Enam hari yang tenang sesudah malam vas pecah, pada Rabu pagi, Mamah menjemput Lanna di lobi apartemen dengan mobil berpelat yang selalu membuat satpam berdiri tegak.
“Vas hijau di rak televisi tidak ada,” kata Mamah begitu Lanna menutup pintu mobil. Dia tidak menoleh. Tangannya yang kurus dan terawat memegang kemudi dengan gaya orang yang terbiasa dituruti jalanan. “Mamah lewat kemarin mengantar bekal. Ada tiga tangkai bunga plastik di pot lavender. Itu kamu yang tata?”
Lanna menimbang kebohongan dua detik. Dia tidak punya satu pun yang cukup meyakinkan.
“Elsha, Mah,” katanya. “Dia menjatuhkannya. Maaf.”
“Elsha.”
“Iya. Kami berdiri di sana waktu itu, jadi kami nggak sempat menangkap.”
“Berdiri sedang apa?” tanya Mamah.
“Ng ... bicara.” Lanna merasa kupingnya panas. “Soal gaun Sarah.”
Mamah membelokkan mobil ke jalan besar. Bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum, tetapi sangat dekat dengan itu. “Mamah punya dua puluh vas. Tidak ada gunanya menyimpan sesuatu yang tidak boleh pecah.”
“Aku ganti.”
“Kamu tidak ganti. Kamu ceritakan alasannya nanti, kalau sudah siap.” Mamah mengambil kacamata hitam dari dasbor. “Hari ini kita pergi memilih gaun untukmu, Lanna. Gaun yang pantas untuk duduk di barisan depan peragaan Sabtu.”
“Gaun?” Lanna merosot di kursi. “Mah, aku masih punya yang dipakai di pesta klub, dan satu lagi—”
“Di atas seratus juta,” kata Mamah ringan. “Mamah yang bayar, jangan protes. Mamah mau kamu terbiasa memakai sesuatu yang mahal tanpa merasa bersalah.”
Jantung Lanna berhenti sedetik. Angka itu sama persis dengan yang tertulis di lembar kedua kontrak. Dia mengingatkan dirinya bahwa itu kebetulan, kebetulan, kebetulan, dan akhirnya bernapas lagi.
“Mah, itu kebanyakan.”
“Menurut siapa? Menurut kamu atau menurut dompet Mamah?” Mamah memutar kacamata hitam itu di jarinya. “Mamah punya anak yang dulu tidak mau Mamah belikan apa pun karena takut berutang. Namanya David.” Dia terdiam sebentar. “Papah juga sama. Kakek juga. Keluarga ini lucu: banyak uang, tapi tidak ada yang tahu cara memberi tanpa menagih. Mamah mau belajar.”
“Mamah mau belajar dari aku?”
“Dari kamu, ya. Kamu satu-satunya yang berani bilang ‘kebanyakan’ ke Mamah.”
Lanna tertawa, dan tawa itu melepaskan sesuatu di bahunya.
Mamah menyalakan lampu sein. “Satu lagi. Kakek menolak obat tekanan darahnya lagi dua hari ini. Dokter Ratna sudah menelepon dua kali. Kalau kamu menemani Kakek mengetik, bawakan tehnya, taruh obat di sebelah cangkir, dan jangan paksa. Cuma taruh.”
“Kalau Kakek tidak mau?”
“Kakek tidak pernah mau. Tetapi kalau ada orang yang menaruhnya tanpa memaksa, kadang-kadang obat itu hilang sendiri.” Mamah memandang jalan. “Kakek memang begitu: tidak bisa diperintah, tetapi bisa dibujuk.”
***
Butik itu menempati sebuah rumah tua bertingkat dua di kawasan yang sunyi, dengan pintu depan dari kayu jati yang berat dan lantai marmer yang terlalu bersih. Seorang perempuan berambut perak menyambut Mamah dengan cipika-cipiki yang sangat sopan, lalu membawa mereka ke ruang pas yang luas berdinding cermin tiga sisi.
Gaun-gaun sudah tergantung menunggu. Lanna menghitung cepat: tujuh. Dia membalik label salah satunya, dan angka di sana membuatnya cepat-cepat membalikkannya kembali, seolah angka itu bisa menggigit. Semuanya mahal dengan cara yang sunyi; tidak ada yang berkilau, tidak ada yang berteriak.
“Yang itu,” kata Mamah tanpa ragu, menunjuk hijau zaitun yang jatuh lurus dengan potongan bahu terbuka sedikit. “Coba.”
Lanna memakainya di balik tirai dengan bantuan seorang pramuniaga. Ketika dia keluar, dia nyaris tidak mengenali pantulannya. Kain itu seperti memegangnya dengan benar, tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar. Bahunya tampak lebih lebar. Lehernya tampak lebih panjang.
