Kalau si M sedang tidak ada di rumahku, dia pasti ada di rumah sakit.
Itu bukan tebakan, itu pengakuannya sendiri.
Dan lama-lama aku penasaran juga. Apa bagusnya rumah sakit sampai dia betah bolak-balik ke sana, padahal buat aku tempat itu adalah tempat yang paling ingin aku hindari seumur hidupku.
"Kamu ngapain sih di sana terus?"
"Nungguin."
"Nungguin siapa?"
"Yang lagi sakit."
Sesederhana itu jawabannya, dan sejujurnya sampai sekarang aku belum benar-benar paham.
Katanya di rumah sakit itu ramai. Bukan ramai orangnya, tapi ramai yang lain. Katanya di sana banyak yang seperti dia, yang datang lalu pergi, yang menunggu di lorong, yang duduk di ruang tunggu padahal tidak sedang menunggu siapa-siapa.
Katanya lagi, di rumah sakit itu pintunya sering terbuka.
"Pintu apa?"
"Yang di antara."
Aku tidak minta penjelasan lebih. Ada hal-hal yang kalau dijelaskan malah bikin aku susah tidur, jadi mendingan aku cukup tahu garis besarnya saja.
***
Suatu kali si M cerita, ada satu pasien laki-laki, sudah tua, yang dia tunggui berhari-hari.
Bukan karena kenal. Bukan karena ada urusan. Cuma karena, katanya, orang tua itu selalu memandang ke arah kursi kosong di sebelah tempat tidurnya, dan si M merasa dipandang.
Jadi dia duduk di situ.
Setiap hari, di kursi yang sama.
Sampai suatu malam orang tua itu meninggal.
"Terus?" tanyaku.
"Terus dia pergi."
"Sama kamu?"
"Nggak. Ada yang jemput dia."
Aku diam sebentar, lalu bertanya lagi. "Kamu gak dijemput?"
Dia tidak menjawab.
Nah, itu satu lagi pertanyaan yang tidak boleh aku ulangi. Aku sudah hafal, kalau si M diam terlalu lama, artinya aku sudah salah langkah.
Tapi dari situ aku jadi mengerti sedikit, kenapa dia selalu memilih tempat itu.
Dia bukan sedang menakut-nakuti orang sakit. Dia sedang menunggu untuk melihat, apakah kali ini ada yang datang menjemput. Setiap kali ada yang dijemput, dia menonton dari kursi sebelah, seperti orang yang menunggu giliran di antrean yang nomornya tidak pernah dipanggil.
Kalau aku pikir-pikir, itu sedih sekali.
Dan waktu aku bilang begitu ke dia, dia cuma menjawab, "Kamu kok yang sedih."
Ya begitulah dia. Yang mengalami dia, yang baper malah aku.
***
Aku pernah bertanya, di rumah sakit itu bagian mana yang paling dia suka.
Aku pikir jawabannya kamar pasien, atau kamar mayat, atau tempat-tempat yang biasa disebut angker di cerita orang.
Ternyata bukan.
"Ruang tunggu."
Aku sampai mengulang pertanyaannya, karena aku pikir aku salah dengar.
"Ruang tunggu? Yang bangkunya banyak itu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena semua orang di situ sama."
Aku tanya maksudnya apa, dan dia menjelaskan dengan caranya sendiri, yang seperti biasa setengah-setengah dan bikin aku harus menebak sisanya.
Katanya di ruang tunggu itu semua orang sedang menunggu sesuatu yang mereka sendiri belum tahu hasilnya. Ada yang menunggu nomor antrean, ada yang menunggu hasil lab, ada yang menunggu pintu ruang operasi terbuka. Ada yang menunggu kabar baik, ada yang sudah tahu kabarnya tidak akan baik tapi tetap duduk di situ.
Dan di antara mereka, katanya, duduk juga yang seperti dia, dan tidak ada satu pun yang menyadari.
"Cuma di situ aku gak keliatan aneh." katanya.
Nah, kalimat itu yang bikin aku diam agak lama.
