“Ya ampun, lihat bosmu itu Kir, nyebelin banget!” Lanna menunjuk-nunjuk David di depan Kirana. Yang ditunjuk-tunjuk asyik makan kebab tanpa peduli omelan istrinya.
“Dasar istri durhaka, suami ditunjuk-tunjuk.” Sembur Kirana di luar dugaan Lanna kalau Kirana akan membela bosnya. Yaiyalah David kan bos Kirana, kalau dia membela Lanna bisa-bisa potong gaji.
Lanna terperangah heran. “Bos dan anak buah sama aja.” Lanna mengambil air mineral milik Kirana dan menenggaknya untuk mendinginkan hatinya.
“Kamu jangan terlalu benci sama—“ Kirana menunjuk David dengan matanya. “Nanti bisa jadi cinta. Tahu kan bedanya cinta dan benci itu tipis.” Kata Kirana sanguinis.
“Nggak akan, Kir. Nggak akan aku jatuh cinta pada orang macam David.” Lanna mengibaskan tangannya di udara seakan sedang mengusir nyamuk. “Amit-amit.”
“Yang terlalu yakin itu biasanya yang paling duluan jatuh, Lann.”
“Kir.”
“Iya, iya. Aku diem.”
David menghabiskan gigitan terakhir kebabnya, melipat kertas pembungkusnya menjadi kotak kecil, lalu melemparkannya ke tempat sampah yang berjarak tiga meter dari meja mereka. Masuk. Dia bahkan tidak menoleh untuk memastikan.
“Sombong banget sih,” gerutu Lanna.
“Yang dari tadi nunjuk-nunjuk aku siapa?”
“Bukan siapa-siapa.”
“Oh, bukan siapa-siapa.” David mengangguk-angguk. Lalu, tanpa diminta dan tanpa berkata apa-apa, dia mendorong gelas jus jambu miliknya ke hadapan Lanna. Tanpa menatap istrinya sedikit pun.
Lanna terdiam menatap gelas itu.
Dari tadi memang dia haus. Air mineral Kirana sudah ditenggaknya sampai habis. Tapi dia belum mengeluh pada siapa pun, dan David tidak bertanya.
Kirana memperhatikan semua itu dari balik kacamatanya. Diam-diam. Seperti sekretaris yang memang dilatih untuk memperhatikan hal-hal kecil.
“Kenapa lihat-lihat?” tanya Lanna galak.
“Nggak papa.” Kirana tersenyum manis sekali. “Diminum aja, Lann. Kasihan jusnya.”
Lanna menyambar gelas itu dan menghabiskannya separuh. Rasanya manis. Menyebalkan sekali kenapa rasanya harus manis.
David melirik gelas yang tinggal separuh itu, lalu kembali menatap layar ponselnya seakan tidak terjadi apa-apa. Kirana menyeruput es tehnya pelan-pelan sambil menyimpan satu catatan kecil di kepalanya: orang yang benci biasanya tidak hafal siapa yang sedang kehausan.
***
Ponsel David bergetar di atas meja.
Layarnya menyala menghadap ke atas, dan Kirana yang duduk paling dekat dengan ponsel itu tidak sengaja membaca nama yang tertera di sana.
Sarah.
David meraih ponselnya cepat. Terlalu cepat, menurut Kirana.
“Sebentar,” katanya, lalu bangkit dan berjalan menjauh ke arah pot-pot besar di ujung teras kafe.
Lanna menatap punggung suaminya. Punggung itu berhenti di bawah pohon kecil dalam pot, membelakangi meja mereka. David menunduk saat bicara. Dia selalu menunduk kalau sedang bicara dengan orang yang penting baginya. Lanna sudah tahu kebiasaan itu sejak masih menjadi karyawannya.
“Klien?” tanya Lanna.
“Mungkin,” jawab Kirana pendek.
Kirana tahu dia sedang berbohong. Tapi dia lebih tidak tahu lagi apa gunanya mengatakan yang sebenarnya pada Lanna sore ini.
***
“Halo.”
“Aku ganggu?” Suara Sarah terdengar hati-hati di seberang sana.
“Enggak.”
“Aku dapat nomor kamu dari Ron.”
David memindahkan ponsel ke telinga kirinya. “Ada apa?”
Sarah diam sebentar. Terlalu lama untuk ukuran orang yang katanya punya urusan pekerjaan.
“Labelku mau bikin peragaan tunggal bulan depan,” kata Sarah akhirnya. “Aku butuh sponsor utama. Dan yang paling masuk akal di kota ini perusahaan kamu.”
“Kirim proposalnya ke kantor. Nanti tim aku yang—”
“David.”
Satu kata. Namanya sendiri. Dan David berhenti bicara.
“Aku nggak mau lewat tim kamu,” kata Sarah. “Aku mau ketemu kamu. Sekali aja. Habis itu terserah kamu mau nolak atau enggak.”
David memandang ke arah meja di seberang teras. Lanna sedang tertawa entah karena apa, sampai bahunya berguncang, dan Kirana memukul lengan sahabatnya sambil ikut tertawa.
“Vid?”
“Kirim proposalnya dulu,” kata David. “Nanti aku kabari.”
“Jadi kamu mau ketemu?”
David memejamkan mata sebentar.
“Aku kabari,” ulangnya, lalu mematikan sambungan.
