Di perpustakaan lantai dua Damian berada. Usai mengambil beberapa buku soal pedoman mendirikan perusahaan, ia memutuskan untuk duduk di balkon dan sesekali menjatuhkan pandangannya pada kolam di bawah sana. Kucuran air yang mengalir dan memenuhi kolam ikan juga kicauan burung pagi itu menjadi perhiasan alam. Tetapi ada yang lain di sana, ia dengar samar-samar konversasi antar William dan Imera di teras bawah.
Cukup lama. Tetapi dari sekian banyak topik percakapan, ia memutuskan untuk duduk agak lama di sana sewaktu dengar Imera menyebut namanya. Dengan vokal yang agak keras dan nada setengah memendam kesal, rungu Damian jelas tangkap sepupunya berujar, "Kakek bilang setiap anak memiliki kemampuan dan bakat masing-masing, kan? Damian ingin mendirikan perusahaan penerbitan game dengan hasilnya sendiri."
Maka tubuh si lelaki stagnan di tempat. Well, Damian tak membuka suara bukan karena takut dengan penolakan atau apa, dia hanya tidak ingin merepotkan Kakeknya yang sudah seharusnya cukup tinggal di mansion dan tidak lagi mengurusi pekerjaan macam-macam. Ia juga tak ingin mengatakannya kepada kedua orang tuanya.
Damian tidak cukup dekat dengan orang tuanya. Ia sering diabaikan, seperti anak buangan. Berbeda dengan orang tua Imera. Damian bahkan seperti dianggap seperti anak kembar dengan Imera. Jeon pernah berkata, alasan mengapa ia sering memberi Jason tanggung jawab perihal Imera, bukan karena Jeon dan Hyoji tak percaya dengan Damian. Mereka hanya tidak mau Damian disalahkan oleh William atau Juan seandainya Imera terluka. Damian tidak merada tersinggung karena itu, Damian juga mengerti Jeon dan Hyoji memang benar-benar menganggapnya seperti anak. Well, tidak ada yang tahu kalau sejujurnya mobil yang Damian dapat bukan dari hasil dari jumlah penonton videonya, tetapi Jeon yang membelikannya.
Ia jadi teringat pada momen setahun lalu, tatkala Hyoji menelepon Damian untuk mendatangi Jeon di sebuah dealer mobil sport. Di sana Jeon tengah berbincang dengan koleganya. Lantas seperti biasa Damian menghampirinya dengan senyum merekah begitu saja.
"Aunty menelepon, katanya aku disuruh datang ke sini."
Jeon menarik Damian dan mengenalkannya pada kolega yang rupanya adalah pemilik usaha itu. Damian cukup terkejut dan senang hanya karena bisa bertemu langsung dengan direktur utama.
"Bagaimana, Mark? Ponakanku ini keren tidak?" tanya Jeon tiba-tiba.
"Apa yang kau katakan, Jeon? Aku kira dia seorang aktor muda." Lelaki seumuran dengan Jeon itu menepuk pundak Damian. "Berapa gadis yang mengantre?"
Lantas mereka tertawa. Lalu Mark membawa mereka untuk berkeliling dan mengenalkan koleksi terbaiknya saat itu.
"Mana yang bagus, Dami? Aku menyuruhmu ke sini bukan untuk melihat-lihat saja."
"Imera akan terlihat keren bila memakai yang warna merah." Damian meunjuk mobil tersebut.
"Tidak. Tidak. Aku akan mengajak Imera ke sini kalau aku ingin. Bukan untuk Imera. Ini untuk hadiah ulang tahunmu."
Mata Damian membulat sempurna. "Serius?"
"Sangat serius."
Damian tidak meminta apapun, bahkan ia tak ingin mengemis cinta orang tuanya. Damian cukup muak dengan yang namanya cinta, tetapi bila ia masuk dalam lingkup Jeon, Hyoji, dan Imera. Sungguh rasanya ia tinggal di dalam surga.
Kendati demikian, Damian memutuskan untuk memutus ingatannya dan kembali pada dunia nyata. Ia bangkit dari sana dan hendak pergi, tetapi justru di hadapannya telah berdiri sosok Imera membawa dua piring roti bakar selai cokelat dengan potongan pisang dan satu mangkuk kecil berisi madu.
"Anne bilang kamu ke perpustakaan, jadi aku membuat ini dan membawanya ke sini." Imera duduk di hadapan Damian dan meletakkan nampannya di atas meja kaca tersebut.
"A-aku mau ke kamar," ujarnya gugup.
"Aku akan sangat marah kalau kamu tidak memakan roti buatanku." Mata Imera menghunus tajam seolah mengancam. Damian terpaksa duduk kembali.
"Aku tidak mau memakan kalau tidak ada dua kaleng coke."
Imera tersenyum. "Tentu saja ada." Imera lantas berteriak memanggil nama salah satu pelayan dan dengan gesit si pelayan telah membawa dua kaleng coke yang telah Imera siapkan di atas meja tadi dan menyuruh salah satunya untuk membawakan ke balkon perpustakaan. "Tanganku cuma dua, jadi tidak sanggup membawa semua."
Damian mulai memakan roti bakar buatan Imera. Ia juga menusuk pisang dan mencelupkannya ke dalam madu. "Buatanmu memang yang terbaik, Imera!"
"Oww, tentu saja. Tak ada yang bisa menyaingi."
"By the way, Dami. Kamu mendengar semuanya?" Imera bertanya selagi menelan roti.
"Tentu saja, aku punya telinga."
"Tetapi kamu bisa memilih untuk mendengarnya atau tidak."
"Mana mungkin, setiap orang sarat kuriositas. Apa lagi saat namanya disebut. Salahmu tidak memelankan nada bicara."
"Salah Kakek yang mengajak bicara."
Mereka tertawa. Lalu memberi jeda untuk konversasinya dan sepakat untuk menghabiskan roti bakar beserta pisang madu.
"Kenapa kamu mengatakannya?"
"Hm?" Imera menatap Damian yang telah selesai menyantap. "Karena perlu. Memang kenapa kalau aku bicara?"
"Hanya saja, tidak akan mengubah apapun, Imera."
"Kalau begitu aku akan berbicara lagi sampai mengubah sesuatu."
Damian mengendikkan bahu. "Terserah kamu. Tetapi omong-omong, aku dengar Kakek menyebut nama Noah."
"Dari pada Noah, ada yang lebih penting dari itu."
"Apa?"
"Kakek ingin bertemu dengan Sherry Lovato."
"Untuk apa?"
"Pasangan Jason."
Manik Damian terbelalak. "Apa? Jadi Jason serius berpacaran dengan Sherry?"
"Lantass apa sebelumnya kamu pernah melihat Jason memposting foto wanita lain?"
Damian menggeleng. "Jadi serius ya? Aku pikir Jason—"
"Entahlah. Jason lebih mengedepankan pikiran dari pada hatinya."
"Memangnya kamu tidak?"
Imera mengendikkan bahu. "Aku berupaya membuatnya imbang." Ia menatap Damian serius. "Tetapi kadang aku khawatir bila keduanya tidak lagi sinkron dan cenderung mementingkan ego. Kakek selalu bilang setiap manusia punya sisi kelam. Bagaimana jikaa suatu saat kepalaku diisi dengan berbagai macam rencana jahat? Bagaimana bila aku tidak bisa mengendalika diri lagi?"
Damian tertawa masam. "Jaga bicaramu! Tidak lucu!"