Kebiasaan Rain yang satu ini memang sangat-sangat parah. Dia bahkan melupakan hari pernikahan mereka. Padahal baru kemarin ! Oh astaga.
Rain membuka matanya lebar-lebar sesaat dan telah melihat Joon Min yang sudah merubah ekspresinya seperti semula-wajah dingin-dan memandangnya bingung.
"Pikun!" ujar Joon Min pelan sambil mendorong dahi Rain masuk kembali ke dalam kamar.
"Apa kau lupa tentang pernikahan kita?" tanyanya datar. Rain terlihat kebingungan akan menjawab apa, lalu dengan polosnya ia mengangguk tanpa berdosa.
Pletak.
Rain lantas memegangi dahi nya yang di sentil Joon Min. "SAKIT BODOH!" Rain langsung badmood. Lelaki itu sudah seenaknya masuk ke kamarnya, seenak jidat menyentilnya pula.
"Cepat mandi, 10 menit," ujar Joon Min kembali dengan nada datar, Rain memandang nya risih dengan mendelik.
"Apa? Mau kumandikan?" tanya Joon Min kini dengan nada jahilnya. Rain lantas membuang wajahnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya. Sedangkan Joon Min memandang sudut-sudut kamar itu sambil tersenyum simpul.
***
Rain memilih terdiam di kursinya. Merenungkan nasib malangnya setelah ini. Kini lelaki bernama Jeon Joon Min itu sah menjadi suaminya, dan lelaki itu kini malah bergabung dengan teman-temannya, meninggalkannya sendirian karena Yongbin juga memilih bersama Dylandaripada dengan nya.
Ia kemudian teringat kejadian tadi, disaat sang pastur mengikat janji mereka di atas mimbar, di hadapan para tamu khusus yang hanya beberapa orang. Ia mengingat-ingat kejadian itu dengan geli. Menyentuh bibirnya sendiri, merasa kesal karna Joon Min merebut ciuman pertamanya, dan itu tepat di bibir. Padahal Joon Min sudah berjanji akan mencium nya di kening. Lelaki memang pembohong!
"Mengapa dia tega sih, my first kiss," lirihnya. Ia melihat ke sekeliling. Mertuanya yang mengingatkannya pada seseorang yang ia lupa itu tersenyum padanya. Ia membalasnya lalu ia kembali melihat para tamu yang kebanyakan hanya teman-teman dari orangtua mereka berdua atau teman-teman Joon Min yang merupakan anak dari teman-teman orang tua mereka.
"Pegal," gumamnya sambil memandangi sendok dan menaruh dagunya di atas tangannya, ia tak peduli pada gaun-nya yang mungkin akan kotor.
"Sebentar lagi selesai." Entah darimana datangnya, Joon Min sudah berada di sampingnya. Rain malas menatapnya, ia masih kesal dengan ciuman itu.
"Bisakah kau mengucapkan sesuatu yang bisa membuatku senang sedikit? Kata-katamu selalu datar atau dingin. Dan selalu membuatku kesal!" ujarnya.
Joon Min memandangnya, khawatir, sebenarnya iya. Tapi ini bukan waktu yang tepat. "Baiklah. Kau ingin cepat pulang kan? kau ingin cepat-cepat ke kamar bukan?" Rain lantas menatap nya dengan melotot.
"m***m!" hardiknya, sedangkan Joon Min tertawa kecil di kursinya.
***
Sebuah mobil bugatti melaju dengan kecepatan sedang di jalanan raya. Dua orang yang berada di kursi belakang yang bahkan masih mengenakan tuxedo dan weding dress mereka sedang tertidur pulas. Seorang lelaki tua yang berada di depan menyupir tersenyum senang melihat kedua sejoli yang baru menikah itu. Sungguh mereka terlihat serasi dan pasangan yang unik.
Sejak tadi posisi mereka bahkan tak bergeming. Kepala Rain menyender di bahu Joon Min dan kepala Joon Min menyender di kepala Rain. Bahkan wajah lelah mereka terlihat sangat polos. Membuat Pak Kim, supir pribadi mereka yang menyupir itu tidak tega membangunkan mereka saat sudah sampai nanti.
