David tidak tidur. Dia hanya berbaring sampai langit di balik gorden berubah dari hitam ke abu-abu, lalu bangun, mandi air dingin, dan berdiri di dapur menunggu mesin kopi selesai batuk.
Pukul enam lewat lima puluh, bel apartemen berbunyi satu kali. Pendek, seperti orang yang takut dituduh membangunkan.
Ron berdiri di depan pintu dengan jaket merah menyala, celana merah marun, dan sepatu yang entah kenapa juga merah. Di tangannya ada map plastik bening. Wajahnya, untuk sekali ini, tidak membawa satu pun lelucon.
“Kamu kelihatan seperti orang yang baru dikubur lalu disuruh pulang,” kata Ron.
“Masuk.”
“Lanna?”
“Masih di ruang baca. Pelankan suaramu.”
Ron masuk berjingkat, yang tidak cocok sama sekali dengan jaketnya. Dia menaruh map di meja makan dan membukanya dengan dua jari, seperti membuka bungkus barang yang bisa meledak. Di dalamnya ada selembar cetakan e-tiket dan dua foto buram dari kamera pengawas.
“Singapura ke Jakarta,” bisik Ron sambil menunjuk. “Atas nama Darell. Mendarat hari pernikahanmu, pukul sebelas pagi. Tiket pulang: tidak ada.”
“Jadi dia sudah di sini sejak aku masih pakai jas.”
“Sejak sebelum kamu berani menatap cermin, malah.” Ron menggeser foto kedua. “Ini dari lobi tempat dia lewat. Pakai topi, tapi cara jalannya tidak bisa menipuku. Bahunya miring ke kiri, seperti orang yang selalu merasa dirinya dikejar fotografer.”
David menatap foto itu lama. Wajah yang dulu duduk di sebelahnya di kafetaria kampus, berbagi pizza dingin dan cerita tentang rumah masing-masing, kini hanya berupa garis buram di antara pilar marmer.
“Polisi?” tanyanya.
“Aku sudah tanya orang yang paham urusan beginian. Katanya tanpa bukti ancaman nyata, polisi cuma bisa mencatat. Surel tiga baris tentang foto pernikahan itu belum cukup.” Ron menarik kursi. “Makanya jangan hapus apa pun, Vid. Surelnya, fotonya, semuanya.”
“Aku nggak menghapus.”
Dari lorong terdengar bunyi pintu ruang baca bergeser.
Gerakan David lebih cepat daripada pikirannya. Dia menyambar tiket dan foto, menjejalkannya ke dalam map, lalu menyelipkan map itu ke tas kerja kulit hitam yang tergeletak di kursi. Angka kuncinya berbunyi klik dua kali. Ron menonton semua itu dengan alis terangkat setinggi-tingginya.
“Pagi.” Lanna muncul dengan rambut dicepol asal, kaus tidur kebesaran, dan Elsha menggelayut di bahunya seperti stola berbulu. Dia berhenti. “Ron? Jam segini?”
“Pagi, Lann! Aku cuma lewat.”
“Dengan jaket sewarna lampu lalu lintas?”
“Merah itu warna profesional. Orang yang lihat aku langsung percaya aku jujur.”
“Orang yang lihat kamu langsung ingin menyeberang.” Lanna menaruh Elsha ke lantai dan memandang David. Alisnya naik sedikit. “Kamu nggak bilang Ron mau datang.”
Ini dia. Pasal di lembar belakang kontrak itu berdiri di tengah dapur seperti orang ketiga yang ikut sarapan.
“Urusan kantor,” kata David.
Dua kata. Keluar dengan lancar, begitu lancar sampai dia sendiri hampir percaya.
“Pagi-pagi begini?”
“Audit kuartal. Ada angka yang nggak cocok.”
“Angka nggak cocok itu bagianku, kan?” kata Lanna ringan. “Eh, bukan. Bagian Kirana sekarang.”
“Betul,” sela Ron cepat, “makanya aku bawa kopi.” Dia mengangkat gelas kertas yang sama sekali tidak dia bawa, menyadari tangannya kosong, lalu menurunkannya lagi dengan wajah sedih.
Lanna menahan tawa. Tapi matanya sempat singgah sebentar di tas hitam di kursi, lalu kembali ke David. Hanya sedetik. Dia tidak bertanya apa-apa lagi dan berbalik membuka kulkas.
David membenci dirinya sendiri sampai ke tulang rusuk.
***
Di dalam lift turun, Ron menunggu pintu menutup sepenuhnya sebelum bicara.
“Itu tadi bohong kedua.”
“Aku tahu.”
“Yang pertama diam semalaman, yang kedua ‘urusan kantor’. Kamu tahu apa yang bikin aku ngeri? Kamu bohongnya makin bagus.”
“Aku bilang ‘beberapa hari’ ke kamu, Ron. Bukan ‘selamanya’.”
