Kalian mungkin bertanya, kenapa sih aku sampai serepot itu mencari tahu siapa Marliani sebenarnya.
Jawabannya sederhana. Karena aku menulis tentang dia.
Aku ini menuliskan namanya hampir di setiap lembar catatanku, aku menyebut dia di depan teman-temanku, aku memperkenalkan dia ke orang-orang. Rasanya jadi aneh kalau ternyata nama yang aku sebut-sebut itu bukan namanya, dan perempuan yang aku ceritakan itu bukan benar-benar dia.
Ada juga alasan kedua, yang lebih pribadi.
Waktu itu aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dan orang yang sudah terbiasa itu bahaya, karena dia berhenti bertanya. Aku tidak mau sampai di titik itu. Aku tidak mau menerima seseorang, siapa pun dia, hanya karena sudah kadung terbiasa.
Jadi aku mulai bertanya. Pelan-pelan, tidak sekaligus, karena kalau ditanya bertubi-tubi si M pasti kabur.
"Kamu lahir tahun berapa?"
"Gak tahu."
"Orang tua kamu siapa?"
"Gak tahu."
"Kamu tinggal di mana waktu masih hidup?"
"Gak tahu."
Nah, kan. Tiga pertanyaan, tiga jawaban yang sama.
Aku sempat kesal dan bilang, "Masa iya kamu gak inget apa-apa, orang kamu inget nama kamu sendiri."
Dan jawaban dia waktu itu yang bikin aku diam lama.
"Nama itu bukan aku yang kasih." ucapnya pelan.
Ternyata nama Marliani itu pemberian. Bukan dari ibunya, bukan dari ayahnya, tapi dari pria tua yang mengasuhnya sejak kecil. Pria tua yang menemukan dia sedang duduk menangis di pinggir jalan.
Jadi kalau dipikir-pikir, si M ini tidak punya apa-apa yang benar-benar miliknya sendiri. Nama pun pinjaman.
***
Aku coba dari sisi lain.
Kalau dia tidak ingat, mungkin aku bisa melihatnya sendiri.
Biasanya kalau si M bercerita, pikiran kami seperti menyatu dan aku bisa ikut melihat apa yang dia ceritakan. Jadi malam itu aku minta dia diam saja, tidak usah cerita, cukup ingat.
"Ingat aja rumah kamu waktu kecil. Gak usah dijelasin, aku yang lihat."
Dia diam cukup lama. Lalu perlahan sesuatu masuk ke kepalaku.
Yang pertama datang bukan gambar, tapi bau. Bau kayu lama yang lembab, bercampur bau asap dapur.
Setelah itu baru muncul lantai papan. Warnanya gelap, sudah mengkilap karena terlalu sering diinjak. Ada celah-celah di antara papannya, dan dari celah itu kelihatan tanah di bawahnya.
Aku "berjalan" di dalam ingatan itu, kalau memang boleh disebut berjalan. Ada meja pendek, ada dinding papan, ada satu jendela kecil dengan daun jendela dari kayu, bukan kaca.
Lalu terdengar suara. Suara langkah orang, banyak, bukan satu dua.
Dan begitu suara itu terdengar, semuanya langsung gelap.
Bukan gelap karena lampu mati, tapi gelap karena ditutup. Seperti ada yang menutup mataku dari dalam.
"Cukup." bisik si M.
Aku buka mata. Dia sudah berdiri jauh, di ujung ruangan, membelakangi aku.
"Kenapa berhenti?"
Dia tidak menjawab.
Aku tanya sekali lagi, dia tetap tidak menjawab. Cuma pundaknya kelihatan bergerak sedikit, dan aku sudah hafal betul kalau dia sudah begitu berarti dia menangis.
Ya sudah. Aku tutup buku catatanku malam itu dan tidak melanjutkan.
***
Aku ini kadang lupa satu hal, dan tulisan ini sekalian aku jadikan pengingat buat diriku sendiri.
Mereka yang kita sebut hantu itu, sebagian besar, tidak ingat karena tidak sanggup ingat. Bukan karena lupa.
Manusia saja kalau kejadiannya terlalu berat, ingatannya suka bolong sendiri, apalagi mereka yang berhenti di situ dan tidak pernah bergerak maju lagi.