Karena aku juga sering merasa begitu. Di ruang tunggu rumah sakit, tidak ada yang bertanya kenapa kamu diam saja, tidak ada yang bertanya kenapa mukamu pucat, tidak ada yang bertanya kenapa lehermu diperban. Semua orang punya urusannya masing-masing, dan justru karena itu semua orang jadi terlihat normal.
Ternyata hantu pun butuh tempat di mana dia tidak dianggap aneh.
***
Sementara itu, keadaanku sendiri lagi tidak terlalu bagus.
Buat yang baru ikut membaca kisah ini, jadi biar aku jelaskan sedikit. Aku ini pasien lama dengan masalah yang itu-itu saja, infeksi paru. Bertahun-tahun. Sudah bolak-balik rumah sakit sampai hafal betul mana perawat yang tangannya enak kalau memasang infus dan mana yang bikin aku menahan napas.
Setelah operasi besar itu, ada selang yang menancap di leherku, dan selang itu harus diganti secara berkala. Bukan diganti seperti mengganti baju, ya. Ganti selang itu artinya masuk ruangan operasi lagi.
Awalnya jadwal kontrolku sebulan sekali. Lalu dokter mengubahnya jadi tiga bulan sekali, dan buat aku itu kabar yang menyenangkan sekaligus bikin was-was. Menyenangkan karena aku tidak perlu terlalu sering ke sana. Was-was karena kalau ada apa-apa di antara jarak tiga bulan itu, ya aku sendiri yang harus tahu diri kapan harus datang.
Belakangan napasku mulai berat lagi. Bukan yang parah, tapi cukup untuk membuat aku bangun tengah malam dan duduk sampai subuh.
Dan seperti biasa, kalau badanku sedang lemah, penglihatanku malah jadi lebih tajam.
Itu bagian yang paling tidak aku sukai dari sakit. Bukan sakitnya, tapi pintu yang ikut terbuka setiap kali badan ini menyerah sedikit.
***
Malam itu aku batuk cukup lama.
Si M yang biasanya duduk di meja makan, malam itu berdiri di dekat pintu kamar, diam, memandangi aku.
"Apa?" tanyaku, di antara batuk.
"Kamu harus ke sana."
"Ke rumah sakit?"
Dia mengangguk.
Aku ngeyel, seperti biasa. Aku bilang masih bisa ditahan, masih bisa nunggu jadwal, masih belum perlu.
Dia tidak memaksa. Cuma berdiri di situ sampai aku tertidur sendiri karena capek.
Besoknya aku periksa. Dan seperti yang sudah aku duga, dokter bilang selangnya memang sudah waktunya diganti, dan aku disuruh menyiapkan diri untuk menginap lagi.
Aku pulang dengan perasaan campur aduk.
Dan hantu yang satu itu, jangan ditanya, senangnya bukan main.
"Kok kamu seneng banget, sih?" tanyaku, agak sebal.
"Aku bisa ketemu temen-temen aku."
"Emang kamu punya temen?"
"Punya."
"Terus kenapa masih nempel-nempel aku?"
Dia tidak menjawab, dan aku sudah bisa menebak jawabannya sendiri.
Karena teman-temannya itu sama seperti dia. Sama-sama duduk, sama-sama menunggu, sama-sama tidak bisa saling menanyakan kabar dengan benar. Sementara di rumahku ada orang yang bisa menjawab kalau dia bicara, bisa kesal kalau dia usil, bisa marah kalau dia keterlaluan.
Ternyata yang dicari itu bukan teman yang sama, tapi teman yang membalas.
***
Hari kontrol itu sendiri panjangnya bukan main.
Buat yang belum pernah, jadwal kontrol di rumah sakit besar itu bukan seperti datang ke klinik lalu pulang. Berangkat pagi buta, ambil nomor antrean, tunggu dipanggil untuk pendaftaran, tunggu lagi untuk ditimbang dan diperiksa tensi, tunggu lagi untuk ketemu dokter, lalu tunggu lagi di apotek.
Dari pagi sampai siang lewat, isinya menunggu.
Dan si M, dari awal sampai akhir, kelihatan senang sekali.
Aku sampai mencubit paha sendiri supaya tidak ketawa, waktu melihat dia berjalan mondar-mandir di lorong seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke pasar malam.
