Si M melanjutkan kisah Andita beberapa hari setelahnya.
Seperti biasa, dia tidak bercerita dari awal sampai akhir. Dia melempar potongan, aku yang menyusun. Dan seperti biasa juga, aku menulisnya sambil menahan diri, karena bagian ini bukan bagian yang enak untuk ditulis.
Aku sempat bertanya duluan sebelum dia mulai.
"Bagian ini sedih ya?"
"Iya."
"Kamu nangis waktu dengerin dia cerita?"
Si M tidak menjawab. Tapi malam itu lampu ruang tengahku berkedip dua kali, dan aku anggap itu jawabannya.
•••
ANDITA NINGTIAS
Malam itu bulan tidak sedang purnama. Pondok itu gelap sekali, dan Andita tidak punya siapa-siapa.
Rasa sakit itu datang menjelang tengah malam, mulanya seperti kram biasa, lalu datang lagi, lalu datang lagi dengan jarak yang semakin dekat.
Andita tahu apa yang sedang terjadi. Perempuan mana yang tidak tahu.
Dia mencoba bangun, dia mencoba mencari pegangan, tapi di pondok itu tidak ada apa-apa selain tiang bambu dan tumpukan daun kering yang selama ini jadi alas tidurnya.
"Ya Allah ... tolong Nak, tolong ibu." rintihnya sambil menggigit ujung kain jarik pemberian suaminya.
Tidak ada dukun beranak. Tidak ada bidan. Tidak ada air hangat, tidak ada gunting yang sudah direbus, tidak ada satu pun tangan yang menahan punggungnya.
Yang ada cuma suara jangkrik dan suara napasnya sendiri yang putus-putus.
Entah berapa lama. Andita sendiri tidak bisa menghitungnya. Yang dia ingat cuma satu, bahwa saat dia sudah merasa tidak sanggup lagi, saat dia sudah pasrah kalau malam itu dia dan anaknya mati bersama-sama di gubuk reot itu, terdengarlah suara tangis.
Kecil, serak, tapi jelas.
Andita menangis dan tertawa dalam waktu yang sama.
Dia raih bayi itu dengan tangan yang gemetaran, dia dekap ke dadanya, dia bersihkan wajah mungil itu dengan ujung kainnya.
Perempuan.
Persis seperti yang mas Bayu inginkan dulu.
"Mas ... liat Mas, anak kita perempuan." bisiknya ke ruang kosong, seolah-olah ada yang mendengarkan.
Malam itu Andita tidak tidur sama sekali. Bukan karena sakit, tapi karena dia takut kalau dia tidur, semuanya ternyata cuma mimpi.
•••
Hari-hari sesudahnya adalah hari-hari terbaik Andita, dan ini bagian yang paling membuat dadaku sesak waktu menuliskannya.
Karena kita yang membaca sudah tahu ujungnya, sementara Andita waktu itu tidak tahu apa-apa.
Dia bangun pagi, dia turun ke kali, dia mandikan bayinya di air yang dingin sambil menyanyi kecil supaya anaknya tidak kaget. Dia jemur kain di batu, dia cari buah dan daun-daunan yang bisa dimakan, dia kumpulkan kayu.
Sore hari dia duduk di depan pondok, menyusui anaknya sambil memandangi celah-celah pohon.
Berat badannya turun banyak, tangannya kurus, tapi kalau melihat anaknya, dia tersenyum.
"Nanti kalau kamu sudah agak besar, kita pindah ya, Nak. Kita ke kota. Ibu mau buka kedai lagi, kedai punya ayahmu." ucapnya suatu sore.
Dia belum tahu bahwa dia memang akan kembali ke kedai itu, tapi tidak dengan cara yang dia bayangkan.
•••
Sementara di kampung, kabar itu sudah beredar.
Yang membawanya seorang pencari kayu, yang tanpa sengaja melihat asap tipis mengepul dari tengah hutan dan mendengar suara bayi.
Kabar begitu tidak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga yang salah.
"Berarti dia masih hidup." kata Risti, di dapur rumah ibu mertua Andita.
