Sebuah keputusan besar sepertinya yang hari ini Eva ambil. Tahu apa keputusan tersebut? Menemui Ayu. Yap, benar sekali! Ayu adalah sahabat dekatnya. Ayu adalah sahabat yang selama ini ia idam-idamkan menjadi mertua dari Anara sang putri. Namun ternyata apa yang terjadi? Semuanya hampir saja terwujudkan, sayangnya putra dari Ayu sangat b******k sekali menjadikan Anara putrinya sebagai yang kedua.
Tentu saja Eva menemui Ayu seorang diri, tak ada yang ia beritahu. Itu sebuah hal yang sangat mungkin, bukan? Pasalnya jika Eva memberitahu orang lain pastinya tidak ada yang setuju dengan keputusan Eva ini. Mereka menganggap buang-buang energi padahal yang dimaksudkan oleh Eva hanya bersilaturahmi sambil adu bacot sedikit saja. Menyumpahserapahi lelaki b******k yang sudah membuat putrinya menderita sebegitu dalamnya.
Hari ini semua sudah nampak seperti normal, ya setidaknya Damares sudah kembali sibuk dengan urusan kantor serta urusan bisnisnya. Semalam juga Damares meminta izin kepada Eva untuk ke luar kota demi membuka cabang baru, namun Damares sendiri yang masih ragu-ragu dengan izinnya dikarenakan kondisi Anara yang belum memungkinkan juga.
“Honey!”
Lamunan Eva seketika hilang saat bahunya ditepuk beberapa kali, membuat bedak yang sedang ia pegang melayang bebas dan menyisakan retakan bedak tersebut. Wajah Eva seketika memerah, bukan karena senang atau sedang terharu tetapi karena menahan amarah yang berapi-api karena ulah dari sang suami.
Apakah Damares tidak tahu jika harga bedak tersebut mahal? Apalagi bedak tersebut baru dibeli sekitar lima hari yang lalu alias masih baru, dan sekarang sudah berantakan serta hancur di lantai dengan keretakan di mana-mana. Mengenaskan sekali, bukan?
“Damares! Argh! Bedakku jadi pecah, Res! Ini bedak masih baru, baru sekali dipakai. Kamu tau ini harganya berapa? Mahal banget, ish! Sekarang karena kamu ngagetin aku jadinya bedak ini rusak, kan? Jadinya bedak ini pecah! Argh! Udahlah, aku kesel banget sama kamu!” pundung Eva sembari menggelembungkan pipinya, sebal dengan sang suami yang pagi-pagi sudah membuat mood-nya hancur saja.
Ya walaupun usia keduanya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi karena sudah memiliki anak cantik yang sukses, namun keduanya memang masih sangat romantis satu sama lain, harmonis dan selalu menunjukkan kasih sayang mereka berdua satu sama lainnya.
“Ih jangan salahin aku dong, Honey! Kan aku enggak salah apa-apa, aku cuman mau manggil kamu doang kok tadi, seriusan deh! Terus kamu malah kaget makanya jatuh dan pecah. Lagian kamu kenapa gak dipegang yang bener coba?” sahut Damares membela dirinya sendiri yang tak mau disalahkan karena pada dasarnya ia memang tak merasa bersalah sama sekali. Ia merasa jika ini memang sudah takdir saja, sudah seharusnya terjadi.
Mendengar pembelaan diri dari Damares, seketika Eva langsung melotot dengan lebar. “Apa kamu bilang hah? Ini bukan salah kamu? Kamu juga malah nyalahin aku karena aku enggak bener? Enak aja ih enggak mau disalahin gitu! Aku sama sekali enggak salah, ya! Kamu udah tau kalau aku lagi ngelamun malah dikagetin gitu aja! Bikin istrinya refleks kaget terus bedaknya jatuh kan kalau kayak gini jadinya!”
Perempuan selalu benar, itu adalah stigma yang selalu saja dianggap pacuan oleh Eva. Jika Damares benar dan Eva salah, Eva akan membalikkan keadaan dan berujung melakukan hal yang sama. Perempuan selalu benar, pria selalu salah. Sudah, sesimpel itu.
