Pertemuan pertama setelah perang besar itu selalu punya lima menit paling canggung di dunia.
Di mall yang sama, di toko boba yang sama, di meja yang biasa mereka duduki, Anara dan Mikhaella duduk berhadapan dengan dua cup boba brown sugar.
Meja ini sudah seperti saksi hidup, ya. Dari zaman mereka masih sok-sokan hemat dengan patungan satu cup berdua, sampai zaman sekarang ketika mereka bisa memborong satu toko kalau mau. Brown sugar untuk Anara, taro untuk Mikhaella. Urutan pesanan yang tidak pernah berubah bertahun-tahun, tidak peduli menu baru apa pun yang datang dan pergi. Ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak pernah berubah. Lima menit pertama, keduanya sibuk dengan sedotan masing-masing, seperti dua negara yang baru menandatangani perdamaian dan belum tahu harus mulai dari mana.
"Jadi ..." buka Mikhaella akhirnya.
"Jadi ..." tiru Anara.
Dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba keduanya tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang dari perut, tawa dua sahabat yang sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak tertawa bersama.
"Ya Tuhan, canggung banget tadi," ucap Mikhaella sambil mengusap sudut matanya.
"Gue kira bakal canggung seharian."
"Enggak bisa. Kita ini ditakdirkan jadi dua orang paling berisik di mall ini."
Dan setelah itu, semuanya mengalir seperti dulu. Dari gosip mall, ke harga baju yang makin tidak masuk akal, ke Mikhaella yang memergoki kuku Anara masih polos dan langsung menyatakan keadaan darurat.
"Kuku lo masih polos aja?! Setelah semua drama, lo masih berani hidup dengan kuku polos?!"
"Kuku polos itu bukan dosa, Mik."
"Itu dosa di mata gue." Mikhaella menggeleng-geleng sambil membenarkan kacamata bundarnya. "Besok gue bawain cat kuku. Lo enggak bisa hidup tanpa gue, ngaku aja."
"Iya, iya. Gue enggak bisa hidup tanpa lo."
Dan kalimat yang seharusnya bercanda itu keluar terlalu jujur, membuat keduanya berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil bersamaan. Persahabatan yang pernah retak itu sedang diperbaiki, pelan-pelan, dengan lem yang lebih kuat dari sebelumnya.
***
"Dave udah ketemu lo, ya?" tanya Mikhaella akhirnya, hati-hati.
"Udah. Kelar. Gue maafin, tapi gue tutup pintunya." Anara menyeruput bobanya. "Lo keberatan?"
"Keberatan dari mana? Gue justru lega." Mikhaella menghela napas panjang. "Gue cuma enggak mau ada satu pun dari kita yang masih nyimpen sesuatu soal dia. Dia itu masa lalu, Ra. Kita berdua korban, dan dia enggak pantas dapetin air mata kita satu pun lagi."
"Setuju." Anara mengangkat cup-nya, dan dua cup boba itu beradu pelan seperti bersulang. "Buat masa lalu yang brengsek, dan masa depan yang enggak akan."
Lalu pembicaraan berbelok ke pekerjaan, dan di sinilah segalanya menjadi menarik. Anara bercerita soal proyek gabungannya, dan mata Mikhaella membesar sedikit demi sedikit.
"Tunggu, tunggu. Mundur." Mikhaella mengangkat tangannya. "Proyek gabungan sama perusahaan seberang? Perusahaan seberang yang dulu lo kutuk tiap hari? Yang lo bilang tengil, sok, dan harus disantet itu?"
"Bukan gue yang bilang harus disantet."
"LO YANG BILANG, RA. Gue saksi hidupnya!"
"Yaudah, terus kenapa?" Anara memutar bola matanya. "Namanya juga bisnis. Musuh abadi itu enggak ada. Yang abadi itu tender."
Mikhaella menyipitkan matanya, memiringkan kepala seperti detektif yang menemukan kejanggalan. "Ra. Dari tadi lo nyebut dia berapa kali, tahu?"
"Nyebut apa?"
"Arga. Arga bilang ini, Arga bilang itu, Arga nego begini, Arga pesanin lo kopi susu—" Mikhaella menghitung dengan jari-jarinya. "Sembilan. Sembilan kali dalam satu obrolan. Rekor baru."
