Hari Senin dimulai dengan empat puluh tujuh pesan yang belum dibaca.
Anara memicingkan mata ke layar ponselnya yang penuh notifikasi dari grup keluarga besar. Grup yang biasanya hanya berisi ucapan selamat pagi bergambar bunga mawar dan kata-kata motivasi, pagi ini riuh seperti pasar. Dan sumber keriuhannya satu: dirinya.
"Katanya kemarin Anara sama cowok ganteng di lorong hotel? Sopan banget katanya?"
"Iya, Tante Sari yang lihat. Katanya partner bisnis. Tapi kok bahas bisnisnya berduaan di lorong, ya?"
"Cocok, loh! Cowoknya puji gaun Tante Sari sampai tante-tante pada baper!"
Anara menekan wajahnya ke bantal dan berteriak tanpa suara.
TANTE SARI!
Harusnya Anara tahu, di keluarga besar ini tidak ada yang namanya rahasia. Yang ada hanyalah berita yang belum sempat tersebar. Satu tante melihat, dua puluh tante mendengar, dan besoknya satu negara ikut tahu.
Belum sempat ia bangun benar-benar, telepon masuk. Mamah. Tentu saja mamah. Siapa lagi yang paling semangat kalau ada gosip tentang anaknya.
"ANARA CLARYS GRACEVA!"
Wah, nama lengkap. Tanda bahaya level tiga.
"Pagi, Mah. Selamat pagi juga buat mamah," jawab Anara seadanya sambil meregangkan badan.
"Jangan selamat pagi dulu! Mamah denger dari Tante Sari, kamu kemarin sama cowok di nikahannya Arabela?! Partner bisnis katanya?! Kok mamah enggak pernah denger kamu punya partner bisnis cowok?! Ganteng katanya?!"
"Mah, napas dulu." Anara memijat pelipisnya. "Itu beneran partner bisnis, Mah. Yang proyek bareng Pratama Group, yang pernah Anara ceritain. Kebetulan dia juga ada acara di hotel yang sama, terus Tante Sari mau ngenalin Anara sama anak temennya, jadi Anara minta dia pura-pura—"
"JADI KAMU UDAH SEAKRAB ITU SAMA DIA SAMPAI BISA MINTA TOLONG PURA-PURA?"
Astaga. Salah jawaban. Selalu salah jawaban kalau bicara dengan mamah dalam mode detektif.
"Bukan akrab, Mah! Itu keadaan darurat! Kamu tahu sendiri lah gimana Tante Sari kalau udah ngebet ngenalin orang!"
Di seberang sana, Eva terdengar menahan sesuatu. Kemungkinan besar menahan tawa. Mamahnya ini sebenarnya senang, Anara tahu itu. Gosip adalah multivitamin bagi mamah-mamah sosialita.
"Ya udah, ya udah. Partner bisnis." Nada Eva jelas-jelas tidak percaya. "Boleh tuh sekali-sekali diajak ke rumah, partner bisnisnya. Mamah pengen lihat cowok yang bisa bikin Tante Sari baper."
"MAH!"
"Iya, iya. Mamah diam." Jeda sebentar. "Tapi ganteng beneran, kata Tante Sari."
Anara memutuskan panggilan dengan satu teriakan panjang, dan di rumah sana, Eva tertawa sampai ditegur suaminya. Misi pagi hari: membuat anaknya salah tingkah. Berhasil.
***
Di kantor, hari Senin berjalan normal. Atau setidaknya, berusaha normal.
Siangnya ada panggilan video dari Pak Handoko, yang diikuti Anara dari kantornya dan Arga dari kantornya. Dari dua layar yang berbeda, dua bos itu menunjukkan wajah yang sama: waspada. Pengalaman mengajarkan, kalau Pak Handoko membuka dengan senyum selebar itu, pasti ada sesuatu.
"Selamat siang, duo kesayangan Pratama!" sapa Pak Handoko dengan semangat yang selalu berlebihan untuk ukuran pria paruh baya. "Saya ada kabar baik. Tahap satu dinilai sangat memuaskan oleh atasan saya. Maka tahap dua kita percepat."
"Tahap dua ini beda dari yang kita bahas kemarin, Pak?" tanya Anara.
"Beda lokasi." Pak Handoko mengangguk. "Kalau tahap satu kemarin pusatnya di kota, tahap dua ini kita mulai di lokasi proyeknya langsung. Di luar kota, sekitar tiga jam perjalanan. Saya minta kalian berdua ikut survei ke sana minggu depan. Bosnya harus melihat langsung, biar tidak seperti beli kucing dalam karung."
