Langkah keduanya sinkron lalui koridor rumah sakit. Imera menggandeng Damian erat dengan muka jutek. Sebab sudah nyaris lima kali tungkai mereka terpaksa berhenti karena lelaki gamers itu harus berswafoto dengan penggemarnya. Damian juga kerap sengaja menebar pesona dan membuat waktunya terulur percuma. "Kamu harus ramah supaya mereka betah menjadi penggemarmu, Imera!" Kalau begini, ia jadi ingin punya kekuatan supaya bisa menghilang.
"Dami, kamu tahu gosip yang sedang trendi?"
Alisnya mengkerut. Padahal sejak tadi wajah gadis itu sama sekali tak bersahabat, Damian sempat cemas kepala Imera sedang merancang rencana untuk balas dendam. "Aku tidak suka menggosip, ya. Memangnya kamu!" Damian merangkul Imera begitu mereka berbelok ke kiri. "Memangnya gosip apa? Kamu biasanya tidak peduli dengan gosip ecek-ecek begitu."
"Soal Sherry Lovato." Mata Imera serius menatap lawan bicara. "Kamu harus membayar lima ratus dolar untuk mendengar gosip ini."
"Sherry Lovato?" Damian berpikir sejenak, lantas mengangguk tatkala ingat siapa orang itu. "Kamu membayar lima ratus dolar untuk ini? Berlebihan!"
"Tidak. Aku mendengarnya dari Martha."
"Memangnya gosip apa?"
Imera meringis dan menengadahkan lengannya pada Damian. "The point is, she have a bad reputation. Lima ratus dolar dulu, mana?"
Damian mendengus. "Kamu tidak akan bisa memerasku!"
"Ini namanya bisnis, darling."
Damian menjitak kepala Imera. "You got a bad bussines, Babe. But, it's fine, aku akan transfer setelah ini. Lima ratus dolar untukmu dan setengahnya lagi harus kamu belikan makanan untuk anak panti."
Dan ya, satu fakta lagi kalau Damian gemar menyumbangkan hasil bermain game-nya untuk mereka. "Of course. Well, Sherry Lovato dengan reputasi buruknya menarik untukmu juga, ya," ujar Imera setelah mereka tiba di depan ruang inap dan segera menggeser pintunya.
Martha Leona spontan menoleh pada dua orang yang baru saja tiba di kamar inapnya dengan mata bergetar ketakutan. Imera dan Damian saling menatap sarat kuriositas sebelum mereka serentak mendekati ranjang sahabatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Damian.
"T-tidak ada, Damian," jawabnya gugup.
"Kau tidak pandai berbohong, katakan padaku!" desak Imera.
"Aku akan berakhir bila mengatakannya."
Sorot mata penuh kecemasan, bibir yang bergetar dan rona sepucat mayat. Imera mencoba masuk ke dalam matanya lebih dalam lagi, Martha lantas segera mengalihkan pandang pada vas yang diisi setangkai bunga anyelir kuning.
Imera terkejut, ia berjalan mendekat dan mengganti anyelir kuning dengan bunga lavender yang ia bawa. Ia menggenggam anyelir kuning tersebut dan tersenyum pada Martha. "Maaf kalau lancang mengganti bunga berwarna kuning itu, tetapi aku rasa lavender sangat cocok untuk memanjakan matamu, Leona."
Damian pun menyadari arti tatapan Martha terhadap Imera. Sebuah ketakutan yang begitu besar dan rasa pasrah.
"Kamu baru saja mengambil hal yang kusukai dan menggantikannya dengan yang lebih baik. Terima kasih."
"Yups. Kebaikan untukmu." Lagi-lagi Imera tersenyum. Senyum yang menyembunyikan sesuatu. "Eum, tiga hari yang lalu kamu bilang kalau kamar inapmu terasa kosong. Apa bunga ini kamu yang memintanya pada perawatmu?"
Martha menggeleng. "Sherry Lovato."
Matanya terbelalak sekilas, ia sudah menduga sebelumnya. Benar. Jadi isu itu memang benar. Imera masih bergeming. Damian bingung atas keheningan yang mendekap ruang itu.
"Kalian saling berbicara menggunakan telepati, bagaimana aku bisa tahu jika ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada, kok. Bunga itu … ya, itu cuma bunga. Tidak ada apapun, Dami."
"Bunga?" Damian makin bingung.
"Kamu sepertinya tahu makna bunga itu, Imera," tebak Martha.
"Aku pergi saja, ya. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan."
"Bawa Imera bersamamu, Damian. Kebetulan aku sedang ingin sendiri."
Damian menurut, menarik tanga Imera. Tetapi Imera mematung di sana. Tak berkedip menatap Martha.
"Jadi gosipnya benar, ya? Sherry Lovato datang untuk mengancammu. Seharusnya kamu bilang padaku apa yang dia katakan."
"Ini urusanku dengannya. Kembalilah ke kampus, kabari aku bila sesuatu terjadi pada Garcia."
Itu perintah. Maka Imera segera mengiyakan dan melajukan tungkai keluar dari sana dengan anyelir kuning di tangannya. Di sepanjang koridor, Damian menanyakan apa yang terjadi. Imera cuma diam dan tak merespon satu pun pertanyaannya.
Mobil kembali melaju cepat dan membawa mereka ke kampus. Salah satunya yang mereka tuju adalah kafetaria, mereka tidak berniat untuk kembali ke kelas. Damian membeli dua minuman dan menyerakan salah satunya untuk Imera yang tengah mengamati tangkai bunga anyelir di atas bangku kafetaria.
"Kamu belum bilang tentang Sherry, aku berjanji akan—"
"Jangan terlalu keras membicarakan dia, Damian!" Imera menatap Damian serius. "Aku tidak ingin memberitahumu demi kebaikan kita. Tetapi barangkali kamu bisa membantuku." Imera mendekatkan kepalanya, meletakkan bibirnya di samping telinga lelaki itu. "Sherry Lovato as psycopath."
"s**t! Tidak mungkin." Damian terbahak. Tetapi tak lama kemudian suaranya teredam berkat pekikan orang-orang yang mendadak berlari menuju halaman utama kampus.
Di antara kerumunan orang yang berlari, Jason malah melawan arah dan menuju mereka. "Garcia mengakhiri hidupnya."
Begitulah yang terjadi. Lagi-lagi Imera sudah menduga. Damian malah menatap Imera dengan mata yang membulat sempurna. Imera mengendikkan bahu dan kembali menyembunyikan sesuatu. Ia hendak memasukkan anyelir kuning ke dalam tasnya, tetapi Damian merampas dan mengamati tangkai tersebut seperti apa yang Imera lakukan tadi. Sebuah kalimat yang terukir kecil di tangkai itu sudah cukup membuat Damian seolah tercekat batu di kerongkongannya.
"You are the next."