“Lann bukan orang yang bisa dibohongi lama. Dia kelihatan polos, tapi dia cuma menunggu kamu ngomong sendiri.” Ron menyandarkan punggung ke dinding lift yang dingin. “Dan kalau dia ngomong duluan, Vid, pasalmu itu tinggal kertas.”
“Aku tahu.”
“Kamu bilang itu tiga kali.”
“Karena nggak ada jawaban lain.” David memijat pangkal hidungnya. “Hari ini kamu cari tahu siapa yang mengikuti dia. Besok kami ke Bandung, jadi hari ini harus dapat sesuatu.”
“Besok kalian ke Bandung?” Ron menatapnya dengan mata membulat. “Kamu bertemu mertua dengan bohong bertingkat tiga di punggungmu?”
“Bohong ketiga belum ada. Jangan beri aku ide.”
Pintu lift terbuka di lobi. Seorang satpam mengangkat topi pada mereka. Ron membalas dengan hormat dua jari, lalu berbisik tanpa menoleh, “Jaga mukamu, Bos. Kamu terlalu gampang dibaca kalau lagi merasa bersalah.”
***
Lanna menghabiskan hari di ruang baca dengan memoar Kakek di layar dan daftar di kepala.
Daftar itu bertambah tiap jam. Pukul sepuluh, dia mengetik bagian Emma naik kereta ke Edinburgh dan teringat bahwa Mamah paling senang bila tamu menghabiskan nasi. Pukul dua belas, dia sampai pada adegan Kakek muda salah mengira pelayan sebagai pemilik toko, dan teringat bahwa Papah paling tidak suka ditanya hal yang sama dua kali. Pukul tiga dia berhenti mengetik, menyalin semuanya ke kertas, lalu menempelkannya di pintu kulkas.
David pulang pukul tujuh malam. Dia menemukan kertas itu sebelum menemukan Lanna.
“Apa ini?”
“Aturan rumah Bandung.” Lanna keluar dari dapur dengan sendok kayu di tangan. “Baca. Nanti ada ujian lisan.”
Satu: Papah irit bicara. Jangan menafsirkan diamnya sebagai marah.
Dua: Mamah cerewet. Jangan menafsirkan cerewetnya sebagai interogasi, meski memang interogasi.
Tiga: Jangan panggil Papah ‘Pak’.
Empat: Sambal itu ujian.
“Kenapa ‘Pak’ dilarang?” tanya David.
“Papah pernah tersinggung waktu kurir memanggilnya begitu. Katanya terdengar seperti orang yang mau dimintai surat izin.”
“Terus aku panggil apa?”
“Papah. Kamu sudah latihan.”
“Pah,” kata David ke arah kulkas. Suaranya keluar kaku, dua kali lebih formal dari rapat direksi. “Pah. Papah. Pah, saya David.”
“Jangan ‘saya’.”
“Pah, aku David.”
“Lebih baik. Jangan menatap lantai kalau bicara dengan Papah, nanti dia pikir kamu menyembunyikan sesuatu.”
David hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia mengambil gelas dan pura-pura minum.
“Dan poin empat?” tanyanya. “Sambal itu ujian. Maksudnya?”
“Mamah bikin sambal terasi yang pedasnya bukan lagi rasa, tapi pernyataan sikap. Kalau kamu menyendok sedikit, dia pikir kamu meremehkan. Kalau kamu menyendok banyak dan menangis, Papah baru mau bicara denganmu.”
“Jadi aku harus menangis?”
“Kamu harus makan sampai habis, lalu bilang ‘enak, Mah’ dengan suara yang masih bisa dipercaya.”
Mulut David terbuka, tertutup, lalu terbuka lagi. “Itu bisa dilatih?”
“Aku sudah beli sambal botolan paling pedas di minimarket bawah. Latihan malam ini, sebelum makan.” Lanna menunjuk meja dengan sendok kayu. “Duduk.”
Dia duduk. Sebotol sambal merah tua dan satu piring nasi putih sudah menunggu. Elsha melompat ke kursi sebelah dan menatap sambal itu seperti saksi yang tak percaya.
David menyendok sambal. Satu sendok, lalu satu lagi. Pada suapan ketiga matanya berair dan dahinya basah.
“Enak,” katanya, serak, lalu terbatuk. “Mah.”
“Bohong,” kata Lanna sambil menahan senyum. “Kamu terlalu jelas bohongnya. Ulang.”
Kata itu jatuh di antara mereka dan tidak ikut tertawa. Lanna sendiri tak sadar apa yang baru dia ucapkan. David sadar. Dia menatap piringnya, lalu tas hitam di kursi pojok, lalu piringnya lagi.
“Sekali lagi,” kata David pelan. “Aku ulang.”
“Pahit atau pedas?”
“Dua-duanya,” jawabnya. “Enak, Mah.”
Kali ini Lanna tidak bilang bohong.