Kelopak mata Imera enggan terpejam meski seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Sudah dua bulan lebih ia tak berolahraga, sekalinya bermain voli tubuhnya bak sehabis dipukuli warga yang main hakim sendiri. Seharusnya ia bisa tertidur pulas setelah perutnya terisi dan lelah merajai. Tetapi ngilu di setiap sendi tubuh begitu mencabik.
Ia bangkit dari ranjang dan meninggalkan lingkup kamarnya sendiri. Rumah keluarga Mallory yang begitu besar terkadang membuatnya malas karena ia harus menempuh jarak yang lumayan jauh cuma untuk berkunjung ke kamar Jason atau Damian di lantai tiga, sedangkan kamarnya berada di lantai dua.
Karena sudah larut malam, Imera berjalan mengendap-endap menaiki anak tangga sesekali matanya awas berkeliling. Bila nenek atau papanya tahu, Imera bisa diceramahi habis-habisan karena mengganggu kakak sepupunya.
Imera tiba di lantai tiga. Arah kiri menuju kamar Damian, arah kanan menuju kamar Jason. Karena yang ia butuhkan adalah sebuah pijatan, maka tungkainya gesit berbelok ke kiri. Imera menempelkan telinganya pada daun lintu guna memastikan kalau Damian belum tertidur. Begitu rungunya cuma tangkap keheningan, ia segera tahu lelaki itu sedang bermain game di sebuah ruang yang ada di kamar itu. Tentu saja, karena bila Damian sudah tertidur, suara dengkurannya pasti terdengar nyaring dan bikin telinga sakit.
Untung saja Imera masih ingat tanggal beserta tahun lahir sepupunya. Damian itu sosok yang sangat simpel dan pelupa. Dulu lelaki itu pernah nyaris kehilangan uang seratus ribu dolar di ATM karena melupakan sandi ATM dan kehilangan buku tabungannya. Sejak itu Imera mengusulkan padanya untuk menggunakan angka kelahiran orang yang ia sayangi dan tak akan pernah ia lupa. Damian menurut dan Imera segera tahu siapa orang yang ia cintai itu. Tentu saja si Damian Mallory. Karena lelaki itu sangat percaya diri waktu berkata, "aku mencintai diriku dan tak akan pernah melupakan aku. Aku adalah sosok sempurna yang tak mungkin kubenci."
Persetan dengan Damian, Imera sudah berhasil masuk ke dalam kamar lelaki itu. Dan masih seperti biasa, kamarnya tak jauh lebih baik dari istilah kapal pecah.
Ruangan yang Imera maksud terletak di sudut kiri, dengan pintu kaca yang tidak transparan, Imera menggeser pintunya dan meringis sekilas waktu tubuh Damian terlonjak kaget saksikan tubuh ramping menyelinap memasuki ruang tersebut.
"Bagaimana bisa, Imera?" tanyanya seraya mengelus d**a telanjangnya dengan napas ngos-ngosan seperti habis dikejar harimau.
Well, karena aku tidak sebodoh dirimu. Batin Imera.
Imera masuk ke dalam ruangan yang lebih mirip studio musik karena beberapa peralatan musik seperti: piano, gitar, drum, dan peralatan untuk membuat sample musik yang tak Imera mengerti namanya, ada di sana. Dan anehnya, studio ini lebih rapi ketimbang kamarnya sendiri. Bagaimaa bisa, Damian?!
"Kamu telanjang dan menyalakan AC dengan minus dua belas derajat. Dasar manusia kutub!" Imera meggeleng-geleng dan berdiri di sampingnya dengan kedua tangan menyilang di depan d**a.
"Aku baru saja menyalakannya, Imera. Kamu tahu kalau bermain game sama seperti menjalankan kehidupan yang penuh drama dan lika-liku. Kamu juga tahu kalau bermain game adalah hidupku, yang artinya aku harus bersungguh-sungguh bertarung dengan keringat, darah, dan air mata," terangnya penuh antusias.
