"Baik, Bu. Kalau begitu akan saya konfirmasi ke sekretarisnya Pak Arga." Sang sekretaris menunduk sopan, mencatat sesuatu di tabletnya, lalu berbalik menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat Anara kembali bersuara.
"Oh iya, tunggu."
"Ya, Bu?"
Anara memutar kursi kebesarannya, menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela lantai sepuluh. Senyumnya mengembang pelan-pelan, senyum yang sudah berminggu-minggu tidak mampir ke wajah cantiknya. "Sampaikan ke mereka, saya yang akan datang ke kantornya. Hari ini, jam dua siang. Tidak usah di sini, tidak usah di tempat netral. Langsung di markasnya."
Sang sekretaris membelalak. Astaga, apakah telinganya salah dengar? Selama ini bosnya selalu menolak mentah-mentah apa pun yang berbau perusahaan seberang. Mendengar namanya saja bisa membuat mood sang bos rusak seharian. Sekarang malah mau datang sukarela ke sarang musuh?
"A-ada yang kurang, Bu? Maksud saya ... baik, Bu. Langsung saya sampaikan." Wanita itu buru-buru keluar sebelum bosnya berubah pikiran.
Kalian pasti bingung, bukan? Kenapa Anara tiba-tiba seantusias ini? Begini, perlu kalian ketahui, setiap orang punya cara healing masing-masing. Ada yang healing ke pantai, ada yang healing ke gunung, ada yang healing dengan belanja sampai kartu kreditnya menangis minta ampun. Sedangkan Anara? Cara healing gadis ini adalah bertengkar dengan musuh bebuyutannya. Murah, praktis, dan terbukti ampuh mengembalikan semangat hidup.
Dave boleh pergi, Mikhaella boleh hilang, tetapi Arga Satria Megantara akan selalu ada di seberang sana, setia menunggu untuk diajak berkelahi. Mengharukan sekali, bukan?
Usai menyeruput kopi susu pesanannya sampai habis, Anara berdiri dan merapikan blazer cokelatnya. Cermin besar di sudut ruangan memantulkan sosoknya. Masih cantik, masih wibawa, hanya sedikit lebih kurus dari biasanya. Tidak apa-apa. Kurusnya Anara pun tetap estetik, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
***
Tepat pukul setengah dua, Anara keluar dari lift lobi, melenggang anggun dengan heels lima sentinya. Semua karyawan yang berpapasan menunduk memberi hormat, dan Anara membalasnya dengan senyum manis. Gadis itu menyeberang jalan dengan santai, seperti orang mau piknik, padahal sebentar lagi ia akan masuk ke wilayah perang.
Gedung di seberang itu berdiri dengan sombongnya. Tinggi menjulang dengan kaca-kaca gelap yang memantulkan cahaya siang, seolah ikut meremehkan siapa pun yang lewat di depannya. Persis seperti pemiliknya.
Resepsionis gedung itu langsung salah tingkah begitu melihat siapa yang baru masuk. "Selamat siang, N-Nona Anara ...?" Sampai harus mengecek dua kali. Wajar saja geger. Seluruh penghuni dua gedung ini tahu betul bagaimana hubungan kedua bos mereka. Tender diperebutkan, klien dipindahkan, dan sekarang bos perusahaan seberang datang langsung ke markas? Ini seperti kucing masuk ke kandang anjing dengan sukarela.
"Siang. Saya ada janji dengan bos kalian, jam dua. Ruang meeting-nya di mana?"
"A-ah, di lantai delapan, Nona. Biar saya antarkan—"
"Tidak usah. Saya bisa sendiri." Anara melambaikan tangan seperlunya, lalu masuk ke lift dengan dagu terangkat. Biarkan saja semua mata memandang. Anggap saja sedang jadi selebriti dadakan.
***
Di lantai delapan, seorang pria sudah menunggu di depan ruang meeting dengan kemeja rapi dan satu tangan masuk saku celana. Rambutnya disisir ke belakang, dan tatapannya ... ya, tatapan tengil itu tidak berubah sama sekali. Arga Satria Megantara, dalam bentuk aslinya.
"Wah," seru pria itu begitu lift terbuka. "Tamu langka. Biasanya Anda mengusir orang suruhan saya dari lobi."
"Bosen ngusirinya. Makanya gue datang sendiri, biar hemat tenaga."
Arga hanya tersenyum miring, lalu mempersilakan Anara masuk ke ruang meeting. Keduanya duduk berhadapan, dipisahkan meja panjang yang entah kenapa terasa seperti garis perbatasan negara.
