"Bu, ada kabar buruk."
Kalimat pembuka yang paling tidak disukai semua bos di dunia itu keluar dari mulut sang sekretaris, dua jam setelah meeting review tahap pertama berjalan dengan sangat mulus. Terlalu mulus, rupanya. Semesta memang tidak suka melihat Anara bahagia terlalu lama.
"Vendor B baru saja menelepon. Mereka ... membatalkan kontrak, Bu. Katanya ada proyek lain yang nilainya lebih besar, dan mereka sanggup bayar penalti."
Ruang meeting yang tadinya cerah langsung mendung. Tim Anara dan tim Arga yang masih berkumpul di sana saling pandang dengan wajah pucat. Sosialisasi tahap pertama tinggal empat hari lagi. Empat hari, dan vendor utamanya kabur begitu saja seperti orang tidak tahu diri.
"Vendor A?" tanya Arga langsung.
"Sudah saya hubungi. Mereka baru bisa dua minggu lagi, Pak." Salah satu anggota tim Anara menjawab dengan suara bergetar.
Arga menatap Anara, dan Anara menatap balik. Tidak ada yang saling menyalahkan, padahal dua hari lalu mereka baru saja perang soal vendor ini. Ajaib memang, kalau ada musuh bersama, musuh lama bisa jadi teman seperjuangan.
"Oke," ucap Anara akhirnya, berdiri dan menggulung lengan blazernya. "Semua tenang. Proyek ini enggak batal cuma karena satu vendor penakut. Kita cari penggantinya malam ini juga."
"Malam ini?" Ada yang berani bertanya dengan suara kecil.
"Malam ini." Anara menatap satu per satu wajah di ruangan itu. "Siapa yang punya kenalan vendor, keluarkan semua kontaknya. Kita bagi daftarnya, kita telepon satu per satu. Yang lapar, pesan makan sekarang. Malam ini kantor kita jadi markas perang."
***
Dan malam itu, lantai sepuluh berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun: markas perang gabungan dua perusahaan musuh bebuyutan.
Telepon berbunyi di mana-mana. Daftar kontak dibagi dua, tim Anara menelepon sisi kiri, tim Arga sisi kanan. Sekretaris Anara dan sekretaris Arga bahu-membahu mencatat di papan tulis, dua orang yang biasanya canggung kalau bertemu, malam ini kompak seperti saudara kembar.
Bahkan anak magang yang kemarin pucat pasi di ruang meeting itu ikut turun tangan. Dengan suara bergetar ia menyodorkan daftar kontak dari relasi organisasi kampusnya. Daftarnya memang tidak ada yang tembus, satu pun tidak. Tapi setidaknya ia berani maju di saat orang-orang seniornya sedang panik, dan keberanian itu berbuah manis: tepukan di bahu dari dua bos sekaligus, plus satu kotak ayam geprek khusus dari Anara. Mungkin itu hari terbaik dalam hidup magangnya, yang kelak akan ia ceritakan ke teman-temannya dengan sedikit dilebih-lebihkan.
Pukul delapan malam, kotak-kotak makanan pesanan datang. Dan tentu saja, bahkan soal makanan pun dua bos ini harus berdebat dulu.
"Siapa yang pesan tumisan dan salad semua?" Anara menatap kotak makanannya dengan ngeri. "Kita lagi butuh tenaga, bukan lagi mau diet."
"Saya yang pesan. Makan berat jam segini membuat ngantuk, Nona. Kita butuh otak, bukan kenyang." Arga membuka kotak saladnya dengan tenang.
"Lo makan kayak mau pensiun."
"Anda makan seperti mau demo." Arga melirik kotak ayam geprek Anara. "Pedas begitu, nanti meeting sambil ke toilet."
"YA BIARIN! Geprek itu sumber kekuatan!"
Dua tim yang sedang makan di meja panjang hanya bisa saling pandang dan diam-diam tertawa. Kalau tidak melihat sendiri, siapa yang percaya dua bos ini kemarin masih saling berebut tender seperti berebut tanah warisan.
Pukul setengah sepuluh, keajaiban datang dari arah yang tidak disangka: kontak lama Anara. Sebuah vendor menengah yang dulu pernah membantunya saat merintis perusahaan, ketika perusahaannya masih kecil dan semua orang meremehkannya. Vendor itu bersedia, waktunya pas, timnya solid.
