Perasaan yang teramat sangat lembut nyaris tak kentara, terkadang buat Imera geram di setiap momentum. Entah sejak kapan perasaan itu berlabuh dalam diam tak sopan. Imera tidak sadar perihal apa dan kapan jantungnya berpesta. Ketika matanya beradu tatap atau kulit saling bersinggung tak sengaja, debur ombak menghantam d**a.
Imera sesekali membahayakan hati sebab berani mencuri pandang dengan binar mata memuja. Fitur wajah Jason tak membosankan, begitu hangat dipandang dan buat nyaman. Imera tahu bila Jason sejak tadi menyadarinya, tetapi dia memilih diam dan fokus mengemudi, sampai-sampai pada menit kedua Jason tersenyum dan tertawa. Imera lantas segera memasang raut wajah tenang.
"Apa artinya kalau seseorang memandang wajahmu begitu lama? Selain karena kamu tampan," tanya Imera tanpa minat mengganti objek pandang.
"Karena keinginan dari hati."
"Ada banyak alasan, Kak Jason. Dan sayangnya kamu tidak tahu niat apa yang sedang aku pikirkan sebelum memutuskan untuk memandangimu."
"Kalau begitu beritahu aku alasan yang sebenarnya."
"Aku sedang melamun," jawabnya datar.
Jason sontak tertawa kecil, ia mengusap puncak kepala Imera. "Apa susahnya bilang kalau kamu menyukaiku, hm?"
Imera tertohok. Ia susah payah menelan salivanya. Maniknya jadi berotasi tak jelas dan segera tutup pembicaraan dengan menyuruh Jason berhenti sebentar di kios bunga.
Lonceng berbunyi saat dirinya memasuki toko bunga tersebut dan segera disambut ramah oleh pemiliknya. "Morning, Nona. Kami bisa membantu Anda mencarikan bunga yang Anda mau."
Imera menarik labiumnya dan segera melihat-lihat bunga yang terpajang di etalase. Lonceng kembali berbunyi menggiring seorang lelaki yang sebaya dengannya masuk menebar aura dingin. Imera tak mempedulikan dan kembali berjalan untuk mengabsen berbagai macam bunga.
Imera tampak berpikir sebelum berkata, "temanku sedang sakit dan dia menyukai warna kuning." Lantas berhenti di jajaran bunga anyelir. "Yellow carnation? Oke, aku mau tujuh belas tangkai," putusnya seraya menunjukkan bunga tersebut kepada si penjual.
Kekehan cemooh mengudara. Imera menatap lelaki di sampingnya yang tengah menyentuh tulip putih dengan raut muka seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Bila baru pertama kali membeli bunga untuk seseorang, lebih baik kamu meminta rekomendasi penjualnya." Lelaki itu menarik lengannya untuk dibenamkan pada saku jaketnya. "Bad choice. Yellow carnation melambangkan kebencian, by the way." Dan pergi menuju sekumpulan bunga marigold.
Well, Imera memang tak pernah tahu arti atau makna dari berbagai bunga. Yang ia paham cuma bunga itu indah pun simbol romansa. Imera sendiri menyukai mawar, kalau saja ada warna hitam, Imera akan sangat menyukainya.
"Kalau begitu bungkuskan lavender saja." Ia memutuskan. Setelah membayar, ia buru-buru keluar dan menuju mobil. Sebelum sempat Jason menyalakan mesin mobilnya kembali, Imera diam-diam curi pandang pada lelaki di dalam toko bunga.
"Noah Smith, mahasiswa pindahan dari New York."
Imera terkejut, memandang Jason yang sedang menaikkan kedua alisnya. Jason Mallory adalah yang paling keren. Kinerja kepala dan hatinya benar-benar membuat orang lain terpukau. Pantas saja, William Mallory memutuskan membagi harta warisan paling banyak untuknya. "Aku kira ia pindahan dari Slytherin." Mencoba berkelakar tanpa perlu pasang mimik jenaka.
"Kalau begitu seharusnya dia datang membeli tongkat, bukan bunga." Tawa merdu lepas dan roda mobil kembali melaju cepat.
"Eum, barangkali bunga adalah salah satu bahan untuk percobaam sihir menaklukkan hati seorang wanita."
"Imera, kamu baru saja seperti sudah tersihir olehnya bahkan sebelum ia berbuat apa pun."
"Tersihir?" kekehan teredam di akhir. "Omong kosong! Setahuku cuma Jason Mallory yang pandai menyihir dengan serangkaian kata manis dan puisi puitisnya." Ia melirik Jason dengan tatapan jahil.
"Kalimatnya seperti pujian, tetapi nadanya terdengar seperti hinaan." Jason menelengkan kepala. "Sesungguhnya ada satu perempuan yang sangat sulit tersihir oleh puisiku."
"Siapa?"
"Kamu, memangnya siapa lagi?" Wajah Jason berubah kesal, sementara Imera terkekeh pelan. "Kamu ingat saat aku merayumu? Membacakan puisi dan melempar segala bualan mautku, kamu cuma tertawa dan bilang aku tidak cocok dengan peran itu. Makanya aku enggan lagi begitu."
"Ei, kamu merajuk, ya?" Imera menoel lengan Jason berkali-kali sampai lelaki itu tak tahan menahan lengkung bibirnya.
Mobil memasuki gerbang kampus. Jason memarkirkan mobil dan Imera segera turun. Di saat yang bersamaan, mobil Damian tiba dan melokasikannya di samping mobil Jason. Lelaki bersurai cokelat tersebut keluar dan segera merangkul Imera.
