Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum sang sekretaris sempat melepas jaket, Anara sudah memanggilnya masuk ke ruang kerja.
"Jadwalkan meeting dengan pihak Arga. Kita terima tawaran proyeknya." Anara menyilangkan tangan di dada, wajahnya penuh wibawa seperti jenderal yang baru memutuskan strategi perang. "Tapi ada syaratnya. Meeting-nya di sini. Di kantor kita. Biar dia yang nyeberang, biar dia yang merasakan jadi tamu."
Sang sekretaris mengangguk cepat sambil mencatat. "Baik, Bu. Jam berapa?"
"Jam sepuluh. Dan tolong bilang ke semua orang di lobi, jangan panik kalau nanti ada musuh masuk gedung. Tetap sambut dengan sopan, kita ini perusahaan yang punya adab. Walaupun tamunya tidak punya malu."
Baik, Bu. Sopan sekali, Bu. Pesan damai yang sangat tulus dari seorang bos untuk musuh bebuyutannya.
Beginilah Anara. Kalau sudah memutuskan, jalannya lurus seperti kereta api. Semalaman ia menimbang-nimbang, dan kesimpulannya sederhana: menolak proyek sebesar ini hanya karena gengsi sama saja bunuh diri bisnis. Anara bukan orang bodoh. Anara bisa berperang sambil bekerja sama. Gampang itu.
***
Pukul sepuluh kurang lima menit, lobi gedung Anara mendadak heboh dengan suara bisik-bisik yang tidak kompak.
"Itu ... bukannya bos seberang, ya?"
"Iya bener. Ngapain dia ke sini? Mau nge-rebut gedung kita juga?"
Arga Satria Megantara melangkah masuk dengan setelan rapi dan wajah setenang danau, seolah tidak mendengar apa pun, diikuti sang sekretaris yang membawa map dan laptop. Resepsionis Anara menyambut dengan senyum yang kaku seperti baru dilipat. "S-selamat pagi, Pak Arga. Ruang meeting di lantai sembilan, Pak. Silakan."
"Pagi. Terima kasih." Arga bahkan sempat tersenyum. Lihat, musuh saja bisa bersikap manis di depan umum. Manusia memang penuh dengan topeng, bukan?
Di ruang meeting lantai sembilan, Anara sudah menunggu di ujung meja, lengkap dengan kopi susu di sisi kanannya. Posisi duduknya sengaja dipilih yang membelakangi jendela, supaya wajahnya sulit dibaca. Pelajaran dari sinetron, tapi lumayan ampuh.
"Pagi, Pak Arga. Silakan duduk." Formal sekali. Karyawan yang mengantar minuman sampai bingung, ini bosnya kenapa tiba-tiba pakai bapak-bapakan.
"Pagi, Nona. Terima kasih sudah mau menerima tawarannya." Arga duduk, membuka map, dan perang pun dimulai dengan damai yang sangat dibuat-buat.
"Sebelum tanda tangan, ada beberapa poin yang saya mau ubah," buka Anara.
"Tentu saja ada. Saya sudah menduganya." Arga bahkan tidak mengangkat wajah. "Poin berapa yang Anda mau ubah? Sebutkan saja semuanya sekalian, biar cepat."
Dan dimulailah pertempuran klausa demi klausa yang sengit. Anara maunya jadwal koordinasi mingguan diadakan di kantornya. Arga maunya gantian, seminggu di sini, seminggu di sana. Anara maunya presentasi ke pihak Pratama dilakukan oleh timnya. Arga menolak, katanya klien harus melihat dua pihak kompak, bukan satu pihak pamer. Anara meminta laporan progres harian. Arga menawar jadi tiga hari sekali, katanya laporan harian hanya akan membuat dua sekretaris mereka naik darah.
Satu jam berlalu. Dua jam. Kopi susu Anara sudah diganti sekali. Kedua sekretaris hanya bisa saling pandang dengan tatapan lelah kaum pekerja yang menyaksikan dua bos kekanak-kanakan memperebutkan hal-hal sepele.
"Baik, poin tujuh belas, kita sepakati laporan tiga hari sekali," ucap Arga akhirnya. "Sekarang poin terakhir. Soal pembagian porsi. Anda minta empat puluh persen. Itu terlalu besar, Nona."
"Terlalu besar dari mana? Pratama milih perusahaan gue karena bagian yang paling mereka suka. Artinya yang paling laku itu bagian gue. Wajar dong kalau porsinya lebih gede."
"Bagian Anda memang paling laku. Tapi fondasinya tetap proyek saya. Tanpa proyek ini, bagian Anda tidak akan jalan." Arga menyodorkan kalkulasinya. "Tiga puluh tujuh persen. Angka final."
"Tiga puluh sembilan. Angka final dari gue."
