Lift apartemen punya layar kecil yang menampilkan angka lantai, dan Lanna menghitung tiap angka itu seperti hukuman. Sepuluh, sebelas, dua belas. Di lantai enam belas, David berdeham.
“Kamu diam sejak tadi.”
“Aku mikir.”
“Boleh tahu mikir apa?”
“Nanti. Di rumah.” Lanna tidak menoleh. “Aku mau mikir dulu supaya nggak ngomong yang aneh-aneh.”
“Biasanya kamu ngomong yang aneh-aneh.”
“Itu biasanya.”
“Gaun biru tua itu cocok buat Kirana,” kata David, putus asa mencari topik lain.
“Iya. Dia akan menggigit kuku, tapi tetap cocok.”
“Dia mengajak Bagas nonton lagi?”
“David.”
“Maaf.”
Di lantai dua puluh dua, begitu pintu apartemen terbuka, Ron berdiri dari sofa dengan bekas bantal di pipi, jelas baru terbangun dari mimpi tentang uang.
Dia mengenakan kaus merah menyala dan celana tidur bermotif lobster. Elsha duduk di punggung sofa di sampingnya, jelas mengawasi apakah Ron akan mengganggu wilayahnya lagi.
“Kalian lama,” kata Ron. “Aku sudah makan setengah bungkus keripik yang kupikir milik Elsha. Ternyata milik David.”
“Itu milikku,” kata David.
“Itu keripik, Vid. Keripik tidak punya pemilik, hanya penyantap.” Ron berhenti. Matanya bolak-balik antara wajah David dan wajah Lanna, dan sesuatu di rautnya berubah dari lawak jadi hati-hati. “Aku ... mau ke mobil. Cek sesuatu. Lama.”
“Ron.”
“Mobilku sekarang hitam, Lann, jangan khawatir. Aku ganti dari merah demi kamu.” Dia menyambar jaketnya dari lengan sofa dan melangkah ke pintu dengan kecepatan yang tidak sesuai untuk pria yang katanya mau berjaga. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Sunyi turun lagi. Elsha menatap mereka berdua dengan matanya yang bulat.
***
“Pasal Kejujuran,” kata Lanna.
Dia berdiri di dekat meja makan, tas masih menggantung di bahu. David berdiri di dekat rak televisi. Jarak mereka kira-kira tiga meter, dan Lanna merasa tiap meter itu butuh keputusan.
“Aku nggak suka,” katanya, “cara kamu menatap gaun itu.”
David tidak mengelak. Dia mengangguk sekali, pelan, seolah menerima vonis yang sudah dia duga.
“Aku tahu kamu lihat.”
“Aku di sebelah kanan kamu. Aku bahkan mencoba menyeruput teh supaya nggak kelihatan melihat.” Lanna menarik napas. “Aku nggak minta kamu berhenti melihat. Aku cuma mau tahu kamu lihat apa.”
David lama diam. Dia mengusap tengkuknya, melepas jam tangan, menaruhnya di rak, memakainya lagi. Lanna memperhatikan semua itu, dan dia sadar David tidak sedang mengulur waktu. Dia sedang mencari kalimat yang benar dan tidak menemukannya.
“Dua gambar,” kata David akhirnya. “Aku melihat gaun itu, dan yang pertama muncul adalah dua tahun lalu. Sarah di studionya yang lama, membuat sketsa di meja, dan aku berdiri di pintu seperti orang bodoh. Aku mengira itu masa depan.” Dia menggeleng. “Lalu gambar kedua: kamu, memegang lengan gaun itu dengan ujung jari, bilang ‘ini indah’ seperti sedang minta maaf karena terlalu menyukainya. Dua gambar itu bertabrakan, Lann. Aku nggak tahu mana yang lebih besar.”
Lanna berdiri sangat diam.
“Itu jawaban yang jujur,” katanya, “dan aku nggak suka.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak suka karena aku mau kamu punya jawaban yang lebih sederhana.”
“Aku juga mau.”
“Tapi aku lebih suka jawaban jujur yang jelek daripada jawaban bagus yang bohong.” Suaranya sedikit bergetar. “Itu pasal kita. Jadi terima kasih.”
“Satu lagi,” tambahnya sebelum David sempat menjawab. “Soal lift tadi. Kamu diam setengah detik sebelum bilang ‘hari interview’. Sarah melihat itu.”
“Dia selalu melihat.”
“Kenapa kamu diam?”
David tersenyum miring, canggung. “Aku hampir bilang ‘hari pertama’. Rasanya kamu sudah ada lebih lama dari satu hari. Kepalaku tidak mau mengakui bahwa itu baru beberapa minggu.”