"Akhir-akhir ini kamu jarang membawa mobil dan sering menumpang pada Jason, Imera," sindirnya lantas menariknya untuk dibawa masuk ke kelas.
Jason adalah mahasiswa semester akhir, sedangkan Imera dan Damian baru semester pertama. Bila sudah ada Damian, Jason biasanya berjalan di belakang mereka, sebab Damian tak pernah membiarkan pundak Imera kosong atau ditempati lengan lelaki lain, sekali pun itu kakaknya sendiri.
"Damian!" panggil Jason sebelum ia naik ke lantai atas. Mereka menoleh serentak. "Pastikan Imera tidak membolos hari ini."
"Kamu tidak perlu cemas, Jason! Tentu saja, aku—"
"Sayangnya aku merasa kamu yang akan ikut membolos bersamanya, Damian!" Jason melanjutkan langkah kakinya sebab seorang perempuan bersurai blonde tiba-tiba menggandeng lengannya meniti anak tangga. Well, Jason dan segala praduga tak bersalahnya.
Sherry Lovato. Imera memandanginya sinis. Betapa pun dia tak pernah suka dengan perangai gadis itu. Sepekan yang lalu sebelum Martha, sahabatnya jatuh sakit. Imera sempat dengar darinya soal gosip yang tidak menyenangkan. Meski Imera tipe perempuan yang tak mudah terbawa arus dan tak mudah dibodohi serta perlu mencari bukti dan menyaksikannya sendiri. Untuk kali ini Imera cukup menatapnya dan memutuskan bahwa ia benar-benar tak suka dengan gadis bersurai abu-abu itu. Selain karena tingkhnya yang menyebalkan, juga karena dia berani menggandeng Jason tak tahu malu. Memangnya dia siapa? Pacarnya saja bukan!
"Kamu dengar itu, Imera? Jason tak beda jauh seperti Kakek Wiliam. Nada bicaranya yang mengintimidasi dan tatapannya yang membunuh." Damian menatap Imera yang tengah tampilkan mimik tak sedap dipandang. "Daripada Huang Witcher kenapa Kakek tidak menjadikan Jason pengacaranya saja, ya?"
Imera mendesis, menatap Damian jengkel. "Jangan bodoh, Damian! Itu tidak mungkin. Tuan Witcher telah mengabdi jauh sebelum kita dilahirkan," ketusnya terdengar serius.
Damian mengernyit, merasa Imera terlalu serius menanggapi kelakarannya. Tidak biasa sekali. "Hei! ayolah, dia 'kan sudah tua, Tuan Witcher bisa beristirahat dan biarkan si Jason menggantikannya."
Tidak heran mengapa Damian yang paling banyak dapat wejangan dari William Mallory, selain kebiasaannya bermain game, Damian juga pandai membuat orang lain kesal dengan candaannya yang kelewat dungu.
"Aku sangat menyayangkan kinerja otakmu, Dami! sungguh! Well, lebih tepatnya aku merasa kasihan dengan papa dan mamamu." Imera menatapnya tajam. "Kenapa kamu sering berbicara tanpa berpikir panjang?"
"Halo, Imera Mallory si gadis swag dan menggemaskan sekaligus, kamu sedang kedatangan tamu bulanan, ya? Mendadak begini?" Tangan Jason menyentuh puncak kepala Imera. "Aku sudah tahu cara menjinakkan perempuan sepertimu."
Imera menyingkirkan tangan Damian begitu mereka memasuki kelas. "Huang Witcher akan pensiun setelah ia selesai dengan tugas terakhirnya, warisan." Imera duduk di kursi ketiga dari depan dan kedua dari kanan. Sementara Damian duduk di belakang Imera.
"Omong-omong, Imera, kenapa Kakek bilang harta paling besar akan diwariskan untuk Jason?"
Imera membalikkan badan lantas menoyor kepala Damian. "Karena cuma Kak Jason cucu lelaki yang punya akal. Kakek percaya Kak Jason bisa memanfaatkannya dengan baik."
"Maksudmu, aku tidak berakal dan tidak dipercaya mampu memanfaatkan dengan baik juga? Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu berakal dan Kakek sangat menyayangimu."
"Kurang lebih, begitu." Imera mengendikkan bahu. "Aku tidak terlalu peduli dengan warisan Kakek. Kalau saja bisa, aku ingin membuat sebuah usaha dengan jerih payahku sendiri."
Damian terbahak seraya memukul meja berkali-kali seolah baru saja menonton lawakan yang menggelitik perut. "Apa? Imera Mallory, usaha dengan jerih payahmu sendiri?" Lagi, Damian melepas beludak tawa. Tak acuhkan tatapan mahasiswa lain yang memandanginya heran. "Hei, kesuksesanmu nanti tidak akan lepas dari nama Mallory. Kake Mallory yang membantu para anak dan cucunya.
Imera bersungut dan segera meraih tasnya kembali. Damian benar, contoh saja lelaki itu, dia terkenal karena kemahirannya bermain game ditonton jutaan manusia, tetapi delapan dari sepuluh orang percaga kalau ketenaran Damian Mallory karena jasa Kakeknya. Untuk kali ini Imera tak ingin mengelak. Ia lantas bangkit dan berdiri di samping meja Damian dengan sebuket bunga di tangan. "Pinjam kunci mobilmu, Damian!"
Tawanya pudar, berganti pandangi Imera sarat kuriositas. "Membolos?" Raut muka berubah tak suka. "Dugaan Jason benar, kamu memang berencana membolos sejak tadi dan—" Damian segera berdiri, menarik tangan Imera. "Aku akan ikut denganmu!"