"Itu namanya cerita kerjaan, Mik. Dia partner proyek gue. Masa gue cerita proyek tanpa nyebut partnernya?"
"Hmm." Mikhaella menyeruput bobanya dengan tatapan tidak percaya yang sangat tidak disembunyikan. "Sembilan kali."
"MINUM AJA SANA!"
"Lo tahu enggak, dulu lo nyebut Dave segitu banyak juga pas awal-awal—"
"MIKHAELLA ANCELINE!"
"GUE DIEM! GUE DIEM!" Mikhaella tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi meja, dan Anara melemparinya dengan sedotan bekas. Mall itu kembali menyaksikan dua gadis yang berisiknya bukan main, dan dunia terasa benar lagi.
***
Sehabis dari toko boba, tentu saja pertahanan Anara jebol juga. Mikhaella menyeretnya ke toko kosmetik, memilihkan dua botol cat kuku — satu warna nude yang katanya elegan, satu warna merah menyala yang katanya sesuai semangat baru Anara — dan memaksa membayarkannya sebagai hadiah perdamaian.
"Ini hadiah apa paksaan, sih?" protes Anara, yang tetap saja mengulurkan tangannya saat Mikhaella mulai mengecat kukunya di bangku tengah mall, tidak peduli dilihat orang.
"Dua-duanya. Nah, lihat. Tangan lo langsung naik derajatnya."
"Berisik."
Di sela-sela menunggu kuku kering, Mikhaella bercerita soal perusahaannya yang sedang ekspansi, soal pegawainya yang kocak, soal hidupnya yang sekarang ia isi penuh dengan kerja. "Cowok belakangan," katanya enteng. "Gue mau jadi kaya dulu. Kaya itu enggak pernah ngebohongin lo ke orang lain."
Anara tertawa. "Amin buat itu."
"Kan. Nah, lo sendiri? Selain proyek sama si Arga itu, ada apa lagi di hidup lo?"
"Kenapa namanya dibawa-bawa lagi, sih—"
"Sepuluh! Itu tadi yang kesepuluh kali!"
"MIKHAELLA!"
***
Tapi di tengah tawanya, wajah Mikhaella tiba-tiba melembut. Ia memutar-mutar cup-nya sebelum akhirnya bersuara lebih pelan.
"Ra. Nyokap pengen ketemu lo."
Anara berhenti tertawa.
"Dia nangis, waktu gue cerita lo mau ketemu gue kemarin. Nangis beneran." Mikhaella menatap sahabatnya. "Dia pengen minta maaf langsung sama lo. Bukan lewat gue, bukan lewat telepon. Langsung. Ke rumah, ya? Kapan pun lo siap."
Rumah itu. Rumah yang terakhir kali Anara datangi dengan hati hancur, diusir dari pintunya dengan kalimat yang sampai sekarang masih suka mampir di kepala kalau malam tiba.
Anara diam cukup lama. Mikhaella tidak mendesak, hanya menunggu sambil memainkan sedotannya.
"... Bukan buat nyokap lo doang," ucap Anara akhirnya. "Buat lo juga. Dan buat gue. Gue capek kalau harus takut lewat depan rumah lo seumur hidup."
Mikhaella tersenyum lebar, dan tangannya meraih tangan Anara di atas meja, menggenggamnya erat. "Makasih, Ra."
Sore itu mereka berpisah dengan pelukan. Lama. Lama sekali, sampai orang-orang di sekitar toko boba mulai melirik tanpa tahu ceritanya.
"Gue sayang lo, Ra," bisik Mikhaella di pelukan itu.
"Gue juga, Mik. Jangan ilang lagi."
"Enggak akan. Sumpah kali ini. Kalaupun nanti kita ribut lagi, kita ributnya yang bener: tanya dulu, dengerin dulu."
"Deal. Saksi-saksinya boba brown sugar ini."
Mikhaella tertawa di pelukan itu. "Iya. Saksi-saksinya boba."
Pelukan pertama setelah berminggu-minggu perang dingin — dan kali ini, keduanya sama-sama tahu, tidak akan ada lagi yang pergi tanpa bertanya.
Beberapa hal memang harus hancur dulu, supaya tahu bagian mana yang benar-benar layak dipertahankan.