Hal yang sering Imera lakukan adalah mengecek akun IG sebelum matanya terpejam erat dan huni alam mimpi. Mata yang memandang, hati yang serasa tertendang. Postingan Jason beberapa menit lalu bersama seorang wanita, Sherry Lovato. Sedekat apa pun ia dengan Jason, tetapi untuk masalah perasaan, ia tak pernah tahu apa apa.
Bukannya ia tak peka, ia hanya mengikuti kata Jason. Kendalikan perasaan supaya tak jatuh di ruang dan waktu yang salah. Yap, karena ia terlanjur terjerembab pada ruang dan waktu yang salah, yang bisa ia lakukan selanjutnya hanya menerima dan mencoba melepas apa yang telah merekat dalam d**a.
Banyak yang bilang kalau dirinya terlalu pemilih dan tertutup. Bukan begitu sebenarnya, ia hanya merasa tak perlu untuk menjalani sesuatu dengan paksaan, tanpa perasaan yang tulus. Setiap hari berganti, ia merasa tak bisa membuang perasaannya yang tumbuh sesuka hati tanpa tahu kondisi. Meski terkadang ia sering bertanya pada diri sendiri mengapa cintanya begitu sulit dikendalikan. Imera paham tentang apa yang terjadi padanya. Ia adalah tipikal perempuan yang keras kepala dalam mencintai.
Tak lama setelah ia memutuskan untuk keluar dari aplikasi tersebut, Jason meneleponnya.
"Imera, aku kira kamu sudah tidur."
"Belum. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Sudah makan? Biar ku belikan sesuatu."
"Aku sudah makan, Kak."
"Oh, begitu. Ya sudah, ku tutup teleponnya, ya."
Imera mengiyakan, begitu ia menjauhkan ponsel dari telinga, suara Jason kembali terdengar. "Apa Martha belum sembuh?"
Imera menggeleng, ia lupa Jason tak bisa melihat gerakan itu. "Belum, lusa mungkin aku akan menjenguknya. Kenapa?"
"Tidak ada. Hanya saja…"
Ada yang bergalat di sini. Sesuatu yang tak Imera mengerti. Suara Jason terdengar agak sendu, tak seperti biasanya yang melantunkan vokal tegas.
"Aku mendadak rindu padamu, Imera."
Jantungnya berdesir hangat dibarengi dengan rasa pilu yang entah datang dari mana. Bibirnya kelu, seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya.
"Kak Jason…" Imera menjeda, mengambil napas sebanyak-banyaknya. "Kamu bisa menemuiku kapan saja. Kamu tidak perlu merindukanku bila itu membuat kamu tersiksa."
"Terkadang aku merasa lelah dan bingung. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tetapi aku sadar, semakin dewasa kita, maka semakin banyak perkataan yang perlu dipertimbangkan lebih panjang. Tidak seperti dulu saat kita masih bebas berbicara tanpa peduli konsekuensi."
Ia mencoba memahami. Bahwa yang dikatakan Jason benar. Semakin dewasa kita, maka akan semakin banyak hal yang terpendam.
"Terkadang juga kita perlu menerobosnya, Kak. Kita perlu bicara agar saling mengerti dan tak berakhir pada penyesalan panjang."
"Imera."
"Kak, lebih baik menyesal setelah mengungkapkan apa yang dirasa daripada menyesal karena tak melakukan apa-apa."
"Meski berujung pada rasa sakit?"
Dengan nada yang agak pasrah, Imera menjawab, "iya, sekali pun tak ada penawar."
Aku segera memencet tombol merah, memutuskan sambungan telepon kami yang tiba-tiba terasa begitu canggung
Imera merasa letih usai mengobrol dengan Jason di telepon. Ia sudah mencuci kaki dan wajah. Imera berjalan menuju meja rias. Membubuhkan toner sebelum tidur dan kembali ke atas ranjangnya.
Meski rasa kantuk menguasai, matanya susah terpejam. Ia memikirkan Jason. Membayangkan raut lelaki itu saat mengatakan rindu padanya. Perasaan ini, biarlah terpendam entah sampai kapan.
Beberapa saat ketika mata itu telah terpejam dam alam bawah sadar nyaris merenggutnya. Ponsel berdering nyaring dan membuatnya terkejut. Ia tak menilik nama penelepon, dab segera mengangkatnya.
"Apa lelaki selalu begitu? Dia menyia-nyiakan sesuatu setelah mendapat apa yang dia kejar selama ini. Lalu dia beranggapan seakan dia menang. Dia puas dapat meraih hatinya kembali. Apa dia pernah berpikir sedikit saja tentang rasa trauma yang diderita pemilik hati itu?"
Sudah jelas sekali kalau Garcia yang menelepon. Sudah ciri khasnya langsung menghantam telinga Imera dengan cerita panjang lebar.
"Setidaknya kamu bilang terlebih dahulu padaku apa masalahmu sampai menelepon malam-malam." Dengan suara parau ia merespons.
"Aku tidak mengganggumu kan, Imera?" Lalu tak lama Garcia kembali melanjutkan. "Tanpa aku bercerita, kamu juga pasti sudah paham dengan apa yang terjadi."
"Hm. Masalah mantan pacarmu?"
"Siapa lagi kalau bukan dia. Orang bilang, lelaki memang begitu, dia butuh proses untuk berubah. Tapi kamu tahu tidak? proses perubahan macam apa jika dia menyakiti hati yang sama, lagi. Imera, ini bukan sekali dua kali, tetapi dia sudah sering bersikap seperti ini padaku. Jika dia tidak cinta, seharusnya dia melepasku dan tak mengekang lagi. Jika dia tak ingin melihatku bersama orang lain, kenapa dia berselingkuh? Lelaki memang menyebalkan!"
Rasa kantuknya mendadak hilang. Imera jadi teringat pada peliknya kisah cinta Jeon dan Hyoji. Kakek William pernah menceritaka sebagian kisah cinta kedua orang tuanya.
"Kamu masih sangat mencntainya, ya? Kak Jason pernah bilang padaku bahwa sebaiknya seseorang mampu untuk mengendalikan perasaan agar tak jatuh pada ruang dan tempat yang salah." Imera beri ruang untuk Garcia agar merespons ucapannya. "Sifat manusia serakah. Meski sudah menjalin hubungan dengan seseorang, dia masih bisa merasakan jatuh cinta pada orang lain. Dan mantan pacarmu sedang melakukan itu. Dia egois sebab menginginkan keduanya."
"Tetapi Imera, dia selalu bersikap baik dan romantis padaku. Meski dia memiliki pacar, denganku dia tidak berubah, seolah aku dan dia tidak pernah berpisah."
Oh, pembelaan lagi. Kelemahan wanita. Meski disakiti tetap menyalahkan diri sendiri.
"Aku sudah bilang padamu, Garcia. Lelaki yang ketahuan selingkuh meski cuma sekali, dia akan selingkuh lagi dan lagi. Kamu tidak seharusnya mempertahankan lelaki seperti itu. Kamu dapat jaminan apa jika dia tiba-tiba pergi tanpa kembali lagi? Tidak ada, kan? Kamu yang akan terluka dan dia tetap dapat cinta."