Senyum Damian merekah dan tak hentinya memuji William bila ada celah dalam percakapan mereka. Bagaimana tidak? William telah mengembalikan akun miliknya dan tak melarang Damian bermain game, dengan syarat Damian harus belajar dengan sungguh sesuai dengan jurusan pilihannya sendiri. Bahasa lugasnya, Damian telah mendapat kebebasan itu. Ia juga berjanji akan meraih cita-citanya dengan benar.
Damian lantas kembali ke kamarnya dan segera menuju ke studio game. Sangkin bahagianya, lelaki itu tak menyadari kalau Imera tengah berada di sana, di sudut ruangan dengan ponselnya.
"Sejak kapan kamu menyusup studioku, Imera?" Damian mendekat, mengintip secara gamblang ke layar ponsel miliknya. "Wow, sedang bertukar pesan dengan gebetan," katanya.
"Untuk pertanyaanmu, sejak kamu tidak di sini." Imera mematikan ponselnya dan mendongak buat menatap Damian. "Noah cuma manusia—"
"Memang manusia, kamu kira dia apa? asisten google?"
Imera mendengus. "Aku belum selesai bicara, Dami! Noah cuma manusia seperti kebanyakan—"
"Memang manusia seperti apa kalau bukan seperti manusia seperti kita?" Lagi, Damian menyerobot.
"Sekali lagi menyerobot, aku akan membuat Kakek menarik kembali keputusannya."
"Wah, kamu seperti makhluk tak kasat mata yang mampu masuk ke dalam pikiran seseorang dan mengendalikan semuanya, ya? Tetapi barangkali iman Kakek tidak selemah itu." Damian menarik kursi dan duduk di samping Imera. "Memangnya Noah manusia bagaimana?"
"Kami cuma partner. Tidak lebih dari itu."
"Aku melihat pesan kalian."
"Lalu?"
"Noah menyuruhmu ke mana?"
"Cafe."
"Kenapa tidak minta dijemput?"
"Sedang banyak pelanggan."
"Oh iya, dia pekerja paruh waktu, ya?"
Imera menggeleng. "Dia pemilik cafe itu."
Mata Damian membulat. "Apa? Kamu bilang dia—"
"Well, kamu tahu ada banyak tipikal seperti Noah, menyembunyikan identitas asli."
"Ah, tipikal yang misterius biar banyak yang penasaran, kan? Termasuk kamu."
"Setidaknya kamu tahu kalau Noah Smith Charles adalah cucu dari Rey Smith Charles." Imera bangkit. "Rasanya aku tidak perlu menjelaskan siapa mereka, kan?"
Damian berpikir sejenak, kalau tidak salah ingat. "Rey Charles kawan Kakek Liam?"
Imera mengangguk. "Yap. Aku pergi dulu?" Lalu langkahnya dengan cepat beranjak untuk keluar.
"Kamu mau ke mana?" Sayangnya, presensi Imera telah hilang dari sana. "Yap, tentu saja menemui sang pujaan hati dan membantunya mengurusi cafe, HAHAHAHA." Damian terbahak. Entahlah, suasana hatinya sedang baik saat ini. Berkat Imera juga. Ia bangkit dan menuju ke komputernya. Tetapi lagi-lagi dikejutkan berkat kepala Imera mendadak menyembul dari pintu.
"Setidaknya kalau ingin berkata macam-macam, biarkan aku keluar dari kamarmu terlebih dahulu. Aku masih bisa mendengar leluconmu, ya!" Imera menarik napas, memaklumi. "Juga, setidaknya rapikan kamarmu biar pantas disebut ruang huni."
x x x x x x x x x x
Lonceng berdenting sewaktu pintu terbuka. Padahal cafe ini tidak bisa dibilang sederhana. Tampilannya juga tak sekuno cafe jaman dahulu yang masih memakai lonceng untuk menandai ada seorang pelanggan. Cafe ini luas dan ada dua lantai. Meski pemandangan dari atas lebih indah, tetapi Imera menikmati duduk menyesap matcha latte seraya melihat seorang pelayan sibuk berlalu-lalang.
Noah yang menyadari kedatangan Imera segera meninggalkan pekerjannya dan menuju si gadis. Imera menempati bangku kosong di sisi cafe. Noah duduk menyusul.
"Matcha Latte?" Noah menawarkan.
"Bos juga bekerja, ya?"
"Bukan jawaban atas apa yang kutanyakan. Matcha Latte?" Noah mengulangi pertanyaan.
"Ya, seperti biasa."
"Lima cangkir?"
Imera dan Noah sontak tertawa. "Sayangnya saat ini aku sedang sadar."
Noah memanggil salah satu karyawannya, seorang wanita berambut pendek dengan dandanan dewasa dan terlihat aduhai. "Ya, Bos?" kata si gadis tersebut.
