Sabtu siang, gang menuju rumah Lanna terlalu sempit untuk mobil David, dan David tahu itu sejak belokan pertama.
Dia menyetir dengan kecepatan orang yang membawa telur mentah. Kaca spion kirinya nyaris menyenggol pot-pot bunga yang berjejer di depan pagar tetangga, dan seorang ibu yang sedang menyapu berhenti, bertolak pinggang, lalu memandangi mobil hitam mengilap itu seakan baru melihat pesawat mendarat di sawah.
“Pelan-pelan,” kata Lanna dari kursi sebelah. “Itu ibu tetangga. Kalau spion kamu menyentuh pot, besok seluruh gang tahu.”
“Aku sudah pelan.”
“Kamu sudah berhenti. Pelan itu masih bergerak.”
Mobil merayap lagi. Di ujung gang, di balik pagar besi bercat hijau yang sudah mengelupas, berdiri rumah satu lantai dengan teras kecil, kursi rotan, dan pohon jambu yang cabangnya melambai ke genteng. Di teras itu, dua orang berdiri berdampingan. Yang perempuan melambaikan tangan sebelum mobil benar-benar berhenti. Yang laki-laki hanya mengangkat dagu sedikit.
“Itu Papah,” bisik Lanna. “Dagu naik berarti dia senang.”
“Kalau dagunya turun?”
“Kamu sudah boleh khawatir.”
David mematikan mesin. Telapak tangannya basah. Dia sudah menghadapi dewan direksi, kreditur, dan satu kali rampok bersenjata pisau lipat waktu kuliah, tapi tidak ada yang membuat lututnya selemas seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak di teras dengan dagu terangkat.
Mamah Lanna turun lebih dulu ke halaman dan memeluk anaknya erat-erat sambil mengomel tentang kurus, tentang rambut, tentang jaket yang terlalu tipis untuk Bandung. Lalu dia melepas Lanna dan menatap David dari atas sampai bawah, dan wajahnya melunak seperti gula di air panas.
“Ini yang waktu itu bersalaman cuma sebentar di pesta, ya? Ya ampun, Nak, tinggi sekali. Masuk, masuk. Sepatunya taruh di situ saja.”
“Terima kasih, Mah.”
Satu kata itu keluar dengan sempurna. Lanna melirik, dan David bersumpah dia melihat sudut bibirnya naik sedikit.
“Oh ya, Mah.” Dia kembali ke bagasi dan mengangkat dua kotak yang diikat pita. “Dari Mamah. Rendang. Katanya buat Mah dan Pah. Yang ini dari Kakek.”
“Kakek?” Mamah Lanna membuka tutup kotak kedua, dan matanya membulat. “Ini buku?”
“Kumpulan puisi, Mah. Kakek bilang Pah suka baca. Ada tanda tangannya di halaman depan.”
Papah Lanna menerima buku itu, membuka halaman pertama, dan membaca tulisan tangan di sana tanpa suara. Rahangnya bergerak sedikit.
“Kakekmu melukis, ya?” katanya. “Tanda tangannya seperti gambar burung.”
“Itu memang gambar burung, Pah. Katanya tanda tangannya terlalu jelek, jadi diganti.”
Lanna menutup mulut dengan punggung tangan supaya tawanya tidak keluar. Papah Lanna, untuk beberapa detik, tampak sedang menimbang apakah dia boleh tersenyum. Dagunya naik dua senti. Lalu dia membawa buku itu masuk.
“Itu tanda bagus,” bisik Lanna. “Dia nggak pernah bawa masuk apa pun dari tamu.”
***
Meja makan keluarga Lanna kecil dan bundar, dengan taplak bunga-bunga dan dua belas piring kecil yang saling berdesakan. Nasi liwet mengepul di tengah, dibungkus daun pisang. Ada ikan asin, tahu goreng, lalapan, ayam bakar bumbu kuning, dan di ujung meja, dalam cobek batu yang masih hangat, sambal terasi merah tua yang bahkan dari jarak satu meter sudah membuat mata David perih.
“Duduk, Nak David. Jangan malu.”
“Iya, Mah.”
Papah Lanna duduk tepat di seberangnya. Dia tidak berbicara. Dia menyendok nasi untuk istrinya, untuk Lanna, lalu untuk dirinya sendiri, dan baru setelah itu menatap David. Tatapannya tidak galak. Hanya lurus dan sabar, seperti orang memeriksa nilai di lembar ujian.
“Kerja di mana?” tanyanya.
“Perusahaan pembiayaan, Pah. Saya pegang kantornya.”
“Pegang atau punya?”
“Keluarga yang punya. Saya yang mengelola.”
Papah Lanna mengangguk sekali, mengambil ayam. “Mau makan apa?”
