Lanna tidak langsung menyentuh map itu.
Dia hanya menatap warna cokelatnya, tali putih yang melilit dua kali, dan sudut kertas yang sedikit menekuk. Map itu persis seperti yang kemarin dia lihat David selipkan ke laci paling bawah, dengan gerakan orang yang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dilihat siapa pun. Lanna ingat dia sempat berpikir, ah, cuma laci.
“Aku nyari charger,” kata Ramon pelan. “Bukan nyari ini. Maaf, Lann.”
“Kakak sudah baca?”
“Sudah.”
Satu kata itu cukup. Lanna menarik talinya. Jari-jarinya dingin, dan talinya licin seperti sengaja tidak mau dilepas. Tiga lembar kertas meluncur keluar. Judulnya dicetak tebal: PERJANJIAN PERNIKAHAN. Di bawahnya ada dua nama, David di atas, Lanna Davina di bawah.
Dia membaca lembar pertama. Jangka waktu enam bulan. Lembar kedua: rumah di Menteng, uang dalam jumlah yang dulu membuat Lanna lupa cara berkedip, dan gaun di atas seratus juta untuk setiap pertemuan keluarga. Lembar ketiga cuma tanda tangan. Tinta biru miliknya sendiri, dan di sebelahnya tinta hitam David yang miring tajam.
Pernikahan ini baru tiga hari. Pesta di klub itu baru kemarin. Dan kertas ini sudah ada di meja makan, di depan orang yang paling tidak ingin dia bohongi.
“Jadi benar,” kata Ramon.
Lanna membuka mulut. Dia sudah menyiapkan sebuah kalimat, entah apa, mungkin ‘itu cuma lelucon kami’ atau ‘itu naskah film pendek’. Tapi lidahnya tidak mau bergerak ke arah sana. Dari dulu dia memang payah soal bohong. Kirana bilang wajahnya seperti papan pengumuman.
“Benar, Kak,” katanya akhirnya. Suaranya kecil sekali.
Ramon tidak bergerak.
“Enam bulan,” lanjut Lanna. “Setelah itu selesai. Kami nggak pernah, maksudku, ini bukan pernikahan yang, ya, Kakak ngerti lah.”
“Kenapa David butuh itu?”
“Warisan.” Lanna menelan ludah. “Kata Kakek, David harus menikah waktu umur dua puluh tujuh. Kalau nggak, hartanya jatuh ke...”
“Ke aku.”
“Iya.”
“Aku tahu Kakek pernah bilang begitu.” Ramon mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Aku nggak pernah minta, Lann. Aku bahkan lupa. Jadi David takut kehilangan hak waris, dan dia cari istri sewaan.”
“Bukan sewaan.” Lanna kaget dengan nada suaranya sendiri. “Maksudku, aku yang setuju. Nggak ada yang memaksa.”
Kalimat itu keluar begitu saja, dan begitu keluar, Lanna sendiri tidak yakin apakah dia sedang membela David atau membela dirinya. Seratus juta. Pesan ancaman itu. Dia melirik map di depannya dan tiba-tiba merasa kalimatnya tadi terlalu mulus.
“Kak, jangan marah sama David. Dia...”
“Aku nggak marah.”
“Kakak kelihatan...”
“Kelihatan apa?”
Lanna tidak menjawab. Ramon yang tidak marah itu sama menakutkannya dengan Ramon yang tidak tertawa.
“Kakak nggak akan teriak?” tanyanya, hampir berbisik.
“Buat apa? Kalau aku teriak, kamu cuma makin takut. Dan kamu nggak salah apa-apa, Lann, kecuali satu hal.”
“Apa?”
“Kamu terlalu baik menerima tawaran orang yang nggak pantas menawar.”
Lanna ingin tertawa karena kalimat itu terdengar persis seperti sesuatu yang akan dikatakan Kirana. Tapi matanya malah panas. Dia menunduk, memandangi tanda tangannya sendiri, dan teringat hari dia menggoreskan nama itu dengan pena David. Hari itu dia merasa seperti orang pintar yang berhasil mengakali nasib. Sekarang tinta biru itu terlihat seperti tanda tangan di surat kesaksian.
***
Di garasi, David mematikan mesin mobil dan tetap duduk di balik setir.
Dia punya waktu dua menit, mungkin tiga. Cukup untuk memikirkan telepon Sarah tadi, cukup untuk memutuskan dia akan bercerita pada Lanna soal itu malam ini atau tidak sama sekali. Dia belum memutuskan apa pun saat lampu dapur yang menyala terang terlihat dari kaca spion.
Lanna tadi langsung masuk, tanpa menunggunya. Itu hal kecil. Tapi David sudah mulai hafal hal-hal kecil tentang Lanna, dan dia belum mau memikirkan kenapa.
