Akhir pekan, Anara pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa dua hal: oleh-oleh kue kering kesukaan Eva, dan amplop krem yang isinya sumber malapetaka.
"Wah, akhirnya undangannya datang juga!" Eva langsung merebut amplop itu dari tangan Anara dan membukanya dengan mata berbinar, seperti membuka paket belanja online. "Hotel Grand Larasati, bagus! Arabela ini memang selera tinggi, sama kayak mamah kamu."
"Sama kayak tantenya," koreksi Damares dari sofa, tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. Ah, suami yang berani.
"Kamu diam aja deh, Mas." Eva melotot sebentar, lalu kembali ke putrinya. "Nanti kamu datengnya sama siapa, Ra?"
"Sama mamah sama papah, lah."
"Maksud mamah, sama pasangan."
Anara menatap langit-langit. "Sama siapa, Mah? Sama tukang boba depan kantor?"
"Ya jangan sama tukang boba juga!" Eva mencibir, lalu duduk mendekat dengan gaya yang Anara kenali dengan sangat baik. Gaya mamah-mamah yang mau membicarakan sesuatu yang serius. "Ra, mamah mau ngomong soal anaknya Jeng Ayu lagi, ya."
"Mah—"
"Dengerin dulu, dengerin dulu." Eva mengangkat tangannya. "Kata Jeng Ayu, anaknya ini sibuk banget ngurus perusahaannya. Jarang pulang, mamanya sampai kangen. Pinter, pekerja keras, agak dingin memang, tapi kata mamanya aslinya perhatian. Terus ganteng loh, Ra. Sayangnya enggak ada fotonya, anaknya anti difoto."
"Anti difoto itu tanda-tanda buronan, Mah."
Damares tertawa sampai korannya jatuh. Eva memukul lengan suaminya dengan bantal. "Ini anak sama bapaknya memang komplotan!"
"Kamu ini, buronan dari mana. Anaknya temen mamah itu baik-baik semua." Eva memutar bola matanya. "Pokoknya mamah titip pesan aja. Jangan langsung ditutup semua pintunya. Siapa tahu memang ada jalan buat kamu."
"Namanya siapa, Mah?" tanya Anara iseng, lebih karena ingin mengukur seberapa niat mamahnya kali ini.
"Nah, itu dia. Jeng Ayu enggak mau kasih tahu dulu. Katanya biar surprise kalau nanti ketemu." Eva mengangkat kedua tangannya. "Mamah juga kesel, loh. Masa mamah sendiri enggak boleh tahu. Padahal ini anak mamah yang mau dijodohin."
"Surprise katanya." Damares nyengir dari balik korannya. "Itu namanya beli kucing dalam karung, Ev."
"MAS! Kamu ini bisa enggak, sih, sehari aja dukung istrimu!"
"Saya dukung kamu terus, Sayang. Tapi saya juga dukung Anara. Ini yang susah, jadi papah memang posisinya serba salah." Damares mengangkat korannya lagi, tanda menyerah sebelum perang. "Yaudah, papah netral. Papah berdiri di tengah-tengah."
"Di tengah-tengah takut dipukul mamah kamu, maksudnya," celetuk Anara.
"Itu juga," akui Damares jujur, yang langsung membuat Eva melempar bantal kedua.
Anara tertawa melihat kedua orang tuanya berdebat kecil. Beginilah rumahnya. Panas satu menit, adem seabad. Dan di tengah tawa itu, untuk sepersekian detik, Anara bertanya-tanya kecil: seperti apa sih anak Jeng Ayu yang satu ini? Tapi pertanyaan itu langsung ia buang jauh-jauh. Tidak boleh kepo. Kepo adalah awal dari jalan menuju perjodohan.
"Mah, serius." Anara menarik napas, lalu bersuara lebih lembut. "Anara udah ada rencana sendiri. Anara mau lanjut S2 dulu. Itu rencana Anara dari dulu, mamah juga tahu. Perusahaan lagi besar-besarnya, abis itu Anara mau sekolah lagi. Jadi soal jodoh-jodohan ... nanti aja, ya."
Ruangan hening sejenak. Eva menatap putrinya lama, lalu akhirnya menghela napas. "Yaudah. Mamah enggak maksa kok. Mamah cuma ... ya namanya juga mamah. Takut kamu sendirian terus." Tangannya mengusap lengan Anara. "Oh iya, satu lagi. Jeng Ayu bilang, Dave masih pengen banget minta maaf langsung ke kamu. Mamah belum jawab apa-apa. Kamu maunya gimana?"
