Pastinya seorang ibu akan mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, jika kehidupan anaknya sedang tertimpa masalah, pastinya juga sang ibu akan menjadi orang terdepan yang membantu menyelesaikan masalah anaknya, tak peduli bagaimana hal yang akan terjadi ke depannya. Tak peduli apakah nanti semua yang ia lakukan berdampak buruk pada dirinya sendiri. Seperti itulah ibu. Ibu adalah pahlawan terbaik yang selalu ada di dalam hidup kita.
Seperti saat ini, Eva terus berusaha membela Anara sang putri, padahal Anara sendiri tidak pernah meminta Eva untuk membantunya. Anara sendiri bahkan tidak tahu jika sang ibunda membantunya mati-matian. Tahu apa yang dilakukan oleh Eva? Ya, benar! Seperti yang sudah dikatakan tadi, Eva membuat janji dengan Ayu supaya mereka bisa bertemu hanya berdua saja dan membahas permasalahan yang terjadi.
“Sorry baru dateng ya, Jeng. Tadi macet di jalan jadinya rada ngaret,” ujar seseorang yang membuat Eva langsung mendongak ke atas, memerhatikan sang lawan bicara. Tentu saja orang tersebut adalah Ayu yang sedari tadi Eva tunggu-tunggu. Ayu memang telat lima belas menit dari yang dijadwalkan, namun bagi Eva itu tak masalah. Kalian tahu sendiri bagaimana jalanan ibu kota, macet selalu menjadi langganan walaupun kita datang seawal mungkin.
Eva yang cukup lama menatap Ayu pun seketika tersadar, ia langsung berdiri dan bersalaman kepada sahabatnya itu sebelum akhirnya melakukan cipika-cipiki sederhana saja. Meskipun masalah sedang membingkai persahabatan mereka, mereka berdua harus tetap akur. Mereka berdua harus tetap melakukan yang terbaik.
“No problem, Jeng. Namanya juga Jakarta,” sahut Eva dengan suara yang lembut. Setelah itu wanita paruh baya yang sudah siap dengan dress putihnya langsung mempersilakan sang sahabat untuk duduk.
“Jadi kita mau bahas gimana ini, Jeng? Mau mulai dari mana?” Ayu membuka pembahasan. Masalah harus diselesaikan secepat mungkin, bukan? Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Supaya persahabatan mereka juga tetap aman dan tentram.
Menarik napas dalam tenang, Eva langsung tersenyum, memberikan suasana menyenangkan untuk sang sahabat supaya mereka berdua sama-sama nyaman saat membahas masalah anak mereka ini. “Jadi gini, Jeng. Aku udah tanya ke Anara apa yang terjadi sebenarnya, terus juga Anara cerita kalau memang dia dan Dave pacaran. Anara sama sekali enggak tau kalau Dave ini pacarnya Mikhaella karena Anara bukan tipikal orang yang suka kepo dengan kehidupan orang lain. Terus juga kebetulan Anara sama Dave ini backstreet selama dua tahun. Jadi posisinya Anara ini korban. Anara enggak tau kalau misalnya dia jadi selingkuhan, Jeng.”
Ya memang itu ceritanya, bukan? Tak ada yang dilebih-lebihkan oleh Eva, ia mengatakan semua dengan jujur. Memang itu yang terjadi.
Ayu langsung menggeleng dengan kilat sembari menundukan kepalanya usai mendengar apa yang sahabatnya ini katakan. Ia pun sudah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Dave dan jawabannya pun sama. Dave mengakui perbuatannya yang salah itu. Sudah tak lagi membela diri karena semuanya sudah terbongkar.
“Aku cukup kecewa sama anakku, Jeng. Kecewa karena dia bisa berbuat hal seperti ini. Semuanya udah aku cari tau dan ternyata apa yang Jeng Eva katakan itu benar. Anak kita memang memiliki hubungan spesial selama dua tahun, which mean Dave selingkuh dari Mikhaella sama Anara. Mereka backstreet karena Dave enggak mau ketauan kalau dia selingkuh. Tapi nyatanya Dave pun enggak tau kalau Mikhaella sama Anara ini sahabatan. Sedangkan dari posisi Anara dia enggak mau kasih tau kalau dia udah punya pacar karena takut keluarganya meminta dia supaya cepet-cepet nikah.”