Dia turun, menutup pintu mobil, dan masuk lewat pintu samping.
“Lann, kamu lihat kunci mobil yang satunya?” Dia berhenti di ambang pintu. “Lann?”
Elsha tidak ada di sana, padahal kucing gempal itu biasanya menyambut kalau ada orang masuk dapur. Yang ada hanya Lanna yang duduk kaku seperti patung, dan Ramon yang tidak tersenyum. Dua orang itu menatapnya dengan cara yang sama, dan David tahu tatapan itu: tatapan orang yang sudah selesai menunggu penjelasan.
Lalu pandangan David jatuh ke atas meja.
Darahnya turun dari wajah sampai ke ujung jari. Kulitnya memang sudah putih dari sananya, dan sekarang jadi putih seperti kertas yang ada di bawah tangan Lanna.
“Kak,” katanya.
“Duduk, David.”
David duduk. Kursinya berderit nyaring di dapur yang mendadak terlalu sunyi.
Dia melirik Lanna. Lanna tidak membalas lirikan itu. Rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah, dan David, entah kenapa, lebih ingin menyibakkannya daripada membela diri. Keinginan yang aneh. Dia membuangnya jauh-jauh.
“Aku cuma mau tanya tiga hal,” kata Ramon. Suaranya datar, rendah, tanpa nada lelucon. David belum pernah mendengar kakaknya bicara seperti itu seumur hidupnya. “Dan kalian jawab jujur. Kalau kalian bohong sekarang, kalian cuma menambah masalah.”
“Kak, aku bisa jelasin...”
“Pertama. Kakek tahu?”
“Nggak,” jawab David.
“Mamah?”
“Nggak. Nggak ada yang tahu. Cuma Ron dan Kirana.”
Ramon menoleh sekilas ke Lanna, seakan mencocokkan sesuatu. Lanna mengangguk kecil. Dia tidak berani memandang siapa pun.
“Kedua orang itu tahu, dan aku baru tahu hari ini,” kata Ramon, tidak ditujukan pada siapa-siapa. Lalu dia menegakkan badan. “Pertanyaan ketiga. Setelah enam bulan, apa yang Lanna dapat selain status janda?”
Hening.
David membuka mulut, menutupnya lagi. Jawabannya sebenarnya ada di lembar kedua map itu. Rumah, uang. Tapi saat ditaruh di depan Ramon, jawaban itu mendadak terdengar murahan.
“Rumah,” kata Lanna lebih dulu. “Sama uang. Itu sudah kami sepakati, Kak.”
“Itu yang kamu dapat?” Ramon menatapnya. Untuk pertama kali sore itu tatapannya melunak, dan justru karena itu terasa lebih berat. “Dua puluh tiga tahun, Lann. Dan di KTP-mu nanti ada tulisan cerai.”
“Aku nggak peduli soal tulisan...”
“Kamu peduli. Kamu cuma belum sampai ke bagian itu.”
Lanna terdiam. Tangannya meremas ujung kertas sampai berkerut.
Ramon berdiri. Kursinya digeser pelan, tanpa suara kasar. Dia memandang adiknya, lalu Lanna, lalu map itu.
“Aku nggak akan bilang ke Kakek,” katanya. “Selama Lanna tidak terluka. Sampai ada satu saja yang bikin dia terluka, aku bicara. Kalian dengar?”
“Dengar, Kak,” jawab David.
“Dengar,” kata Lanna.
“Satu lagi.” Ramon menatap David lama. “Besok makan malam dengan Kakek. Kakek itu bukan orang yang gampang dikibulin lewat senyum. Kalau kalian mau sandiwara, latihan dulu sebelum jam tujuh.”
“Iya, Kak.”
“Mapnya tinggal di situ. Taruh di tempat yang lebih aman daripada laci, David. Kalau aku bisa nemu, Kakek juga bisa.”
Ramon melangkah ke pintu. Di ambang pintu dia berhenti, tidak menoleh, dan seperti baru ingat sesuatu, dia mengambil toples nastar di atas lemari. Dia memandangi toples itu sebentar. Lalu dia menaruhnya kembali di tempat semula tanpa membukanya.
Pintu dapur tertutup di belakangnya.
David dan Lanna masih duduk berhadapan, dengan tiga lembar kertas di tengah mereka. Dari ruang tengah terdengar suara jam dinding berdetak, satu-satunya yang berani bicara.
“Lann.”
“Jangan di sini.” Lanna mengumpulkan lembar-lembar itu dengan tangan gemetar dan memasukkannya kembali ke map. “Dindingnya punya telinga. Dan kamu punya banyak yang harus kamu ceritakan, David.”
“Aku...”
“Kamar kamu. Sekarang.”