Beli kucing dalam karung. Frasa itu lagi. Anara langsung teringat papahnya.
Survei lapangan. Luar kota. Tiga jam perjalanan. Bersama tim gabungan ... dan tentu saja, bersama Arga.
"Boleh saja, Pak. Tim kami siap," jawab Arga seperti biasa, datar dan efisien.
"Kami juga," sambung Anara.
"Bagus! Oh iya, saran saya, kalian berangkat barengan saja, biar di jalan bisa sekalian koordinasi. Efisien, kan?" Pak Handoko menutup panggilan dengan lambaian tangan, meninggalkan dua bos yang sama-sama berpikir: sejak kapan klien ikut mengatur cara orang berangkat?
Sorenya, lewat sambungan telepon, perang kecil kembali terjadi.
"Kata Pak Handoko, efisien. Satu mobil," buka Arga tanpa basa-basi.
"Gue bawa mobil sendiri."
"Tiga jam perjalanan, Nona. Dua mobil untuk dua orang yang tujuannya sama itu namanya pemborosan."
"Bukan urusan lo. Gue suka nyetir sendiri."
"Anda yakin? Saya dengar dari tim Anda, terakhir kali Anda menyetir jauh sendirian, Anda tidur sepuluh jam setelahnya karena kelelahan."
Anara membelalak. "LO NGOREK INFORMASI DARI TIM GUE?!"
"Mereka yang cerita sendiri waktu markas perang kemarin. Saya hanya pendengar yang baik."
***
Anara mendengus panjang dan memutuskan panggilan tanpa pamit. Kurang ajar memang pria itu. Ngorek-ngorek informasi dari tim orang, masih sempat-sempatnya bangga jadi pendengar yang baik.
Siang itu juga, Anara mengumpulkan tim proyeknya di ruang meeting untuk menyampaikan rencana survei.
"Minggu depan kita survei ke lokasi, luar kota, sekitar tiga jam perjalanan. Yang ikut: saya, tim teknis, dan tim dokumentasi." Anara menunjuk beberapa nama di daftar. "Yang di kantor tetap jalan seperti biasa. Laporan harian jangan telat."
"Bu, saya boleh ikut?" Anak magang itu mengacungkan tangan dengan wajah penuh harap, seperti anak SD yang ingin ikut study tour. Sejak malam markas perang kemarin, ia memang jadi jauh lebih berani.
"Kamu di kantor aja. Belajar dari laporan dulu." Anara tersenyum tipis. "Survei lapangan itu capek. Nanti giliran kamu juga tiba."
"Iya, Bu." Anak magang itu duduk kembali dengan wajah kecewa tapi tetap semangat. Ah, muda. Semoga semangatnya awet sampai kontrak kerjanya ditandatangani.
Rapat ditutup, dan timnya berhamburan keluar dengan semangat. Proyek ini memang membuat seluruh kantor ikut hidup. Anara menyukainya. Kantor yang sibuk jauh lebih baik daripada kepala yang sibuk memikirkan hal-hal yang tidak selesai.
***
Malam harinya, di meja makan keluarga — Anara memang sedang pulang ke rumah orang tuanya — gadis itu mengadukan rencana survei itu. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, papahnya langsung bereaksi.
"Tiga jam nyetir sendirian? Jangan, Nak." Damares menatap putrinya serius. "Kamu kalau capek suka maksa. Terus kalau kenapa-kenapa di jalan, gimana? Mending ikut mobil partner kamu itu, ada temannya. Atau bawa supir."
"Temen katanya." Eva nyengir dari ujung meja. "Partner bisnis yang itu, ya?"
"MAH!"
Dihimpit dari dua sisi, akhirnya Anara menyerah. Bukan karena kalah, catat itu. Tapi karena tidak tega membuat papahnya khawatir sampai tidak bisa tidur. Itu alasan resminya. Alasan tidak resminya, jangan ditanya, dia sendiri tidak mau tahu jawabannya.
Malam itu, sebelum tidur, Anara memandangi lemarinya lebih lama dari biasanya. Besok lusa survei lapangan. Tanah, debu, dan entah apa lagi. Harus pakai baju apa?
"Survey kok mikirin baju sampai segini. Aneh," gumamnya pada diri sendiri, sambil terus memilih-milih.
Iya, Anara. Aneh. Kita semua sepakat itu aneh.