Keluarga ternyata memang sepenting itu ya bagi jati diri seorang anak. Jika keluarga terus mengekang anak, pastinya sang anak tidak mau bercerita apa pun, takut jika apa yang akan ia ceritakan menjadi bahan kekangan selanjutnya. Dari sini banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik untuk ke depannya. Seharusnya Eva tidak terlalu keras dalam meminta Anara segera menikah. Seharusnya Eva bisa banyak bersabar dalam menunggu waktu yang pas. Jika sudah seperti ini jadinya, yang ada tinggal lah kecewa dan trauma.
“Aku bener-bener minta maaf atas ulah anakku, Jeng. Aku bener-bener minta maaf karena anakku udah berbuat semaunya sama Anara, udah nyakitin Anara, udah bohong sama Anara. Bahkan kalau Jeng Eva ngebolehin, aku bisa minta Dave untuk minta maaf secara langsung ke Anara. Aku bisa minta Dave bersujud di kaki Anara karena Dave udah kurang ajar banget.”
Tidak, itu semua pastinya tidak diperlukan oleh Anara, bukan? Anara tidak perlu meminta Dave meminta maaf di hadapannya sembari berlutut, yang Anara perlukan saat ini adalah ketenangan. Anara harus healing supaya bisa tenang dan tidak trauma dengan masalah saat ini. Anara harus bisa kembali bahagia dan kembali tersenyum manis lagi. Itu semua yang Anara perlukan untuk saat ini.
Eva akhirnya menggeleng dengan penuh ketegasan. “Anara enggak perlu itu semua, Jeng. Biarkan Anara berdamai dengan dirinya terlebih dahulu. Biarkan Anara menghilangkan semua luka yang saat ini masih basah di hatinya. Aku yakin kalau Anara pasti akan memaafkan apa yang dilakukan oleh Dave. Tapi untuk saat ini dia belum bisa ketemu Dave terlebih dahulu. Oh iya jeng, by the way Jeng Ayu ini kan minta Anara jadi menantu Jeng Ayu supaya bisa menikah dengan putra Jeng Ayu. Apa putra yang Jeng Ayu maksudkan ini Dave, ya?” tanya Eva dengan penuh hati-hati.
“Bukan, Jeng Eva. Aku kebetulan punya dua orang putra. Nah adiknya Dave ini kebetulan cocok sama Anara kalau aku liat-liat jadinya aku mau jodohin putraku ini sama Anara. Tapi kayaknya batal ya jeng karena masalah ini. Mungkin kalau saat ini enggak mungkin, aku cuman bisa berdoa aja, siapa tau memang mereka berdua beneran berjodoh.”
Ternyata sampai saat ini pun Ayu masih tetap mengharapkan anaknya bisa menjadi suami dari Anara, meskipun Ayu sudah tahu jika karena masalah ini Anara bisa memblacklist keluarga Ayu untuk menjadi keluarganya kelak saat berumah tangga. Untuk masalah ini, jujur saja Eva tak bisa melakukan apa-apa. Eva hanya bisa melihat bagaimana ke depannya nanti. Apakah memang Anara belum mau menikah dan tetap mau melanjutkan studinya atau mungkin saja Anara langsung mencari orang baru yang bisa mengobati segala lukanya. Hati manusia bisa berubah-ubah, bukan? Yang terpenting saat ini bagi Eva adalah melihat putrinya bahagia.
“Kita serahin aja semuanya sama Anara ya, Jeng. Siapa tau nanti Anara berjodoh dengan anak Jeng Ayu ini. Kalaupun enggak hubungan kekeluargaan kita juga pastinya akan tetap berjalan dengan baik. Kita pastinya bisa tetep temenan. Anara juga katanya mau melanjutkan studinya terlebih dahulu.”