“Bagus,” kata Mamah dari sofa, lama. “Berputar.”
Lanna berputar. Ujung gaun mengembang pelan dan jatuh kembali.
“Mamah,” sebuah suara datar menyela dari pintu. “Aku sudah menunggu dari tadi, dan kopiku sudah dingin.”
Betty berdiri di sana dengan kotak rias di satu tangan dan wajah yang tidak bergerak sama sekali. Seperti biasa, kata Lanna dalam hati. Dia ingat Betty dari hari pernikahan: ucapannya seperti lelucon yang disampaikan oleh patung.
“Betty,” kata Mamah. “Kamu datang cepat.”
“Aku diminta datang cepat. Aku datang cepat.” Betty meletakkan kotaknya, membuka tutupnya, dan menatap wajah Lanna dengan mata orang yang menilai kanvas. “Hijau zaitun. Bagus. Pipimu butuh satu lapisan lagi supaya tidak kelihatan pucat. Kamu tidur?”
“Aku tidur.”
“Berapa jam?”
“Lima.”
“Cukup untuk hidup, tidak cukup untuk blush on.” Betty mengangkat kuas. “Duduk. Aku coba riasan untuk Sabtu.”
Lanna duduk di kursi tinggi menghadap cermin. Kuas halus mulai menyapu pipinya, dingin lalu hangat. Betty bekerja dengan ketelitian orang yang bekerja sejak subuh dan tidak berharap dipuji.
“Ramon sudah di Jakarta?” tanya Betty pada pantulan Lanna, tanpa berkedip.
“Ramon di Singapura, Bet.”
“Oh.” Kuas berhenti sedetik di tulang pipi. “Dia ... bilang sesuatu soal rambutnya?”
“Rambut?”
“Tidak. Lupakan.” Kuas bergerak lagi, sedikit lebih cepat. “Aku cuma menanyakan kesehatannya.”
Mamah mengangkat cangkir tehnya dan menyembunyikan sesuatu di balik uap.
“Bet,” kata Lanna hati-hati. “Kalau kamu mau menitip salam, aku bisa sampaikan lewat telepon.”
“Tidak perlu,” kata Betty datar. “Aku tidak menitip salam. Aku menitip kuas.” Dia berhenti. “Itu lelucon.”
“Aku tahu.”
“Bagus. Wajahku tidak bisa memberi tanda.”
Riasan selesai dalam dua puluh menit. Betty pergi membawa kotaknya dan dua kali melirik ponsel, dan pintu menutup di belakangnya dengan bunyi yang terlalu pelan. Lanna masih mengenakan gaun hijau zaitun, duduk di tepi sofa panjang di samping Mamah, memandang pantulannya sendiri di tiga cermin.
“Lanna,” kata Mamah.
“Ya, Mah.”
“Mamah mau bilang sesuatu soal Sarah.”
Lanna menegang. “Mah, aku ...”
“Dengar dulu.” Mamah menaruh cangkirnya. Suaranya tidak naik, tidak turun. “Mamah tidak membenci Sarah. Dia anak yang rapi, bekerja keras, dan Mamah kenal ketekunannya. Dia tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun. Mamah hanya tidak mau ia berdiri di tempat yang bukan miliknya.”
“Tempat ... apa, Mah?”
“Tempat di sisi David.” Mamah menatap pantulan Lanna di cermin, bukan Lanna langsung. “Mamah membatalkan gaunnya dulu bukan karena benci. Mamah membatalkannya karena gaun itu dibuat untuk pernikahan yang mungkin akan terjadi. Bukan untuk pernikahan yang sedang terjadi.”
Lanna menggenggam kain hijau di pangkuannya.
“Kamu bahagia, Nak?”
Kata ‘Nak’ itu jatuh tanpa persiapan, sangat pelan, dan Lanna merasakannya sampai ke tengkuk. Dia memikirkan jawabannya. Dia memikirkan Pasal Kejujuran, Kakek di perpustakaan, dan enam nada yang bergema di balik dinding.
“Lagi belajar, Mah,” katanya.
Mamah mengangguk perlahan. Tidak kecewa, tidak puas. Dia mengulurkan tangan, merapikan satu helai rambut Lanna yang lepas dari jepitan, dan menyentuh pundaknya dua kali, ringan.
“Itu jawaban yang jujur,” katanya. “Mamah suka.”
Dia berdiri, merapikan roknya, dan memandang pantulan mereka berdua di cermin: dirinya yang tinggi dan kurus, Lanna yang duduk dalam gaun hijau zaitun yang bukan miliknya.
“Sabtu nanti,” kata Mamah, “kamu duduk di barisan depan. Sarah akan menyapamu. David akan menyapamu. Banyak orang akan menatap. Dan kamu, Lanna, berdirilah seperti pemiliknya.”