Wajah Rain benar-benar masam pagi ini. Bagaimana bisa ia tersenyum di saat masa depan nya akan hancur hanya karena mereka bermain-main? Konyol sekali. "Ada apa dengan wajahmu?" Rain terdiam mendengar suara Joon Min yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Apa urusan mu?" tanya nya datar dan juga nada sinisnya yang kentara. Ia melihat mata Joon Min yang terlihat polos itu.
"Kau lupa? Kau, dan aku? Akan menikah." Suara nya terdengar memperjelas fakta bahwa mereka akan benar-benar menikah, dan lagi-lagi Rain merasa hidupnya akan hancur ketika itu juga. "Aku pasti sudah gila." Rain bergumam sendiri dan memegang kepala nya yang sudah pening karena memikirkan masalah nya.
Joon Min hanya melewatinya dan duduk di kursi nya tanpa bermaksud untuk berjalan bersama calon istrinya itu. Ia setuju dengan alasan bundanya untuk menikahkan ia dengan Rain, tapi ia masih bingung bagaimana cara bersikap kepada gadis dingin dan galak itu saat ini.
Semua mata tertuju kepada Rain yang baru memasuki kelas. Ia sadar dirinya jadi pusat perhatian. Berita kemarin dengan cepat menyebar, dan para gadis langsung membencinya. Kebanyakan dari mereka tidak percaya terutama para fans dari lelaki yang akan menjadi suami nya itu. Ia hanya bisa berharap rumor itu cepat menghilang dan kehidupan nya akan berjalan normal meski takkan benar-benar normal karena yang pasti ia akan hidup bersama lelaki bernama Jeon Joon Min itu.
Oh lucu sekali. Masih sekolah dan sudah mau menikah.
"Rain!" Rain berbalik dan menatap Taehyung yang datang dari belakang dan langsung merangkulnya. Anak sekelas lantas langsung berbalik dan tak menatapnya lagi.
"Hai Tae," sapa balik Rain dengan nada sayu.
"Tae? Panggilan macam apa itu?
"Oh ya, manga yang kau pinjamkan saat pulang sekolah kemarin…." Rain teringat, kemarin ia membawa komik dan kebetulan teman baru sebangku nya senang sekali membaca komik. Akhirnya ia meminjamkan komiknya pada Taehyung itu.
"Iya, apa kau suka dengan manganya? Aku punya satu seasonnya di rumah," ujar nya mencoba untuk terbiasa dengan dirinya yang sekarang-sejak kejadian itu, ia benar-benar berubah-. Taehyung menatap nya lamat, seperti ia tahu bahwa Rain memiliki masalah yang ia pendam. "Kau terlihat pucat hari ini, kau baik-baik saja?" Taehyung melepas tatapan nya dan beralih pada dahi Rain dan menyentuh nya dengan telapaknya secara halus dan lembut.
Rain terhenyuk, sikap Taehyung benar-benar mengingatkan nya kepada seseorang di masa lalunya.
"Aku baik saja kok." Akhirnya ia tersenyum dan ia perlu akui itu senyum tulus dari nya.
BRAK.
Sekelas terkaget saat pintu tiba-tiba terbuka dan langsung tertutup dengan kencang. Dan yang lebih aneh lagi, itu karena Joon Min yang melakukannya.
***
Siang ini orang tua dari Rain telah berada di dalam ruangan Kepala sekolah bersama dengan kedua orangtua Joon Min. Sedangkan Rain dan Joon Min menunggu di luar dengan keheningan yang tercipta tanpa mereka sadari. Rain enggan bicara karena hal ini masih membuat nya belum bisa menerima kenyataan. Sedangkan Joon Min memang tak peduli dengan keadaan ini.
"-besok." Hanya kata itu yang terdengar sampai luar, Rain tak bisa membayangkan bagaimana wajah kecewa dari kedua orangtuanya, terlebih mendengar berita anak gadis semata wayang nya berbuat seperti itu, walau kenyataan nya mereka tak melakukan apa-apa. "Tapi mereka harus sekolah?" Seorang guru yang menjadi penengah dari kedua orangtua dari mereka berdua mengutarakan pikiran nya. Rain diam-diam setuju dengan itu dan mengiyakan di hati nya.