"Saya tidak akan buang-buang waktu Anda," buka Arga sembari mendorong sebuah map tebal ke seberang meja. "Anda masih ingat tender Pratama Group?"
Anara mendengus. "Gimana gue bisa lupa. Itu tender yang lo rebut dari tangan gue."
"Saya tidak merebut. Saya menang. Beda tipis memang, tapi artinya jauh." Arga menyisir rambutnya dengan jemari, lalu melanjutkan dengan nada datar, "Pihak Pratama membaca ulang semua proposal yang masuk saat tender. Termasuk proposal Anda. Mereka menyukai satu bagian dari proposal Anda, dan mereka mau bagian itu dikerjakan oleh perusahaan Anda."
Jemari Anara yang sedari tadi mengetuk meja berhenti bergerak. "Maksud lo?"
"Proyek ini terlalu besar untuk dikerjakan satu perusahaan. Pihak Pratama meminta kami bekerja sama. Kalau saya menolak, mereka akan membuka tender ulang dari nol, dan semua usaha saya kemarin hangus." Arga mengatakannya dengan wajah seperti disuruh menelan pil pahit satu toples. "Jadi disinilah kita sekarang."
Di dalam dada Anara, sedang berlangsung parade kembang api akhir tahun. Bertahun-tahun ia bermimpi melihat wajah kalah pria ini, dan hari ini mimpi itu datang sendiri menghampiri. Tuhan memang adil. Tuhan memang sayang sama Anara.
"Jadi ... kesimpulannya, lo butuh gue?" tanya Anara dengan senyum selebar-lebarnya.
"Bukan butuh. Terpaksa."
"Terjemahin deh. Terpaksa itu artinya butuh, tapi gengsi."
Arga memijit pangkal hidungnya. "Anda ini memang selalu senang memperkeruh suasana, ya."
"Gue cuma senang menikmati momen." Anara menyandarkan punggung, menatap pria di hadapannya penuh kemenangan. "Lo ingat enggak, dulu lo pernah nyuruh gue introspeksi diri. Katanya suruh mikirin gimana kinerja perusahaan gue, gimana cara gue ngelola, karena klien itu maunya perusahaan yang oke. Nah, sekarang kliennya sendiri yang bilang proposal gue bagus. Jadi menurut lo, gue masih perlu introspeksi enggak, Pak Arga?"
Telinga Arga tampak memerah. Bagus. Poin satu untuk Anara.
"Kirim semua dokumennya ke kantor saya," lanjut Anara sembari berdiri, merapikan blazernya. "Saya pelajari dulu. Jawabannya menyusul."
"Anda sengaja membuat saya menunggu."
"Wah, pinter. Lo memang pinter kalau soal itu." Anara berbalik dan melangkah ke pintu. Namun belum sempat tangannya menyentuh gagang, suara Arga kembali terdengar.
"Nona Anara."
Anara menoleh. "Apalagi?"
Arga masih duduk di tempatnya, tatapannya mengamati Anara dari ujung rambut sampai ujung heels. "Tiga minggu Anda tidak kelihatan. Saya kira perusahaan Anda akhirnya bangkrut juga." Pria itu memiringkan kepala. "Ternyata tidak. Cuma kurusan saja."
DEG!
Jantung Anara mencelos tanpa izin. Bukan karena deg-degan yang aneh-aneh, tentu saja bukan. Tetapi karena kaget. Tiga minggu ia menghilang untuk menyembuhkan luka, dan dari semua orang, justru musuhnya yang sadar ia menghilang? Musuhnya yang sadar ia kurusan?
"Peduli amat," balas Anara seketika, menutupi keterkejutannya. "Urusin aja proyek lo, sana. Jangan ngurusin berat badan orang."
Arga mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Saya cuma mengamati. Mengamati lawan itu bagian dari strategi, Nona."
"Mengamati kok sampai tahu orang kurusan. Aneh."
Anara membuka pintu dan keluar sebelum wajahnya semakin panas. Di dalam lift yang kosong, gadis itu menatap pantulan dirinya di dinding kaca. Pipinya tidak seharusnya sehangat ini. Tidak boleh.
Musuh kok tahu-tahu perhatian. Musuh kok sadar orang menghilang tiga minggu. Anara menggeleng keras-keras sampai rambut curly cokelatnya bergoyang ke mana-mana. Tidak boleh ada pikiran aneh-aneh. Musuh ya musuh. Titik. Tidak pakai koma.