Pesan Ramon masuk pukul 06.40, dua puluh menit sebelum dia sendiri tiba.
‘Aku mau bicara dengan Lanna sebentar. Lima belas menit. Soal kontrak bukan, soal kamu bukan. Boleh?’
David membacanya di dapur sambil mengancing lengan kemeja, dan keningnya berkerut sampai alisnya hampir bertemu. Soal kontrak bukan, soal dia bukan. Jadi soal apa? Dia ingin membalas ‘soal apa’, lalu ingat tiga lembar kertas di tas kunci angkanya, dan pasal baru di lembar belakang dengan tulisan tangan bundar Lanna.
Dia berjalan ke ruang baca dan mengetuk dua kali.
“Masuk,” sahut Lanna dari dalam.
Lanna sedang duduk bersila di sofa-bed dengan laptop di pangkuan dan Elsha di sebelahnya. Dia mendongak. “Kenapa?”
“Kak Ramon minta lima belas menit denganmu, dia kirim pesan.” David menyodorkan ponselnya. “Aku nggak tahu soal apa. Kamu boleh nolak.”
Lanna membaca pesan itu. Wajahnya tidak berubah, tapi bahunya naik sedikit lalu turun lagi.
“Boleh,” katanya.
“Aku tunggu di lobi. Beli kopi.”
“David.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah bilang, bukan cuma pergi.”
David tidak tahu harus menjawab apa pada kalimat itu. Dia mengangguk, lalu keluar sebelum wajahnya sempat menyimpulkan apa pun.
***
Ramon datang tepat pukul tujuh dengan dua tangan penuh.
Di tangan kiri, pot lavender kecil dari tanah liat, kembaran pot di jendela ruang baca. Di tangan kanan, sekantong plastik makanan kucing kaleng, delapan buah, semuanya rasa tuna. Dia menaruh keduanya di meja ruang tamu dengan hati-hati, sambil memandang apartemen David seakan sedang mencari sesuatu yang mestinya sudah dia temukan sejak awal.
“Makanan Elsha,” katanya. “Dia suka tuna, bukan ayam. David salah beli terus.”
“Kakak tahu dari mana?”
“Dari Elsha.” Ramon tersenyum tipis. “Dia bilang lewat tatapan.”
Lanna duduk di sofa, tangan di pangkuan. Ramon tidak duduk. Dia berdiri dekat jendela, memunggungi cahaya pagi, sehingga wajahnya tampak setengah gelap. Lanna belum pernah melihat Ramon setegang itu. Biasanya laki-laki ini menyelipkan nastar di setiap jeda percakapan.
“Aku ada waktu lima belas menit,” kata Ramon. “Aku akan bicara cepat, karena kalau pelan-pelan, aku akan berhenti.”
“Kak.”
“Jangan potong dulu.” Dia mengangkat sebelah tangan. “Aku nggak akan ngomong dua kali. Aku nggak akan ngomong ke siapa pun. Tapi kalau aku bawa ini ke Singapura tanpa bilang, dia akan berubah jadi sesuatu yang membusuk di dalamku.” Dia menarik napas dalam-dalam. “Aku jatuh hati sama kamu, Lann.”
Ruang tamu mendadak sunyi seperti ruang sidang.
“Sudah sejak taman. Sejak Kakek melukis kamu dan aku disuruh pegang payung.” Suaranya serak tapi tidak goyah. “Aku tahu ini salah. Kamu istri adikku. Aku bilang ini bukan karena aku berharap, tapi karena aku nggak mau kamu pikir aku cuma baik. Aku baik, tapi nggak semuanya karena baik.”
“Kak Ramon...”
“Aku nggak menuntut apa pun.” Kalimat itu keluar cepat, seperti sudah dilatih berkali-kali di cermin. “Aku nggak minta kamu pilih aku. Aku nggak minta kamu tinggalkan David. Aku nggak minta kamu tahu cara jawabnya. Aku cuma, ya, bilang. Itu saja.”
Lanna memandangi pot lavender di meja. Ungunya sama dengan di jendela. Dia ingat bagaimana Ramon menyodorkan nastar pada hari-hari pertama, bagaimana dia menjemputnya waktu hujan, bagaimana dia berdiri di dapur larut malam menawarkan teh. Semua itu terasa seperti kebaikan seorang abang. Selama ini dia kira begitu. Selama ini mungkin dia memilih untuk mengira begitu.
Dia memilih kalimatnya pelan-pelan. Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan ‘hah’.
“Aku istri David,” katanya. “Secara hukum, secara cerita, dan dalam kontrak yang Kakak sudah baca sendiri. Itu nggak mengubah apa-apa. Tapi bukan itu jawabanku, Kak. Aku nggak mau jawab pakai itu.”