Lanna menelan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. “Kalau begitu pilih satu ceritanya dan hafalkan. Kamu terlalu jujur untuk ini.”
“Kamu juga.”
“Aku tahu. Itu masalah kita berdua.”
David menghembuskan napas yang tertahan entah sejak kapan. Bahunya turun. Lalu, seolah tidak sanggup menerima ucapan terima kasih itu begitu saja, dia berkata dengan nada sangat datar:
“Aku juga nggak suka sesuatu.”
“Apa?”
“Cara Ramon memayungi kamu di lukisan Kakek.”
Lanna mengerjap. “Lukisan?”
“Yang dibingkai di ruang tengah rumah keluarga. Kamu, Elsha, dan Ramon yang memegang payung.” David melipat tangan. “Payungnya besar. Terlalu besar. Kakek biasanya melukis payung sebesar roti.”
“Itu lukisan Kakek! Kakek melukis tikus lebih besar dari kucing!”
“Payungnya miring ke arahmu. Seluruhnya.”
“Karena aku yang basah!”
“Karena Ramon yang memilih menjadi basah.”
Lanna membuka mulut untuk membalas, lalu menutupnya karena dia tidak punya bantahan yang tepat. Ramon memang memilih menjadi basah. Dia ingat Ramon di ambang pintu apartemen ini, dan ingat kalimat yang tidak menuntut apa pun. Itu bukan miliknya untuk diceritakan.
“Ramon itu kakakmu,” katanya akhirnya, hati-hati memilih tiap kata. “Dan aku memperlakukannya begitu. Itu saja yang bisa kubilang. Sisanya bukan milikku.”
David menatapnya, dan Lanna melihat dia memahami sesuatu setengah-setengah, tetapi cukup untuk tidak bertanya lagi.
“Baik,” katanya.
“Baik.”
Tidak ada yang bergerak. Lalu entah siapa yang melangkah lebih dulu, mereka sudah berdiri berhadapan di tengah ruangan. Tidak sedekat itu. Hanya cukup dekat sampai Lanna bisa melihat bulu mata David yang ternyata lebih panjang dari dugaannya, dan satu titik halus di bawah matanya, bekas jerawat atau goresan lama. David menunduk sedikit. Dia tidak menyentuh apa pun. Napasnya hangat dan agak bergetar.
“Lann,” katanya, sangat pelan.
“Ya.”
“Aku mau—”
Terdengar bunyi seperti benda kecil jatuh dari ketinggian, lalu benda besar jatuh sesudahnya, lalu bunyi tinggi dan panjang seperti piring terbang pecah.
Mereka berdua melompat mundur.
Di rak dekat televisi, dengan satu kaki masih terangkat dan wajah tanpa dosa, Elsha berdiri di samping tempat yang tadinya diisi vas hijau pemberian Mamah. Sekarang tempat itu hanya diisi pecahan keramik dan tiga tangkai bunga plastik.
“Elsha,” kata David.
Elsha mengeong, pelan, seolah menyatakan itu semua salah rak.
“Itu vas Mamah!”
“Mamah punya dua puluh vas,” kata Lanna, terengah. Wajahnya panas sekali. “Aku yakin Mamah nggak akan ngaku kehilangan satu.”
“Ya. Ya. Tentu.” David menyambar sapu dari balik pintu dapur, tanpa menatap Lanna sama sekali. Dia menyapu dengan semangat yang jauh melebihi kebutuhan. Lanna mengambil serokan dan berjongkok, menahan tawa yang entah kenapa naik dari perut.
“Kamu mau bilang apa tadi?” tanyanya pada pecahan keramik.
“Aku mau ... minum,” kata David. “Air putih.”
“Bukan.”
“Iya, minum.”
“Baik.”
Lima menit kemudian, vas itu sudah menjadi sampah, dan keduanya sudah berdiri di depan pintu masing-masing, satu menuju kamar utama dan satu menuju ruang baca, dengan sikap orang yang baru lulus ujian yang sama dan belum berani memeriksa nilainya.
“Selamat malam,” kata Lanna.
“Selamat malam.”
Pintu tertutup. Lanna bersandar di baliknya, mengangkat tangan menutupi mulut, dan membiarkan senyumnya muncul tanpa saksi. Dari balik dinding terdengar suara David menutup pintu dengan terlalu hati-hati, lalu enam nada pendek yang naik turun dan tidak pernah selesai.
Bel apartemen berbunyi: tiga kali pendek, jeda, satu panjang.
“Aku lupa bawa bantal!” seru Ron dari lorong. “Eh, kenapa ada vas pecah di tempat sampah depan? Ada yang mau mengaku?”
Dua pintu tetap tertutup. Tidak ada satu pun yang menjawab.