Bu Min, ibu mertuanya itu, cuma diam sambil mengaduk teh.
"Bu, kalau dibiarkan, nanti anak itu besar. Kalau anak itu besar, nanti dia nanya bapaknya siapa, terus orang sekampung inget lagi soal Bayu." lanjut Risti.
"Terus mau kamu apa?"
"Ya jangan dibiarkan."
Bu Min tidak menjawab iya, tapi juga tidak menjawab tidak. Dan dalam banyak hal, tidak menjawab itu sudah sama dengan mengiyakan.
Yang tidak diketahui Bu Min, Risti sebenarnya tidak sedang mengkhawatirkan nama baik keluarga.
Risti mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Karena dari semua orang di kampung itu, Risti termasuk yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam Bayu ditemukan tergantung. Dan selama Andita masih hidup, selalu ada kemungkinan perempuan itu suatu hari datang lagi, membawa pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun.
•••
Beberapa hari sebelum malam itu, Risti pergi seorang diri ke ujung hutan yang lain.
Di sana ada sebuah gubuk kecil milik seorang lelaki tua, yang orang kampung memanggilnya Ki Agung Rekso.
Risti datang membawa uang dan membawa permintaan.
"Ki, saya minta tolong. Hilangkan perempuan itu."
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Dia duduk bersila, matanya setengah terpejam, seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang jauh.
Lama sekali, sampai Risti kehilangan sabar.
"Ki, saya bayar berapa pun."
"Pulanglah." ucap Ki Rekso pelan.
"Ki, saya serius."
"Saya juga serius. Pulang."
Risti berdiri, wajahnya merah menahan malu dan marah.
"Saya kira Aki orang pintar."
"Saya memang bukan orang pintar." jawab lelaki tua itu, tanpa membuka matanya. "Dan yang kamu minta itu, kalau saya kerjakan, nanti dia kembali ke kamu. Bukan sekali. Berkali-kali."
Risti pergi dari gubuk itu dengan tangan kosong.
Dan inilah bagian yang bertahun-tahun kemudian akan salah dimengerti oleh Andita, karena yang Andita ketahui cuma satu hal, yaitu bahwa sebelum malam itu, Risti pernah terlihat keluar dari gubuk Ki Agung Rekso.
Selebihnya, dia tidak tahu apa-apa.
•••
Malam itu Andita sedang menidurkan anaknya.
Bayinya baru saja tenang, matanya sudah mulai menutup, dan Andita ikut memejamkan mata sambil menepuk-nepuk pelan.
Yang pertama dia dengar adalah suara ranting patah.
Krekk.
Dia bangun. Dia dekap anaknya lebih erat.
Krekk. Krekk.
Bukan satu. Banyak.
Andita bangkit, dia menggeser ke sudut pondok, dia tutupi bayinya dengan kain jarik supaya suaranya tidak terdengar.
Lalu cahaya obor itu masuk lewat celah dinding.
"Keluar!" teriak salah satu dari mereka.
Andita tidak menjawab.
"Saya bilang keluar!"
Pintu pondok itu ditendang sekali, langsung roboh, karena memang cuma anyaman bambu yang diikat tali.
Ada empat, mungkin lima. Wajah mereka tidak dia kenali satu pun.
"Siapa kalian? Mau apa? Saya sudah pergi dari kampung, saya sudah gak ganggu siapa-siapa!" teriak Andita.
Yang paling depan tidak menjawab. Dia cuma melirik ke arah bungkusan kain di pelukan Andita, lalu berkata pada temannya, "Bener, ada bayinya."
Andita menjerit.
Dia lawan. Dia gigit. Dia cakar. Untuk ukuran perempuan yang baru melahirkan dan berminggu-minggu makan seadanya, dia melawan jauh lebih lama dari yang mereka duga.
Tapi tetap saja dia sendirian.
Apa yang mereka lakukan malam itu tidak akan aku tuliskan. Bukan karena aku tidak tahu, tapi karena tidak ada gunanya. Cukup kalian tahu bahwa mereka melakukan hal-hal yang membuat manusia tidak pantas lagi disebut manusia, dan bahwa mereka melakukannya sambil tertawa.