Imera memukul kepala lelaki yang lahir cuma beda hari dengannya. Imera begitu kesal dan gemas sekaligus bila Damian sudah menghadap komputer dan bermain game seharian. "Aku bahkan tidak yakin kamu benar-benar menjalani kehidupan nyata, Damian. Kamu lebih sering mengeluarkan seluruh tenagamu untuk dunia bermainmu ketimbang realita. Sesekali kamu harus bergabung dengan Kak Jason agar otakmu itu sedikit berguna untuk kehidupan."
Selagi jemarinya lihai bermain di atas keyboard dan tatapan penuh minat mencumbu monitor, Damian tetap menjawab ocehan Imera dengan santai. "Kamu yang sesekali perlu bermain game supaya otakmu tidak tegang melulu. Lagian semester pertama masuk universitas masih santai-santai saja, nanti kalau sudah banyak tugas, nah baru—"
"Apa? Kamu baru akan giat belajar?" Ia menebak.
"—baru akan minta bantuanmu. Aku lebih suka bermain game daripada mengerjakan tugas, Imera."
"Please be a good man, Damian! Let's turn off your computer, or I tell Grandma about your bussines—"
"Okay, you must shut up your mouth!"
Imera menarik salah satu kursi yang ada di sana dan mendekatkannya di samping Damian. Ia duduk dan menjulurkan kakinya di pangkuan lelaki itu. "Then, aku butuh pijatan, Darl!" Kaki Imera mengguncang siku lelaki itu.
"What the hell, Imera! Kamu baru saja menggangguku dan membuat heroku tertembak!" Omelnya frustrasi. Tetapi Damian log out dari game itu dan segera menyentuh kaki Imera meski mulutnya tak berhenti berceracau.
"Hei, sudahlah, lebih baik heromu mati atau aku yang mati?"
Damian berdecak. "Apa-apaan itu? Memangnya kamu mati karena apa? Karena tidak mendapat pijatan dariku? Hm?" Damian mengencangkan pijatannya. "Ini, kau lihat? Sekarang aku baru saja menyelamatkam hidup Imera Mallory. Kamu berhutang budi padaku, Sayang!" ujarnya disertai tawa.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Damian! Sudah banyak yang mengira kita pacaran!"
"Benarkah? Bagus, dong. Setidaknya para gadis di kampus berhenti mengejarku."
"Itu karena kamu sering mengintip mereka di toilet, sialan! Bila kakek dan nenek tahu, matilah kamu!"
"Di saat kamu cuma bisa mengancam, aku benar-benar membencimu, Sayang!"
Imera mendesis tak percaya, ia menarik kembali kaki jenjangnya karena merasa sudah agak baikan. Tangan Damian itu benar-benar magis. Sekarang mereka duduk berhadapan. Damian berkali-kali menarik napas sebab atmosfer mendadak jadi panas dan minim oksigen.
"Imera," panggilnya lirih.
"Yes, Dami?"
"Kamu bahagia menjadi bagian keluarga Mallory?"
Bila Imera sudah tersenyum canggung dan mengalihkan pandang sekilas, jawabannya adalah, "tidak selalu, Damian." Ia menatap kembali pada sang lawan bicara. "Terkadang cemas dan takut. Di masa lalu sebelum kita lahir, mungkin keluarga Mallory pernah diterjang badai. Dan kamu tahu? Prahara dalam sebuah hubungan yang harmonis tidak cuma sekali dua kali. Terkadang ia datang terus menerus sampai membuatmu lelah dan memilih untuk mengakhirinya."
Tatapan Damian mendadak menghunus menembus relung hatinya, sampai-sampai Imera bisa merasakan bulu kuduknya meremang. "Aku tidak peduli masalah yang menimpa keluarga Mallory. Aku cuma cemas bila kelak jatuh cinta pada orang yang tak mungkin bersamaku. Sesekali memikirkan itu dan membuatku sama sekali tidak bahagia."
Terenyak. Imera menunduk lantas tersenyum penuh arti. "Itu juga termasuk salah satu dari sekian banyak masalah, Damian. Maksudmu, kamu takut bila kelak mencintaiku, 'kan?"