Garis-garis oranye telah tampak pada awan yang nyaris memudarkan warnanya. Mentari barangkali telah bersembunyi pada cakrawala yang terhalang rimbun pepohonan di sekitar mansion. Gerbang dibuka dan mobil memelesat masuk ke dalam halaman. Imera memarkirkan mobil dalam garasi dan keluar dengan tas bermerk yang menggantung pada bahu.
Kedua daun pintu terbuka tepat saat ia ingin menyentuhnya. Maka presensi Jason dengan aroma mawar bulgaria yang langsung menggelitik indra menciumannya menyambut ia di sana. Penampilannya rapi dengan jaket hitam yang membalut tubuh kekarnya.
Mereka sama diamnya. Menatap satu sama lain dengan berbagai duga dalam kepala.
"Mau ke mana?"
"Kamu dari mana?"
Pertanyaan keduanya bahkan terlontar pada detik yang sama. Mereka kembali menjeda dan menarik napas bersama.
"Habis menemui Noah."
"Mau menjemput Sherry."
Pula pada jawaban yang terlontar di waktu yang sepadan dan sama-sama menimbulkan vibrasi ngilu dalam hati. Mereka bergeming dalam jangka panjang sebab sama-sama merasakan kakinya terpaku di sana, mati rasa dan, entahlah, ingin diam saja dan saling menatap lebih lama. Tetapi waktu terus berjalan dan Jason segera tersadar, ia lebih dulu maju dan melewati Imera.
Imera membalikkan badan. "Hati-hati di jalan." Mendengar suara itu, Jason ikut berbalik dan menatapnya. "Kamu masih punya banyak waktu untuk membawanya. Jadi tidak perlu kebut-kebut," lanjut Imera.
Lelaki itu mengangguk, tersenyum sebentar. "Itu pasti. aku akan kembali dengan selamat."
"Ya, tentu saja." Ia membalas senyum hampa dan segera masuk ke dalam begitu Jason kembali berjalan menuju mobilnya.
Imera membersihkan diri dan memilih baju yang pantas untuk makan malam bersama keluarga. Tetapi, bukankah ia perlu menarik perhatia Jason? Jadi Imera mencari gaun santai tetapi tetap terlihat elegan. Imera telah mengambil beberapa potongan gaun dan ia bawa ke depan cermin untuk dicoba satu per satu. Well, pilihannya jatuh pada gaun berwarna biru gelap sepanjang dengkul dan berlengan seperempat. Tetapi setelah dipikir lagi, bukankah ia akan terlihat berbeda dari biasanya? Gadis yang lekat dengan celana jeans dan blus tiba-tiba memakai gaun di acara makan malam sederhana yang mungkin, tentu saja cuma dihadiri oleh ia, William, Rose, Damian, Jason, dan Sherry.
Imera mengembalikan semua gaun ke dalam almari. Ini terlalu berlebihan, menurutnya. Lantas ia kembali memilah lagi. Ada banyak jenis pakaian wanita tetapi ia nyaris menghabiskan waktu satu jam untuk memilihnya. Pada akhirya, jeans hitam dan blouse floral berwarna soft pink dengan lengan panjang kerah yang lebar sebahu menjadi pilihannya.
Imera merias sedikit wajahnya dan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Ia cukup lama berada di kamar untuk mempersiapkan diri. Padahal dia tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan Sherry, tetapi mengapa rasanya begitu menggelisahkan?
Seseorang mengetuk pintu kamar, lalu suara lain menyusul, suara Anne, pelayannya. "Tuan William menyuruh Anda untuk bergegas bergabung."
"Sebentar lagi, katakan aku aka segera tiba!" Imera berujar dengan nada yang agak keras. Lalu ia bergegas bangkit dan keluar dari kamar.
Damian dari arah yang berlawanan datang, tiba-tiba merangkul Imera entah sebabnya apa. Imera sempat berpikir ada sesuatu yang janggal, tetapi tidak, kan? Damian memang sering merangkulnya begini. Juga mimik muka lelaki itu yang terlihat biasa saja.
"Imera, setidaknya kamu perlu merillekskan diri. Wajahmu terlihat kaku." Damian mengusapi pundak Imera. "Ayolah, mana Imera yang biasanya? Imera yang bisa membawa diri dan mengendalikan segalanya. Imera Mallory si gadis yang memiliki banyak sekali topeng untuk menutupi segala hal yang terjadi." Damian menarik kedua sudut labium begitu Imera balik menatapnya. "Well, setidaknya kamu perlu menghancurkan ekspektasi Sherry kalau kamu tidak akan terkejut."
"Wah, Damian. Tumben sekali, apa-apaan ini?" Imera tertawa, hatinya mulai agak tenang dan ia mulai bisa membawa dirinya tanpa beban.
"Tidak akan ada yang terjadi selagi aku melindungimu."
"Melindungi?"
"Lantas kamu pikir Jason saja yang milindungimu?" Damian mendengus.
"Melindungi apanya? Kamu yang selalu terkena masalah."
"Setidaknya kamu baik-baik saja." Damian menarik pundak Imera begitu mereka akan menuruni anak tangga. Ia membiarkan Imera berjalan di depan lebih dulu.
