Kafe lobi itu kecil saja, dengan empat meja dan lampu kuning temaram yang membuat semua wajah terlihat lebih lelah dari aslinya. Baristanya sudah setengah bersih-bersih saat dua wanita cantik itu masuk dan duduk di meja paling pojok, tanpa memesan apa pun.
Lima menit. Waktu yang sangat pendek untuk membuka luka yang sudah berminggu-minggu menganga. Tapi bagi Mikhaella, lima menit ini lebih berharga daripada lima tahun.
"Gue mulai dari yang paling penting." Mikhaella menarik napas panjang, suaranya pelan tapi jelas. "Gue minta maaf, Ra. Bukan minta maaf yang asal bunyi. Gue minta maaf karena gue nampar lo tanpa nanya apa-apa dulu. Karena gue manggil lo ... dengan kata-kata itu. Karena dari semua orang di dunia ini, gue yang paling tahu lo kayak apa, tapi gue malah percaya sama cowok yang bohongin kita berdua."
Anara diam. Tangannya di pangkuan saling menggenggam sampai buku-buku jarinya memutih.
"Seminggu abis malam itu, gue terus mikir. Ada yang aneh, Ra. Lo kaget banget waktu liat dia. Lo bahkan manggil dia Dave, bukan Mas Va. Orang yang tahu dia selingkuh enggak mungkin sekaget itu." Suara Mikhaella mulai bergetar, dan ia berhenti sebentar untuk menahan tangisnya. "Akhirnya gue paksa dia ngomong. Semuanya. Dan dia ngaku, Ra. Dua tahun dia pacarin gue, dua tahun juga dia jalan sama lo, dan lo enggak pernah tahu gue itu siapa. Gue enggak pernah tahu lo itu siapa. Kita berdua dibodohin dengan rapi banget."
Air mata Mikhaella akhirnya jatuh juga, dan buru-buru ia seka dengan punggung tangan. "Cincinnya udah gue balikin. Tunangan itu bubar malam itu juga, walaupun keluarga gue sempet minta gue mikir ulang. Gue enggak mau, Ra. Gue enggak bisa nikah sama orang yang bisa bohong serapi itu ke dua wanita sekaligus. Gue takut nanti ada yang ketiga, keempat."
DEG!
Jadi begitu. Tunangan itu bubar. Selama ini Anara mengira Mikhaella tetap melanjutkan semuanya, mengira sahabatnya memilih Dave dan hidup bahagia. Ternyata tidak. Ternyata Mikhaella juga kehilangan. Ternyata malam itu bukan hanya hancur untuk Anara, tapi hancur untuk mereka berdua.
"Nyokap gue juga nyesel, Ra. Dia nyesel banget udah ngusir lo kayak gitu." Mikhaella menunduk dalam. "Tapi gue ke sini bukan buat nyokap gue, dan bukan buat Dave juga. Gue ke sini buat gue. Gue enggak tahan kalau lo pikir gue masih benci lo. Gue enggak tahan kalau persahabatan kita berakhir dengan lo mikir gue anggap lo orang ketiga. Karena lo bukan, Ra. Lo korban, sama kayak gue."
Lima menit sudah lewat entah sejak kapan. Barista kafe mulai menutup kasir, tapi tidak ada dari mereka berdua yang sadar.
Sekarang giliran Anara. Gadis itu menatap lurus ke mata sahabatnya, dan untuk pertama kalinya malam ini, ia bersuara.
"Lo tahu apa yang paling sakit buat gue, Mik?" Suara Anara pelan, tapi setiap katanya jelas. "Bukan kehilangan Dave. Cowok kayak dia mah enggak rugi gue kehilangan. Yang paling sakit itu ... waktu lo tampar gue, lo enggak nanya dulu. Bertahun-tahun kita sahabatan, Mik. Lo tahu gue benci banget jadi orang ketiga. Lo tahu gue anaknya lurus-lurus aja. Tapi di malam itu, satu detik aja lo enggak mikir, jangan-jangan Anara juga ditipu."
Mikhaella hanya bisa menangis mendengarnya. Tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan. Karena memang semuanya benar.
"Gue kangen sama lo, Mik. Sumpah, gue kangen banget." Air mata Anara akhirnya ikut turun. "Tapi kangen sama bisa balik kayak dulu itu dua hal yang beda. Luka gue belum kering. Jadi gue belum bisa janji besok kita langsung nge-mall bareng lagi kayak enggak ada apa-apa. Gue butuh waktu."
"Gue tahu. Gue ngerti." Mikhaella mengangguk berkali-kali. "Gue enggak minta lebih, Ra. Gue cuma minta lo tahu yang sebenarnya. Sisanya ... gue tunggu. Seminggu, sebulan, setahun, gue tunggu."
Sebelum pergi, Mikhaella mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Dua cup boba, masih dingin, embunnya menetes di plastik kemasan.
