Mama: Sayang, Mama dan Papa akan pergi ke Houston untuk beberapa hari. Jadi tolong jangan membuat kegaduhan di pagi hari. Kamu bisa meminta tolong Anne, Lizzie, Perry, atau Laney. Oh iya, Mama sudah bilang pada Damian supaya besok kamu berangkat bersama. Mobil kamu baru datang besok siang.
Anne, Lizzie, Perry, dan Laney adalah asisten di mansion ini. Anne berusia 53 tahun, Lizzie berusia 45 tahun, sementara Perry dan Laney sekitar 30 tahun. Sekiranya begitu pesan yang Hyoji kirim saat senja telah dimakan kelam.
Imera: Lalu mobil yang di bengkel bagaimana? Mobilku yang itu masih bisa dipakai. Lalu berapa hari di Houston?
Mama: Mama tahu, tetapi Nenek Rose yang membelikannya. Nenekmu bilang untuk hadiah ulang tahunmu. Mama tidak tahu berapa hari di Houston, Sayang. Setelah dari Houston kami juga akan pergi ke Busan.
Busan, Korea Selatan. Adalah tempat kelahiran Mama. Imera menghela napas, padahal Kakek Liam telah memberinya sesuatu yang berlbihan.
Imera: Coba tanyakan pada Papa, Ma.
Mama: Sebentar.
Tak lama Hyoji kembali mengirim pesan susulan.
Mama: Tidak sampai satu bulan, kok. Hehe.
Imera: Baik, dimengerti.
Imera duduk di ruang makan seorang diri. Ia meletakkan ponselnya. Dalam momen tertentu, ia merindukan kakek dan neneknya yang sudah jarang menempati mansion. Mereka lebih sering berada di Santa Monica, menikmati masa tua bersama. Jeon dan Hyoji juga sering bepergian mengurusi usaha mereka yang tak cuma satu saja. Apalagi kini Juan dan Kyle juga sedang membangun rumah idaman di samping mansion. Jadi kemungkinan cepat atau lambat Imera benar-benar tinggal sendiri di mansion itu bersama asisten rumah tangganya.
"Anne, bisa temani aku makan malam?"
Mendengar suara Imera, Anna —wanita paruh baya yang telah mengabdi di mansion selama 25 tahun— buru-buru kembali dari dapur dan berdiri di hadapan Imera. "Sekarang, Nyonya Muda?"
"Iya, sekarang. Cepat duduk dan makan bersamaku di sini!" Imera membukakan piring untuknya. "Nanti lagi bekerjanya."
Anne menurut, ia segera duduk di hadapan Imera. Hal ini sering terjadi bila Imera cuma di rumah seorang diri dan Anne tidak akan bisa menolak. Maka ia mulai menyediakan makanan untuknya sendiri dan menuangkan air mineral.
"Aku pernah berencana untuk mengadopsi beberapa anak yatim agar tidak selalu merasa sendiri." Imera memulai obrolan.
"Apa rencana itu sudah pernah dibicarakan dengan Tuan William?"
Imera mengangguk sebagai jawaban. "Kakek malah nyaris membangun panti asuhan karena permintaanku. Padahal aku meminta anak-anaknya untuk menemaniku, bukan lagi sebuah tempat." Imera tersenyum. "Itu artinya Kakek tidak setuju aku membawa mereka untuk mengisi mansion ini. Kakek punya cara yang agak unik untuk menolak sebuah permintaan."
Anne membalas senyuman itu. Ia mengenal William dengan baik. "Tuan William sejak dulu tak pernah berubah. Caranya menghadapi suatu perkara memang luar biasa menakjubkan."
Lalu kedua mulut mereka bungkam tatkala mendengar suara seseorang membuka pintu. Kemudian pekikan memanggil namanya terdengar, Imera kembali melanjutkan menghabiskan makannya selagi Damian sudah terlihat memasuki ruang makan.
"Halo Bi Anne!"
"Halo, Tuan Muda." Anne yang telah selesai makan lantas membereskannya dan membawa peralatan makan yang kotor ke dapur.
Damian duduk di tempat Anne tadi, menuangkan segelas air mineral untuk Imera. "Kenapa kamu tidak menunggu makan malam, Imera?"
"Memangnya harus begitu, ya? Kamu bukan suamiku, lho."
"Iya, deh. Terserah Nyonya Imera saja."
"Habis dari mana saja kamu?" Imera telah selesai makan dan kini layangkan sorot menilai pada penampilan lelaki itu. "Oh, balapan lagi, ya?"
Damian segera mengacungkan telunjuk dan menempatkannya di depan bibir. "Sst, jangan bilang pada kakek atau orang rumah, ya?"
"Kamu tidak ada kapoknya, padahal Kakek sudah memperingatimu untuk fokus belajar."
"Kenapa memangnya? Kamu mau menyamakanku dengan Jason?"
"Tidak. Kamu tidak bisa disamakan dengan pria sebaik Kak Jason."
Damiam tertawa lepas. "Begitu, ya?" Lalu menganggukkan kepala. "Bagus lah. Aku juga tidak mau disamakan dengan dia. Omong-omong, kenapa rumah terasa sepi sekali?"
"Mama dan Papaku sedang ke Houston. Kak Jason belum pulang. Paman Juan dan Aunty Kyle pergi juga, ya?"
Damian mengambil apel di atas meja dan menggigitnya. Ia mengangguk. "Mereka selalu pergi sebulan sekali untuk honeymoon."
"Kemarin Kakek memberimu kado apa?"
Imera mengendikkan bahu. "Aku tidak yakin Kakek Liam serius atau tidak."
"Apa dia memberimu saham? Atau sesuatu yang berkaitan dengan … jodoh?"
"Dia memberiku cincin."
"Oh, cuma cincin. Lalu kenapa kamu bertanya serius atau tidak? Memangnyaa Kakek Liam melamarmu?"
"Jangan bodoh, Dami!" Imera menunjukkan cincin yang ia pakai. Mata Damian berkilat, terkejut dan menganga waktu dapati permata semerah darah. "The Sunrise Ruby?"
Imera anggukkan kepala.
"Bagaimana bisa?"
"Kakek melihat wallpaper ponselku, the sunrise ruby."
Damian terbengong. Memang tidak seharusnya ia merasa iri. Tetapi sungguh baginya hal ini begitu menakjubkan.
"Kira-kira, Imera. Bila Kakek Liam melihat wallpaper ponselku apa ia juga akan membarikanku itu di hari ulang tahun?"
Imera menggeleng tak percaya, ia bangkit dari kursi dan menoyor kepala Damian. "Kamu kira Kakek apa? Segalanya tak bisa didapat dengan mudah!"
***