Hari Senin, hari yang dibenci oleh hampir seluruh karyawan di dunia, hari ini punya makna yang lebih berat lagi di gedung Anara. Pasalnya, hari ini adalah hari bersejarah: untuk pertama kalinya, dua perusahaan yang bertahun-tahun perang dingin akan duduk satu meja dalam meeting koordinasi proyek gabungan.
Karyawan Anara sudah heboh sejak pagi. Tim yang ditunjuk menangani proyek ini bolak-balik mengecek berkas seperti mau ujian nasional. Wajar saja tegang. Ini seperti acara lamaran antara dua keluarga yang dulunya bermusuhan. Semua orang takut salah ngomong.
"Bu, tim dari perusahaan Pak Arga sudah datang. Lima orang. Sudah di ruang meeting lantai sembilan," lapor sang sekretaris dengan wajah tegang.
"Yaudah, kita turun." Anara berdiri dengan tenang, menenteng tablet dan tentu saja kopi susu kesayangannya. "Kenapa muka kalian tegang semua? Santai. Yang perang itu bosnya, bukan kalian."
Gampang sekali ngomongnya, ya.
Sementara itu, di dalam ruang meeting, dua tim yang sudah datang lebih dulu sedang berada dalam situasi paling canggung abad ini.
Awalnya mereka hanya duduk diam seperti patung. Tim Anara di kiri, tim Arga di kanan, tidak ada yang berani membuka suara, seolah ada garis pembatas tak kasat mata di tengah meja yang kalau dilanggar bisa memicu perang dunia.
Sampai akhirnya satu orang dari tim Arga memberanikan diri menyapa. "Eh ... kalian juga disuruh dateng jam setengah sembilan?"
"Iya," jawab tim Anara hampir serempak.
"Sama dong. Padahal bos kami bilang meetingnya jam sembilan."
"Bos kami juga gitu. Ternyata dua-duanya sama-sama takut telat, ya."
Dan dari situlah kebekuan itu pecah. Mereka mulai mengobrol kecil-kecilan, dari soal macetnya jalan pagi tadi, kantin gedung yang mahalnya minta ampun, sampai gosip yang selama ini beredar di dua gedung. Kalian tahu gosip terpanasnya apa? Konon katanya, kedua bos mereka pernah bertengkar di lobi sampai satpam turun tangan. Konon katanya, mereka pernah saling rebut klien sampai kliennya sendiri bingung memilih. Konon katanya ...
"Denger-denger bos kalian galak," bisik tim Arga.
"Galak dari mana, orangnya baik banget. Cuma kalau soal bos kalian aja dia berubah," bela tim Anara. "Bos kalian tuh aslinya gimana, sih? Dingin banget keliatannya."
"Aslinya asik, kok. Suka traktir tim kalau habis lembur. Cuma memang kalau lihat gedung seberang ..." tim Arga menunjuk ke arah jendela, ke arah gedung Anara, "... matanya langsung kayak mau perang."
Dua tim itu saling pandang, lalu sama-sama menggeleng. Ah, para bos. Aneh-aneh saja kelakuannya.
Kehangatan kecil itu harus berakhir ketika Arga Satria Megantara masuk ke ruangan dengan wajah datarnya. Dalam sekejap, semua kembali duduk tegak dengan tampang profesional, seolah barusan tidak ada yang bergosip sama sekali.
Di ruang meeting lantai sembilan, suasana langsung canggung begitu dua tim duduk berhadapan. Tim Anara di sisi kiri, tim Arga di sisi kanan, seperti pertandingan bola. Arga duduk di ujung meja dengan kemeja rapi seperti biasa, dan begitu melihat Anara masuk, pria itu mengangkat alis.
"Pagi, Nona. Tuan rumah yang rajin."
"Pagi, Pak Arga. Tamu yang tidak diundang tapi terpaksa diterima."
Belum juga mulai, sudah begitu. Kedua tim menelan ludah berbarengan.
Meeting dimulai dengan pembagian tugas tahap pertama, dan semuanya lancar ... selama kurang lebih dua belas menit. Setelah itu, perang dimulai dari hal yang paling klasik di dunia proyek: vendor.
"Vendor A sudah sering kerja sama dengan perusahaan saya. Rekam jejaknya bagus, tidak pernah telat, hasilnya rapi," ucap Arga sambil menyorotkan berkas ke tengah meja.
"Vendor A mahal dan lambatnya minta ampun kalau ada revisi," balas Anara. "Vendor B lebih fleksibel, harganya masuk akal, dan mereka berani kasih garansi. Gue lebih pilih B."
