Malam itu, dari balkon apartemennya, Anara menelepon satu-satunya pria yang selalu bisa dipercayanya: papahnya.
"Pah, kalau ada orang yang nyakitin kita, terus dia minta kesempatan buat minta maaf ... menurut papah, harus Anara kasih enggak?"
Di seberang sana, Damares diam sejenak. Anara bisa membayangkan papahnya menurunkan korannya, memikirkan jawaban dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan papahnya itu, tidak pernah asal menjawab kalau ditanya hal penting.
"Papah balik nanya sama kamu," ucap Damares akhirnya. "Kamu butuh enggak permintaan maaf itu? Kalau pintunya kamu tutup sendiri, kamu bakal lebih lega atau malah nyesel?"
Anara memikirkannya. "... Anara enggak tahu, Pah. Tapi Anara capek kalau harus ngehindar terus. Dia dateng ke kantor Anara, Pah. Kalau Anara enggak temuin, dia bakal dateng lagi. Anara enggak suka ada hal yang gantung."
"Nah, itu jawabannya." Suara Damares terdengar hangat. "Temuin, kalau itu bisa bikin kamu beres sama diri kamu sendiri. Bukan buat dia, Ra. Buat kamu. Permintaan maaf itu kadang bukan soal orangnya pantas dimaafin atau enggak. Tapi soal kita yang mau berhenti bawa barang berat."
"Makasih, Pah. Anara sayang papah."
"Papah juga sayang kamu. Oh iya, jangan bilang mamah kamu soal ini dulu, nanti mamah kamu dateng ke kafenya bawa payung buat mukulin cowok itu."
Anara tertawa untuk pertama kalinya malam itu. Sumpah, papahnya ini ada-ada saja. Tapi bisa jadi benar juga, sih.
***
Keesokan siangnya, Anara datang ke kafe biru itu. Tepat waktu, tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Gadis itu datang dengan blazer rapi dan hati yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dave sudah menunggu di meja sudut, langsung berdiri begitu melihat Anara masuk. Di hadapannya ada dua gelas, satu di antaranya kopi susu yang belum disentuh. Dipesankan duluan. Sayang sekali, usaha yang terlambat dua tahun.
"Lo beneran dateng." Suara Dave lega bercampur tidak percaya.
"Tiga puluh menit. Abis itu gue pergi, dan lo enggak usah nyariin gue lagi. Sesuai omongan lo kemarin."
Dave mengangguk cepat. Keduanya duduk, dan untuk beberapa detik hanya ada suara mesin kopi yang berisik di belakang.
"Gue minta maaf, Ra." Dave memulai dengan suara bergetar. "Gue tahu gue pengecut. Gue pacarin Mikhaella, gue juga jalan sama lo, dan gue bohong ke kalian berdua selama dua tahun. Gue selalu punya alasan buat diri gue sendiri. Gue takut kehilangan Mikhaella karena keluarga kami dekat. Gue takut kehilangan lo karena ... karena sama lo, gue ngerasa jadi orang yang lebih baik. Gue mikir gue bisa jaga dua-duanya. Ternyata gue cuma orang serakah yang takut milih."
Anara diam, mendengarkan sampai habis. Tidak memotong, tidak meledak. Dulu, ia mungkin akan menangis mendengar kalimat-kalimat itu. Sekarang, kalimat itu terdengar seperti radio tetangga: terdengar, tapi tidak masuk.
"Gue enggak nyangka malam itu lo dateng," lanjut Dave. "Gue juga enggak nyangka Mikhaella ternyata sahabat lo. Gue ... gue hancurin dua orang sekaligus dalam satu malam, dan gue tahu maaf doang enggak cukup. Nyokap gue sampai sekarang masih marah. Mikhaella udah ngebalikin cincinnya. Semua hancur karena gue. Dan yang paling enggak bisa gue maafin adalah ... lo harus nanggung malu yang seharusnya jadi punya gue."
Kafe itu masih berisik seperti biasa, tapi di meja sudut itu waktu seperti berhenti.
Anara diam sejenak, memutar-mutar gelasnya. Ada satu pertanyaan yang dari dulu ingin ia tanyakan, dan hari ini ia akhirnya punya nyali untuk mengeluarkannya.