"Tiga puluh delapan. Kalau Anda masih nego, saya turunkan jadi tiga puluh enam."
"Ya ampun, lo ini pelit banget, sih!" Anara mendengus kesal, menatap angka-angka di kertas dengan mata menyipit. Hitungan tiga puluh delapan persen itu sebenarnya sudah di atas perkiraan terbaiknya, tapi mana mau dia mengaku. "Yaudah deh. Tiga puluh delapan. Tapi meeting koordinasi pertama di kantor gue. Titik."
"Deal." Arga mengulurkan tangannya.
Anara menatap tangan itu sejenak. Perang bertahun-tahun, dan sekarang mereka harus berjabat tangan tanda sepakat. Aneh sekali hidup ini. Kemarin benci-bencian, hari ini jadi partner. Tapi ya sudahlah, demi tiga puluh delapan persen, Anara rela.
Jabat tangan itu singkat dan kaku. "Mulai hari ini, gencatan senjata diumumkan," ucap Arga.
"Gencatan senjata sementara," koreksi Anara. "Abis proyek ini selesai, perang jalan lagi."
"Wah, tentu. Saya juga sudah kangen sebenarnya."
Dua sekretaris menarik napas lega berbarengan. Akhirnya, setelah dua jam empat puluh menit, dokumen ditandatangani. Proyek gabungan dua perusahaan yang selama ini perang dingin resmi dimulai. Kalau kata orang-orang, tidak ada musuh yang abadi, yang abadi hanyalah tender.
***
Urusan selesai tepat waktu makan siang. Anara mengantar tamunya sampai ke lift, karena sopan santun harus tetap dijaga walaupun hati menolak. Kebetulan sekali, lift yang datang kosong melompong, dan lift satunya entah sedang ngantri di lantai berapa. Maka terjadilah hal yang paling dihindari dua insan di dunia ini: naik lift berdua saja.
Sunyi. Sepi. Hening. Hanya ada suara mesin lift dan angka lantai yang turun satu per satu dengan lambatnya. Anara menatap lurus ke pintu lift. Arga menatap layar ponselnya. Dua orang yang biasanya ribut seperti pasar malam, sekarang tidak tahu harus ngomong apa.
"Nona."
"Apa?"
"Waktu Anda menghilang tiga minggu itu," ucap Arga tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, "gedung seberang jadi sepi. Tidak ada yang marah-marah di lobi. Tidak ada yang menggerutu soal tender. Sekretaris saya sampai bosan, katanya hidupnya kurang garam."
Anara melirik tajam. "Terus?"
"Terus ... saya cuma mau bilang, senang Anda sudah kembali." Nada suaranya datar, tapi entah kenapa kalimatnya tidak terdengar seperti sindiran. "Menang tender tanpa ada yang protes itu rasanya hambar. Seperti sayur kurang garam."
DING!
Pintu lift terbuka tepat waktu, menyelamatkan Anara dari kewajiban membalas kalimat aneh itu. "Sama-sama. Hati-hati di jalan, Pak Arga. Jangan sampai nyasar ke kantor gue lagi."
"Lift ini turun ke lobi, Nona. Saya tidak akan nyasar." Arga melangkah keluar, lalu menoleh sebentar. "Oh iya. Mobil Anda sudah bisa dinyalakan?"
"Udah. Tadi pagi langsung gue bawa ke bengkel. Lo pikir gue bakal mogok dua kali di depan lo? Enak aja."
"Bagus. Kalau mogok lagi, jangan sungkan telepon. Siapa tahu saya sedang butuh tontonan gratis lagi."
"Keluar sana!" Anara menunjuk pintu lobi, dan pria itu pergi sambil tertawa pelan. Musuh macam apa yang senangnya menggodai lawan seperti ini? Tidak punya adab memang.
Anara berbalik menuju lift untuk kembali ke lantai sepuluh, dan tepat saat itulah ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Awalnya Anara mengira itu pesan promosi atau penawaran pinjaman yang biasa merajalela. Namun saat matanya membaca isi pesan itu, seluruh tubuh gadis itu mendadak kaku di depan pintu lift.
"Ra, ini Mikhaella. Gue tahu lo pasti masih benci sama gue, dan gue ngerti banget kenapa. Gue cuma minta lima menit buat ngomong sama lo. Kapan pun lo siap. Gue tunggu."
DEG!
Lift di depannya terbuka dan menutup lagi, tidak ditumpangi. Anara hanya berdiri mematung, menatap layar ponselnya seperti menatap hantu. Nama itu. Nama yang sudah berminggu-minggu tidak muncul di hidupnya. Nama yang terakhir kali ia dengar diiringi tamparan dan kata perpisahan.
Mikhaella.
Sahabat yang memilih percaya pada orang lain di malam paling hancur dalam hidup Anara.