Pukul enam pagi, Anara turun ke lobi apartemennya dengan tas kecil, topi, dan tekad besar untuk tidak mengantuk. Di depan lobi, sebuah mobil hitam sudah menunggu, dan di balik kemudinya — bukan supir — melainkan Arga Satria Megantara sendiri.
"Lo yang nyetir?" tanya Anara sambil masuk, menaruh tasnya di kursi belakang.
"Supir saya libur. Lagipula saya tidak suka disetiri." Arga melirik penampilan Anara dari atas sampai bawah. "Kita mau ke lokasi proyek, Nona. Bukan mau ke pemotretan."
"Pakaianku biasa aja, kok."
"Anda pakai heels."
"Ini wedges! Solnya tebal, aman buat lapangan!" bela Anara sambil menaikkan satu kakinya. "Gue ini profesional, Pak. Tahu dress code."
Arga menatap sepatu itu sejenak, lalu menggeleng panjang seperti orang tua menghadapi anak keras kepala. "Baiklah. Nanti kalau wedges-nya tenggelam di tanah liat, jangan menangis."
"Liat aja nanti."
Dan perjalanan pun dimulai. Lima belas menit pertama: hening. Tiga puluh menit: masih hening. Akhirnya Anara tidak tahan dan menyambungkan ponselnya ke audio mobil tanpa izin.
"Siapa yang mengizinkan Anda jadi DJ di mobil saya?"
"Penumpang berhak atas musik. Itu hukum internasional perjalanan darat."
"Hukum dari negara mana?"
"Negara gue."
Pop ceria mengalun di dalam mobil. Arga tampak menderita, Anara tampak menang. Skor sementara satu-satu kalau dihitung dari awal mereka bertemu, mungkin. Tidak ada yang benar-benar menghitung, kok. Tidak ada.
Di gerbang tol, Arga menepikan mobil di sebuah gerai kopi drive-thru tanpa ditanya. Dua menit kemudian, segelas kopi susu berpindah ke tangan Anara.
"Anda ribut kalau belum ngopi. Ini demi keselamatan perjalanan kita berdua," ucap pria itu datar, sebelum Anara sempat bertanya.
"... Gue enggak ribut."
"Iya. Dan saya tidak mau membuktikan teori itu."
Anara menyeruput kopi susunya sambil menatap jalan tol yang memanjang. Menyebalkan. Menyebalkan sekali kalau musuh mulai hafal kebiasaan kita. Tidak, bukan karena deg-degan. Tapi karena artinya selama ini dia mengamati, dan diamati musuh itu rasanya seperti diawasi. Iya, seperti diawasi. Titik.
***
Lokasi proyek ternyata jauh lebih lapangan daripada yang dibayangkan Anara. Tanah luas, bekas hujan semalam, dan tanah liat di mana-mana. Tim gabungan sudah sampai lebih dulu bersama orang-orang Pratama, dan semua memakai sepatu yang masuk akal: boots, sneakers, sepatu gunung.
Anara turun dari mobil dengan wedges-nya.
KREK.
Sepatunya langsung amblas dua senti ke dalam tanah liat. Semua mata menoleh. Arga di sebelahnya menatap sepatu itu, lalu menatap Anara, lalu kembali ke sepatu itu, dengan ekspresi yang sulit dibaca antara menahan tawa atau menahan ceramah.
"Jangan," ancam Anara sebelum pria itu bersuara.
"Saya tidak bilang apa-apa."
"Muka lo bilang semuanya."
Survei tetap berjalan. Anara berjalan tertatih-tatih seperti bangau di sawah, dan dua puluh menit kemudian, bencana kecil itu benar-benar terjadi: kakinya terpeleset di tanah liat yang licin—
Sebuah tangan menangkap lengannya sebelum ia mencium tanah.
Waktu berhenti sepersekian detik. Anara menatap tangan di lengannya, lalu menatap wajah Arga yang hanya berjarak sejengkal, lalu keduanya sama-sama melepaskan diri dengan kecepatan kilat, seperti sama-sama memegang bara api.
"Hati-hati. Kalau partner saya patah kaki, laporannya jadi repot," ucap Arga dengan wajah datar. Hanya telinganya yang merah.
"Makasih," jawab Anara singkat, menatap ke mana-mana kecuali ke wajah pria itu.
Sepuluh menit kemudian, Arga kembali dari arah warung kecil di ujung jalan dengan sebuah plastik kresek. Isinya: sepasang sandal jepit karet dengan warna paling norak yang pernah diciptakan manusia.
