Penolakan adalah jawaban pertama yang keluar dari mulut dua bos itu, serentak, dalam panggilan video yang berbeda layar.
"Kenapa harus ada wawancara segala, Pak?" tanya Anara.
"Kenapa harus berdua?" tanya Arga.
Pak Handoko tertawa di layar seperti kakek yang senang cucunya ribut. "Karena proyek ini besar, dan cerita di baliknya menarik! Dua perusahaan yang dulunya bersaing, sekarang bergandengan tangan. Ini bahan yang bagus untuk media, dan gratis pula. Kalian tidak suka promosi gratis?"
Promosi gratis. Dua pebisnis itu terdiam bersamaan. Sialan. Klien ini tahu benar cara mematikan argumen.
"Jadwalnya hari Kamis, di studio mereka. Baju rapi, ya!" Pak Handoko menutup panggilan sebelum ada yang bisa menolak lagi.
***
Kamis itu, Anara datang dua puluh menit lebih awal ke studio foto di tengah kota. Sudah menjadi prinsipnya: yang datang lebih dulu adalah yang menang, walaupun tidak ada yang sedang lomba.
Ternyata, musuhnya punya prinsip yang sama. Di ruang tunggu studio, Arga sudah duduk di sana dengan sebuah buku, dan pria itu bahkan tidak mengangkat wajah saat menyapanya.
"Pagi, Nona. Jam delapan kurang empat puluh. Anda kalah."
"Kita enggak lagi lomba."
"Semua hal adalah lomba kalau Anda cukup kompetitif." Arga menutup bukunya, lalu melirik penampilan Anara. "Anda pakai sneakers."
"Gue belajar dari kesalahan, Pak. Beda sama lo yang belajar dari buku doang."
"Buku ini bagus."
"Tebal banget. Ceritanya apa?"
"Strategi perang."
Anara terdiam, lalu menatap pria itu dengan penuh selidik. "Lo baca strategi perang buat menghadapi siapa, sih?"
"Siapa pun yang perlu dihadapi." Arga berdiri, merapikan jasnya. "Ayo. Pewawancaranya sudah menunggu, dan saya tidak mau kalah dua kali dalam satu pagi."
Karena kalian pasti bertanya-tanya: dua insan itu akhirnya duduk bersebelahan di sofa abu-abu dengan jarak aman: satu bantal penuh di antaranya. Wartawannya, seorang wanita muda dengan alat perekam, tampak sudah membaca situasi dalam lima detik pertama.
"Jadi ... bagaimana awalnya kalian berdua bertemu?"
"Lama. Bertahun-tahun," jawab Arga.
"Sebagai musuh," tambah Anara.
"Sebagai kompetitor," koreksi Arga.
"Sama aja bohong."
Sang wartawan menatap mereka bergantian, lalu memutuskan untuk tertawa saja. "Oke ... kalau begitu, apa rahasianya sampai bisa bekerja sama di proyek sebesar ini?"
"Profesionalisme," jawab Arga.
"Uang," jawab Anara.
"Nona."
"Apa? Jujur itu penting dalam wawancara, Mbak. Catat." Anara menyeruput kopi susu yang disediakan studio — dan ya, seseorang di tim Pratama pasti sudah membocorkan preferensinya, karena kopi susu itu disiapkan bahkan sebelum ia datang. Dunia makin sempit saja.
"Momen paling berkesan selama kerja sama ini, apa?"
"Waktu vendor kabur jam sebelas malam, dan kami menyelesaikannya sebelum tengah malam," jawab Anara.
"Waktu survei di lokasi," jawab Arga. "Nona Anara memakai sandal jepit karet seharga dua ribu perak dan tetap berjalan empat jam mengelilingi lokasi tanpa mengeluh sekali pun."
Anara menoleh dengan wajah memerah. "Itu bukan momen berkesan, itu aib."
"Itu momen saya sadar partner saya bukan bos yang cuma duduk di kursi." Arga menatap lurus ke kamera sang wartawan, bukan ke Anara. "Catat juga itu, Mbak."
Sang wartawan menatap mereka berdua dengan senyum yang semakin sulit disembunyikan. Bahan hari ini benar-benar melimpah.
"Kalau kalian harus mendeskripsikan satu sama lain dalam satu kata?" tanya sang wartawan dengan senyum licik khas pewawancara yang mencium bahan bagus.
"Menyebalkan," jawab Anara cepat seperti refleks.
"Cerdas," jawab Arga di saat yang sama.
Hening.
