Setelah sekian lama berlarut dalam kesedihan, saat ini Anara berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi kuat. Tak payah lagi memikirkan tentang cinta yang membuat lara, tak payah lagi memikirkan banyak hal yang memang pada kenyataannya tidak pantas untuk dipikirkan. Untuk apa coba? Menambah pikiran saja. Anara tidak mau menjadi lemah. Anara tidak mau menjadi wanita bodoh yang dipermainkan oleh cinta. Anara wanita kuat dan Anara berhak bahagia dengan banyak hal, bukan hanya cinta saja.
Jika kalian bertanya apa rencana Anara ke depannya, maka akan Anara jawab dengan lantang jika ia akan meneruskan studinya seperti yang sudah dibahas dahulu, sebelum Anara sakit hati. Anara memang ingin melanjutkan studi S2 lalu setelah itu kembali mengurus bisnisnya dan kembali menjadi wanita karir, usai itu semua jika memang Anara ingin kembali melanjutkan studinya di bangku S3 maka akan Anara lakukan. Anara memang bukan tipikal wanita yang memikirkan masa depan, ia memikirkan satu sampai dua langkah saja, tidak langsung semuanya dipikirkan. Toh, Tuhan punya rencananya masing-masing, bukan?
"Anara ... Nak! Kamu mau ke kantor hari ini? Kamu yakin kalau kamu sanggup ke kantor? Kamu udah mendingan?" Segudang pertanyaan langsung dilemparkan oleh Eva saat Anara keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan untuk sarapan beserta sang ayah yang sudah mulai mengisi piringnya dengan lauk.
Wajah Eva memang terlihat sangat khawatir sekali nampaknya, khawatir karena ia tahu jika keadaan sang putri belum benar-benar kembali seperti semula. Sang putri memang masih sangat rapuh dan tidak sanggup kembali ke realita yang ada.
Seorang gadis yang sudah siap dengan kemeja putih dilapisi blazer berwarna cokelat itu langsung tersenyum menatap manik mata sang ibu, menepuk secara halus lengan ibunya sembari berkata, "Mamah tenang aja. Mamah enggak perlu khawatir sama keadaan Anara. Anara baik-baik aja kok, Mah. Anara bisa lewati ini semua dengan baik. Emang sekarang Anara belum sembuh seratus persen dari luka patah hati itu, tapi Anara yakin suatu saat nanti semuanya kembali baik-baik saja. Dimulai dari sekarang aja dulu, Anara kembali seperti dulu, pasti nantinya Anara bakalan kembali beradaptasi, bukan? Anara yakin bisa sembuh dari luka ini."
Terasa deep sekali apa yang diucapkan oleh gadis berusia dua puluh empat tahun itu, bukan? Jujur dengan keadaannya. Jujur dengan apa yang ia rasakan, lalu berusaha bangkit dari semua rasa sakit. Anara memang ditakdirkan untuk kuat. Anara memang ditakdirkan untuk menjadi hebat. Tak boleh sampai kalah dengan banyak orang yang ingin menghancurkannya.
"Bener apa yang dibicarakan sama Anara, Mah. Anara pasti kuat. Anara pasti bisa lewati ini semua dengan baik. Papah yakin kalau nantinya Anara bisa balik seperti dahulu, jadi Anara yang periang dan cerdas. Semangat Sayang!"
Damares yang tadinya tak turut timbrung dalam percakapan seketika langsung menyambar begitu saja ucapan dari sang putri, memberikan semangat jika badai pasti akan segera berlalu. Bukankah memang semuanya akan seperti itu? Akan kembali normal, akan kembali seperti semuanya. Semenyakitkan apa pun luka yang terjadi sekarang, pasti nantinya semua akan baik-baik saja. Jadi tenang saja, yang perlu dilakukan hanya enjoy dan berusaha untuk keluar dari pintu gerbang kesengsaraan ini.
Mendengar sang suami yang pro dengan sang putri, Eva hanya bisa menarik napas panjang lalu menghembuskan napasnya secara perlahan. "Ya udah kamu boleh ke kantor deh. Tapi inget ya, jangan sampai kamu kerja terus-menerus. Mamah tau salah satu kebiasaan buruk kamu itu kerja terus-menerus saat ada masalah, dan mamah enggak suka itu semua. Kerja sesuai porsinya aja. Jangan terlalu diforsir. Jangan terlalu dipaksakan. Istirahat sama makannya jangan lupa, oke?"