"Matcha Latte dan black charrol latte, lalu matcha macaron ice cream sandwich."
Pelayan tersebut mengacungkan jempolnya dan undur diri setelah persembahkan senyum manis.
Tatapan Imera menyapu seisi cafe di lantai bawah. Ia cuma fokus pada para gadis. Nyaris semua gadis yang bekerja di sana rata-rata memiliki fitur wajah menarik dan bodi yang luar biasa mampu bangkitkan gairah. Maka netranya menatap Noah dengan senyum tersirat. Kendati demikian, Noah menyadari hal itu. "Kamu sedang berpikir buruk tentangku, kan?"
"Berpikir buruk bagaimana?" Imera berlagak tak acuh dengan mata yang masih berkeliling ke sekitar.
"Tentang pekerja cafe."
"Kenapa?" Mata Imera seolah membercandai, membuat Noah salah tingkah terhadapnya.
"Lupakan." Noah ikut memalingkan muka dan mengetuk-ngetuk meja dengan bucu jarinya.
"Apa syarat untuk menjadi pekerja di Green Cafe?" Imera akhirnya bertanya.
"Sehat, tidak berkacamata, minimal lulusan SMA, dan jujur."
"Tetapi nyaris semua gadis sepantar denganmu dan mereka berwajah cantik juga bodinya yang aduhai."
"Itu bonus." Noah menatap Imera, ia yakin sekali gadis itu memang sedang memojokkannya.
"Bonusnya lebih dari sekedar itu, dong?"
"Apa maksudmu?"
Imera tersenyum. "Kau pernah melakukan one night stan dengan salah satu di antara mereka? Well, aku pikir yang tadi itu sepertinya terlihat akrab sekali denganmu."
"Aku tidak serendah itu."
"Begitukah?" Pikiran Imera juga tidak semurahan itu, sih.
Noah tak segera menyahut. Mereka terdiam sejenak sampai pesanan mereka telah dihidangkan di atas meja.
"Matcha macaron ice cream sandwich salah satu menu baru. Aku pikir kau begitu menyukai matcha makanya—"
"Makanya kamu mencoba menu baru ini karena aku menyukainya, kan?" Imera menyerobot, kedua labiumnya terangkat naik.
Noah terkejut bukan main. "Kamu mendadak berubah." Ia medekatkan black charrol miliknya dan memandang Imera tak menyangka. "Bukan seperti Imera pada mulanya. Kamu jadi suka beromong kosong dan lebih percaya diri."
"Aku selalu percaya diri."
"Percaya diri dengan karakter yang bijak, kini kamu malah lebih mirip seperti gadis yang genit."
Imera terbahak. "Wah, kamu menghinaku, Tuan Smith."
"Biar kuklarifikasi yang awal. Sebelum kamu datang ke cafeku, aku memang sedang membuat resepnya. Jadi kupikir karena kamu kebetulan menyukai matcha, kamu tentu punya penilaian yang fair untuk menu baru ini. Aku menerima kritik dan saran."
"Diterima. Alibimu telah kuterima. Jadi biar aku coba." Imera memakan macaron tersebut dan mulai menilai dengan lidahnya. "Enak, kok. Tekstur ice cream yang lembut dan rasanya tidak terlalu manis. Aku rasa ini pas."
"Tidak ada kritik atau saran?"
Imera menggeleng. "Setiap lidah berbeda, kalau kamu menuruti semua lidah pelanggan, kamu pasti akan punya banyak resep. Jadi, ini pas untuk yang tidak terlalu suka manis dan suka manis." Imera menyesap matcha lattenya. "Kamu cuma memintaku untuk mencicipi ini?"
"Apa lagi? Kamu mau berkencan? Sayangnya tidak bisa."
"Lihat. Kamu juga sama sepertiku." Imera terkekeh saat raut muka Noah berganti lebih bersahabat. "Tetapi omong-omong, kenapa tidak bisa?"
"Nanti malam aku ada acara."
Imera menghela napas. "Kamu tahu kenapa aku mau datang ke sini? Karena aku juga sedang ada acara dan sangat ingin untuk tidak menghadirinya. Tetapi sayang sekali karena ini perintah Kakek, aku tidak bisa sembarangan beralasan. Kecuali kalau kamu mau menjemputku, mungkin Kakek akan membiarkan. Jadi—"
"Jadi kamu berharap padaku? Sayang sekali, Imera. Sejujurnya aku juga tidak ingin menghadiri acara itu, tetapi karena ini perintah dari seseorang yang tak bisa kubantah, jadi aku tidak bisa membawamu pergi."
"Tentu saja." Imera tersenyum hampa. "Tidak bisa, ya?"
"Tidak bisa." Noah kembali menegaskan.