Keesokan paginya, seluruh karyawan di lantai sepuluh bisik-bisik tidak jelas. Penyebabnya satu: bos mereka masuk kantor sambil bersenandung.
Ya, kalian tidak salah baca. Anara Clarys Graceva, yang beberapa minggu terakhir menghilang dan kembali dengan wajah datar, pagi ini menyapa resepsionis sambil senyum-senyum, bahkan sempat memuji pot bunga di sudut lobi. Pot bunga, Saudara-saudara. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bu, jadi bagaimana jawaban untuk pihak Pak Arga?" tanya sang sekretaris hati-hati begitu Anara sampai di ruang kerja. "Sekretarisnya sudah menelepon dua kali pagi ini."
"Bilang masih saya pelajari." Anara duduk di kursinya dengan santai. "Biarkan dia menunggu. Biar dia tahu bagaimana rasanya jadi pihak yang butuh."
Memang menyebalkan sekali gadis ini kalau sedang pegang kendali. Tapi biarlah, ia berhak. Setelah bertahun-tahun tender-nya direbut berkali-kali, sekali-kali berada di atas angin tidak akan membuat langit runtuh, bukan?
Sepanjang siang, Anara benar-benar mempelajari dokumen dari Arga. Dan jujur saja, proyeknya memang sebesar itu. Angkanya bisa membuat perusahaannya naik dua tingkat. Sayangnya, ada satu harga yang harus dibayar: berbulan-bulan koordinasi dengan manusia paling menyebalkan sedunia.
Anara memijat pelipisnya. Uang besar di depan mata, tapi maharnya adalah kesabaran. Berat. Berat sekali.
***
"Anara, kamu sudah makan?"
Telepon dari sang mamah datang tepat saat Anara baru sadar bahwa perutnya kosong sejak pagi. Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat, dan makan siangnya hanyalah kopi susu kedua. Jangan ditiru, ya. Kopi bukan nasi, tidak bisa membuat kenyang.
"Udah, Mah," jawab Anara bohong. Dosa kecil untuk kebaikan bersama.
"Jangan bohong, kamu pasti belum makan. Mamah itu yang ngelahirin kamu, mamah tahu banget kalau kamu lagi kerja pasti lupa makan." Eva di seberang sana langsung memergoki. "Sekarang turun, makan yang bener. Kemarin kamu janji sama mamah, ingat enggak? Istirahat dan makan jangan lupa. Janji anak manis atau janji palsu?"
Anara meringis. Janji memang gampang diucapkan, susah dijalankan. "Iya, Mah. Bentar lagi Anara turun. Beneran."
"Yaudah. Oh iya, hari ini mamah kangen aja sama suara kamu. Kamu baik-baik aja kan, Sayang? Kamu jangan terlalu capek. Kalau ada apa-apa, cerita sama mamah. Jangan dipendem sendiri kayak kemarin-kemarin."
Dada Anara menghangat. Di saat dunia sedang tidak bersahabat, selalu ada satu nomor yang menelepon hanya untuk bilang kangen. "Anara baik, Mah. Anara sayang mamah."
"Iya, mamah juga sayang kamu. Makan dulu, sana. Jangan cuma bilang iya."
Telepon ditutup. Anara menatap ponselnya lama, lalu akhirnya benar-benar berdiri dan turun untuk makan. Sesederhana itu memang cinta seorang ibu bekerja, cukup satu telepon dan anaknya mau makan dengan benar.
***
Malam itu hujan turun seperti langit sedang curhat.
Anara baru keluar dari ruang kerjanya pukul sembilan malam. Analisis dokumen Pratama membuatnya lupa waktu, dan sekarang seluruh gedung sudah sepi, tinggal lampu-lampu darurat yang menyala temaram. Di lobi, sang satpam jaga malam menunduk hormat saat ia lewat.
"Hati-hati, Bu. Hujannya deras."
"Iya, Pak. Makasih."
Masalahnya dimulai di parkiran. Anara menekan tombol kunci, masuk ke mobil, memutar kunci ... dan mesinnya hanya batuk dua kali lalu mati. Ia mencoba lagi. Batuk, batuk, mati. Percobaan ketiga, keempat, hasilnya sama. Mobil keluaran terbaru miliknya memilih malam ini untuk mogok, di tengah hujan badai, di parkiran yang sudah kosong melompong.
"Ya Tuhan ... kenapa sekarang, sih," rutuk Anara sembari meraih ponsel. Sisa baterai tiga persen. Aplikasi ojek online tidak menemukan satu pun pengemudi yang mau menembus hujan sebesar ini. Sebelum sempat ia menelepon siapa-siapa, layar ponselnya meredup dan mati total.