“Ya lagian kamu ini ngelamunin apa sih, Sayang? Apa hal yang begitu pentingnya di otak kamu sampai-sampai kamu berpikir sekeras itu coba? Apa hal yang menghantui pikiran kamu hm?” tanya Damares dengan suara lembut. Kembali sebagai lelaki penurut yang selalu mengalah karena tidak mau membuat masalah.
“Enggak apa-apa,” jawab Eva dengan cepat karena tidak mau ketahuan suaminya. Jika ketahuan sudah pasti semua yang sudah ia rencanakan bisa gagal, bukan? Dan Eva tak mau itu semua terjadi.
“Ya udah ... mungkin emang kamu lagi pengin ngelamun aja kali ya, padahal ada cowok ganteng di depan mata gini!” gombal Damares dengan mengedipkan satu matanya saja.
Eva hanya bisa menggeleng-geleng kepala, sampai kapan pun usia mereka memang bisa bertambah dan akan selalu bertambah tetapi mereka akan selalu meromantiskan hubungan di antara keduanya.
“Kamu tuh harusnya inget umur, Damares. Kita ini udah enggak muda lagi, kita ini udah tua. Buktinya kita udah punya anak secantik Anara. Buktinya kita udah punya anak yang suksesnya enggak tertandingi. Kadang aku tuh bangga sama diri aku sendiri karena udah berhasil melahirkan dan mendidik anak loh, Res! Bangga karena Anara membanggakan kita banget deh pokoknya. Anara emang yang terbaik dan enggak tertandingi. Anara itu anak yang super pengertian dan dia bisa buat orang tuanya bangga. Kamu bangga apa enggak sama dia?” tanya Eva dengan tangan yang langsung memeluk pinggang sang suami.
Damares pun seketika langsung membalas pelukan dari istrinya. Hubungan tuh memang seperti ini, baru saja mereka bertengkar perkara bedak yang jatuh begitu saja dan pecah lalu seketika hubungan mereka adem-adem saja dan tenang seolah tidak terjadi masalah sebelumnya.
“Aku yang pasti bangga banget sama kamu karena udah bertahan sejauh ini sama aku, Sayang. Aku bertahan sama kamu karena kamu yang selalu ada di samping aku. Kamu yang enggak pernah ninggalin aku di saat aku susah. Kamu yang terbaik deh pokoknya. Terus juga selain itu pastinya aku bangga sama Anara karena aku merasa berhasil sebagai orang tua. Anak tunggal yang biasanya dicap manja ternyata bisa mandiri, ternyata bisa berdiri menggunakan kakinya sendiri. Semua orang tua pasti bangga kalau punya anak seperti Anara. Anara memang yang terbaik. Dia enggak pernah bikin masalah apa pun.”
Bersyukur sekali ya Anara memiliki orang tua seperti mereka ini. Orang tua yang selalu bangga kepada anaknya, orang tua yang selalu melihat perjuangan apa yang selalu dilakukan oleh anaknya serta orang tua yang selalu menomorsatukan anaknya. Memang ini adalah definisi keluarga yang harmonis. Ini semua adalah rasa cinta yang tumbuh di tengah keluarga membuat satu sama lain merasa bangga dengan keluarganya masing-masing.
“Anara memang yang terbaik. Aku enggak pernah menyangka kalau dari rahimku ini aku bisa melahirkan sosok wanita mandiri yang luar biasa. Putri kebanggan kita semua.”
Orang tua memang seperti itu, selalu menganggap jika anaknya adalah yang terbaik, selalu bangga dengan semua yang anaknya lakukan karena mereka menganggap anaknya adalah berlian yang harus mereka jaga. Bahkan mereka lupa jika saat ini ada masalah yang lumayan besar yang mengelilingi kehidupan mereka. Mereka lupa jika nyatanya ada banyak sekali hubungan yang dipertaruhkan karena ulah anaknya. Sebenarnya bukan ulah anaknya juga, karena anaknya pun seorang korban yang tak tahu apa-apa.