Dia berdiri di bawah pohon kecil dalam pot itu beberapa saat lebih lama daripada yang seharusnya. Menatap layar ponsel yang sudah gelap. Menunggu dadanya berhenti berdegup seperti anak sekolahan.
Enam bulan. Perjanjian itu cuma enam bulan. Setelah itu semuanya kembali seperti semula dan tidak ada yang perlu dijelaskan pada siapa pun.
Lalu kenapa rasanya jadi rumit begini?
***
“Siapa?” tanya Lanna begitu David duduk kembali.
“Kantor.”
Lanna mengangkat sebelah alisnya. “Hari Sabtu?”
“Emang kantor libur hari Sabtu?”
“Iya.”
David menyambar gelas jus jambunya yang tinggal separuh dan menghabiskannya dalam sekali tenggak. “Ya udah, berarti bukan kantor.”
“Terus siapa?”
“Bukan siapa-siapa.”
Lanna membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kalimat itu miliknya sepuluh menit yang lalu, dan sekarang dilemparkan kembali padanya persis seperti bola pingpong.
Kirana pura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Aku antar kamu pulang,” kata David pada Kirana.
“Nggak usah, Pak. Saya naik ojek aja.”
“Kir.” Lanna melotot. “Sejak kapan kamu manggil dia Pak kalau lagi makan kebab?”
Kirana nyengir. “Sejak dia yang bayarin kebabnya.”
***
Jalanan Jakarta sore itu padat seperti biasa.
David menyetir tanpa menyalakan musik. Lanna menatap ke luar jendela, menghitung tiang lampu, lalu berhenti menghitung karena memang tidak ada gunanya.
“Lann.”
“Hm.”
“Besok kakek minta kita makan malam bareng.”
Lanna menoleh cepat. “Kakek? Di rumah?”
“Di rumah kakek.”
“Aku harus ngapain?”
“Ya jadi istri aku.”
“Aku nggak tahu caranya jadi istri kamu.”
David melirik Lanna sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Kemarin di klub kamu bisa.”
Lanna buru-buru menutup mulutnya sendiri sebelum ada suara aneh yang keluar dari sana.
Kemarin di klub. Chopin. Tangan David di pinggangnya, tangannya sendiri melingkar di leher David, dan dua puluh menit yang seharusnya tidak boleh terasa senyaman itu.
“Itu kan cuma dansa,” katanya akhirnya.
“Iya,” jawab David. “Cuma dansa.”
Lanna mengangguk pada kaca jendela. Di luar sana lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan dia berusaha keras mengingat kembali kalimat yang tadi sore diucapkannya dengan begitu yakin di depan Kirana.
Mereka tidak bicara lagi sampai gerbang rumah terbuka.
***
Rumah besar itu terlalu sepi untuk ukuran pukul lima sore.
Lanna melepas sandalnya di ruang tengah lalu melangkah ke dapur, satu-satunya ruangan di rumah itu yang belakangan terasa seperti rumah beneran. Dan seperti biasa, Ramon ada di sana.
Tapi sore ini tidak ada teh. Tidak ada kue kering. Tidak ada nastar.
Ramon hanya duduk di kursi meja makan dengan kedua tangan bertumpu di atas meja, dan wajahnya—wajah yang biasanya penuh senyum manis itu—benar-benar kosong.
“Kak Ramon?”
Ramon mengangkat wajahnya. “Hai, Lann.”
“Nggak ngeteh?”
“Lagi nggak pengin.”
Lanna berhenti melangkah. Ramon yang tidak ingin makan itu sama anehnya dengan Jakarta yang tidak macet. Ada yang salah.
“Kak Ramon sakit?”
“Enggak.” Ramon menggeser kursi di sebelahnya. “Duduk sini bentar.”
Lanna menurut. Dia menarik kursi itu dan duduk, meletakkan tasnya di pangkuan.
“Lann.”
“Iya, Kak?”
“Kamu nikah sama David karena apa?”
Pertanyaan itu datang begitu saja. Tanpa aba-aba, tanpa lelucon di depannya. Lanna merasakan tengkuknya mendadak dingin.
“Ya... karena—” Lanna tertawa kecil, dan tawanya sendiri terdengar palsu di telinganya. “Karena cinta lah, Kak. Masa karena kesambet.”
“Sejak kapan kamu cinta sama dia?”
“Sejak...”
Sejak kapan?
Kepala Lanna berputar mencari tanggal, bulan, kejadian, apa saja yang bisa disebutkan. Tapi tidak ada satu pun yang tersedia di sana. Karena memang tidak pernah ada.
Dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani perjanjian konyol itu, Lanna sadar bahwa dia tidak pernah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan paling sederhana yang bisa ditanyakan siapa pun pada seorang istri.
“Sejak lama, Kak.”
“Lama itu berapa lama?”
“Kak Ramon kenapa sih nanyanya kayak polisi gitu.”
Ramon tidak tertawa. Untuk pertama kalinya sejak Lanna mengenalnya, laki-laki itu tidak tertawa saat diberi umpan untuk tertawa.
Lalu Ramon menarik sesuatu dari pangkuannya dan meletakkannya perlahan di atas meja makan, tepat di depan Lanna.
Sebuah map cokelat.
Lanna menatap map itu, dan seluruh isi kepalanya berhenti bekerja.
“Aku nemu ini di kamar David,” kata Ramon pelan.
***