David sudah dua kali melewati belokan menuju studio Sarah dan baru menyadarinya pada kali kedua.
“Kamu bisa santai,” kata Lanna dari kursi sebelah.
“Aku santai.”
“Kamu sudah melewati belokan studio dua kali.”
“Itu belokan yang licik.” Dia membelokkan mobil dengan hati-hati ke jalan kecil berpohon, menahan napas ketika sebuah papan nama putih bertuliskan ‘Anderson’ muncul di antara tiga bangunan rendah. Dia mengurangi kecepatan, tetapi tidak berhenti. “Lann, aku harus bilang sesuatu sebelum kita masuk.”
“Pasal Kejujuran.”
“Pasal Kejujuran.” David menarik rem tangan di depan pagar. Mesin masih menyala. “Waktu undangan itu masuk, aku sempat berpikir untuk datang sendiri. Cuma semenit. Lalu aku sadar itu bodoh, dan aku mau kamu ikut. Aku nggak mau kamu mengira aku sembunyi-sembunyi.”
Lanna memandangnya sebentar. Empat hari ini tidak ada sedan, tidak ada paket, tidak ada Darell; hanya tiga kali ketukan Ron di pintu tiap malam dan sofa yang dikuasai Elsha. Ketenangan itu membuat semua orang waspada, seperti ruangan yang terlalu sunyi sebelum ada yang menjatuhkan piring.
“Terima kasih sudah bilang,” katanya. “Sekarang matikan mesinnya, nanti Sarah kira kita mau kabur.”
David mematikan mesin, dan keduanya turun.
***
Studio itu lebih putih dari yang Lanna ingat. Dindingnya putih, lantainya kayu pucat, dan di tengah ruang depan berdiri tiga manekin tanpa wajah yang mengenakan gaun-gaun setengah jadi. Seorang karyawan perempuan menyambut mereka dengan senyum seperti menyambut tamu rumah sakit, lalu menghilang ke belakang.
Sarah keluar dari ruang kerja sebelum Lanna sempat mengagumi manekin ketiga.
Dia mengenakan blus krem dan celana lebar abu-abu muda. Rambutnya disanggul rendah tanpa satu helai pun lepas. Mata hazel-nya menyapu keduanya, berhenti sepersekian detik lebih lama pada tangan Lanna yang tidak menggenggam tangan David, lalu naik ke wajah.
“Lanna.” Suaranya datar, tetapi sopan. “Terima kasih sudah datang. Aku senang kamu mau.”
“Terima kasih sudah mengundang,” kata Lanna. Dia melihat dirinya sendiri menjawab dengan tenang, nyaris tidak percaya. “Studiomu bagus.”
“Bohong,” kata Sarah, tanpa senyum. “Cat putihnya sudah seminggu mengelupas di belakang. Tapi terima kasih.”
Lanna terkejut, lalu hampir tertawa. “Aku nggak bohong. Aku cuma nggak lihat bagian belakang.”
Sudut bibir Sarah bergerak, entah menyembunyikan senyum atau menahan sesuatu yang lain. Dia menoleh. “David.”
“Sarah.”
“Preview koleksinya di dalam. Tetapi sebelum itu ...” Dia melangkah ke samping, dan di balik manekin ketiga yang tertutup kain katun, dia menarik kain itu pelan-pelan.
Gaun putih. Polos, berkerah boat, jatuh lurus dari bahu sampai lantai dengan satu lipatan sederhana di pinggang. Tidak ada payet, tidak ada renda, tidak ada hiasan yang bisa disalahkan. Hanya potongan yang benar, dan benang putih yang dijahit sampai tidak terlihat jahitannya.
Tangan Lanna berhenti di udara, setengah terangkat ke arah kain itu.
“Ini gaun yang kamu pilih waktu itu,” kata Sarah. “Kamu bilang kamu mau yang tidak membuatmu merasa kostum. Aku tidak menyuruh siapa pun membuatnya sebab orang tua David memakai WO lain. Tetapi aku membuatnya sendiri, malam-malam, selama dua minggu.” Dia berhenti. “Aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang kurancang untuk orang yang tepat menjadi sketsa di laci.”
“Sarah,” kata David. Suaranya pelan sekali.
“Aku tidak menagih apa-apa,” kata Sarah tanpa menoleh. “Ini hanya pekerjaan yang selesai.”
Lanna menyentuh lengan gaun itu dengan ujung jari. Kainnya dingin dan halus seperti air.
“Ini indah,” katanya jujur. “Aku nggak tahu mau bilang apa lagi.”
“Tidak perlu.” Sarah menutupnya lagi dengan kain. “Duduk. Aku buatkan teh.”
