Hotel Grand Larasati malam itu bersinar seperti istana di negeri dongeng. Lampu kristal, bunga di mana-mana, dan tamu-tamu berpakaian mewah yang berdatangan tanpa henti.
Arabela memang tidak pernah tanggung-tanggung. Sepupu Anara itu berdiri di pelaminan dengan gaun yang megah, dan lihatlah, bahkan di hari pernikahannya pun kukunya cantik sempurna. Dari dulu memang begitu, dunia boleh runtuh, kuku harus tetap paripurna.
"Ra! Lo dateng!" Arabela langsung memeluk Anara begitu giliran mereka bersalaman. "Gue takut lo enggak dateng, tahu."
"Enggak mungkin gue absen di hari lo akhirnya diambil orang, Bel." Anara memeluk balik sepupunya itu. "Bahagia, ya. Lo pantas dapetin yang terbaik."
"Lo juga, Ra." Arabela menatapnya dalam-dalam, lalu berbisik, "Lo keliatan beda, tau. Lebih ... hidup. Gue seneng liatnya. Oh iya, soal cowok brengsek itu, gue cuma mau bilang satu hal: gue benci banget jadi orang yang benar. Sumpah, gue benci. Gue pengennya salah, biar lo enggak sakit."
Anara tertawa di tengah haru. Sepupunya ini memang tidak pernah berubah.
Namun kebahagiaan di pelaminan itu harus dibayar mahal di meja tamu. Belum juga piringnya penuh, pasukan tante-tante sudah mengepung dari berbagai arah seperti adegan film perang.
"Anaraaa, makin cantik aja! Kapan nyusul sepupumu ini?"
"Umur segini itu sudah waktunya loh, Nak. Jangan terlalu pilih-pilih, nanti keburu tua."
"Tante punya kenalan anak dokter, mau tante kenalin? Ganteng loh!"
Anara tersenyum. Tersenyum, dan terus tersenyum, sampai pipinya kram. Di sebelahnya, Eva justru sibuk memamerkan kecantikan putrinya sendiri, dan Damares memilih jalan ninja: pura-pura sibuk dengan sop buntutnya. Pengkhianat.
"Anara fokus karier dulu, Tante. Perusahaannya lagi besar-besarnya," jawab Anara dengan jawaban template nomor tiga.
"Aduh, karier boleh tinggi, tapi pelaminan juga jangan dilupakan, Nak."
Ya Tuhan. Anara sudah menghitung, dan ini baru tante ketujuh. Masih ada kurang lebih dua puluh tante lagi di daftar tamu. Kekuatan macam apa yang harus ia miliki untuk bertahan sampai acara selesai?
***
Akhirnya, dengan alasan ke toilet, Anara melarikan diri dari meja tamu. Kakinya membawanya ke lorong hotel yang sepi, jauh dari suara interogasi ... maksudnya, musik pernikahan. Lorong dengan sofa-sofa empuk dan jendela besar menghadap taman.
"Pelarian yang bagus, Nona."
Anara hampir melompat. Di sofa sudut lorong, dengan setelan jas rapi dan segelas minuman di tangan, duduk Arga Satria Megantara dengan santainya, seperti pria itu memang tinggal di lorong hotel ini.
"YA TUHAN!" Anara menepuk dadanya. "Ngapain lo di sini?! Ngikutin gue, ya?!"
"Nona, perusahaan saya punya jamuan bisnis di ballroom sebelah. Saya sudah di sini sejak jam tujuh." Arga menyesap minumannya dengan tenang. "Dunia ini memang tidak selebar itu, tapi tidak sempit-sempit amat juga. Walaupun ..." pria itu melirik gaun Anara dari atas sampai bawah, "melihat Anda lari terbirit-birit dari acara keluarga sendiri, saya jadi paham kenapa wajah Anda kemarin seperti menerima surat pengadilan."
"Lo enggak tahu rasanya dikepung tante-tante."
"Saya tahu persis rasanya." Arga mengangkat gelasnya sedikit. "Makanya saya di lorong ini. Kita ini ternyata sama-sama pelarian."
Belum sempat Anara menjawab, dari ujung lorong terdengar suara heels yang bersemangat. "Anaraaaa! Kamu ngapain di sini, Nak? Tante cari-cari! Ini tante mau kenalin sama anaknya temen tante—"
Panik. Anara panik total. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menarik lengan Arga sampai pria itu berdiri, lalu berbisik secepat kilat, "Pura-pura jadi partner bisnis gue. Sekarang. Cepat!"
Dan begitu sang tante sampai, Anara sudah berdiri tegak dengan senyum profesional. "Tante! Kebetulan banget, ini Pak Arga, partner bisnis aku. Kami lagi bahas proyek penting, Tante. Maaf ya, belum bisa kenalan-kenalan dulu."
"Ohh ... partner bisnis." Sang tante menatap Arga dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai yang tidak disembunyikan sama sekali.
Dan lihatlah apa yang terjadi selanjutnya. Arga Satria Megantara, manusia menyebalkan yang hobinya membuat Anara naik darah itu, mengulurkan tangannya dengan senyum paling berwibawa yang pernah ada di muka bumi.