Pertanyaan itu terlalu sederhana, dan justru karena itu David berhenti. Di rumahnya, orang tidak bertanya dia mau makan apa. Di rumahnya, meja sudah penuh sebelum dia duduk.
“Apa saja, Pah.”
“Apa saja itu bukan jawaban.”
“Sambal,” kata David, tiba-tiba ingat daftar di pintu kulkas. “Saya mau sambal, Pah.”
Mamah Lanna menepuk tangan. “Nah! Dia ngerti! Ambil, Nak, ambil banyak.”
David menyendok sambal tiga kali, seperti latihan semalam. Lanna di sebelahnya mengunyah dengan wajah datar, tetapi di bawah meja ujung sepatunya menyentuh sepatu David sekali, ringan, seperti ucapan semoga berhasil.
Suapan pertama masuk. Pedasnya naik ke ubun-ubun lalu turun ke dada. Mata David berair, keringat muncul di pelipis. Dan dari seberang meja, Papah Lanna memperhatikan semua itu tanpa berkedip.
“Enak, Mah,” kata David, dengan suara yang hampir bisa dipercaya.
“Jangan paksa kalau pedas,” kata Papah.
“Nggak, Pah. Saya biasa.”
“Kamu tadi bilang ‘saya’ dua kali.” Papah Lanna meletakkan sendoknya. “Di sini nggak ada rapat. Bicara seperti kamu bicara pada orang yang kamu percaya.”
Meja mendadak sunyi. Bahkan nasi liwet tampak berhenti mengepul.
“Saya, aku, maksudnya.” David menelan sambal dan gugupnya sekaligus. “Aku memang belum terlalu biasa bicara santai di rumah orang, Pah.”
“Kamu mau bilang apa ke saya soal anak saya?”
Itu bukan pertanyaan basa-basi. Lanna menegang di sebelahnya. Mamah Lanna memegang gelas tanpa minum.
Jawaban yang sudah dilatih berputar di kepala David, kalimat-kalimat manis yang dia karang bersama Ron di mobil: cinta pada pandangan pertama, takdir, tanda-tanda. Semuanya terlalu licin. Dia melihat meja bundar, daun pisang, dan seorang laki-laki yang barangkali sudah menanyakan hal yang sama kepada banyak pemuda, dan tidak pernah sekali pun ditipu.
“Aku belum tahu cara jadi suami yang baik, Pah.” Dia berhenti, menarik napas. “Aku tahu cara memimpin rapat, tahu cara menekan biaya. Tapi suami, aku masih belajar. Yang bisa kujanjikan cuma satu: aku tidak akan menyakiti Lanna. Kalau suatu hari aku salah, aku akan bilang. Aku tidak akan pura-pura.”
Kalimat terakhir itu keluar dari mulutnya sebelum dia sempat menyaringnya, dan di bawah meja, sepatu Lanna menjauh pelan-pelan.
Papah Lanna menatapnya lama. Kemudian, sangat pelan, dagunya naik sedikit.
“Habiskan sambalnya,” katanya.
***
Sesudah makan siang, Mamah Lanna menyeret David ke sofa ruang tengah, membuka lemari rendah di bawah televisi, dan mengeluarkan lima album foto setebal bantal.
“Mah, jangan semuanya,” protes Lanna dari pintu dapur.
“Lho, kenapa? Suamimu perlu lihat kamu waktu gemuk.”
“Aku nggak pernah gemuk.”
“Ini kamu waktu TK, pipi kayak bakpao, lagi menangis gara-gara es krimmu jatuh.” Mamah Lanna menunjuk foto yang bergeser di halaman pertama. “Lihat, Nak David. Itu ekspresinya sama dengan waktu dia kesal.”
David menunduk melihat foto bocah bergaun kuning dengan mulut terbuka lebar dan es krim di aspal. Sesuatu di dadanya bergerak aneh. Bocah itu persis Lanna yang menggerutu di lift, hanya lebih kecil.
“Dia suka es krim sejak dulu?” tanyanya.
“Dari lahir. Waktu masih bayi, dia diam kalau dikasih sendok es krim.” Mamah Lanna terkikik. “Papahnya yang suapi. Papahnya waktu itu belum sekaku sekarang.”
“Mah!” teriak Papah dari teras.
“Tuh, dengar kan? Dia selalu dengar kalau dibicarakan.”
Lanna mengambil album dari tangan Mamahnya dan menutupnya. Mukanya merah. “Cukup. Kami capek, Mah.”
“Ya sudah, kalian istirahat dulu.” Mamah Lanna berdiri, merapikan rok, dan menepuk-nepuk tangan seperti orang yang baru memutuskan sesuatu yang sudah lama dia siapkan. “Oh iya, kamar. Kamar kalian sudah Mamah siapkan.”
“Makasih, Mah,” kata Lanna.
“Satu kamar.”