"Bukankah besok hari libur."
JDER
Rain merutuki guru itu, Okay dia bisa terima ia akan dinikahkan dengan lelaki di samping nya itu, namun, mengapa secepat ini?! Besok? Bayangkan!! Besok! Entah kenapa ini seperti sudah disuratkan dan ia tinggal menjalani nya, dan entah kenapa orangtuanya tanpa protes ikut menyetujui saja.
"Ayo pulang sayang." Mama Rain keluar lebih dulu dan membuat Rain dan juga Joon Min ikut berdiri. Rain menunduk tak berani menatap mata mama tersayangnya, tentu saja, ia sungguh merasa bersalah kepada kedua orangtua yang ia cintai itu. "Maafkan aku ma, apa papa marah padaku?" Suaranya terdengar seperti seorang anak kecil yang mengompol di celana.
Joon Min memandangnya sayu, merasa kasihan juga dengan gadis itu,
Kemudan tangan lelaki itu terulur dengan tulus ke kepala Rain. "Hati-hati," ujarnya. Ibu Rain tersenyum pada Joon Min lalu mengusap kepala Joon Min dan juga Rain.
"Tidak marah, kalian serasi kok, yuk pulang? Hari ini izin setengah hari saja." Kemudian Rain menatap Joon Min yang terdiam di tempat nya. Tidak memandang kepergian nya dengan mamanya. Hanya saja ia merasa familiar dengan suara yang ia dengar dari dalam ruangan yang katanya milik Kepala sekolah yang wajahnya tak pernah ia lihat itu.
***
"Rainnie, ayo main denganku." Orang itu menarik tangan Rain kecil dengan pelan.
"Tak mau. Aku benci mainan itu," ucap Rain sambil merengutkan bibir.
"Kau ini manis sekali Rainnie, masa kau jadi benci sepatu roda, hanya karena kau pernah terjatuh sekali." Laki-laki itu mengacak rambut Rain dan akhirnya mereka kembali tertawa.
"Oppa, Oppa !!" Rain menangis mencari orang itu.
"Aku di sini Rainnie, Jangan menangis." anak lelaki itu memeluk Rain yang menangis dengan tersedu.
"Jangan tinggalkan Rainnie ya oppa, oppa janji?" tanyanya sambil menatap lelaki itu,
"Oppa janji" Mereka menautkan jari kelingking mereka.
Napas Rain membuncah. Tiba tiba ia terbangun sendiri. Entah kenapa ia selalu bermimpi tentang seorang anak kecil itu, dan mimpi itu terus berulang-ulang dengan kejadian yang sama, seperti memorinya yang hilang lalu kembali lagi. Ia pun tak begitu yakin sebenarnya. Akhirnya gadis itu mengambil gelas di nakas, dan meminum air yang ada di dalamnya.
"Jam 7," gumam-nya sendiri sambil mensejajarkan kakinya di antara dinginnya lantai, mencoba mencari sepasang sandal rumah nya yang hangat. Lalu berjalan menuju pintu kamar berniat menyapa kedua orang tuanya.
CKLEK
"30 menit."
DEG
Rain sadar saat ia membuka pintu kamarnya, seorang lelaki berdiri di hadapan nya sambil menyenderkan dirinya di tembok samping pintu kamar nya. Lantas Rain terlonjak kaget. Sekali lagi! Dia benar-benar kaget! "Aku menunggumu 30 menit disini," ujar Joon Min dengan suara santai nan menusuk.
Sedangkan Rain masih terdiam, menatap Joon Min yang dibalut dengan tuxedo hitam rapih dan harum dari parfume nya yang menyapu indra penciumannya, itu semua membuat Rain merasa masih di alam mimpi.
Pasti ini mimpi, bagaimana bisa Joon Min ada di kamar nya? Bukankah ia dan lelaki itu musuh? Dan kenapa lelaki itu memakai pakaian seperti orang yang akan menik-
"Ya Tuhan!" Rain menutup matanya sendiri dengan kedua tangannya. "Mengapa aku melupakan hari ini?” Joon Min yang berada di depannya diam-diam tertawa tanpa bersuara.