"Vendor B belum pernah pegang proyek sebesar ini. Resikonya terlalu tinggi."
"Justru karena belum pernah, mereka bakal mati-matian biar namanya naik. Vendor A udah kekenyangan, kerjanya santai-santai."
"Kita tidak sedang cari vendor yang butuh pembuktian diri, Nona. Kita cari yang pasti."
"Yang pasti-pasti aja lo. Coba sekali-kali berani."
Suasana memanas. Dua tim di kiri-kanan hanya bisa menunduk, mencatat, dan berdoa dalam hati. Ada satu anak magang di sudut ruangan yang sudah pucat pasi, mungkin sedang menyesali semua pilihan hidupnya.
Lalu, di tengah ketegangan itu, Anara tiba-tiba menyeringai. "Data, bukan ego. Kata siapa tuh, kemarin, di depan Pak Handoko?"
Arga terdiam. Terpojok oleh kalimatnya sendiri. Kena, kan.
"... Baik," ucap pria itu akhirnya dengan rahang mengeras. "Kita bandingkan dua-duanya dengan kriteria yang sama. Harga, rekam jejak, kecepatan revisi, garansi. Dua hari. Angka yang bicara, bukan bosnya."
"Nah, gitu dong. Deal."
Dan ruangan itu hening sejenak, karena semua orang di sana baru saja menyaksikan keajaiban: dua bos yang biasanya bertengkar sampai dunia kiamat, hari ini sepakat menyelesaikan masalah dengan adil. Anak magang di sudut sampai mencatat momen itu, barangkali untuk diceritakan ke cucunya kelak.
Sisa meeting berjalan mulus. Pembagian jadwal disepakati, laporan tiga hari sekali dijadwalkan, dan tidak ada korban jiwa sama sekali. Benar-benar kemajuan peradaban.
Usai meeting, ketika semua orang sudah berhamburan keluar, Anara dan Arga berjalan berdampingan ke arah lift. Jarak mereka sopan, tapi tetap saja terasa seperti dua negara yang sedang gencatan senjata di perbatasan.
"Tim Anda tadi ketakutan semua," komentar Arga.
"Tim lo juga. Sama aja." Anara menekan tombol lift. "Oh iya, meeting koordinasi kedua tetap di sini. Jangan bawa tim yang gampang kaget, kasihan."
"Mereka akan belajar. Kalau saya saja tahan bertahun-tahun menghadapi Anda, masa mereka tidak tahan satu meeting."
Lift datang, dan sebelum pintunya menutup, sang sekretaris Anara berlari-lari kecil menghampiri dengan sebuah amplop tebal berwarna krem di tangannya. "Bu, ini tadi datang ke resepsionis. Undangan untuk Ibu."
Anara menerima amplop itu, dan begitu membaca namanya di sampul, wajahnya langsung berubah seperti orang menelan lemon.
Undangan pernikahan. Arabela. Sepupunya yang cantik itu akhirnya benar-benar menikah.
Arga yang berdiri di dalam lift sempat melihat perubahan wajah itu. "Undangan apa sampai wajahnya begitu?"
"Pernikahan sepupu gue," jawab Anara datar.
"Bukannya itu kabar bahagia?"
Anara menatap Arga dengan tatapan yang dalam sekali, tatapan orang yang sudah melihat neraka. "Pak Arga, pernikahan sepupu itu bukan kabar bahagia. Itu undangan resmi untuk diinterogasi massal oleh semua tante di dunia dengan satu pertanyaan yang sama."
Pintu lift menutup, meninggalkan Arga yang tampak berpikir keras, dan Anara yang menatap amplop krem itu seperti menatap surat panggilan pengadilan.
Kembali ke lantai sepuluh, Anara membuka undangan itu sepenuhnya. Hotel Grand Larasati, dua minggu lagi, malam hari. Bagus, mewah, dan penuh jebakan. Gadis itu memotret sampul undangannya dan mengirimkannya ke sang mamah dengan satu pesan singkat: "Mah, undangannya Bela udah dateng."
Balasan Eva datang dalam hitungan detik. "AKHIRNYA! Berarti sekarang kamu harus—"
Anara tidak membaca kelanjutannya. Dia sudah tahu isinya. Semua anak perempuan di dunia ini tahu isinya tanpa perlu membaca.
Satu amplop bisa merusak mood lebih cepat daripada kehilangan tender. Catat itu.