Mereka duduk di sofa pendek yang terlalu keras, dengan cangkir tipis berisi teh melati. Sarah duduk di kursi di hadapan mereka, punggung lurus, kaki menyilang rapi, dan mengobrol tentang apa pun yang tidak menyinggung apa pun: pemasok kain, model yang terlambat, hotel untuk peragaan tunggal yang akan datang. David mengangguk dan menjawab dengan kalimat pendek, dan Lanna memperhatikan caranya memegang cangkir: kedua tangan, jari melingkar erat, seperti sedang menahan sesuatu supaya tidak jatuh.
Sebelum teh habis, Sarah berdiri dan membawa mereka ke ruang belakang, ke sebuah rak panjang berisi enam gaun yang menggantung berjajar. Biru tua, hijau lumut, merah bata, satu yang warnanya mirip kabut sore. Lanna menyentuh tiap hanger dengan ujung telunjuk, dan Sarah menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan jawaban pendek yang akurat: kain ini dari Italia, potongan ini dari lipatan origami, yang ini dibuat untuk perempuan yang ingin berjalan cepat tanpa terlihat terburu-buru.
“Yang ini cocok buat Kirana,” kata Lanna sambil menunjuk biru tua. “Dia selalu panik, tapi kalau pakai warna itu dia kelihatan seperti nggak pernah panik.”
“Kirana sepupumu?”
“Sepupu dan sahabatku.”
“Bawa dia nanti. Aku mau melihatnya memakai itu.” Sarah mencatat sesuatu di tablet, satu baris pendek, lalu menoleh. “Kamu mau mencoba gaun putih tadi?”
Lanna tidak menjawab langsung. Dia merasa David berdiri satu langkah di belakangnya, kaku, mendengarkan.
“Belum,” katanya. “Itu bukan gaun untuk dicoba hari ini.”
Sarah mengangguk, tanpa kecewa, tanpa lega. “Aku mengerti.”
Dan baru sesudah itu mereka kembali ke sofa.
Lalu Sarah menaruh cangkirnya.
“Kalian bertemu di lift, ya?”
Pertanyaan itu jatuh begitu ringan. David mengangkat kepala, Lanna menurunkan cangkir.
“Ron pernah menyebutnya,” lanjut Sarah. “Kalian bertemu di lift kantor. Lampunya mati. Aku suka cerita itu. Siapa yang menolong siapa?”
“Dia,” kata Lanna dan David bersamaan.
Mereka berhenti. Menoleh. Sarah menunggu dengan kepala sedikit miring.
“David menolong aku,” kata Lanna cepat. “Aku takut gelap. Dia nggak melepaskan lenganku.”
“Lanna yang menolongku,” kata David di saat yang sama. “Dia minta maaf terus sampai aku lupa kalau aku juga takut.”
“Kamu tidak takut.”
“Aku takut.”
“Kamu bilang waktu itu—” Lanna terhenti.
“Waktu itu apa?” tanya Sarah halus.
“Waktu itu dia cuma diam,” kata Lanna, yang memang benar. Dia memikirkan kalimat berikutnya dengan sangat hati-hati. “Aku baru tahu dia bosku keesokan harinya.”
“Hari pertamanya bekerja, ya?” kata Sarah. “Lampu mati di hari pertama.”
“Hari interview,” kata Lanna dan David lagi, tetapi David diam sepersekian detik lebih awal, dan itu cukup.
Sarah tidak berkomentar. Dia hanya mengangguk, seperti orang yang mencatat sesuatu di belakang kepalanya, lalu mengambil cangkirnya lagi dan menyesap teh. Matanya tidak pernah meninggalkan mereka berdua.
“Menarik,” katanya. “Dua-duanya merasa ditolong.”
Lanna menegakkan punggung. Dia menatap Sarah lurus, tidak menurunkan dagu, tidak membuang pandangan.
“Itu kan bagus,” katanya. “Kalau cuma satu yang merasa ditolong, berarti satunya lagi merasa dimanfaatkan.”
Sarah menatapnya lama. Baru sekarang sejak mereka masuk, dia benar-benar tersenyum, sedikit saja, dan senyum itu tidak sampai ke mata.
“Benar,” katanya. “Itu bagus.”
Namun yang membuat Lanna menggenggam cangkirnya lebih kuat bukan senyum itu. Dari sudut matanya dia melihat David. Dia sudah selesai minum, sudah selesai menjawab, sudah selesai dengan semua kalimat yang dibutuhkan hari ini. Tetapi dia sedang menoleh ke manekin ketiga, ke kain katun yang menutupi gaun putih itu, dan memandangnya terlalu lama, dengan wajah orang yang sedang mengingat sesuatu yang bukan tentang pakaian.