Anara menoleh ke pria di sebelahnya dengan alis bertaut. Arga sendiri tampak menyesali pilihan katanya, terlihat dari cara ia tiba-tiba sibuk merapikan manset kemejanya. Sang wartawan menuliskan sesuatu dengan senyum yang semakin lebar, seperti baru menemukan harta karun.
"Kalian ini ..." sang wartawan menutup alat perekamnya, "... seperti pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun."
"APA?!" Serentak. Kompak. Seperti biasa.
Wawancara akhirnya ditutup dengan satu pertanyaan pamungkas. "Kalau proyek ini selesai nanti, kalian mau bekerja sama lagi?"
Kali ini dua orang itu tidak menjawab serentak. Anara menatap ujung sepatunya, Arga menatap jendela, dan keduanya menjawab dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Tergantung tendernya."
"Lihat saja nanti."
Sang wartawan menulis sambil tersenyum penuh arti: dua jawaban yang berbeda kata, tapi entah kenapa terdengar seperti satu jawaban yang sama.
***
Masalah berikutnya datang dari sesi foto.
"Maaf, Mas. Kami sudah siapkan konsepnya, tinggal berdiri di sana, berdampingan, lihat ke kamera—"
"Saya tidak suka difoto."
Fotografer itu berhenti bicara. Wajahnya seperti orang yang baru diberi tahu bahwa matahari besok tidak terbit. "M-maaf?"
"Saya tidak suka difoto. Wawancara boleh, foto tidak."
Anara memandang partner-nya dengan tatapan tidak percaya. "Anti difoto itu tanda-tanda buronan, Pak."
Kalimat itu terasa familiar di kepalanya sendiri. Ia pernah mengatakannya ... kepada mamahnya, soal anaknya Jeng Ayu. Kebetulan yang lucu. Tapi ya sudah, banyak orang anti difoto di dunia ini. Bukan berarti semuanya anak Jeng Ayu.
"Bukan buronan. Saya hanya tidak suka wajah saya tersebar di mana-mana," jawab Arga datar.
Sang fotografer mencoba bertahan dengan menawarkan beberapa konsep. "Kalau begitu begini saja, Mas. Bapak taruh tangan di bahu Ibu, lalu—"
"TIDAK." Dua suara itu serentak, kompak, tanpa rapat terlebih dahulu.
"Baik, baik ... kalau saling memunggungi, tangan menyilang, saling menatap tajam seperti rival?"
"Itu bisa," jawab keduanya bersamaan, lalu sama-sama sadar bahwa mereka baru saja sepakat tanpa bertengkar, lalu sama-sama menunjukkan wajah menyesal karenanya. Sang fotografer hanya bisa menggeleng-geleng. Bekerja dengan duo ini seperti menyutradarai film yang pemerannya menulis naskah sendiri.
Setelah negosiasi yang hampir selama negosiasi kontrak kemarin, dicapailah kesepakatan: foto bersama dari belakang. Dua sosok berdiri berdampingan membelakangi kamera, menghadap jendela besar dengan pemandangan kota. Bahu mereka nyaris bersentuhan. Tidak benar-benar bersentuhan, tapi cukup dekat untuk membuat sang fotografer bersorak kecil.
"Bagus! Chemistry-nya dapet banget! Sekali lagi! Bu Anara, sedikit ke kiri— nah, gitu!"
"Kita ini model apa bos," gerutu Anara di sela-sela jepretan.
"Sabar. Demi promosi gratis," balas Arga tanpa menoleh.
"Utang lo satu, karena gue jadi ikut-ikutan aneh."
"Silakan dicatat di pembukuan."
Usai sesi itu, ketika mereka keluar dari studio, Anara sempat memandangi hasil foto dari belakang itu di layar kamera sang fotografer. Aneh, pikirnya. Hanya dua punggung, dua orang yang berdiri memandang kota yang sama.
Tapi kenapa terlihat ... cocok?
"Pulang, Nona. Jangan melamun. Nanti wedges-nya tenggelam lagi." Suara Arga dari kejauhan membuyarkan lamunannya.
"KALI INI GUE PAKAI SNEAKERS, YA!"
***
Malamnya, sebelum tidur, sebuah pesan masuk ke ponsel Anara. Mikhaella.
"Weekend ini jadi nge-boba? Kangen nih. Bukan kangen bobanya doang, tapi kangen orangnya juga."
Anara tersenyum, mengetik balasannya tanpa berpikir dua kali. "Jadi. Rasa yang biasa. Jangan ngaret kayak biasanya."
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhir pekan terasa seperti sesuatu yang pantas ditunggu.