Mobil itu memasuki kawasan perumahan elit dan kemudian masuk ke gerbang sebuah rumah yang lumayan besar disana. Tepat saat mobil berhenti, Rain terbangun dan mengerjapkan matanya, secara otomatis Joon Min juga terbangun karena kepala nya tadi menyender di kepala Rain.
"Pak Kim, ini rumah siapa?" tanya Rain polos. Joon Min juga tampak mengerjapkan matanya masih belum sadar sepenuhnya.
"Rumah Anda berdua Nona, Tuan," jawabnya hormat. Joon Min baru tersadar.
"Maksud Pak Kim, Aku tinggal dengan-" Rain memandang Joon Min yang hanya terdiam memandang kaca di samping nya. Akhirnya ia tak memiliki keberanian lebih untuk menyebut nama orang yang telah sah menjadi suami nya itu.
"Hey, ayo keluar." Rain melihat ke arah pintu mobil dan disana telah berdiri Yongbin dan Dylanyang sepertinya menyadari kedatangan mereka. Lantas Rain membuka pintunya dan memeluk Yongbin erat.
"Tak buruk jika ada kau disini," ujar Rain refleks. Yongbin dan Dylanmengernyit heran. Joon Min baru keluar dari pintu mobilnya.
"Maksudmu apa? Kau pikir aku mau tinggal di sini dan menganggu malam pertama pasangan muda-mudi yang b*******h ini, eoh?" tanya Yongbin sambil menggoda, Rain melotot tak percaya, belum sempat ia bicara, seseorang menyambar obrolan mereka.
"Akhirnya kalian sampai." Mata Rain membulat melihat seorang wanita cantik keluar dari rumah yang katanya akan dijadikan rumah nya itu. Dan Wanita cantik itu adalah bundanya Joon Min. Kepala sekolah mereka, "Tante, ini rumah sia-"
"Kok tante sih? Rainnie eh-Rain sayang, panggil bunda saja, oke?" ujar nya sambil merangkul Rain masuk. Dan itu meninggalkan kebingungan mendalam di otak Rain yang sebenarnya polos itu.
"Maklumi Joon Min ya jika dia terkadang kelewatan. Kau akan tahu dia yang sebenarnya," ujar bunda Joon Min rancu dan itu semakin membuat kepala Rain berputar-putar.
***
Rain menatapi pintu kamar mandi dengan ragu. Ia sudah gerah terus-terusan memakai gaun seperti ini, badan nya sudah terasa lengket. Mandi adalah ide yang sangat bagus, tapi ia masih ragu dan takut. Apalagi melihat wajah lelahnya Joon Min yang kini sedang berada di kasur mereka. Ya, mereka. itu berarti ia dan Joon Min akan tidur bersama disitu nanti malam.
"Kau mau mandi duluan?" tanyanya ragu kepada Joon Min. Joon Min yang sudah hampir memejamkan matanya akhirnya tersadar lagi. "Kau duluan," ujarnya datar. Kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
“Huh, setidaknya berikan jawaban yang lebih banyak lagi lah, dia ini niat sekali membuatku kesal,” gumam nya kecil.
Akhirnya ia beralih menuju sebuah lemari besar yang kata mamanya tadi sudah diisi baju-baju nya, pikirnya ia akan mendapat kan tshirt longgar nya dan juga celana pendek kesukaan-nya. Namun, kenyataannya, di dalam sana hanya ada sekumpulan dress dan juga pakaian feminin yang paling ia benci. Apa daya? Ia tak mungkin mengeluh pada suaminya. Ia juga sadar, suami nya sudah lelah seharian ini selalu mengeluarkan senyum dan kehabisan tenaga nya. "Sabar Rainy, Kau pasti kuat," ujarnya menyemangati diri.
Dan sebenarnya ia tidak tahu, kalau Joon Min masih tersadar sejak tadi demi melihat reaksi Rain saat melihat lemari itu. Dan senyumnya mengembang.
Rain masih dengan mengenakan handuk di kepala nya. Menyegarkan. Keramas memang bisa membuat hatinya lebih baik. Ia memandangi dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi. Memakai baju terusan yang membuatnya terlihat seperti bukan dirinya.