Sempurna. Malam yang sempurna sekali.
Anara menunduk ke setir mobilnya. Boleh tidak, sih, sehari saja hidupnya tidak ada dramanya? Sehari saja, Tuhan. Sehari.
TOK! TOK! TOK!
Anara tersentak. Di balik kaca jendelanya yang berembun, berdiri sesosok pria dengan payung hitam besar. Kaca diturunkan sedikit, dan wajah menyebalkan itu muncul dari balik payung.
"Mobil sebagus ini mogok juga, ya." Arga Satria Megantara, lengkap dengan senyum tengilnya. "Baru pulang dari kantor, lihat ada mobil bos seberang nangkring sendirian. Saya pikir maling."
"Lo yang maling!" Anara turun dari mobil, langsung disambut cipratan air hujan. "Kantor lo seberang, parkiran gue di sini, ngapain lo masuk-masuk ke sini?!"
"Parkiran saya penuh karena ada acara di gedung saya. Saya titip mobil di sini, ternyata malah dapat tontonan gratis." Arga mendekat, membuka kap mobil Anara tanpa izin, mengamati mesinnya dengan mata menyipit. Lima menit ia mengutak-atik sesuatu di dalam sana, lalu menyerah. "Saya pebisnis, Nona. Bukan montir."
"Nah, itu baru bener. Akhirnya lo ngaku ada yang enggak bisa lo kerjain."
Arga menatap Anara datar. Hujan semakin deras, petir menyambar di kejauhan, dan gadis itu berdiri menggigil dengan ponsel mati di tangannya. "Naik mobil saya. Saya antar."
"Enggak usah."
"Nona, ini jam sembilan malam, hujan badai, ponsel Anda mati. Anda mau bermalam di parkiran? Besok kalau ada berita CEO perusahaan seberang pingsan kedinginan, rugi saya. Nanti tidak ada yang marah-marah di lobi saya."
"Banyak omong! Gue bilang enggak usah ya enggak—" GUUURRR! Petir besar menggelegar, membuat Anara refleks menutup telinga dan menunduk. Ketika ia bangkit lagi, Arga sudah membukakan pintu mobilnya, payung digenggam di atas kepala Anara supaya gadis itu tidak kehujanan.
"Masuk, Nona. Saya tidak akan menculik Anda. Menculik Anda itu kerjaan rugi, tebusannya tidak sebanding dengan pusingnya."
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Mobil Arga hangat dan wangi, dan Anara membenci kenyataan itu. Ponselnya diisi daya di mobil, tapi ia malas menyalakannya. Hanya ada suara hujan dan wiper yang bergerak kiri-kanan dengan sabar.
"Apartemen Anda di mana?" tanya Arga akhirnya.
Anara menyebutkan nama apartemennya, lalu kembali diam. Beberapa menit kemudian, entah dari keberanian mana, Arga membuka suara lagi.
"Proposal Anda bagus. Saya baca waktu tender. Bagian yang dipilih Pratama itu memang bagian paling kuat dari semua proposal yang masuk."
Anara menoleh, curiga. "Lo lagi nyindir atau lagi muji?"
"Memuji. Beda tipis memang, tapi artinya jauh." Pria itu memakai kalimatnya sendiri dari kemarin. "Saya pebisnis, Nona. Saya tahu mana proposal bagus dan mana yang cuma tebal doang."
"... Gue tahu proposal gue bagus."
"Sombong."
"Fakta."
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam, ada sesuatu yang mirip tawa kecil dari kursi pengemudi. Anara pura-pura tidak dengar. Mobil berhenti di depan lobi apartemennya, hujan sudah tinggal rintik.
"Makasih," ucap Anara cepat sekali, hampir tidak terdengar, sembari membuka pintu.
"Apa? Saya tidak dengar."
"Bilangin makasih, ih! Jangan bikin gue ngulang!" Anara membanting pintu mobil, dan dari balik kaca ia bisa melihat pria itu tertawa sebelum akhirnya melaju pergi meninggalkan apartemennya.
Di dalam lift menuju kamarnya, Anara menatap pantulan wajahnya sendiri. Aneh. Aneh sekali malam ini. Musuh kok mau repot-repot mengantar pulang. Musuh kok bisa tertawa seperti itu.
Anara menggeleng keras untuk kedua kalinya dalam dua hari. Besok ia harus segera menjawab tawaran proyek itu, supaya semuanya kembali ke jalur yang benar: jalur perang. Hubungan musuh yang sehat itu harus sering bertengkar, bukan saling mengantar pulang kehujanan. Iya, kan? Iya, dong.