"Selamat malam, Tante. Arga. Senang bisa bertemu keluarganya Anara." Pria itu bahkan membungkuk sopan. "Gaun Tante cantik sekali, dari desainer mana kalau boleh tahu? Saya sedang mencari hadiah untuk ibu saya."
Tante itu langsung berbinar seperti lampu seribu watt. Lima menit kemudian, tante itu pergi dengan senyum lebar, dan Anara yakin seratus persen, besok seluruh keluarga besarnya akan membicarakan partner bisnis Anara yang sopan dan ganteng itu.
"LO NGAPAIN SIH SEAKTING ITU?!" Anara memukul lengan Arga begitu sang tante hilang dari lorong.
"Anda yang meminta saya berakting. Saya hanya profesional di semua bidang." Arga merapikan jasnya dengan wajah tidak bersalah, walaupun sudut bibirnya jelas-jelas menahan tawa. "Gaun tantenya memang bagus. Informasi itu gratis."
"Astaga. Gue kapok minta tolong sama lo."
***
Sepuluh menit kemudian, entah bagaimana ceritanya, dua pelarian itu berakhir di sofa lounge lobi hotel, menunggu acara masing-masing yang belum selesai. Di antara mereka ada dua cangkir pesanan: kopi hitam untuk Arga, dan kopi susu untuk Anara.
Yang membuat Anara berhenti sejenak adalah: Arga yang memesankannya. Tanpa bertanya.
"Lo tahu gue suka kopi susu dari mana?" tanya Anara curiga.
"Anda memesannya di setiap meeting. Empat kali berturut-turut." Arga menyesap kopi hitamnya. "Mengamati lawan itu bagian dari strategi, Nona. Kata siapa tuh, dulu."
"Kata gue. Jangan dipake buat hal-hal aneh."
Anara menyeruput kopi susunya, dan untuk beberapa saat, mereka hanya duduk dalam diam yang anehnya ... tidak canggung. Dua orang yang bertahun-tahun bertengkar, duduk berdampingan menyeruput kopi seperti teman lama. Kalau ada karyawan mereka yang lewat, pasti sudah pingsan di tempat.
"Lo juga diuber nikah sama keluarga?" tanya Anara akhirnya, menunjuk ke arah ballroom sebelah dengan dagunya.
"Semua orang tua sama saja." Arga menatap isi cangkirnya. "Ibu saya sudah lama ingin punya menantu. Katanya, kerja terus, kapan mikirin pelaminan."
"Hah! Sama! Mamah gue juga gitu!" Anara tertawa. "Ternyata penderitaan kita sama, Pak."
"Jangan senang dulu. Setidaknya ibu Anda tidak menjodohkan Anda dengan anak sahabatnya."
Anara terbatuk. Hampir kopi susunya tumpah. "Gue ... pernah. Baru-baru ini malah. Anak dari sahabat mamah gue, katanya pinter, sopan, punya perusahaan sendiri."
"Wah." Arga mengangkat alis, ikut tertawa kecil. "Nasib kita memang sama persis, Nona."
"Sama persis bagaimana?"
"Ibu saya juga pernah menjodohkan saya dengan anak sahabatnya." Arga mengangkat bahu. "Saya tolak mentah-mentah. Saya bahkan tidak tahu wajahnya."
Hmm. Anara menatap pria di sebelahnya sejenak. Kebetulan yang aneh. Tapi ah, mana mungkin. Dunia memang sempit, tapi tidak akan sesempit itu ... kan?
"Yaudah, pelarian. Acara kita masih jalan." Anara berdiri, merapikan gaunnya. "Balik ke neraka masing-masing, yuk."
"Silakan duluan, Nona. Oh iya—" Arga ikut berdiri, menatapnya sejenak. "Gaun Anda bagus. Layak dapat pujian yang bukan dari partner bisnis pura-pura."
Dan pria itu pergi duluan, meninggalkan Anara yang berdiri mematung di tengah lobi hotel dengan jantung yang berdegup tidak sopan.
DEG! DEG! DEG!
"Kopi susunya kebanyakan gula," gumam Anara menyalahkan minumannya, sambil berjalan cepat-cepat kembali ke ballroom dengan pipi yang menghangat. "Ini semua salah kopi susu."
Ya, Anara. Salahkan saja kopinya. Kita semua tahu yang sebenarnya terjadi, kok.
***
Malam itu, sebelum tidur, satu pesan lagi masuk ke ponsel Anara. Kali ini dari nomor yang sudah ia kenali, nomor yang sudah ia simpan kembali sejak beberapa hari lalu. Mikhaella.
"Ra, gue denger dari temen kantor lo ... Dave dateng ke kantor lo minggu lalu. Gue cuma mau bilang, semoga lo baik-baik aja. Gue enggak nanya apa-apa kok. Gue cuma ... ya, lo tahu lah. Gue di sini kalau lo butuh."
Anara menatap pesan itu lama, lalu tersenyum tipis dan mengetik balasan: "Gue baik, Mik. Udah kelar semua. Makasih udah nanya. Bobanya masih berasa, btw."
Satu menit kemudian, balasan itu datang: tiga emoji tertawa dan satu emoji menangis. Anara tertawa kecil, menaruh ponselnya, dan menatap langit-langit kamarnya.
Satu per satu, hal-hal yang hancur dalam hidupnya mulai menemukan tempatnya kembali. Pelan-pelan saja. Anara tidak terburu-buru.