"Mengapa aku harus seperti ini?" bisiknya, miris dengan dirinya sendiri, dan kenyaataan yang tak bisa ia ubah dalam hidupnya ini. Akhirnya ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Joon Min masih tertidur dengan tuxedonya yang masih melekat juga dengan sepatunya.
Ia pergi mendekat ke arah orang itu. Menatap lelaki yang disebut sebagai suami nya itu dengan lekat, memperhatikan setiap sudut dari wajah nya, matanya yang tajam, hidung mancungnya, bibir imutnya. Bisa saja Rain jatuh cinta padanya, tapi tidak dengan cara yang satu ini. Ia malah menjadi kesal pada Joon Min dan menganggap semua ini adalah salahnya. Dan ia hanya bisa memasrahkan diri.
"Joon Min." Ia memanggilnya ragu, mendorong Joon Min dengan telunjuk kanan nya pelan. "Jeon Joon Min," panggilnya lagi. Joon Min masih belum bergeming. Tidurnya sangat pulas. "Jeon Joon Min!! WAKE UP!!" Ia kini memegang lengan Joon Min dan menggoyangnya.
GREP
Matanya seketika melotot. Joon Min memegang tangan nya dan kemudian menariknya ke dalam pelukannya. "J-Jeon Joon Min apa yang kau lak-"
"Kau ini berisik, aku berniat membuatmu diam," jawabnya sambil masih menahan Rain di pelukannya.
"LEPASKAN."
Dan kemudian Rain berlari dari kamar dan keluar. Sedangkan Joon Min kebingungan dengan sikap Rain
***
"Sudah selesai?" Rain menatap Joon Min yang baru keluar dari kamar mereka. Baiklah, kali ini Rain akan benar-benar mengakui fakta bahwa mereka telah menikah dan juga akan bersikap lebih baik 'sedikit' pada suaminya itu.
"Hm," balasnya datar dan itu membuat Rain menyesali sikapnya barusan. Memang Joon Min itu titisan seorang raja Iblis yang punya wajah indah tapi memiliki hati dingin!
"Apa itu?" Setelah lama berdumal di dalam hati, ia mendengar lagi suara Joon Min. Ia memandang suaminya itu sebal.
"Hanya omelete," balasnya tak kalah dingin. Yeay! Mereka satu sama bung! Rain kemudian menyelesaikan masakannya dengan cepat.
"Ini untukmu," ujar Rain sambil menaruh sepiring omelete ke depan Joon Min yang masih terdiam memandangi hidangan di depannya.
Rain masih memandang Joon Min yang masih memandangi sepiring omelete itu. Lalu ia mengernyitkan dahinya sebal. "Hey, kau mau makan itu atau tidak!" tanya Rain galak dan itu membuat Joon Min terkaget. Rupanya tinggal dengan Rain dapat membuat nya berkali-kali terkaget hingga ia khawatir dirinya bisa terkena serangan jantung dadakan.
Akhirnya Joon Min mengambil sendok dan menyendokan omelete itu ke mulutnya kemudian mengunyahnya. Rain masih memandanginya dengan wajah penuh harap, dan Joon Min sadar akan hal itu.
"Apa?" tanyanya bingung. Rain berdecak.
"Kau itu tidak peka ya. Aku ini menunggu komentarmu soal rasa makananku," ujar Rain sambil menyendok omelete di piring nya dengan kesal. Saat ia akan menyuapkan ke mulutnya.
"Ini enak."
Rain kembali menatapnya, dan kini dengan pandangan berbinar.
"Hmmm, ini memang enak," ujar nya sambil kembali menyuapkan omelete nya sendiri dengan lahap. Joon Min menatapnya sambil tertawa kecil.
"Kau itu niat memuji diri," cibir Joon Min sambil melahap omelete nya lagi. Sedangkan Rain hanya tertawa kecil. Tawa yg sudah lama tak pernah terlihat di wajah Rain.
"Dasar aneh." Joon Min menepuk pelan kepala Rain lalu ikut tertawa kecil bersama.