Pagi ini dengan perasaan tak bersemangat, Anara keluar dari kamarnya, melihat dengan jelas kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Mereka berdua terlihat sedang berbincang hal yang cukup serius. Mereka berdua juga terlihat sangat kelelahan, entah karena memang banyak pikiran atau karena pulang malam usai pergi ke acara pertunangan anak dari sahabatnya. Dalam benak Anara saat ini, ia cukup sedih dengan keadaan yang terjadi. Ia cukup sedih karena baru menyadari jika kedua orang tuanya sudah semakin berumur.
Bodoh, satu kata yang rasanya ingin Anara sampaikan pada dirinya sendiri secara terus-menerus. Entah matanya tertutup dengan apa sampai akhirnya kejadian seperti ini baru ia sadari. Sudah dibutakan oleh cinta, setelah itu tak menyadari jika waktu sangat cepat berlalu. Buang-buang waktu saja Anara selama ini dengan Dave. Sudah backstreet, gagal pula. Malunya bukan main memang.
Sedih? Mungkin saat ini sudah mulai berkurang karena ia sudah mulai ilfeel dengan tingkah laku mantan pacarnya ini. Kata orang move on lewat jalur ilfeel memang cepat, dan itu pun sangat berefek sekali bagi Anara. Mungkin sisa rasa yang saat ini masih ada di hati Anara hanyalah sisa rasa pada kenangan-kenangan yang terjadi. Tak dapat dipungkiri kenangan yang mereka berdua lalui memang sangat banyak, tak dapat dihitung dengan jari. Pun tiap detik yang Anara dan Dave lalui adalah tiap detik yang berharga, banyak tawa, banyak canda yang mengelilinginya. Jadi sangat wajar jika Anara memerlukan waktu untuk melupakannya, bukan?
“Loh, Anara! Udah bangun kamu, Sayang? Kamu mau sarapan, Nak? Tadi mamah udah minta ke bibik buat masakin makanan kesukaan kamu. Ada banyak banget makanan seafood yang kamu suka pokoknya.” Tanpa Anara sadari, dalam kondisi melamunnya, ternyata sang ibunda menyadari kehadiran Anara. Eva pun langsung menawarkan sarapan kepada putri semata wayangnya itu.
“Emm ... enggak dulu kayaknya deh, Mah. Aku lagi gak mood makan soalnya.”
Oh ayolah, ini hanya Anara saja yang malas makan saat suasana hati sedang buruk atau memang semua wanita seperti ini? Bukan diet atau apa pun itu, tetapi karena tidak ada niat saja. Tidak mood istilah gampangnya. Memang wanita itu maha ribet ya, semuanya bisa dikaitkan dengan mood. Dari tidur, makan, bahkan sampai ke mandi. Pernah juga suatu saat di mana Anara sudah siap untuk mandi, sudah membawa handuk dan segala macam lainnya, seketika saja mood Anara hancur. Lalu kalian tahu apa yang Anara lakukan? Anara tidak jadi mandi. Anara langsung melanjutkan aktivitas rebahannya dan membuang segala pikiran tentang mandi. Mandi itu membuat segar lah, atau apa pun juga. Dibuang semuanya. Memang ribet, Anara tahu itu.
“Kamu tau gak, Nak? Ternyata semalam kita satu tempat yang sama, lho. Ternyata anak dari temen mamah ini mau tunangan sama Mikhaella. Mamah tau kalau kamu semalem nangis, mamah langsung pulang saat tau kalau perempuan yang bilang dia pacarnya Dave adalah kamu. Mamah yakin kalau kamu itu wanita yang baik, kamu enggak pernah berpikiran buruk. Kamu pasti di sini enggak tau kalau Dave itu pacaran sama Mikhaella. Kamu enggak mungkin rebut pacar sahabat kamu sendiri. Kamu mau cerita sama mamah? Mau ceritain semuanya? Apa yang terjadi sampai akhirnya kamu memutuskan untuk backstreet dan ujungnya kejadian seperti ini terjadi?”