Semua yang Damian katakan benar. Ia tidak boleh begini. Tidak ada yang boleh mengendalikan dirinya. Maka dengan langkah yang semakin jauh, ia menarik napas panjang dan mencoba untuk abai dengan segala kecemasan yang abu-abu.
Imera dan Damian berjalan beriringan di koridor menuju ruang makan keluarga Mallory. Ruang makan dengan nuansa romansa yang dicat dengan warna merah marun dan emas. Megah dan elegan. Beberapa seni bernilai tinggi juga dipasang di sana.
Ada dua orang penjaga yang berada di depan pintu, mereka membukakan pintu dan Imera masuk terlebih dahulu, sementara Damian dengan jahilnya malah meninju salah satu d**a bodyguard tersebut. "Wah, tubuhmu semakin bugar dan keras saja, kalau aku sempat, temani aku gym, ya?" Well, Damian memang akrab dengan semua bodyguard kakeknya beserta pelayan-pelayan yang bekerja di mansion.
Bodyguard itu cuma mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Lalu ia masuk ke dalam menyusul Imera. Well, tak terduga memang. Imera malah mematung dan Damian tersadar dengan keadaan tersebut. Sesungguhnya Damian khawatir dengan Imera, semuanya selalu ditiba-tibakan. Tetapi agaknya bukan cuma ia dan Imera, Jason tampak berusaha untuk tersenyum.
"Pasti kalian terkejut karena Kakek mengundang Noah. Duduklah." William mempersilakan. Lantas Imera duduk di samping Noah. Damian juga menyusul duduk di samping Imera. Noah berhadapan dengan Jason dan Imera berhadapan dengan Sherry. Sementara Damian berhadapan dengan kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Sherry, sebab Rose tidak di sana.
"Nenek kalian masih berada di hotel." William mengembuskan napas. "Beginilah, Jeon dan Juan jarang ada di rumah. Sebenarnya Kakek juga turut mengundang Rey Smith, tetapi dia sedang berada di Texas, jadi Kakek meminta supaya Noah datang."
"Kakek sering seperti ini, bila rumah terasa kosong maka dia akan mengundang temannya atau teman kami." Imera menatap Sherry seraya menyungginkan senyumnya. Benar, kan? Untuk apa berpakaian seformal itu seolah tengah menghadiri acara besar pertemuan keluarga. Sejatinya ini cuma makan-makan biasa. "Martha dan Garcia bahkan nyaris selalu berada di sini."
Noah, Damian, dan Jason menatap Imera dengan terkejut. Sementara William bahkan menatap Imera sebagai sosok yang tegar. Di sana, Imera masih memalsukan senyum termanisnya untuk tamu spesial Kakek, Sherry Lovato.
"Kamu perlu mencari sahabat terbaik lagi untuk menemanimu makan malam di sini, Imera," Damian menimpali, cuma bercanda. "Well, setidaknya Noah ada di sini sebagai kenalanmu juga."
"Garcia." Sherry membalas tersenyum ramah. "Kabar yang sangat mengejutkan. Aku turut berduka atas gugurnya sahabat terbaikmu. Well, dia terkenal dengan kepribadiannya yang ceria dan mudah bergaul, ya?" Lalu tatapan matanya berubah agak mencela. "Terlihat polos dan mudah menyayangi. Dia terlihat tulus kalau sudah merasa nyaman dengan seseorang. Sampai rasanya rela melakukan apa saja."
"Sherry benar. Itu sebabnya tidak ada yang bisa menggantikan sosok Garcia untuk Imera. Imera tidak perlu mencari sahabat terbaik, sebab yang terbaik akan datang kepadanya," Jason ikut bersuara, kemudian tersenyum untuk Noah.
Wow, ini terlihat terlalu jelas. Jelas untuk siapa ucapan tersebut ditunjukkan. Noah cuma tersenyum lantas mengerti, ada yang tidak suka dengan posisinya di sini.
"Tentu saja. Yang baik yang akan datang padaku." Imera melirik Noah. "Akan lebih menyenangkan kalau yang datang seseorang seperti Noah ini. Bukan begitu, Kakek?"
William mengangguk ramah. "Omong-omong, bagaimana cafenya, Noah?"
"Berjalan dengan lancar, Kek. Aku baru saja menambahkan menu baru. Aku juga meminta Imera untuk me-riview." Noah jawab sekenanya. Well, ini bukan interaksi mereka yang pertama kali. Dalam beberapa momentum Noah juga bertemu dengan William.
Percakapan terhenti di sana sebab beberapa pelayan telah datang dan menyiapkan makanan di atas meja. Semua yang berada di ruang itu mulai fokus dengan acara makan malam. William tidak terlalu ribut dengan tata krama untuk saat ini, dia membiarkan yang lain berinteraksi seraya menikmati makanannya.
Jason mmeberikan perhatian lebih pada Sherry, menuangkan gadis itu air mineral dan mengingatkannya untuk makan dengan hati-hati. Imera mengutuk dalam hati, gadis seperti Sherry bahkan diperlakukan seperti tuan putri oleh Jason. Sementara William sesekali bertanya kepada Noah tentang kabar ayahnya dan kesibukan apa yang tengah mereka jalani.