"Gue cuma mau tahu satu hal, Dave." Suara Anara pelan. "Dua tahun kita jalan. Kenapa dia yang lo perkenalin ke keluarga, dan gue yang lo sembunyiin?"
Dave terdiam lama sekali, sampai Anara mengira pria itu tidak akan menjawab.
"Karena gue pengecut," ucap Dave akhirnya, jujur sampai menyakitkan. "Sama Mikhaella, semuanya udah disiapin. Keluarga dekat, jalannya jalan tol, gue tinggal lewat. Sama lo ... gue harus berjuang dari nol, dan gue enggak pernah punya keberanian buat itu. Lo terlalu baik buat orang yang enggak berani berjuang, Ra. Sekarang gue sadar itu."
Anara mengangguk pelan. Sakit? Tentu. Tapi setidaknya kali ini jujur. Dan kejujuran yang pahit ternyata lebih mudah ditelan daripada bohong yang manis.
"Udah?" tanya Anara akhirnya. Dave mengangguk pelan.
"Sekarang giliran gue." Anara menatap lurus ke mata pria itu. "Dengerin baik-baik, Dave, karena gue cuma bakal ngomong sekali. Gue sayang sama lo, dulu. Gue percaya sama lo sampai hal-hal kecil yang enggak pernah gue kasih ke orang lain. Dan lo bayar itu semua dengan bikin gue ditampar di depan semua orang, dicemooh, diusir, dan dibilang orang ketiga. Padahal di cerita ini, gue enggak salah apa-apa."
Dave menunduk dalam, tidak berani menatap.
"Tapi gue dateng ke sini bukan buat nambahin rasa bersalah lo. Gue dateng buat nutup pintunya." Anara menarik napas. "Gue maafin lo, Dave. Bukan karena lo pantas. Tapi karena gue capek. Gue capek bawa-bawa nama lo di kepala gue, capek marah, capek nanya kenapa. Gue mau kepala gue kosong buat hal-hal yang lebih penting. Jadi mulai hari ini, kita berdua enggak punya urusan apa-apa lagi. Lo jalan lo, gue jalan gue."
"Ra ... kita masih bisa—"
"Jangan selesaikan kalimat itu." Anara mengangkat satu tangannya, dan Dave langsung terdiam. "Gue maafin lo, tapi gue enggak lupa. Bedain dua hal itu."
Anara berdiri, merogoh dompetnya, dan meletakkan uang pas satu gelas kopi susu di atas meja. Kopi susu pesanan Dave itu tidak ia sentuh sama sekali.
"Kopi susu gue, gue bayar sendiri. Biar enggak ada utang apa pun di antara kita." Gadis itu merapikan blazernya. "Jaga diri, Dave. Jangan bohong lagi sama orang yang sayang sama lo. Kesempatan kayak gini enggak semua orang dapet."
Dan Anara melangkah keluar dari kafe itu, melewati pintu kaca, meninggalkan pria yang dulu menjadi dunianya, duduk sendirian dengan dua gelas kopi yang mendingin.
***
Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, Anara diam sejenak. Air matanya turun juga akhirnya, tapi kali ini beda. Kali ini bukan air mata patah hati. Ini air mata orang yang baru saja menurunkan koper berat yang sudah lama ia pikul ke mana-mana.
Lega. Ya Tuhan, ternyata rasanya seperti ini.
Anara menyeka wajahnya, menyalakan mesin, dan mengetik pesan singkat ke nomor mamahnya sebelum melaju.
"Mah, Anara udah ketemu Dave. Udah selesai semua. Anara baik-baik aja. Jangan khawatir, dan tolong jangan bawa payung."
Balasan Eva datang dalam hitungan detik: "Mamah bangga sama kamu, Sayang. Tapi mamah tetap siapin payung, buat jaga-jaga."
Anara tertawa di tengah macet. Keluarganya memang obat paling ampuh di dunia.
Sesampainya di kantor, sang sekretaris langsung menyambutnya dengan jadwal. "Bu, besok Pak Arga dan timnya review tahap pertama di sini. Jam sembilan. Ruang meeting lantai sembilan sudah saya pesan."
"Bagus." Anara mengangguk, mengambil map jadwalnya dengan langkah ringan.
Perang dengan musuh boleh berlanjut. Setidaknya yang satu itu perang yang membuatnya hidup, bukan perang yang membuatnya hancur. Bedakan dua hal itu juga.