Kedipan kedua tidak diikuti terang.
Lampu langit-langit mati sekaligus dengan bunyi dengung pendek dari AC, dan kegelapan menutup ruang baca itu seperti telapak tangan besar menutup mulut. Lorong gelap. Jendela pun gelap, karena Jakarta di bawah sana ikut padam, berlapis-lapis dan sunyi, seakan seseorang mencabut kabel dari seluruh kota.
Lanna tidak sempat berteriak. Buku di tangannya jatuh dan mendarat dengan bunyi pelan di karpet.
Napasnya pendek. Dada sesak. Telapak tangannya mendingin lebih cepat daripada yang pernah dia rasakan. Dia tahu ini hanya mati lampu. Dia sudah memberi tahu dirinya berkali-kali, sejak kecil, bahwa gelap hanya gelap, dan gelap tidak punya tangan. Tapi tubuhnya tidak pernah mau mendengar.
Dia merosot ke lantai, punggung menempel pada rak yang baru dia susun, lutut ditarik ke dada.
Hitung, katanya dalam hati. Hitung tiang lampu. Tiang lampu pun tak kelihatan. Hitung apa saja.
Satu. Dua. Tiga. Angka-angka itu menyeret dirinya sendiri, hilang di tengah-tengah.
Di sofa-bed, Elsha mengeong cemas. Kucing itu melompat turun dan mengusap-usapkan badannya pada kaki Lanna, hangat, berbulu, nyata. Itu menolong sedikit.
Tok. Tok.
Lanna mendongak, meski tidak ada apa-apa yang terlihat.
“Lann?” Suara David di balik pintu. Pelan. Dia tidak membuka. “Aku mengetuk. Sesuai aturan.”
Lanna ingin menjawab. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata menyangkut di tenggorokan seperti tulang ikan.
“Lann, kamu di dalam?”
“Hm,” keluar dari mulutnya. Bunyi kecil, lebih mirip cicit tikus.
Hening sebentar. Lalu suara David lagi, lebih rendah. “Aku masuk, ya. Kalau kamu nggak mau, bilang. Cuma satu kata cukup.”
Lanna tidak mengatakan apa-apa.
Pintu terbuka. Tidak ada cahaya yang masuk, tapi ada hawa lain, hawa orang yang ada di ruangan. Lantai berderit satu kali. Dua kali. Lalu berhenti, kira-kira dua meter dari tempat Lanna meringkuk.
“Aku nggak akan mendekat lagi kalau kamu nggak mau,” kata David dari dalam gelap. “Boleh duduk di sini?”
Lanna menelan ludah. Pertanyaan itu begitu sederhana, dan justru karena sederhana, dia hampir menangis. David tahu apa yang dia takuti. Dia tahu sejak lift. Dan dia memilih tidak langsung memeluk, tidak langsung menyentuh, tidak langsung berbuat apa-apa yang dia tidak izinkan.
“Boleh,” bisik Lanna.
Terdengar bunyi tubuh duduk di karpet. Lalu napas pelan yang teratur. Tidak lebih dekat dari tadi.
“Lann,” kata David. “Aku punya satu trik. Dulu aku pakai waktu aku kecil dan takut petir.”
“Kamu takut petir?”
“Jangan bilang ke siapa-siapa.”
“Kamu takut petir,” ulang Lanna, dan nyaris tertawa. Dadanya sedikit melonggar.
“Triknya begini. Kamu sebutkan lima buku yang kamu suka. Satu per satu. Aku tebak isinya. Salah atau benar, kamu koreksi. Sampai lampu menyala.”
“Itu bukan trik. Itu kuis.”
“Kuis juga trik.”
Lanna menarik napas. Satu napas penuh, pertama sejak lampu mati. “Totto-chan,” katanya.
“Itu mudah. Gadis kecil yang dikeluarkan dari sekolah, terus masuk sekolah di gerbong kereta. Kamu baca ulang tiap tahun, kan?”
“Kamu tahu?”
“Aku bosmu seminggu penuh. Kamu nggak pernah berhenti mengutip buku itu.” Ada senyum di suaranya. “Berikutnya.”
“Bumi Manusia.”
“Sejarah. Perang.”
“Salah.” Lanna mengerutkan dahi di kegelapan. “Itu cinta. Dan penjajahan. Dan seorang laki-laki yang menulis dengan pena sebagai senjata.”
“Aku bilang sejarah.”
“Sejarah itu latar, bukan isinya.”
“Wow. Aku baru dikuliahi di tengah kegelapan.”
“Berikutnya?”
“Berikutnya aku yang sebut.” Lanna menghitung dengan jari. “Pride and Prejudice.”
“Wanita yang terlalu sombong bertemu pria yang terlalu sombong. Mereka menikah.” David berhenti. “Kenapa aku merasa itu sindiran?”
“Itu bukan sindiran.”
“Itu sedikit sindiran.”
“Itu empat puluh persen sindiran.”
Mereka tertawa, bersamaan, dan tawa itu bergema aneh di ruang kosong yang gelap. Lanna baru sadar tangannya tidak lagi mendingin. Dadanya tidak lagi sempit. Elsha sudah naik ke pangkuannya dan mendengkur, tidak peduli apakah ada listrik atau tidak.