Dikatakan tegas mungkin memang iya, namun Eva jauh lebih memikirkan kondisi dan situasi saja. Apakah kondisi dan situasinya sudah cukup baik, apakah orang yang akan ia tanya sudah siap, dan banyak lagi pertimbangan lainnya tentu saja. Karena saat ini Eva merasa harus membicarakan masalah semalam, oleh karena itulah Eva mulai bertanya pada putrinya. Ia mulai ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mulut Anara seketika terbuka lebar mendengar apa yang disampaikan oleh sang ibunda. Jadi, ibundanya ini tahu keluarga Dave? Ibundanya ini melihat bagaimana Anara dipermalukan tadi malam. “Maaf, Mah ...,” lirih Anara penuh penyesalan.
Sungguh, rasanya sangat menyakitkan sekali saat Anara mengetahui ini semua, mengetahui jika ternyata ibunya tahu apa yang terjadi. Menjadi orang ketiga dalam hubungan sahabatnya sendiri? Well, sangat buruk sekali, bukan? Memalukan sekali. Apa yang harus Anara jelaskan jika seperti ini hal yang terjadi? Apa yang harus Anara sampaikan? Anara sama sekali tidak tahu apa-apa. Anara sama sekali tidak tahu harus menyampaikan dengan bagaimana.
Huh ... Tuhan, bisakah buat ini sebagai mimpi saja? Mimpi buruk pun tak masalah, Anara sungguh tidak akan pernah sanggup jika ini menjadi suatu kejadian yang nyata. Anara sama sekali tidak pernah mau ada di posisi ini. Posisi yang sangat buruk dihadapi dan dijalani.
“Mamah minta penjelasan, Anara. Mamah enggak minta kamu buat bilang maaf. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Mamah yakin kamu enggak melakukan itu kan, Sayang? Kamu juga sebenernya ditipu, kan?” berondong Eva dengan banyak sekali pertanyaan yang terkesan memaksa Anara.
Tak tahu harus berbicara apa, yang dilakukan Anara hanya diam saja. Anara tak bisa berbicara satu kata pun. Anara benar-benar takut menjelaskan. Ia takut jika pada endingnya kedua orang tuanya pun sama, sama-sama pergi seperti yang lainnya. Jadi sekarang Anara harus bagaimana, Tuhan? Jadi sekarang apa yang harus Anara lakukan?
“Kenapa diem aja, Anara? Kamu bisa jelasin ini semua kok pastinya. Ayo jelasin yang sebenernya terjadi. Mamah sama papah yakin kalau di sini kamu juga korban, kita yakin kalau kamu enggak bersalah sama sekali. Itu semua benar kan, Sayang?”
Dengan keberanian yang hanya setengah hati saja, akhirnya Anara mulai membuka mulutnya secara perlahan, berusaha menjelaskan apa yang terjadi. “A—aku pacaran sama Dave itu bener, Mah. Aku pacaran sama dia karena kita gak sengaja ketemu, waktu itu dia ngembaliin dompet aku yang kebetulan jatuh di depan dia, terus kita kenalan lebih jauh dan akhirnya jadian. Dua tahun lamanya aku backstreet sama dia karena aku takut. Aku takut kalau dipaksa buat nikah, walaupun aku sayang banget sama dia tapi aku enggak mau nikah duluan sama dia, Mah. Aku enggak mau kalau semua karir aku hancur. Mamah sama papah selalu maksa aku untuk cepet-cepet nikah dan secara pribadi aku belum siap, makanya aku enggak mau kenalin dia ke mamah sama papah. Aku enggak tau kalau dia ternyata pacarnya Mikhaella karena yang aku tau pacarnya Mikhaella namanya Va. Pun selama tiga tahun Mikhaella pacaran, aku gak pernah ketemu sama Va. Aku emang salah karena jadi orang ketiga. Dan ya ... aku orang ketiga di dalam hubungan mereka berdua, tapi aku enggak tau apa-apa. Aku enggak tau kalau ternyata pacarku adalah tunangan dari sahabatku. Aku juga ditipu, Mah.”