Dada Anara mengetat. Nama itu lagi. "Belum perlu, Mah. Anara udah selesai sama dia."
"Oke. Mamah bilangin gitu ke Jeng Ayu." Eva mengangguk, tidak mendesak. Mamahnya ini memang cerewet, tapi tahu kapan harus berhenti. Itulah salah satu dari seribu alasan Anara sayang padanya.
***
Senin berikutnya, hasil perbandingan vendor keluar, dan hasilnya ... seri.
Ya, kalian tidak salah baca. Dua vendor itu nilainya beda tipis sekali, sampai tim yang menghitung bingung sendiri. Akhirnya diputuskan dengan satu kriteria penentu: garansi revisi. Vendor B menang.
"Kali ini," ucap Arga lewat sambungan telepon dengan nada seperti orang merelakan satu nyawa. "Tapi kalau mereka telat sekali saja, saya yang pilih penggantinya. Tanpa voting."
"Deal. Kalau mereka bagus, lo traktir gue kopi susu sebulan."
"... Anda ini sebenarnya bos perusahaan atau anak kos?"
"Dua-duanya bisa, Pak. Dua-duanya bisa."
Siangnya, Anara sedang meninjau berkas di ruang kerjanya ketika telepon dari resepsionis lobi masuk.
"Bu Anara, maaf mengganggu. Ada Bapak Davendra yang ingin bertemu dengan Ibu. Katanya ... teman lama."
DEG!
Seketika suhu ruangan itu seperti turun sepuluh derajat. Davendra. Dave. Pria itu datang ke kantornya. Ke wilayahnya. Tanpa izin.
Anara menutup telepon dengan satu kalimat dingin: "Bilang tunggu di lobi. Saya turun."
Di lobi, Anara melihatnya. Dave berdiri di sana dengan kemeja rapi, wajah pucat, dan tangan yang tidak berhenti memainkan ujung jasnya. Pria yang dulu membuatnya menangis berminggu-minggu, sekarang berdiri di lobi kantornya seperti orang mau antre wawancara kerja.
"Ra—"
"Tiga menit." Anara berhenti dua langkah di hadapannya, tangan menyilang. "Di sini, berdiri, tiga menit. Mulai dari sekarang."
Dave menelan ludah. "Gue ... gue cuma mau minta maaf, Ra. Gue tahu gue salah. Gue tahu apa pun yang gue omongin enggak bakal bisa ngebales apa yang udah gue lakuin sama lo. Tapi gue harus ngomong langsung. Gue enggak bisa tidur mikirin ini."
"Lobi kantor gue bukan tempat buat lo curhat jam segini," potong Anara datar. Beberapa karyawan yang lewat sudah melambatkan langkahnya, dan satpam di posnya kembali pura-pura menatap CCTV. Astaga, drama gratis memang tidak pernah sepi penonton.
"Gue tahu. Makanya gue enggak minta sekarang." Dave merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kartu nama, lalu meletakkannya di meja resepsionis karena Anara tidak mengulurkan tangan sama sekali. "Besok jam makan siang, gue tunggu di kafe biru sebelah gedung lo. Kalau lo dateng, gue jelasin semuanya, habis itu lo boleh pergi dan enggak usah ketemu gue lagi seumur hidup. Kalau lo enggak dateng ... gue ngerti. Gue enggak bakal nyariin lo lagi."
Dave menunduk dalam, lalu pergi keluar dari gedung itu. Tepat saat itu juga, dari arah berlawanan, Arga Satria Megantara masuk ke lobi bersama sekretarisnya, rupanya ada urusan koordinasi ke gedung ini.
Dua pria itu berpapasan di pintu. Arga melirik sekilas, lalu matanya menemukan Anara yang masih berdiri kaku di tengah lobi dengan wajah badai.
"Tamu siapa itu?" tanya Arga begitu sampai di hadapan Anara.
"Bukan urusan lo."
"Kalau sampai mengganggu proyek saya, itu jadi urusan saya." Tapi entah kenapa, kali ini nada Arga tidak menggoda. Pria itu menatap Anara sejenak, lalu mengangguk kecil. "Tapi kalau Anda bilang bukan, ya sudah. Meeting review dokumen, Nona. Ruang meeting lantai sembilan masih gratis, kan?"
Anara memandang punggung Dave yang menghilang di balik pintu kaca, lalu menatap kartu nama di meja resepsionis.
Kafe biru. Besok. Jam makan siang.
Datang, atau tidak?