Memang pada dasarnya seorang ibu itu sedikit banyaknya rempong ya. Selalu memerhatikan hingga detail apa yang dilakukan oleh keluarganya, apalagi putrinya. Bahkan untuk mengizinkan Anara yang sudah biasa bekerja sedari dulu harus diingatkan banyak hal. Ya walaupun memang semua yang dikatakan benar adanya, namun Anara tak perlu diingatkan sebegitu panjangnya. Anara akan baik-baik saja. Tak perlu mengkhawatirkan apa pun juga.
"Udah mamah tenang aja. Anara akan tetap baik-baik aja kok, Mah. Anara akan patuh sama apa yang mamah omongin, oke? Sekarang kita sarapan yuk!"
***
Heels hitam dengan tinggi sekitar lima sentimeter memasuki sebuah gedung elit di kota metropolitan ini, membuat semua orang yang ada di dalam gedung itu seketika menatap ke arah ketukan antara heels dengan lantainya. Mereka seketika menunduk saat mengetahui siapa yang menggunakan heels hitam itu, memberikan tanda kehormatan karena sang bos sudah tiba. Bos yang tentunya saja memiliki perusahaan ini.
"Selamat pagi, Bu Anara. Bagaimana kabarnya, Bu? Baik?" tanya seorang resepsionis yang sedang bertugas. Senyum resepsionis itu terlihat sangat lebar usai bertanya kepada sang pemilik kantor tempatnya bekerja.
"Selamat pagi. Kabar saya baik. Kamu sendiri gimana, baik? Kalau capek, jangan lupa istirahat ya. Istirahat juga digunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kamu kecapekan karena kerja," jawab Anara yang merembet seperti apa yang diucapkan oleh ibunya. Astaga! Nampaknya Anara sudah mulai terkena virus ibu-ibu. Ini semua tidak bisa dibiarkan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh si bos membuat sang resepsionis tersenyum manis, mungkin agak sedikit kaget karena ada bos secare ini di dalam perusahaan, mau bertanya kabar kepada para asistennya bahkan sampai mengingatkan untuk istirahat. Baik sekali, bukan?
"Kabar saya juga kebetulan baik, Bu. Terima kasih atas perhatiannya ya, Bu. Saya pasti akan istirahat dengan baik."
Nampak sudah kelar dengan obrolannya bersama sang resepsionis, Anara kembali berjalan tegak dengan penuh wibawa. Ia langsung memasuki lift khusus yang hanya bisa digunakan untuknya menuju ke ruangannya. Melakukan pekerjaan yang memang sudah ia rencanakan.
"Pagi, Bu Anara." Sang sekretaris Anara seketika menyapa saat Anara sudah keluar dari lift, menundukkan kepalanya sembari tersenyum lebar kepada sang gadis berblazer cokelat itu.
"Pagi! Ada jadwal apa hari ini? Apakah ada meeting?" tanya Anara dengan suara lembutnya. Jujur saja, pasti pekerjaan Anara menumpuk banyak usai meliburkan diri dari masalah kantor. Ia ingin menyelesaikan itu semua sesegera mungkin supaya tidak terlalu banyak lagi, dan semua jadwal bisa berjalan dengan semestinya lagi.
"Sejak beberapa hari lalu sekretaris Pak Arga selalu menelpon, Bu. Bertanya bagaimana dengan meeting ibu bersama Pak Arga, apakah jadi atau tidak. Apakah hari ini ibu bisa meeting dengan Pak Arga? Jika bisa, saya akan memberikan konfirmasi kepada sekretaris Pak Arga."
Ah iya ... Arga Satria Megantara, Anara hampir saja lupa dengan nama itu karena terlalu banyak meliburkan diri. Sudah lama sekali ia tidak bertengkar dengan pria aneh yang sangat menyebalkan itu, sudah saatnya kini ia membuang-buang energi dan waktu demi sang musuh.
Senyum licik berhasil membingkai indah wajah Anara. Gadis yang sedang merencanakan hal buruk itu seketika langsung menjentikkan jemarinya sembari mengatakan, "Saya bisa meeting dengan Arga!"