Ramon menunggu.
“Aku nggak akan menggantung siapa pun,” lanjut Lanna. “Kak Ramon pantas dapat jawaban yang jelas, dan jawabanku jelas: aku nggak membalas perasaan itu. Maaf. Yang aku rasakan ke Kakak adalah rasa aman dan terima kasih. Kakak bikin aku merasa punya orang di rumah itu. Itu berharga banget, tapi bukan yang Kakak maksud.”
“Aku tahu.”
“Tahu?”
“Aku tahu sebelum bicara.” Ramon tertawa. Tawanya pendek, getir, seperti batuk. “Orang kalau bicara jujur nggak perlu persiapan, tapi aku menyiapkannya berhari-hari. Maksudku, aku butuh dengar kamu bilang. Biar selesai.”
Lanna ingin berdiri dan menghampirinya, tetapi menahan diri. Dia tidak boleh memberi isyarat apa pun yang tidak benar.
Dia justru menyadari sesuatu yang aneh, saat itu juga, saat dia sedang menolak seseorang dengan lembut. Dengan Ramon, semuanya mudah. Bernapas mudah. Berbicara mudah. Bahkan menolak pun mudah, seperti mengembalikan buku yang sudah selesai dibaca. Jantungnya tenang. Dia tak punya keinginan melempar bantal pada siapa pun. Dan tak ada orang yang menyuruh-nyuruh, lalu mendorong jus ke depannya tanpa bertanya.
Yang ada di dadanya justru kesal yang tak mau pergi. Dan kesal itu berwajah David.
Lanna menggigit bibir, kaget pada pikirannya sendiri.
“Lann?”
“Maaf, Kak, aku, ehm, melamun.” Dia menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh. “Kakak nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa itu relatif.” Ramon mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Tapi aku bisa hidup. Aku sudah dua kali jadi laki-laki yang hampir ditinggal, kali ini aku yang meninggalkan duluan.” Dia menatap pot lavender. “Sepertinya itu kemajuan.”
“Kak.”
“Satu permintaan, Lann.”
“Apa pun.”
“Kalau suatu hari David menyakitimu, telepon aku.” Ramon menatapnya lurus, tanpa nada main-main. “Bukan untuk ikut campur, bukan sebagai apa pun selain abang. Telepon aku, sebagai abang.”
“Aku punya Kirana. Aku punya Papah dan Mamah.”
“Tambah satu abang.” Senyumnya kali ini sedikit lebih hidup. “Nggak masalah, kan? Kamu punya kucing yang gemuk, rak buku dari Kakek, dan abang yang suka ngemil. Itu paket lengkap.”
Lanna tertawa dengan mata berair. “Iya, Kak. Aku telepon.”
“Janji?”
“Janji.”
“Bagus.” Ramon mengambil jaketnya yang tadi dia taruh di sandaran sofa. “Sekarang aku harus pergi. Penerbanganku jam sepuluh, dan David bisa curiga kalau kamu keluar dari ruang tamu dengan mata sembab.”
“Dia nggak akan tanya.”
“Dia akan tanya.” Ramon berhenti di pintu. “Dan kamu akan jawab apa yang benar, tanpa bilang apa yang bukan milikmu.”
***
David naik lift tepat saat Ramon keluar dari pintu apartemen. Mereka berpapasan di lorong. David membawa dua gelas kopi kertas dan berkata, “Kak?”
“Terima kasih kopinya, tapi aku sudah minum.” Ramon menepuk bahunya dua kali. “Aku tunggu di bawah. Antar aku ke bandara. Lima belas menit lagi.”
“Aku bisa antar?”
“Kamu mau, kan?”
David menatap kakaknya lama. Ramon tersenyum seperti orang yang sudah selesai membawa beban berat dan menaruhnya di tempat yang benar. Itu senyum yang membuat David semakin curiga.
“Mau,” kata David.
Di dalam, Lanna duduk di sofa dengan Elsha di pangkuan dan dua pot lavender berdampingan di atas meja. Matanya sembab, hidungnya sedikit merah.
“Dia bicara soal apa?” tanya David pelan.
“Sesuatu yang bukan milikku untuk diceritakan.” Lanna menatapnya langsung. “Aku nggak bohong. Aku cuma nggak cerita. Boleh?”
David memandangnya lama. Pasal itu bilang tidak ada bohong. Pasal itu tidak bilang tidak ada rahasia milik orang lain.
“Boleh,” katanya akhirnya. Dia meletakkan salah satu kopi di meja, di sebelah pot kedua. “Itu cukup.”