"Hadiah. Jangan bilang saya tidak peduli pada partner." Arga menyodorkan plastik itu dengan wajah bangsawan.
Anara menatap sandal jepit itu, menatap wedges kesayangannya, lalu menatap tanah liat yang menunggu untuk menelannya lagi. Harga diri atau keselamatan. Pilihan yang sulit untuk tiga detik.
"... Kalau ada yang foto gue pakai ini, lo yang bertanggung jawab."
Dan sepanjang sisa survei itu, Anara Clarys Graceva, bos perusahaan yang gayanya selalu branded, berjalan berkeliling lokasi dengan sandal jepit karet, sementara partner-nya sesekali melirik dengan sudut bibir yang bergetar menahan sesuatu.
"Makan siang di warung itu," ajak Arga saat survei selesai, menunjuk warung sederhana tempat ia membeli sandal tadi. "Tim sudah di sana semua."
Anara sempat ragu. Tapi ternyata, pria yang ia kira jijik dengan kesederhanaan itu makan di warung kaki lima dengan tenangnya, bahkan akrab mengobrol dengan ibu pemilik warung soal cabai. Anara memperhatikan dari seberang meja, dan untuk kesekian kalinya, ia menemukan sisi musuhnya yang tidak masuk akal.
"Kenapa?" tanya Arga, sadar diperhatikan.
"Enggak. Gue kira lo cuma bisa makan di restoran bintang lima."
"Saya besar dari warung seperti ini, Nona." Jawaban itu singkat, tapi membuat Anara berhenti menyuap sebentar. "Jangan menilai orang dari gedungnya."
***
Perjalanan pulang dimulai sore, dan macet menyambut mereka seperti kawan lama. Tiga jam berubah menjadi lima, dan di tengah macet yang merayap, mata Anara akhirnya menyerah.
Ia tertidur di kursi penumpang, di mobil musuhnya. Betapa damai.
Anara terbangun karena mobil berhenti bergerak. Pelan-pelan ia membuka mata: mereka berada di sebuah rest area, mesin mobil mati, dan di bahunya ... ada jaket. Jaket pria. Wanginya seperti pemiliknya, dan Anara tidak akan menjelaskan lebih lanjut apa maksudnya itu.
Di luar, Arga berdiri bersandar di kap mobil sambil menelepon, suaranya pelan agar tidak terdengar ke dalam. Anara buru-buru duduk tegak, melepas jaket itu seperti melepas barang bukti kejahatan, dan pura-pura baru bangun saat pria itu masuk kembali.
"Rest area. Anda tidur seperti orang mati, jadi saya berhenti sebentar." Arga menyalakan mesin. "Dan Anda mengorok."
"GUE ENGGAK MENGOROK!"
"Iya, iya." Arga menyeringai. "Terserah Anda saja."
"ARGA!"
"Sudah jam delapan. Sampai apartemen Anda sekitar empat puluh menit lagi. Silakan melanjutkan tidurnya, Nona. Jaketnya juga silakan dipakai, dingin."
Sisa perjalanan itu Anara habiskan dengan menatap ke luar jendela, pura-pura membaca papan reklame satu per satu, dengan jaket Arga yang entah kenapa tidak juga ia kembalikan. Hanya karena dingin. Itu saja. Tidak ada alasan lain.
Di depan lobi apartemennya, Anara turun, mengembalikan jaket itu dengan dua tangan seperti mengembalikan barang titipan negara. "Makasih buat hari ini. Maksud gue ... buat sandalnya. Sama jaketnya. Sama ... yaudah, pokoknya makasih."
"Sama-sama, Nona. Tidur yang cukup. Besok kita masih perang lagi."
Mobil hitam itu melaju pergi, dan Anara berdiri di lobi lebih lama dari yang seharusnya, menatap lampu belakangnya yang menghilang di ujung jalan.
***
Keesokan paginya, dunia kembali normal. Atau setidaknya, berusaha normal.
"Bu," sapa sang sekretaris dengan map di tangan, "ada permintaan dari pihak Pratama. Majalah bisnis mau mewawancarai Ibu soal proyek gabungan ini."
"Oh, yaudah. Atur saja."
"Wawancaranya ... berdua dengan Pak Arga, Bu. Katanya mau dijadikan satu fitur. Judulnya ..." sang sekretaris membaca dari catatannya, "... duo muda di balik proyek terbesar tahun ini."
Anara mematung di depan lift.
Duo. Lagi. Kenapa semesta akhir-akhir ini senang sekali menggabung-gabungkannya dengan musuh dalam satu kata?