"Ini. Rasa brown sugar yang lo selalu pesen. Gue beli dua, sekalian buat gue, tapi kayaknya gue enggak berani nemenin lo minum hari ini." Mikhaella tersenyum kecil di balik air matanya. "Makasih udah kasih gue lima menit, Ra. Jaga diri baik-baik."
Mikhaella pergi, dan Anara membiarkan dua cup boba itu di atas meja cukup lama. Lalu, pelan-pelan, tangannya meraih satu cup, menusuk sedotannya, dan menyeruputnya dalam diam.
Manis. Masih manis seperti dulu.
***
Malam itu Anara tidak pulang ke apartemennya. Kakinya membawanya ke rumah yang lebih hangat, rumah yang selalu punya cahaya di terasnya: rumah mamah dan papah.
"Ya Tuhan, anak mamah pulang!" Eva langsung memeluk putrinya di pintu seperti putrinya baru pulang perang bertahun-tahun. "Kok enggak bilang-bilang? Untung mamah masak banyak. Mas! Anakmu pulang!"
Damares muncul dari ruang tengah dengan koran di tangan, dan wajahnya langsung berbinar. "Wah, langka. Biasanya dipanggil sepuluh kali baru nongol, ini datang sendiri. Ada yang mau kamu minta lagi, ya?"
"Pah!" Anara mempout, dan kedua orang tuanya tertawa. Astaga, boleh tidak keluarga ini berhenti menuduhnya? Tapi ya sudahlah, memang rekam jejaknya buruk.
Di meja makan, di sela-sela suapnya, Anara menceritakan semuanya. Soal proyek gabungan dengan perusahaan seberang, soal Mikhaella yang datang dan cerita semuanya, soal tunangan yang sudah bubar. Eva dan Damares mendengarkan dengan serius, sesekali saling pandang.
"Terus kamu jawab apa, Nak?" tanya Damares lembut.
"Anara bilang Anara butuh waktu, Pah. Anara kangen dia, tapi Anara belum bisa pura-pura enggak ada apa-apa."
"Jawaban yang bagus." Damares mengangguk bangga. "Memaafkan itu proses, bukan hadiah yang harus dibagi cepat-cepat. Kamu lakukan dengan benar."
Eva mengusap punggung tangan putrinya. "Mikhaella juga berani ya datang ke kamu. Anak itu sebenarnya baik, Sayang. Dia juga korban. Mamah doakan kalian berdua bisa baik-baik lagi, dengan cara dan waktu kalian sendiri."
"Iya, Mah." Anara tersenyum. Rasanya lega sekali menceritakan semuanya.
Suasana kembali hangat, sampai akhirnya Eva menyeruput tehnya dan berkata dengan nada yang terlalu santai untuk sebuah berita besar.
"Oh iya, Ra. Jeng Ayu masih kekeuh loh pengen ngenalin kamu sama anaknya."
Sumpit Anara berhenti di tengah jalan. "Anaknya yang mana, Mah?! Jeng Ayu itu mamanya Dave!"
"Bukan yang itu, ya! Yang adiknya!" Eva mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengejar lalat. "Kata Jeng Ayu, adiknya itu beda seratus delapan puluh derajat sama kakaknya. Baik, sopan, pinter, punya perusahaan sendiri yang dia bangun dari nol. Jeng Ayu bilang, anaknya ini tipe pekerja keras, agak dingin memang, tapi hatinya—"
"MAH!" Anara menutup telinganya dengan dua tangan. "Gue baru sembuh dari satu anaknya Jeng Ayu, terus mamah mau nawarin anaknya yang satu lagi?! Mamah pikir gue mau koleksi anaknya Jeng Ayu?!"
"Ya ampun, mamah kan cuma nyampein pesen!" Eva ikut tertawa, dan Damares di ujung meja sudah menggeleng-geleng sambil menyembunyikan senyum di balik gelas kopinya.
"Papah, tolong istrinya dong!" protes Anara.
"Anakmu ini memang menolak perjodohan tapi bukan berarti dia menolak rezeki, Ra," ucap Damares sok bijak, yang langsung membuat istrinya melotot. "Eh, maksud papah ... ya sudah, jangan dipaksa kalau Anara belum mau. Tapi dicatat dulu saja informasinya. Siapa tahu berguna."
"Tuh, dengerin papah kamu. Dicatat aja, enggak usah diapa-apain juga enggak apa-apa."
Anara memandangi kedua orang tuanya dengan wajah pasrah. Keluarga ini memang ada-ada saja. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak malam pertunangan yang hancur itu, Anara pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Mungkin hidup memang begitu, ya. Kadang hancur dulu berantakan, baru pelan-pelan dirapikan lagi. Tidak apa-apa lambat. Yang penting, Anara masih punya rumah untuk pulang.