah dan ingin meminta maaf?"
"Sedikit banyak. But—" Imera menarik lengan Kakeknya, merematnya seraya memohon. "Damian tidak melakukan hal buruk, dia hanya melakukan apa yang dia sukai. Well, dia bisa dapat penghasilan dari bermain game. Dia juga tidak berlagak sombong atau membuat keonaran dengan menggunakan nama keluarganya."
Imera menjeda, menatap Liam sarat simpati. "Damian selalu takut untuk bersuara karena sudah dipandang nakal oleh kedua orang tuanya dan, ya, dia punya tujuan, Kek. Sayang sekali, hanya terpendam karena takut tidak disetujui."
"Tidak belajar masuk daftar buruk dalam hidup Kakek. Kamu tahu kalau Kakek sangat tidak suka dengan anak yang kerjanya cuma bermain tanpa belajar."
Netra Imera mendadak sayu. "Hanya karena itu? Hanya karena Damian tidak belajar jadi dia diperlakukan tidak adil?"
"Kakek selalu adil kepada semua cucu Kakek. Kamu mendapat the sunrise ruby karena giat belajar dan mencapai hasil bagus, begitu pula dengan Jason. Damian akan mendapat apa yang dia inginkan bila dia mau berusaha."
Imera menjauhkan tangannya. Ia mengerti. Ia mengerti apa yang dirasakan Damian. "Damian tidak pernah mendapat apa-apa. Mobil, ponsel, laptop, dia yang beli sendiri dengan uang hasil bermain game dan di unggah di You Tube. Dan Kakek menghapus akunnya, Damian kehilangan peluang untuk mendapat yang ia inginkan. Damian harus memulai dari awal lagi." Imera bangkit, ia tersenyum masam pada William. "Kakek bilang setiap anak memiliki kemampuan dan bakat masing-masing, kan? Damian ingin mendirikan perusahaan penerbitan game dengan hasilnya sendiri."