Dan cukup kalian tahu juga, mereka tidak berhenti pada Andita saja.
•••
Yang Andita ingat berikutnya adalah rasa dingin.
Dingin yang aneh, karena dingin itu tidak membuatnya menggigil.
Dia membuka mata. Pondok itu sudah sepi. Obor sudah tidak ada. Langit di celah atap sudah mulai abu-abu, artinya sebentar lagi subuh.
Andita bangun, dan dia heran karena badannya terasa ringan sekali. Tidak ada perih, tidak ada nyeri, padahal tadi seluruh tubuhnya seperti dipatah-patahkan.
Dia menoleh.
Dan di situ, di sudut pondok, di tempat dia tadi meringkuk, ada seorang perempuan tergeletak dengan kain jarik yang sudah robek dan rambut yang menutupi wajahnya.
Andita mendekat.
Dia menyibak rambut itu, pelan, seperti orang yang takut membangunkan.
Wajah itu wajahnya sendiri.
"Kok ...?"
Dia mundur. Dia lihat kedua tangannya. Bersih. Tidak ada luka. Tidak ada darah.
Lalu dia teringat sesuatu, dan seketika itu juga dia berbalik mencari.
"Nak ...?"
Dia cari di sudut pondok. Tidak ada.
Dia cari di bawah tumpukan daun. Tidak ada.
Dia keluar, dia telusuri halaman, dia panggil-panggil dengan suara yang sudah tidak bisa didengar siapa pun lagi di dunia ini.
"Nak ...!! Nak, ini ibu! Kamu di mana, Nak?!"
Yang menjawab cuma burung-burung yang mulai bangun dan suara air kali dari kejauhan.
Andita berdiri di tengah hutan, menghadap ke arah kampung tempat suaminya dilahirkan, tempat dia pernah berharap diterima sebagai menantu.
Lalu dia menjerit.
Jeritan itu, kata si M, terdengar sampai jauh. Anjing-anjing kampung menyalak semalaman. Ada yang bilang malam itu langit di atas hutan terlihat kemerahan.
Dan sejak malam itu, tidak ada lagi Andita Ningtias yang lembut, yang sabar, yang menahan diri dan memilih diam supaya tidak menambah masalah.
Yang ada tinggal seorang perempuan cantik berbaju putih, dengan rambut panjang terurai, yang berjalan pelan menyusuri hutan sambil memanggil-manggil anaknya.
•••
Tiga hari Andita mencari.
Dia telusuri kali, dia telusuri jalan setapak, dia masuk sampai ke bagian hutan yang tidak pernah dia berani datangi waktu masih hidup.
Sampai pada hari ketiga, dia berhenti di depan sebuah pohon besar.
Pohon itu berdiri di tempat yang agak terbuka. Akarnya menyembul di permukaan tanah, besar-besar seperti urat tangan orang tua.
Dan di bawahnya ada gundukan tanah yang masih baru. Kecil sekali. Kalau tidak diperhatikan betul, orang akan mengiranya sekedar sarang binatang.
Andita berdiri lama di situ.
Dia tidak menangis, dia tidak menjerit lagi. Dia cuma berlutut, meletakkan tangannya di atas gundukan itu, dan berbisik.
"Ibu di sini, Nak."
Setelah itu dia duduk. Diam saja, memandang gundukan itu, sampai hari gelap lalu terang lagi.
Kata si M, sejak hari itu Andita tidak pernah benar-benar pergi jauh dari pohon itu. Sejauh apa pun dia melangkah, sesibuk apa pun dia nanti, begitu terdengar suara tangis bayi di kepalanya, dia akan berlari pulang ke situ.
Dan menurut aku, itulah yang membuat Andita tidak juga pergi ke tempat yang seharusnya.
Bukan dendam.
Tapi karena ada satu gundukan kecil di bawah pohon besar, yang tidak sanggup dia tinggalkan sendirian.