Jadi setiap kali aku mendesak si M, sebenarnya aku sedang menyuruh dia membuka pintu yang dia kunci sendiri, dan aku sama sekali tidak berhak melakukan itu, sekali pun aku yang menuliskan kisahnya.
***
Kalau dari dia tidak dapat, aku coba dari luar.
Beberapa teman yang pernah bertemu dengan si M, entah lewat mimpi atau dengan kepekaan mereka sendiri, punya pendapat yang hampir sama. Katanya si M ini gadis keturunan Belanda.
Alasan mereka macam-macam.
Ada yang bilang karena kulitnya. Ada yang bilang karena bentuk hidung dan rahangnya. Ada juga yang bilang karena modelnya, gaun panjang dengan potongan yang tidak biasa buat ukuran perempuan kampung zaman dulu, ditambah jepitan kecil di sisi kiri kepalanya yang bentuknya bukan jepitan yang biasa dijual di pasar.
Aku sendiri tidak bisa mengiyakan, dan tidak bisa membantah.
Yang aku tahu pasti cuma satu, si M paham betul bahasa yang aku pakai, tanpa perlu aku jelaskan. Tapi itu juga bukan bukti apa-apa, karena kata si M, mereka tidak benar-benar mendengar dengan telinga.
Yang bikin lucu, waktu aku sampaikan pendapat teman-temanku itu ke si M, dia malah balik bertanya.
"Belanda itu apa?"
Nah, saudara-saudara, silakan bayangkan aku menjelaskan sejarah ke seseorang yang mungkin saja ikut mengalami sejarah itu.
Aku jelaskan sesederhana mungkin. Dia dengar, dia manggut-manggut, lalu berkata, "Kayaknya bukan aku."
Ya sudah.
***
Ada satu teman yang cukup peka, sebut saja Mbak D, yang waktu itu aku kirimi foto hasil jepretan di dekat pohon dulu.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma kirim fotonya, lalu aku tanya, "Mbak, coba lihat, ada apa di situ?"
Beberapa jam kemudian dia balas panjang.
Katanya dia melihat seorang perempuan muda, umurnya kira-kira dua puluhan, duduk memeluk lutut. Katanya perempuan itu tidak menakutkan, cuma sedih.
Sampai situ aku masih biasa saja, karena itu memang yang aku lihat juga.
Tapi kalimat berikutnya bikin aku berhenti mengetik.
Katanya, "Kok kayak ada yang nutupin dia dari belakang ya, Mbak. Kayak ada yang gak mau dia keliatan seluruhnya."
Aku baca ulang pesan itu tiga kali.
Aku tanya, ditutupi bagaimana. Dia jawab, seperti ada bayangan lain yang berdiri di belakangnya, dan bayangan itu tidak bergerak sama sekali.
Malamnya aku tanyakan langsung ke si M.
"Ada yang jagain kamu, ya?"
Dia melirik sebentar, lalu menjawab dengan pertanyaan, "Kata siapa?"
"Kata temenku."
"Temen kamu banyak omong."
Cuma itu. Setelah itu dia pindah topik, ngajak ngobrol soal kopi, soal tetangga, soal apa saja asal bukan soal itu.
Dan begitulah cara si M kalau tidak mau menjawab. Dia tidak berbohong, dia cuma mengganti pembicaraan, dan biasanya berhasil karena aku memang gampang teralihkan.
***
Aku juga pernah bertanya soal jepitan rambutnya.
Bukan tanpa alasan. Dari semua yang menempel di dirinya, jepitan itu satu-satunya benda yang kelihatan seperti benda, bukan seperti kenangan.
"Itu dari siapa?"
"Gak tau."
"Dari bapak tua itu?"
Dia diam sebentar, lalu berkata, "Kayaknya bukan."
"Terus dari siapa?"
"Kalau aku tau, aku pasti udah cari orangnya."
Jawaban itu mungkin yang paling jujur yang pernah dia berikan selama aku mencari tahu tentang dirinya.
Dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertanya soal jepitan.
***
Satu-satunya yang mungkin tahu adalah pria tua itu, dan pria tua itu sudah lama meninggal.
Aku sempat bertanya, kenapa waktu masih hidup si M tidak pernah menanyakan asal-usulnya ke beliau.