Padahal dari kemarin dia bolak-balik ke situ. Entah kenapa kalau bareng aku, kesenangannya lain.
Waktu namaku dipanggil, aku masuk. Dokter memeriksa lubang di leherku, menekan-nekan bagian sekitarnya, lalu menanyakan beberapa hal.
Napasnya bagaimana. Lendirnya bagaimana. Malam bisa tidur atau tidak.
Aku jawab apa adanya, karena buatku berbohong ke dokter itu sama saja dengan membeli obat lalu dibuang di jalan.
Beliau lalu bilang, sebaiknya jangan menunggu tiga bulan penuh. Selangnya sudah waktunya diganti, dan lebih cepat lebih baik.
"Berapa hari nanti nginapnya, Dok?"
"Sebentar saja, kalau tidak ada apa-apa."
Kalau tidak ada apa-apa.
Kalimat itu, buat pasien lama sepertiku, artinya bisa dua hari, bisa dua minggu.
***
Dua hari sebelum berangkat, aku mulai menyiapkan tas.
Ini bukan pengalaman pertama, jadi aku sudah tahu persis apa saja yang harus dibawa. Baju yang gampang dibuka bagian lehernya, mukena, sarung buat suamiku kalau nanti dia menginap, headset, dan power bank yang penuh. Buat aku headset dan power bank itu bukan hiburan, tapi alat bertahan hidup.
Kenapa? Karena kalau malam di rumah sakit itu sepi, dan sepi buat orang seperti aku bukan hal yang menenangkan.
Suamiku bertanya apakah dia perlu mengambil cuti untuk menemaniku.
Aku bilang tidak usah dulu, lihat nanti saja.
Dia mengangguk, meski dari wajahnya kelihatan sekali dia tidak setuju. Dia tidak pernah benar-benar tenang kalau aku sendirian di sana, dan sejujurnya aku juga tahu alasannya bukan soal aku bisa atau tidak bisa mengurus diri sendiri.
Malamnya, sambil melipat baju, aku bicara ke arah kursi kosong di sebelah lemari.
"Nanti kalau di sana, kamu jangan macam-macam ya."
Tidak ada jawaban.
"Jangan bikin pasien lain pindah kamar lagi kayak dulu."
Masih tidak ada jawaban, tapi tas kecil yang tadi aku taruh di ujung kasur bergeser sedikit, cukup untuk membuat aku menoleh.
Aku hela napas panjang.
"Ya sudah. Terserah kamu."
Dan begitulah. Yang lain kalau mau opname bawa keluarga, aku bawa satu tambahan yang tidak kelihatan, tidak butuh kartu penunggu pasien, dan tidak pernah bisa dilarang masuk oleh satpam mana pun.
Tinggal menunggu tanggalnya saja.
Malam terakhir sebelum berangkat, aku tidak bisa tidur.
Bukan karena takut operasinya. Yang begitu itu sudah aku lalui berkali-kali sampai bosan, dan justru bagian itu yang paling ringan karena aku tidak sadar apa-apa.
Yang bikin aku tidak bisa tidur adalah bagian penentuan ruangan.
Setiap kali mendaftar, aku selalu berdoa satu hal yang sama, semoga jangan Asoka 13.
Bukan karena angkanya. Aku tidak percaya angka sial. Tapi karena di ruangan itu ada sesuatu yang belum selesai, dan aku belum siap membukanya lagi. Di ruangan itu aku menyaksikan Anna, di ruangan itu aku pertama kali melihat Marliani duduk bersandar di jaket suamiku, dan di ruangan itu juga separuh ingatanku diambil dan sampai sekarang belum dikembalikan.
Aku bilang begitu ke si M, sambil setengah bercanda.
"Nanti kalau aku dapet Asoka 13 lagi, aku pulang aja deh."
Dia tidak ikut bercanda.
"Kamu gak bakal dapet yang itu."
"Kok kamu tau?"
"Ya tau aja."
Sudah, cuma begitu. Tidak ada penjelasan, tidak ada alasan.
Dan seperti biasa, aku juga tidak menuntut penjelasan, karena kalau soal begituan, si M memang jarang sekali salah.