Masalahnya satu: harganya di atas anggaran.
Di sinilah Arga masuk. Pria itu mengambil alih telepon, dan selama dua puluh menit berikutnya, seluruh lantai sepuluh menyaksikan pertunjukan gratis berjudul seni menawar harga. Pelan, runtut, tanpa emosi, sampai akhirnya harga itu turun ke angka yang masuk akal.
"Deal. Besok pagi kontraknya dikirim." Arga menutup telepon dan menatap Anara. "Beres."
Anara menatap pria itu beberapa detik. "Lo tadi negonya ... lumayan."
"Lumayan?" Arga mendengus. "Itu tadi mahakarya, Nona. Hargai sedikit."
"Iya, iya. Bagus. Kerja bagus, Pak Arga." Anara mengacungkan jempol dengan sengaja berlebihan, dan untuk kesekian kalinya, pria menyebalkan itu tertawa kecil.
Pukul sepuluh malam, ketika semua beres dan tim satu per satu pulang, Anara dan Arga berdiri di depan lift dengan wajah sama-sama lelah.
"Nona pernah gagal?" tanya Arga tiba-tiba, entah dari mana.
Anara meliriknya. "Pertanyaan apa itu jam segini?"
"Vendor malam ini. Anda tahu mereka dari masa merintis. Berarti Anda benar-benar membangun perusahaan ini dari nol." Arga menatap angka lift yang turun perlahan. "Saya cuma penasaran. Pernah gagal?"
Anara diam sejenak. "Pernah. Dua kali hampir bangkrut di tahun pertama. Semua klien kabur, tinggal gue sama dua karyawan yang kasihan sama gue." Ia tersenyum tipis mengingatnya. "Tapi gue bertahan. Karena menurut gue, yang namanya jatuh itu bukan buat ditangisin, tapi buat pijakan biar naik lebih tinggi."
Arga menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. "Jawaban yang bagus."
"Lo sendiri?"
"Sama." Hanya itu jawabannya, tapi entah kenapa terasa cukup.
Lift datang. "Sampai besok, Nona. Tim yang bagus hari ini."
"Jangan biasain." Anara masuk lift, dan sebelum pintunya menutup, ia menambahkan, "Tapi ... makasih. Buat nego tadi."
Pintu lift menutup sebelum Arga sempat menjawab, dan Anara bersandar ke dinding lift dengan senyum yang tidak bisa ia jelaskan. Gencatan senjata itu ternyata tidak seburuk yang ia kira. Sedikit. Sedikit saja, jangan kebanyakan.
***
Empat hari kemudian, sosialisasi tahap pertama berjalan dengan mulus.
Vendor pengganti itu bekerja seperti pasukan yang lapar kemenangan. Semua sudut acara rapi, jadwal ketat, dan Pak Handoko yang datang meninjau tidak berhenti tersenyum dari awal sampai akhir.
"Ini baru namanya duo," ucap Pak Handoko sambil menjabat tangan Anara dan Arga bergantian. "Dengar-dengar vendornya sempat kabur dan kalian bereskan dalam semalam? Tim saya sampai kagum."
"Kerja sama yang baik, Pak," jawab Arga diplomatis.
"Kerja sama yang dipaksa keadaan," tambah Anara jujur, yang membuat Pak Handoko tertawa geli. Beliau ini sepertinya sudah hafal kalau dua bos ini memang bahan bakarnya bertengkar.
Malamnya, ketika Anara baru saja berbaring dengan badan remuk, ponselnya bergetar. Pesan dari sang mamah.
"Jangan lupa Sabtu ini nikahan Arabela! Dress kamu sudah siap? Jangan sampai kalah sama pengantinnya, tapi jangan lebih cantik juga, nanti dibilang cari perhatian. Pokoknya pas saja. Mamah sudah siapkan jawaban kalau ada tante yang tanya kamu kapan nikah."
Anara tertawa membaca pesan itu. Jawaban yang disiapkan mamahnya? Justru itu yang paling ia takutkan.
Sabtu ini. Hotel Grand Larasati. Neraka interogasi keluarga, tinggal dua hari lagi.