“Buku keempat?”
“Anne dari Green Gables.”
“Gadis berambut merah yang suka bicara.”
“Kamu ternyata tahu banyak.”
“Mamah punya semua bukunya. Aku baca diam-diam waktu kecil.” David bergeser sedikit. Lanna mendengar kain bergesekan, bukan mendekat, hanya mencari posisi nyaman. “Terakhir?”
Lanna memikirkannya. Ada banyak buku. Tapi pada saat itu, tanpa dipikir lagi, satu judul muncul begitu saja, terlalu cepat, seakan sudah menunggu di ujung lidah sejak awal.
“Kitab kecil dari Mamah,” katanya. “Hadiah ulang tahun ke tujuh belas. Bukan buku cerita.”
“Apa isinya?”
“Doa. Supaya aku nggak takut.” Dia menelan ludah. “Aku nggak pernah berhasil, sih.”
Hening. Dalam hening itu, David tidak membuat lelucon. Tidak berkomentar. Hanya satu kalimat, lirih dan jelas.
“Kamu berhasil malam ini.”
“Aku meringkuk di lantai.”
“Kamu bicara sepanjang lima buku. Itu berhasil.”
Lanna tidak menjawab. Matanya basah, tapi di kegelapan tidak ada yang bisa melihat.
Lampu langit-langit berdengung, berkedip, lalu menyala.
Terang menghantam mata mereka. Lanna memicingkan mata, dan yang pertama dia lihat adalah David, duduk bersila di karpet kira-kira dua meter darinya, rambutnya sedikit berantakan, dasi sudah lama hilang, kancing teratas kemejanya terbuka. Pria itu tampak seperti habis berlari. Dia tidak menatap Lanna dengan iba. Dia menatapnya dengan sesuatu yang lebih sulit disebut, dan sebelum Lanna sempat memberi nama, David sudah mengalihkan wajah ke rak buku.
“Rak kamu rapi,” katanya, terlalu cepat.
“Terima kasih,” kata Lanna, sama cepatnya.
“Aku, ehm, kembali ke kamarku.”
“Iya.”
“Selamat malam, Lann.”
“Selamat malam.”
Pintu tertutup pelan. Lanna masih duduk di lantai dengan Elsha di pangkuan. Pipinya panas. Dia tidak tahu kenapa. Pasti karena habis menangis.
Dari interkom di dinding lorong terdengar suara petugas gedung, terdistorsi dan datar, mengumumkan bahwa genset sempat gagal menyala dan listrik utama kini pulih, dengan permohonan maaf atas ketidaknyamanan. Lanna mendengarkan sampai habis. Lalu dia berdiri, memungut buku yang tadi jatuh, dan menyadari itu Pride and Prejudice. Halamannya terbuka di tempat yang entah kebetulan, entah tidak: bab pertama, kalimat pertama, tentang seorang pria lajang berharta yang pasti membutuhkan seorang istri.
Dia menutup buku itu dengan bunyi keras dan menaruhnya di rak paling atas, tempat yang tidak terjangkau tangannya kecuali pakai kursi. Elsha mengeong menegur.
“Diam,” kata Lanna. “Itu cuma kebetulan.”
Di balik pintu kamar sebelah, dia mendengar langkah David mondar-mandir, berhenti, mondar-mandir lagi. Lampu di bawah celah pintu itu baru padam menjelang subuh.
***
Rabu pagi, sarapan di dapur kecil itu canggung seperti pertemuan dua orang yang sama-sama berpura-pura lupa.
David menuang kopi ke dua cangkir tanpa bertanya, dan Lanna menerimanya tanpa berterima kasih, lalu keduanya sama-sama meniup uap yang tidak perlu ditiup. Gelap dan lima buku tak disebut sama sekali. Roti panggang dimakan dengan konsentrasi penuh, seakan roti itu sedang diuji di laboratorium.
“Kopinya pas,” kata Lanna akhirnya.
“Dua sendok gula, setengah susu.”
“Kamu hafal?”
“Itu bagian pekerjaan.” David mengoles mentega ke rotinya dengan sangat teliti. “Bagian dari pekerjaan sebagai suami. Kontrak, maksudku.”
“Di kontrak nggak ada pasal soal kopi.”
“Pasal tambahan.”
“Aku nggak tanda tangan pasal tambahan.”
“Lisan.”
Lanna menyembunyikan senyumnya di balik cangkir. Dia mengerti sekarang apa artinya kata Kirana tentang cinta dan benci yang tipis, dan dia membenci Kirana, dan dia membenci kopi yang terlalu pas ini.
Ponsel David bergetar di meja. Dia melirik layarnya dan nyaris tersedak kopi.
“Kenapa?” tanya Lanna.
“Kak Ramon.” David membaca pesannya. “Kamis, jam tujuh pagi, dia mampir ke sini sebelum ke bandara. Dia bilang... bawa sesuatu buat kamu.”
“Bawa apa?”
David membaca sekali lagi, alisnya naik pelan.
“Pot,” katanya. “Katanya pot lavender yang kedua. Biar yang pertama nggak kesepian.”