Kata si M, dia pernah bertanya. Tapi jawabannya selalu sama, bahwa beliau juga tidak tahu apa-apa. Beliau cuma pulang dari suatu tempat, melewati satu ruas jalan, dan mendapati seorang anak perempuan duduk menangis di pinggirnya. Ditanya rumahnya di mana, anak itu tidak menjawab. Ditanya orang tuanya siapa, juga tidak menjawab.
Yang anak itu katakan cuma satu kalimat, katanya dia sedang menunggu.
Menunggu siapa, tidak pernah jelas sampai sekarang.
Dan itu yang bikin aku merinding kalau memikirkannya terlalu lama.
Karena kebiasaan si M sampai detik ini juga begitu. Kalau dia tidak sedang mengikuti aku, dia pasti sedang duduk di suatu tempat, menunggui seseorang. Waktu itu di ruang Asoka 13, lalu di ruangan lain di rumah sakit yang sama, menunggui pasien yang sedang terbaring.
Duduk. Menunggu. Sudah begitu saja.
Seperti orang yang lupa sedang menunggu apa, tapi tidak berani berhenti menunggu, takut kalau yang ditunggu itu datang justru pas dia pergi.
***
Aku sempat menyampaikan dugaanku ke si M, dugaan yang menurut aku paling masuk akal.
"Kayaknya kamu itu dulu nunggu orang tua kamu."
Dia diam.
"Terus kamu keburu dibawa sama bapak tua itu, jadi kamu gak pernah tahu mereka jadi jemput atau nggak."
Dia masih diam.
"Dan kamu bawa kebiasaan itu sampai sekarang."
Kali ini dia menjawab, tapi bukan menjawab pertanyaanku.
"Linn, kalau aku tahu siapa aku, kamu masih mau nulis soal aku?"
Pertanyaan itu tidak aku duga sama sekali, dan aku jawab apa adanya, "Ya mau."
"Kalau ternyata aku orang jahat waktu hidup?"
"Ya tetap aku tulis. Cuma nanti aku tulis apa adanya."
Dia tertawa kecil. Baru kali itu aku dengar dia tertawa.
Dan setelah itu dia tidak muncul dua hari, seperti biasa, sesuka hatinya sendiri.
***
Jadi sampai di sini, pencarianku mentok.
Tidak ada nama keluarga, tidak ada tahun, tidak ada kampung, tidak ada makam.
Yang aku punya cuma satu nama pemberian orang, satu jepitan rambut, satu gaun putih, dan satu kebiasaan menunggu yang tidak dia sendiri mengerti dari mana asalnya.
Sempat terpikir untuk melanjutkan, mencari lewat cara-cara lain, bertanya ke orang-orang yang lebih paham.
Tapi aku urungkan.
Bukan karena malas, tapi karena aku sudah lihat sendiri reaksinya waktu ingatan itu aku sentuh sedikit saja.
Ada hal-hal yang kalau kita paksa buka, yang rusak bukan cuma rahasianya, tapi orangnya.
Jadi sudahlah. Biar dia jadi Marliani saja. Biar dia jadi si M saja.
Toh yang aku butuhkan untuk menemaninya bukan silsilah, melainkan kesediaan untuk duduk di kursi yang sama setiap malam.
Dan itu, dari dulu, dia tidak pernah sekali pun absen.
Cuma satu hal yang belum bisa aku lepaskan sampai sekarang.
Kalau memang benar dia dulu sedang menunggu seseorang di pinggir jalan itu, berarti ada orang yang tidak pernah datang.
Dan kalau orang itu memang tidak pernah datang, berarti sampai detik ini pun si M masih menunggu, cuma tempat duduknya saja yang berpindah-pindah. Dari pinggir jalan, ke rumah sakit, lalu ke meja makanku.
Aku tidak pernah menyampaikan pikiran itu ke dia.
Bukan karena takut dia marah, tapi karena aku tahu persis rasanya kalau ada orang yang memberi tahu kita bahwa yang kita tunggu itu memang tidak akan datang. Sekali pun itu benar, tetap saja tidak ada gunanya diucapkan.
Biar saja dia menunggu. Toh sekarang menunggunya sudah tidak sendirian lagi.